"Wis 40 tahun luwih kita... dunia wis bukan tujuan utama. Ketenangan hidup sing nomer 1, plus golek sangu gawe mulih."
Kalimat itu saya dengar dari seorang sahabat. Sederhana, tidak panjang, bahkan terdengar seperti obrolan biasa. Namun semakin dipikirkan, semakin terasa dalam maknanya.
Ketika masih muda, banyak dari kita memiliki daftar panjang tentang apa yang ingin dicapai. Ingin karier yang tinggi, ingin membangun bisnis besar, ingin memiliki rumah yang lebih baik, kendaraan yang lebih bagus, atau ingin membuktikan kepada dunia bahwa kita mampu menjadi seseorang yang sukses. Tidak ada yang salah dengan itu. Masa muda memang sering menjadi waktu untuk belajar, mencoba, gagal, bangkit, dan mencari tantangan.
"Lek sik enom mungkin gapapa lah ngolek challenge, sik duwe cita-cita liyane."
Saat muda, energi masih melimpah. Risiko masih berani diambil. Ambisi masih menyala. Kita rela lembur, pindah kota, bahkan berpindah-pindah pekerjaan demi mengejar pengalaman dan pencapaian yang lebih tinggi.
Namun waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, angka usia mulai mendekati 40 tahun, bahkan melewatinya. Di usia ini, banyak orang mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus dikejar. Tidak semua perlombaan harus dimenangkan. Tidak semua kesempatan harus diambil.
Karena pada akhirnya, manusia mulai memahami bahwa yang paling mahal dalam hidup bukanlah jabatan, bukan pula angka di rekening, melainkan ketenangan hati.
Apa gunanya gaji besar jika setiap hari dipenuhi kecemasan? Apa gunanya jabatan tinggi jika kesehatan terus menurun? Apa gunanya kesuksesan yang dipuji banyak orang jika keluarga justru kehilangan kehadiran kita?
Semakin bertambah usia, definisi sukses sering kali berubah. Yang dahulu dianggap penting, perlahan menjadi biasa saja. Sebaliknya, hal-hal yang dulu dianggap sepele justru menjadi sangat berharga. Bisa berkumpul dengan keluarga, melihat orang tua masih sehat, memiliki tubuh yang kuat untuk beribadah, tidur dengan pikiran tenang, dan bangun pagi tanpa beban yang berlebihan, ternyata jauh lebih bernilai daripada yang pernah kita bayangkan.
Sahabat itu kemudian berkata:
"Lah lek wis 40, arep ngolek opo maneh selain akhirat?"
Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab dengan jujur.
Karena memang benar, setelah puluhan tahun menjalani kehidupan, kita mulai memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Apa pun yang kita kumpulkan suatu hari akan ditinggalkan. Jabatan akan digantikan orang lain. Harta akan berpindah tangan. Nama perlahan akan dilupakan. Yang tersisa hanyalah amal, kebaikan, dan jejak yang pernah kita tinggalkan selama hidup.
Bukan berarti setelah usia 40 tahun seseorang harus berhenti bekerja atau berhenti memiliki target. Justru sebaliknya, tetap bekerja dengan baik, tetap berkarya, tetap produktif. Namun orientasinya mulai berbeda. Bekerja bukan hanya untuk mengejar dunia, tetapi juga untuk menyiapkan bekal pulang. Mencari rezeki bukan sekadar untuk memperkaya diri, melainkan untuk menafkahi keluarga, membantu sesama, dan memperbanyak amal yang akan menemani ketika semua perjalanan dunia ini berakhir.
Mungkin inilah kebijaksanaan yang perlahan hadir seiring bertambahnya usia. Bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, siapa yang paling tinggi jabatannya, atau siapa yang paling banyak hartanya. Melainkan tentang siapa yang mampu menjalani hidup dengan hati yang tenang, tetap bermanfaat bagi sesama, dan tidak lupa menyiapkan bekal untuk perjalanan yang jauh lebih panjang setelah kehidupan di dunia ini.
Karena setelah usia 40 tahun, pertanyaannya bukan lagi "apa yang ingin aku miliki?" melainkan "apa yang akan aku bawa pulang?".
Dan mungkin, itulah alasan mengapa ketenangan hidup menjadi semakin berharga dibandingkan apa pun yang ditawarkan dunia.

No comments:
Post a Comment