What you most want is what you most can't have and that the most you can't have is what you already had and lost
Yang Paling Kita Inginkan Adalah Yang Paling Tidak Bisa Kita Miliki. Dan Yang Paling Tidak Bisa Kita Miliki Adalah Yang Pernah Kita Miliki, Lalu Hilang.
Ada satu kenyataan yang sering baru kita pahami ketika semuanya sudah terlambat. Bukan ketika kita mendapatkannya. Melainkan ketika kita kehilangannya. Manusia memiliki kecenderungan yang unik. Kita terbiasa mengejar apa yang belum kita miliki. Jabatan yang lebih tinggi. Rumah yang lebih besar. Mobil yang lebih baik. Gaji yang lebih besar. Pengakuan yang lebih luas.
Kita percaya bahwa kebahagiaan berada sedikit lebih jauh dari tempat kita berdiri hari ini. Tetapi hidup sering kali memberikan pelajaran yang berbeda Yang paling kita inginkan ternyata bukanlah sesuatu yang belum pernah kita miliki. Melainkan sesuatu yang pernah hadir, lalu pergi.
Seorang anak tidak pernah berpikir bahwa suatu hari ia akan merindukan suara ibunya yang membangunkannya setiap pagi.
Seorang ayah tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat rumah yang dulu ramai akan menjadi sunyi karena anak-anaknya telah merantau.
Seorang sahabat tidak pernah menyangka bahwa obrolan sederhana di warung kopi akan menjadi kenangan yang tidak bisa diulang.
Selama sesuatu itu masih ada, kita menganggapnya biasa. Karena manusia sangat cepat beradaptasi dengan apa yang dimilikinya. Yang hadir setiap hari terasa normal. Yang selalu menemani terasa pasti. Yang mudah dijangkau terasa tidak istimewa.
Padahal justru di situlah letak nilainya.
Ada ironi dalam kehidupan Kita bekerja keras demi masa depan, tetapi sering kehilangan waktu bersama keluarga. Kita mengejar kesuksesan, tetapi perlahan kehilangan kesehatan. Kita sibuk mencari penghasilan yang lebih besar, tetapi lupa menikmati makan malam bersama orang-orang yang kita cintai.
Semua dilakukan dengan niat yang baik. Namun tanpa disadari, ada harga yang ikut dibayar. Dan sering kali kita baru menyadarinya ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi.
Aneh memang. Tempat yang dulu terasa biasa, tiba-tiba menjadi begitu berarti ketika kita tidak lagi tinggal di sana. Sekolah yang dulu ingin cepat kita tinggalkan, kini menjadi tempat yang paling sering kita kenang. Kota kecil yang dulu terasa membosankan, kini menjadi tempat yang paling ingin kita kunjungi.
Bahkan secangkir teh yang dulu dibuat oleh ibu terasa jauh lebih berharga daripada kopi termahal yang bisa kita beli hari ini. Bukan karena masa lalu lebih indah. Tetapi karena kehilangan membuat kita melihat nilai yang dulu tidak kita sadari.
Ada kehilangan yang masih bisa diperbaiki. Hubungan yang bisa disambung. Kesalahan yang bisa diperbaiki. Kesempatan yang masih bisa dicari. Tetapi ada pula kehilangan yang tidak mengenal kata "ulang".
Waktu.
Masa kecil.
Orang tua.
Sahabat yang telah tiada.
Momen ketika anak masih ingin digandeng tangannya.
Semua itu tidak bisa dibeli. Tidak bisa dipercepat. Tidak bisa diputar kembali. Kita hanya bisa mengenangnya. Dan mungkin, menyesalinya.
Mungkin pelajaran terbesar bukanlah tentang bagaimana menghadapi kehilangan. Melainkan bagaimana menghargai sesuatu sebelum kehilangan itu datang. Peluklah orang tua selagi masih bisa dipeluk. Luangkan waktu untuk keluarga selagi mereka masih berkumpul. Telepon sahabat yang sudah lama tidak berbicara. Nikmati perjalanan pulang ke rumah, karena suatu hari rumah itu mungkin hanya tinggal kenangan. Ucapkan terima kasih ketika masih ada yang bisa mendengarnya.
Jangan menunggu pemakaman untuk mengatakan bahwa seseorang sangat berarti dalam hidup kita.
Ada sebuah pertanyaan yang menarik. Bagaimana jika saat ini, tepat hari ini, kita sedang menjalani masa yang suatu hari akan sangat kita rindukan? Mungkin pagi yang terasa biasa hari ini akan menjadi kenangan yang paling ingin kita ulang sepuluh tahun lagi.
Mungkin makan malam sederhana bersama keluarga adalah kemewahan yang baru akan kita sadari ketika meja itu tidak lagi lengkap. Mungkin tawa anak-anak di ruang tamu adalah suara yang suatu hari akan kita cari dalam kesunyian rumah.
Kita tidak pernah tahu. Karena hidup hanya bisa dipahami ketika kita menoleh ke belakang. Tetapi hanya bisa dijalani ketika kita terus berjalan ke depan.
Kehilangan memang menyakitkan. Namun ia juga mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh kepemilikan. Ia mengajarkan rasa syukur. Ia mengajarkan penghargaan. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dimiliki selamanya agar memiliki arti.
Sebagian orang hadir hanya untuk membentuk kita. Sebagian momen datang hanya untuk mengajarkan kita. Sebagian kebahagiaan singgah hanya agar kita tahu seperti apa rasanya dicintai. Dan ketika semuanya pergi, yang tersisa bukan hanya rasa kehilangan.
Tetapi juga rasa terima kasih karena pernah memilikinya. Mungkin benar, yang paling kita inginkan adalah yang paling tidak bisa kita miliki. Dan sering kali, yang paling tidak bisa kita miliki bukanlah sesuatu yang belum pernah datang.
Melainkan sesuatu yang pernah kita genggam, pernah kita anggap biasa, lalu diam-diam meninggalkan hidup kita. Karena itu, jangan hanya sibuk mengejar apa yang belum ada. Sesekali berhentilah sejenak. Lihat siapa yang sedang duduk di sampingmu. Lihat rumah yang masih bisa kamu pulang. Lihat orang-orang yang masih memanggil namamu.
Sebab bisa jadi, kebahagiaan terbesar yang suatu hari akan kamu rindukan... adalah kehidupan yang sedang kamu jalani hari ini.

No comments:
Post a Comment