Pages

▼

Thursday, September 10, 2026

Bahagia tidak Membutuhkan Penonton

Bahagia sebenarnya tidak serumit yang kita bayangkan. Secangkir kopi di pagi hari. Makan bersama keluarga. Tubuh yang masih sehat. Pulang ke rumah setelah bekerja. Bisa tidur dengan tenang. Memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara. Atau sekadar bangun pagi dan menyadari bahwa hari ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup.

Bukankah semua itu sudah cukup untuk membuat hati tersenyum?

Namun entah mengapa, manusia sering membuat kebahagiaan menjadi rumit. Jadi sesungguhnya bahagia itu tidak sulit. Yang sulit adalah menerima bahwa kita tidak harus lebih bahagia dari orang lain untuk merasa bahagia.

Karena kebahagiaan bukan perlombaan. Dan perlombaan itu semakin cepat sejak media sosial hadir dalam kehidupan kita. Bahagia tidak membutuhkan penonton. 

Kita melihat satu frame, lalu menggunakannya untuk menilai seluruh film kehidupan orang lain. Orang lain bahagia tidak membuat kebahagiaan kita berkurang. Dan seharusnya kita bisa berkata, "Alhamdulillah, dia bahagia. Semoga aku juga diberi kebahagiaan dengan jalanku sendiri."

Sederhana, hanya membutuhkan hati yang lapang.

Bahagia memang sederhana.


No comments:

Post a Comment