Tuesday, November 22, 2005

BATAM, Pulau Industri


BEGIN WITH THE END IN MIND
tulisan perantau untuk para perantau muda

PENGANTAR
BATAM, Pulau Industri

Kalau Jakarta dikenal dengan kota yang tidak pernah tidur, maka Batam disebut dengan Pulau yang tidak pernah terlelap. Kalau Jakarta dikenal sebagai ibu kota yang kejam melebihi ibu tiri, maka Batam disebut sebagai pulau yang tidak mengenal perasaan.

Sebenarnya julukan itu tidak benar seutuhnya. Karena jika kita melihat di Buser atau di Patroli, acara TV yang berkutat dibidang kriminal, tindak tanduk penjahat ada dimana-mana menyebar merata di seluruh pelosok negeri.

Di Indonesia, terdapat beberapa kota Industri diantaranya adalah Jakarta, Surabaya dan Batam. Jika kamu adalah orang yang bertipe pekerja keras, maka Batam adalah pulau yang cocok untuk kamu singgahi. Tipe workaholic akan betah tinggal disini. Karena perhitungan gaji yang fair mengikuti perhitungan pemerintah, 20 hari kerja kita berpusing-pusing dengan pekerjaan dan sebagai ganjarannya di akhir bulan kita dapat tersenyum-senyum melihat slip gaji kita.

Namun terlalu naif, jika kita membicarakan hal tersebut.

Batam memiliki beberapa kawasan industri, diantaranya yang terbesar adalah Kawasan Industri Batam Center, Kawasan Industri Panbil, dan Kawasan Industri Mukakuning. Rata-rata perusahaan yang ada adalah anak perusahaan dari perusahaan yang ada di luar negeri. Seperti Jepang dan Singapura. Jadi untuk kesini, kamu harus bisa berbahasa Inggris.

Namun jangan berkecil hati dulu, karena penulis yakin, kemampuan berbahasa Inggris arek ITS belum bisa dibanggakan. Namun jangan khawatir, perbaiki mulai saat ini juga. Terutama vocabulary, karena yang menjadi lawan bicara kita adalah orang Jepang, orang Singapura dan orang India, yang notabene bahasa Inggris mereka bukan bahasa Ibu.

Asal kita ngomong mereka ngerti, mereka ngomong kita juga ngerti, thats all.


Kemampuan Teknis
Agar bahasa Inggris ada improve, selain belajar di UPT atau di lembaga bahasa Inggris swasta yang lebih bonafit, gunakan juga media yang lain. Tidak susah. Saat menonton film barat, jangan hanya membaca text doank, tapi sekali-kali dengerin para aktor atau aktris bicara kemudian coba kalian terjemahkan.

Atau saat kalian melantunkan lagu barat di kamar mandi, dikit-dikit kalian resapi arti dari liriknya. Atau yang lebih efektif lagi adalah, ngobrollah dengan teman kamu dkampus dengan bahasa Inggris. Sangat sepakat sekali, kalau diadakan English Day seperti yang diterapkan oleh Laboratorium Sistem Manufaktur atau Lab lainnya. Karena dengan komunikasi 2 arah akan bakal efektif untuk memperbaiki bahasa Inggrismu.

Perbaiki sekarang kemampuan bahasa Inggrismu, karena lawan bersaing kita bukan teman kuliah kita, bukan orang Indonesia saja, tapi orang luar negeri. Tanpa bahasa Inggris, sama saja kamu maju perang tanpa membawa senjata, bisa-bisa mati konyol.

Selain kemampuan berbahasa Inggris, pastinya harus dibarengi dengan teori-teori yang mendukung didunia kerja. Untuk mendapat teori-teori pendukung tersebut sudah sangat cukup  kamu dapatkan di bangku kuliah sesuai dengan mata kuliah dan kurikulum yang telah diramu oleh para dosen TI ITS. Tentunya jangan kamu terima mentah-mentah, tapi perlu kamu kembangkan di Lab-Lab yang telah ada dikampus.

Ada selentingan bahwa didunia kerja teori-teori yang kita pelajari di kampus tidak digunakan sama sekali. Hal itu tidaklah benar. Juga tidak sepenuhnya salah. Karena sebenarnya didunia kerja juga diterapkan teori-teori tersebut, tentunya dengan sedikit penyesuaian disana-sini, atau yang biasa disebut dengan teori terapan. Jadi jangan tidak belajar.

Jangan sampai saat kamu wisuda nanti, kamu tidak mengerti tidak paham, apa sebenarnya Teknik Industri, apa sebenarnya yang saya pelajari selama kuliah dari semester ke semester. Tanyalah dirimu sendiri dan jawablah dengan baik, sebelum orang lain bertanya kepadamu.

Karena penulis mengalami sendiri, yang dipelajari di Teknik Industri sangat banyak sekali. Ibaratkan pendekar, kamu mempunyai banyak senjata seperti pedang, panah, golok, kapak, ruyung, tongkat dan keris. Tapi kamu tidak dapat menggunakan salah satunya saja dengan baik.

Soft Skill
Selain belajar formal untuk mendapatkan ilmu teori, ada lagi yang tak kalah penting. Yaitu soft skill. Yang bisa kamu dapatkan jika kamu berinteraksi dengan orang lain. Dan wadah yang sesuai untuk mengasah soft skill adalah organisasi. Organisasi apa saja, baik itu HMTI, MSI, Lab atau UKM.

Mengapa soft skill itu perlu dan penting. soft skill ada beberapa, diantaranya adalah leadership dan comunication skill. Karena tingkat pendidikan kita adalah strata satu (S1) maka didunia kerja kita akan memimpin suatu tim yang pada umumnya tingkat pendidikan mereka adalah SMA, yang mana pemahaman mereka akan berbeda sama sekali dengan teman kita yang sama-sama mengenyam bangku kuliah.

Maka tidak lucu kalau kita saat akan memberikan instruksi kepada anak buah kita, kita tidak dapat menjelaskan dengan tenang dan jelas. Karena kita telah grogi duluan. Karena kita tidak pede.

Akan mudazir kalau kita punya segudang ide, tapi tidak pernah terwujud, karena anak buah kita sebagai tim tidak bekerja dengan efektif dan efisien sesuai dengan yang kita mau, sesuai dengan yang kita inginkan.

Kemampuan ini akan efektif jika kita asah. Selain dengan organisasi, kita manfaatkan media lain, semisal saat kuliah, kita ada yang tidak jelas. Cobalah mengacungkan tangan, lalu bertanya.

Dengan bertanya, kita telah belajar memupuk 2 hal. Keberanian dan komunikasi. Keberanian, karena kita telah mengalahkan rasa takut dan malu terhadap forum, bahwa kita tidak paham. Berani menepis dicap bodoh. Dan dengan bertanya, kita belajar menata ucapan kita secara diplomatis mungkin, sehingga pertanyaan yang kita ajukan bukan merupakan pertanyaan bodoh, tapi merupakan pertanyaan yang cedas.

Begin With The End In Mind
Dari tulisan yang singkat ini, penulis tidak akan mengajak pembaca harus bagaimana, harus melakukan apa. Pembaca dipersilahkan mengambil sikap sendiri.

Namun yang perlu digaris bawahi adalah, saat kamu memulai sesuatu kegiatan atau aktivitas apapun selalu iringi dengan kejelasan hasil apa yang akan dan yang ingin kamu capai.
Jangan sampai kamu saat wisuda nanti tidak mengetahui kemampuanmu sendiri, atau yang lebih parah kamu tidak mempunyai kemampuan! Sungguh parah. Jangan sampai kamu merasa menyesal dan kecewa karena saat kuliah tidak menggunakan waktu dengan baik.

Sah-sah saja kalau kita meluangkan waktu kita untuk bermain, untuk nongkrong, untuk pacaran. Untuk refreshing melepas penatnya beban. Tapi tidak wajar jika waktu refreshing melebihi waktu dari belajar itu sendiri.


Batam, 22 November 2005

Taufan Yanuar

(Penulis merupakan mantan mahasiswa angkatan 2000. Pernah mengenyam magang di Astra Otoparts Jakarta selama 6 bulan dan sekarang menjadi buruh di PT Toshiba TEC Batam. Selama kuliah penulis aktif di HMTI sebagai Kabiro Kesekretariatan dan Kadep PPA)

Thursday, September 22, 2005

Membedah Akar Kepemimpinan

oleh Romi Satria Wahono

Remember the difference between a boss and a leader: a boss says, “Go!”, but a leader says, “Let’s Go!” (EM Kelly)

Ketika seorang pemimpin telah ditakdirkan lahir di dunia. Dan kita, mau tidak mau, suka atau tidak suka, akan masuk dalam suratan pergiliran untuk menjadi seorang pemimpin. Tiada yang bisa kita lakukan kecuali mempersiapkan diri, membekali diri dengan ilmu dan kecakapan dalam
pemegangan amanah. Sehingga ketika masa itu datang, kita tidak menjadi pemimpin yang jahil apalagi dhalim dikarenakan ketidakmampuan kita (QS 33-72).

Mari kita berangkat memulai diskusi dan pemikiran ini dengan sebuah definisi dan konsepsi. Sejak era 20 tahun yang lalu, telah banyak definisi kepemimpinan yang disampaikan oleh para pakar (Anderson-1988, Sarros-1996, Robbins-2002).

Dari perseteruan yang ada, kita bisa menarik akar definisi kepemimpinan sebagai suatu proses dan perilaku untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat in dividu dan organisasi.

Sedangkan aliran tema yang didiskusikan dan diteliti berkenaan dengan kepemimpinan, kemudian tercabang menjadi tiga:
1. Yang mempelajari tentang perilaku, skill, watak dan sifat pemimpin
2. Yang mempelajari tentang hubungan antara seorang pemimpin dan pengikut (follower)
3. Yang mempelajari tentang bagaimana pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku
para pemimpin.

Lalu apa hubungan kepemimpinan (leadership) dengan manajemen (management).

Keduanya memiliki kemiripan, meskipun sebenarnya sangat berbeda dalam konsep. Menurut Bennis and Nanus (1995), konsepsi pemimpin lebih ke arah mengerjakan yang benar, sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat atau terkenal dengan sebuah ungkapan “managers are people who do things right and leaders are people who do the right thing”. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. Ketika beberapa logika dasar definisi kepemimpinan diatas kita turunkan lebih dalam, maka akan kita dapatkan implikasi mendasar dan tatanan menarik dari sebuah konsep kepemimpinan.


Kepemimpinan adalah Fenomena Pemimpin, Pengikut dan Situasi 

Suatu kepemimpinan membawa arti adanya fenomena kompleks yang melibatkan pemimpin, pengikut, dan situasi. Tiga elemen ini saling berinteraksi dalam hubungan saling membutuhkan dengan kapasitasnya masing-masing: pemimpin (personalitas, posisi, kepakaran, dsb), pengikut (kepercayaan, kepatuhan, pemikiran kritis, dsb), dan situasi (kerja, tekanan/stress, lingkungan, dsb). Kita bisa memahami proses kepemimpinan dengan baik ketika kita tidak hanya melihat pada sosok seorang pemimpin, tetapi juga pengikut, bagaimana pemimpin dan pengikut saling mempengaruhi, dan juga bagaimana situasi bisa mempengaruhi kemampuan dan tingkah laku pemimpin dan pengikut. Hakekat terpenting dari framework ini adalah bagaimana menjadikan kepemimpinan sebagai sebuah permainan orkestra yang merdu, sebagai hasil dari interaksi sinergis dari pemimpin, pengikut dan situasi. Mungkin seorang boss mengatakan “Go!” kepada anak buahnya, tapi seorang pemimpin sejati harus berani membawa dirinya dalam pergerakan dengan mengatakan “Let’s Go!”.


Kepempinan adalah Ilmu dan Seni 

Menjadi pemimpin bukanlah hanya monopoli seorang mahasiswa fakultas pendidikan kepemimpinan, dan bukan juga monopoli seorang yang kebetulan banyak ketiban amanah menjadi pemimpin. Untuk mewujudkan kepemimpinan yang efektif (effective leadership), kepemimpinan harus dipelajari sebagai ilmu dan dipraktekkan sebagai sebuah seni yang indah. Pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan pengetahuannya bisa berimprovisasi menggunakan (sumber) kekuasaannya untuk menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Tiada kepemimpinan tanpa pemahaman ilmu dan keindahan seni.


Kepemimpinan adalah Proses Bukan Posisi 

Kepemimpinan adalah sebuah proses pembelajaran dan praktek, dia bukanlah sebuah posisi ataupun jabatan yang diberikan. Jabatan bisa kita dapatkan karena uang, hubungan kekeluargaan, ataupun kolusi (KKN). Tidak demikian dengan sebuah kepemimpinan. Kepemimpinan adalah sebuah proses yang akan membentuk seorang pemimpin dengan karakter dan watak jujur terhadap diri sendiri (integrity), bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication). Juga sebuah proses yang akan membentuk seorang pengikut (follower) yang didalam kepatuhannya kepada pemimpin, tetapi memiliki pemikiran kritis, inovatif, dan jiwa independen.


Kepemimpinan adalah Rasional dan Emosional 

Kepemimpinan adalah aksi dan pengaruh yang berbasis ke logika dan juga inspirasi. Pemimpin bukanlah sosok commander data dalam star trek, yang selalu merespon permasalahan dengan prediski logika dan data. Tiap-tiap manusia memiliki sisi rasional dan emosional yang membawa implikasi terjadinya perbedaan pemikiran, feelings, pengharapan, mimpi, kebutuhan, ketakutan, ambisi dan tujuan. Maka konsekuensinya, seorang pemimpin dituntut untuk cerdik menggunakan pendekatan rasional dan emosional untuk mempengaruhi pengikut, tentu dengan bobot yang adil dan disesuaikan dengan keadaan.

Wallahualam bisshawab


Penulis adalah ketua umum PPI Jepang. Pendiri dan pengelola beberapa perusahaan dan situs yang bergerak di bidang teknologi informasi. Juga sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

http://romisatriawahono.net 
romi@romisatriawahono.net 

Wednesday, April 20, 2005

5 Mitos Kepemimpinan

20 April 2004

Banyak orang mempunyai persepsi yang salah tentang kepemimpinan. Bila seseorang mempunyai prestasi akademik yang baik atau posisi manajerial, mereka mengasumsikan bahwa mereka pemimpin.

Dalam hal tertentu, asumsi tersebut benar. Tetapi pada kenyataannya, prestasi akademis tidak ada kaitannya dengan kualitas kepemimpinan. Pemimpin sejati tidak dapat dianuagerahkan, diberikan atau ditunjuk. Kepemimpinan datang dari pengaruh dan pengaruh tidak dapat didelegasikan.

Kepeminpinan diperoleh melalui proses. Waktu merupakan hal penting untuk memperoleh kepemimpinan.

Berikut merupakan 5 mitos kepemimpinan:

Manajemen.

Merupakan salah besar bila kepemimpinan sama dengan manajemen. Perbedaan yang fundamental adalah bahwa dalam kepemimpinan kekuatan mempengaruhi betul ada, sedangkan dalam manajemen yang ada hanyalah karena sistem dan proses manajemen.


Entrepreneur.

Sering diasumsikan bahwa tenaga penjual dan entrepreneur adalah pemimpin. Orang hanya membeli produk dan tidak perlu pengikut.


Pengetahuan.

Banyak orang percaya bahwa pengetahuan merupakan inti kepemimpinan. Kenyataanya, kita sering menjumpai orang yang mempunyai nilai akademis istimewa dan kemampuan meneliti, tetapi memiliki kualitas rendah dalam kepemimpinan. IQ tidak memberikan garansi kualitas kepemimpinan.


Paling depan.

Konsep salah lainnya adalah pendapat bahwa orang yang berada di depan dan bersuara keras adalah pemimpin. Orang yang pertama bukan berarti pemimpin. Untuk menjadi pemimpin tidak harus ada di depan, tetapi membuat orang lain mengikuti visinya.


Posisi.

Konsep salah yang paling sering dimiliki orang adalah bahwa pemimpin diperoleh melalui posisi atau jabatan. Bukan posisi yang membuat seseorang menjadi pemimpin, tetapi yang memiliki kepemimpinan memperoleh posisi atau jabatan.


Anda sering menjumpai seseorang yang sukses, cemerlang dan berbakat, tetapi dengan
kualitas kepemimpinan sangat rendah. Tidak ada jalan pintas menjadi pemimpin, tidak peduli berapa tahun orang sudah memimpin.

Kepemimpinan merupakan kombinasi antara strategi dan karakter. Karakter menciptakan kepercayaan dan dengan kepercayaan seseorang menciptakan kepemimpinan. Banyak organisasi runtuh karena pemimpinnya tidak punya karakter.

Meskipun mempunyai daftar keberhasilan, karakter negatif membuat organisasi hancur cepat atau lambat.

Monday, April 4, 2005

Debut Hari Pertama Bekerja


Berikut adalah tips yang bisa membantu Anda melewati hari pertama di tempat kerja dengan sukses dan bisa memberikan kesan baik bagi perusahaan tempat Anda bekerja.

Pelajari rute dan Jangan terlambat
“Success depends upon previous preparation, and without such preparation there is sure to be failure.” ~Confucius

Apapun alasannya jangan sampai Anda datang terlambat karena hal tersebut menunjukkan ketidakseriusan Anda bekerja. Terlambat di hari pertama bekerja adalah ´aib´ yang akan Anda terus bawa selama Anda bekerja di perusahaan tersebut. 

Jika ingin memiliki persiapan yang lebih matang, Anda bisa mencoba mempelajari rute dari rumah ke kantor baru beberapa hari sebelum hari H. Siapa tahu, dengan begitu Anda bisa mengetahui spot-spot macet sepanjang perjalanan menuju tempat kerja dan menemukan rute alternatif untuk mengatasinya.

Bersosialisasi dan Be humble
“A man wrapped up in himself makes a very small bundle.” ~Benjamin Franklin

Anda termasuk seseorang dengan sense of humor yang tinggi? Jika iya, kendalikan terlebih dahulu sense of humor tersebut. Jangan dulu mengeluarkan karakter asli Anda di hari pertama kerja. Tidak mau kan sudah dicap SKSD (sok kenal sok dekat) di hari pertama Anda? Biarlah karakter Anda keluar dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.

Perbanyaklah senyum dan jangan terlalu banyak bicara di hari pertama. Fokus saja pada job desk yang bos Anda arahkan. Beradaptasi saja dulu dengan lingkungan dan tata cara bekerja di kantor tersebut.

Umumnya atasan Anda akan memperkenalkan Anda kepada rekan kerja Anda, namun jika tidak, perkenalkan diri Anda kepada mereka, dan jangan ragu untuk bertanya. Mereka mempunyai kewajiban untuk membantu rekan kerja.

Lihat, dengar, dan perhatikan serta ikuti aturan main
“Listen to many, speak to a few” ~William Shakespeare

Di hari pertama nanti, pasti Anda akan diberitahu banyak hal oleh HRD, bos Anda hingga teman kerja baru Anda tentang cara kerja dan lainnya. Agar tidak terlewat satu pun, catatlah informasi-informasi tersebut dalam buku catatan Anda. Jika masih ada hal-hal yang Anda kurang pahami, jangan malu untuk bertanya. Bertanya itu tidak ada salahnya mengingat Anda adalah orang baru di kantor tersebut. Ingat kata Steve Jobs, “Stay hungry, Stay Foolish!” Namun ingat! Bertanyalah sewajarnya!

Selain mendapatkan informasi-informasi baru, ada baiknya perhatikan lingkungan kantor sekitar. Jangan lupa untuk tahu letak ruang meeting, mesin fotokopi hingga pantry.
Mungkin ada beberapa hal dalam pekerjaan Anda berbeda dengan hal yang Anda pelajari di kampus, namun ingatlah Anda tidak memiliki kapasitas untuk merubah SOP atau hal lainnya sesuai dengan keinginan Anda. Beberapa bulan pertama adalah bukan waktu yang tepat untuk merubah apapun, kecuali jika Anda memang diminta untuk melakukannya.

Tetap jadi diri Anda sendiri.
Untuk beberapa hari pertama, jadilah spons. Serap segala pengetahuan baru, ketahui budaya perusahaan, perlahan-lahan Anda akan tahu apa yang diharapkan dari Anda. Jujur dengan kemampuan Anda. Jangan menyanggupi jika Anda dihadapkan pada sebuah task yang tidak Anda pahami. Kenali lingkungan Anda tanpa merubah kepribadian Anda.

Selalu siap menghadapi meeting. 
Dihari pertama Anda mungkin akan bertemu dengan banyak pihak, siapkan selalu notepad dan alat tulis.

Don't complain. 
Mungkin ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan harapan Anda. Entah soal load pekerjaan yang tiba-tiba membludak atau hal sepele seperti suara AC yang berderu terlalu kencang. Apapun sebabnya, jangan gampang mengeluhkan sesuatu, bisa-bisa Anda dianggap sebagai whinger alias tukang keluh.

Be a team player.
Jika Anda mencantumkan kualifikasi ini dalam surat lamaran Anda, maka konsisten-lah. Jika rekan kerja Anda pulang lebih lama dari hang back dan tunggulah mereka. Jangan jadi orang pertama dalam tim Anda yang pulang. Ini juga kesempatan untuk mengenal rekan kerja lebih jauh dan mengetahui budaya perusahaan.

Remember! : 
Kesan pertama selalu membentuk persepsi orang lain terhadap Anda. So berilah kesan yang terbaik kepada mereka.


Sumber :
http://id.jobsdb.com
http://brighterlife.co.id

Related Posts