Pukul 04.00 pagi dini hari tanggal 2 Agustus 2026 aku sudah beranjak dari Hotel 88 Embong Kenongo menuju Surabaya Plaza. Disana para pelari Full Marathon dalam event Surabaya Marathon 2026 sudah berangsur-angsur berlari melewati garis start.
Di belakang jauh para pelari Half Marathon sedang baris rapi untuk antri ke garis start.
Aku dan beberapa pelari lain masih persiapan dan pemanasan sekaligus menunggu adzan subuh. Tepat pukul 04.23 adzan subuh berkumandang, kami sekitar 10 pelari menunaikan terlebih dahulu sholat subuh berjamaah dengan beralaskan koran.
Baru pada pukul 04.26 kita mulai masuk ke barisan, tentunya yang paling belakang, tapi tidak apa-apa, karena tepat pukul 04.30 start untuk pelari Half Marathon dimulai.
Di depan saya ada 21 kilometer. Di belakang saya ada latihan. Ada hari-hari ketika harus memaksa diri keluar rumah untuk latihan. Ada hari ketika tubuh terasa berat. Ada pula hari ketika berlari terasa begitu mudah. Tetapi semua latihan itu akhirnya berhenti menjadi teori. Hari ini, semuanya harus dibuktikan.
Ketika start dimulai, hampir semua orang terlihat bahagia. Musik. Sorak-sorai. Teriakan penonton. Pelari yang berlari dengan penuh energi. Dan tentu saja, tubuh masih terasa ringan. Pada kilometer awal, kita sering merasa bahwa 21 kilometer bukan sesuatu yang sulit. Langkah masih panjang. Napas masih teratur. Kecepatan masih bisa dijaga.
Tetapi half marathon selalu punya cara untuk mengingatkan kita agar tidak terlalu percaya diri. Karena yang kita hadapi bukan kilometer pertama. Kita sedang berhadapan dengan kilometer ke-15, ke-17, ke-19, bahkan ke-21.
Memasuki pertengahan perjalanan, suasana mulai berubah. Keringat mulai banyak. Napas mulai terasa. Kaki mulai memberikan sinyal. Dan perlahan muncul pertanyaan, "Kenapa saya melakukan ini?". Menariknya, pertanyaan tersebut mungkin tidak pernah muncul ketika sedang latihan.
Tubuh mulai mengajak kita berdiskusi dan berdebat. Di sinilah lari menjadi menarik. Karena yang berlari bukan lagi hanya kaki. Pikiran ikut berlari. Kita mulai belajar mengatur ritme. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Tahu kapan harus berlari. Tahu kapan harus berjalan.
Dan ternyata, hidup juga seperti itu. Tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan kecepatan yang sama.
Inilah bagian yang mungkin paling jujur dari half marathon. Ketika semangat mulai habis. Motivasi tidak lagi cukup. Kita sudah tidak peduli lagi dengan suasana lomba. Tidak peduli dengan pelari di depan. Tidak peduli dengan siapa yang mendahului. Kita hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Di titik itu, saya belajar bahwa disiplin lebih penting daripada motivasi. Motivasi membuat kita mendaftar. Motivasi membuat kita membeli sepatu. Motivasi membuat kita berlatih. Tetapi ketika kaki mulai sakit dan tubuh mulai lelah, yang membuat kita terus bergerak bukan motivasi.
Tapi disiplin. Karena kita sudah berjanji kepada diri sendiri untuk menyelesaikan perjalanan ini.
Ketika jarak tinggal sedikit, tubuh yang tadi terasa berat tiba-tiba mendapatkan energi baru. Bukan karena tubuh benar-benar sudah pulih. Tetapi karena pikiran tahu, sebentar lagi selesai. Ada sesuatu yang ajaib dari garis finish. Ia tidak menghilangkan rasa sakit.
Tetapi memberikan alasan untuk menahannya sedikit lebih lama. Satu kilometer. Kemudian 500 meter. Kemudian 200 meter. Dan akhirnya, alhamdulillah Finish.
Medali memang menyenangkan. Angka di jam juga menyenangkan. Pace, waktu tempuh, personal record, semuanya bisa menjadi catatan. Tetapi setelah semuanya selesai, yang paling berharga bukan angka tersebut.
Melainkan apa yang kita pelajari selama perjalanan. Bahwa tubuh memiliki batas. Bahwa pikiran bisa menjadi sahabat sekaligus musuh. Bahwa motivasi tidak selalu hadir. Bahwa disiplin harus mengambil alih ketika motivasi pergi. Bahwa berjalan sebentar bukan berarti menyerah.
Dan bahwa garis finish selalu terasa lebih dekat ketika kita terus bergerak.





































