Showing posts with label Unwell. Show all posts
Showing posts with label Unwell. Show all posts

Wednesday, April 8, 2026

Menjaga Berat Badan Ideal di Usia Lansia

Menjaga Berat Badan Ideal di Usia Lansia: Kunci Mengurangi Nyeri dan Tetap Aktif


Saat menderita skiatika atau sciatica nerve pain yaitu nyeri di punggung bawah pada bulan Oktober 2025, berat badan sangat tidak ideal. Dimana dengan tinggi badan 143 cm namun berat badan hanya 35 kg saja.

Sebulan kemudian, yaitu pada bulan November 2025, sudah mendingan hal ini juga ditandai dengan peningkatan dengan tinggi badan 145 cm berat badan lumayan naik menjadi 39 kg. Meskipun itu masih tetap terasa Low Back Pain & Piriformis Syndrome yaitu nyeri punggung bawah sehingga otot piriformis menekan saraf skiatik yang menyebabkan nyeri yang bisa menjalar dari bokong ke kaki. 

Hari ini, juga ada peningkatan yaitu berat badan menjadi 41 kg.

Seiring bertambahnya usia, tubuh tidak lagi sekuat dulu. Sendi mulai terasa kaku, otot melemah, dan aktivitas sederhana seperti berdiri atau berjalan bisa terasa lebih berat. Di fase ini, menjaga berat badan ideal bukan lagi soal penampilan—melainkan soal kualitas hidup.

Bayangkan tubuh seperti sebuah bangunan yang ditopang oleh rangka. Untuk lansia pada umumnya harus kuat agar mampu menopang badan yang akan memberikan tekanan ekstra pada:

  • lutut
  • pinggul
  • punggung bawah

Sehingga akibatnya:

  • nyeri sendi lebih sering muncul
  • risiko jatuh meningkat
  • mobilitas semakin terbatas

Jika berat badan terlalu rendah, maka akan berakibat:

  • otot berkurang
  • tubuh kehilangan “bantalan alami”
  • mudah lelah dan rentan cedera

Oleh karena itu kata kuncinya adalah seimbang, cukup ringan untuk mengurangi beban sendi, tapi cukup kuat untuk menopang tubuh.

Banyak orang fokus pada berat badan, tapi lupa satu hal penting, yaitu massa otot. Di usia lansia, otot berperan sebagai:

  • penyangga sendi
  • penstabil tubuh
  • “shock absorber” alami

Semakin kuat otot, semakin kecil tekanan langsung ke tulang dan sendi. Tidak perlu gym mahal atau alat canggih. Latihan sederhana pun sudah sangat membantu jika dilakukan rutin. 

Misalnya yang pertama adalah Latihan Kaki & Pinggul: Box Squat (Duduk–Berdiri Kursi). Dari referensi lain juga melaksanakan bodyweight squat. Ini adalah latihan paling aman dan efektif untuk lansia. Caranya sebagai berikut,

  • Duduk di kursi
  • Berdiri perlahan tanpa bantuan tangan (atau seminimal mungkin)
  • Lalu duduk kembali secara terkontrol

Manfaat:

  • menguatkan otot paha
  • memperkuat otot pinggul & pantat
  • melatih keseimbangan

Ini penting karena sebagian besar aktivitas harian melibatkan gerakan duduk dan berdiri. Kemudian yang kedua adalah Latihan Tangan: Angkat Beban Sederhana. Tidak perlu barbel profesional. Kita bisa menggunakan botol air mineral. Caranya adalah sebagai berikut,

  • Pegang botol di kedua tangan
  • Angkat perlahan (seperti gerakan bicep curl)
  • Turunkan dengan kontrol

Manfaat:

  • menjaga kekuatan tangan
  • mempermudah aktivitas seperti membawa barang
  • mengurangi risiko kelemahan otot


Latihan tanpa pola makan yang tepat tidak akan maksimal. Oleh karena itu lansia harus mengurangi karbohidrat agar tidak berlebih. Konsumsi nasi yang berlebihan bisa:

  • meningkatkan berat badan
  • memperbesar beban pada sendi

Bukan berarti harus berhenti total, tapi dikontrol porsinya.

Lalu yang kedua adalah dengan memperbanyak konsumsi protein. Protein sangat penting untuk lansia karena,

  • membantu mempertahankan massa otot
  • mempercepat pemulihan tubuh
  • menjaga kekuatan fisik

Sumber proten yang bai, yaitu :

  • putih telur
  • daging
  • ikan
  • tahu & tempe

Yang sering menjadi kesalahan adalah terlalu semangat di awal, lalu berhenti di tengah jalan. Padahal untuk lansia, yang penting bukan berat latihannya, tapi rutinitasnya. Oleh karena cukup latihan ringan setiap hari lebih baik daripada latihan berat tapi jarang.


Sumber :

https://kelasfitness.com/blog/bodyweight-untuk-lansia-biar-tetap-sehat-di-usia-senja/

https://lifestyle.kompas.com/read/2023/04/27/090000620/usia-bertambah-ini-4-gerakan-terbaik-untuk-perkuat-tubuh-bagian-bawah?page=all

Thursday, January 8, 2026

Dyspepsia

Dyspepsia adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan sekumpulan keluhan pada saluran pencernaan bagian atas, terutama di area lambung. Kondisi ini bukanlah satu penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala yang dapat muncul akibat berbagai penyebab. 

Keluhan yang sering dirasakan meliputi rasa tidak nyaman atau nyeri di ulu hati, perut terasa penuh atau kembung, mual, cepat kenyang saat makan, sering bersendawa, hingga rasa panas atau perih di perut bagian atas. Dyspepsia cukup umum dialami oleh masyarakat, baik akibat pola makan yang tidak teratur, stres, maupun gangguan kesehatan tertentu.

pathkindlabs.com

Secara umum, dyspepsia dibagi menjadi dua jenis, yaitu dyspepsia fungsional dan dyspepsia organik. Dyspepsia fungsional terjadi ketika keluhan pencernaan muncul tanpa ditemukan kelainan struktur pada lambung saat pemeriksaan medis. 

Faktor pemicunya sering kali berkaitan dengan stres, kecemasan, kebiasaan makan yang buruk, konsumsi kopi, makanan pedas, berlemak, serta merokok. Sementara itu, dyspepsia organik disebabkan oleh gangguan yang jelas, seperti peradangan lambung, infeksi Helicobacter pylori, tukak lambung, atau efek samping obat-obatan tertentu, terutama obat anti-nyeri.

Dalam kehidupan sehari-hari, dyspepsia sering disamakan dengan sakit maag. Padahal, sakit maag sebenarnya adalah istilah awam yang merujuk pada radang lambung (gastritis). Gastritis merupakan salah satu penyebab dyspepsia, tetapi tidak semua dyspepsia berarti maag. 

Pada sakit maag, biasanya terjadi peradangan pada dinding lambung yang bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, konsumsi alkohol, obat-obatan, atau pola makan yang tidak teratur. Gejala maag memang mirip dengan dyspepsia, seperti nyeri ulu hati, mual, dan perih, namun pada maag terdapat proses peradangan yang jelas pada lambung.

Sementara itu, asam lambung lebih sering merujuk pada kondisi GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), yaitu naiknya asam lambung ke kerongkongan. Gejala khas asam lambung meliputi rasa panas atau terbakar di dada (heartburn), rasa asam atau pahit di mulut, dada terasa sesak, serta keluhan yang sering memburuk saat berbaring atau setelah makan. 

Berbeda dengan dyspepsia yang dominan dirasakan di area ulu hati, keluhan asam lambung cenderung terasa hingga dada dan tenggorokan karena asam lambung naik melewati katup lambung.

Perbedaan utama antara dyspepsia, sakit maag, dan asam lambung terletak pada ruang lingkup dan mekanismenya. Dyspepsia adalah istilah payung untuk berbagai gejala tidak nyaman di lambung, sakit maag adalah salah satu penyebab dyspepsia yang berkaitan dengan peradangan lambung, sedangkan asam lambung lebih berhubungan dengan gangguan aliran asam ke kerongkongan. 

Ketiganya bisa memiliki gejala yang saling tumpang tindih, sehingga sering kali sulit dibedakan tanpa pemeriksaan medis.

Penanganan dyspepsia sangat bergantung pada penyebabnya. Perubahan gaya hidup menjadi langkah awal yang penting, seperti makan teratur, menghindari makanan pemicu, mengelola stres, serta tidak langsung berbaring setelah makan. 

Jika keluhan sering kambuh atau semakin berat, pemeriksaan ke tenaga medis diperlukan untuk memastikan apakah keluhan tersebut berasal dari maag, asam lambung, atau gangguan lain yang lebih serius. Dengan memahami perbedaan ketiganya, kita dapat lebih bijak dalam mengenali gejala dan menentukan langkah penanganan yang tepat.

Thursday, November 27, 2025

Low Back Pain & Piriformis Syndrome

Nyeri punggung bawah (low back pain) adalah rasa nyeri di punggung bagian bawah, sedangkan sindrom piriformis adalah kondisi spesifik di mana otot piriformis menekan saraf skiatik, menyebabkan nyeri yang bisa menjalar dari bokong ke kaki. Nyeri punggung bawah bisa disebabkan oleh berbagai masalah pada tulang belakang, sedangkan sindrom piriformis hanya terjadi karena masalah pada otot piriformis. 

Low back pain atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang paling sering dialami oleh berbagai kelompok usia dan dapat disebabkan oleh beragam faktor, mulai dari ketegangan otot, gangguan pada tulang belakang seperti herniasi diskus, hingga kebiasaan postur tubuh yang kurang baik. 

Nyeri ini biasanya muncul pada area lumbal dan dapat menjalar ke bokong maupun tungkai jika terjadi iritasi saraf. Salah satu kondisi yang kerap berkaitan dengan nyeri punggung bawah adalah piriformis syndrome, yaitu gangguan yang terjadi ketika otot piriformis—otot kecil yang terletak di bagian dalam bokong—mengalami spasme atau peradangan sehingga menekan saraf skiatik. 

Tekanan ini dapat menimbulkan gejala seperti nyeri tajam pada bokong, sensasi terbakar di sepanjang tungkai, kesemutan, atau bahkan kelemahan otot. Meski sering disalahartikan sebagai masalah saraf skiatik akibat herniasi nukleus pulposus (HNP), piriformis syndrome pada dasarnya merupakan gangguan pada otot, sehingga pendekatan terapinya berbeda. 

Faktor risiko seperti duduk terlalu lama, kebiasaan membawa dompet tebal di saku belakang, trauma kecil berulang, atau ketidakseimbangan otot pinggul sering kali menjadi pencetus utamanya. Penanganan untuk low back pain dan piriformis syndrome umumnya melibatkan kombinasi antara istirahat relatif, latihan peregangan dan penguatan otot, perbaikan postur, fisioterapi, terapi panas atau dingin, serta modifikasi aktivitas. 

Pada beberapa kasus, pemberian obat antiinflamasi atau terapi injeksi dapat membantu meredakan gejala yang membandel. Pencegahan juga sangat penting, termasuk menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan fleksibilitas otot pinggul, dan menerapkan ergonomi yang baik saat bekerja maupun beraktivitas sehari-hari. 

Memahami perbedaan dan keterkaitan kedua kondisi ini membantu penderita maupun tenaga kesehatan menentukan strategi penanganan yang tepat sehingga nyeri dapat diatasi secara efektif dan kualitas hidup tetap terjaga.


Sumber :

https://www.alodokter.com/sindrom-piriformis

https://www.nk-health.com/sindrom-piriformis/

https://www.msdmanuals.com/id/home/cedera-dan-keracunan/cedera-olahraga/sindrom-piriformis

https://fisioterapi.esaunggul.ac.id/terapi-latihan-untuk-menangani-sindrom-piriformis/

Wednesday, November 26, 2025

Rata-Rata Usia Terkena Osteoarthritis

bauerfeind.co.nz

Siapa yang Berisiko dan Kapan Biasanya Muncul?

Osteoarthritis (OA) adalah bentuk radang sendi yang paling umum, ditandai dengan kerusakan tulang rawan sendi yang menyebabkan nyeri, kaku, dan keterbatasan gerak. Kondisi ini sering dikaitkan dengan proses penuaan, tetapi usia bukan satu-satunya faktor pemicu.

Pada Usia Berapa Osteoarthritis Biasanya Muncul?

Secara umum, rata-rata usia seseorang mulai mengalami osteoarthritis berada pada kisaran 45–55 tahun. Namun, beberapa pola penting dapat diperhatikan:

1. Usia 40–50 Tahun: Tahap Awal Kemunculan

Pada rentang usia ini, banyak orang mulai merasakan gejala awal seperti:

  • Nyeri sendi setelah beraktivitas,

  • Kekakuan terutama saat bangun pagi,

  • Sendi berbunyi atau terasa tidak stabil.

Faktor seperti pekerjaan berat, obesitas, serta cedera olahraga bisa mempercepat munculnya OA meski seseorang belum berusia lanjut.

2. Usia 55–65 Tahun: Gejala Semakin Jelas

Pada tahap ini, osteoarthritis menjadi lebih sering terdiagnosis. Kerusakan tulang rawan makin nyata, sehingga:

  • Nyeri muncul lebih sering,

  • Peradangan ringan di sekitar sendi,

  • Penurunan fungsi sendi cukup terasa dalam aktivitas harian.

Banyak penelitian melaporkan bahwa usia 60 tahun ke atas merupakan puncak prevalensi osteoarthritis, terutama pada lutut dan pinggul.

3. Di Atas 65 Tahun: Risiko Meningkat Tajam

Pada kelompok lansia, degenerasi sendi terjadi secara alami. Pada usia ini:

  • Lebih dari setengah populasi menunjukkan tanda OA pada setidaknya satu sendi,

  • Faktor komorbid seperti diabetes, hipertensi, dan kelemahan otot ikut memperburuk kondisi.

Faktor yang Mempengaruhi Munculnya OA Lebih Dini

Meskipun rata-rata di usia pertengahan, osteoarthritis dapat muncul lebih cepat bila dipengaruhi oleh:

1. Riwayat Cedera Sendi

Cedera ACL, meniskus, atau patah tulang di sekitar sendi dapat mempercepat kerusakan tulang rawan.

2. Obesitas

Berat badan berlebih memberi tekanan besar terutama pada sendi lutut dan pinggul.

3. Aktivitas Fisik Berlebih atau Berulang

Pekerjaan atau olahraga yang memberikan tekanan berulang pada sendi meningkatkan risiko OA dini.

4. Faktor Genetik

Beberapa orang memiliki kecenderungan genetik mengalami kerusakan sendi lebih cepat.

5. Kelainan Bentuk Sendi

Sejak lahir atau akibat penyakit tertentu, bentuk sendi yang tidak ideal membuat gerakan tidak seimbang dan memicu keausan.

Tanda-Tanda Awal yang Perlu Diwaspadai

  • Nyeri sendi saat bergerak atau setelah aktivitas,

  • Kekakuan saat bangun tidur,

  • Pembengkakan ringan,

  • Rentang gerak sendi berkurang,

  • Suara “krek” atau gesekan saat digerakkan.

Jika gejala ini muncul sebelum usia 45 tahun, pemeriksaan ke dokter penting untuk mendeteksi OA dini.

Bisakah Osteoarthritis Dicegah atau Diperlambat?

Ya. Beberapa langkah yang terbukti membantu antara lain:

  • Menjaga berat badan ideal,

  • Rutin berolahraga ringan seperti berenang atau bersepeda,

  • Menghindari cedera berulang,

  • Memperkuat otot sekitar sendi,

  • Mengontrol penyakit metabolik seperti diabetes atau kolesterol.

Monday, November 24, 2025

Fisioterapi untuk Nyeri Sendi Orang Tua


Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami penurunan fungsi alami yang memengaruhi berbagai bagian tubuh, terutama sendi. Banyak orang tua mulai merasakan keluhan seperti nyeri lutut, pinggul, pergelangan kaki, tulang belakang, atau persendian lainnya yang menyebabkan sulit berjalan, bangun dari tempat tidur, menaiki tangga, bahkan melakukan aktivitas sederhana sehari-hari. 

Di sinilah fisioterapi menjadi salah satu pendekatan paling efektif untuk membantu mengurangi nyeri, meningkatkan mobilitas, dan mengembalikan kualitas hidup para lansia tanpa bergantung pada obat jangka panjang.

Fisioterapi bekerja dengan cara menstimulasi struktur otot, tulang, dan jaringan sendi melalui latihan terarah, terapi manual, serta penggunaan alat seperti ultrasound terapeutik, TENS, atau terapi panas-dingin. Terapi ini tidak sekadar meredakan rasa sakit, tetapi juga menangani akar masalah seperti kekakuan otot, inflamasi sendi, penurunan fleksibilitas, hingga kelemahan otot penyangga sendi. 

Pada orang tua yang mengalami osteoarthritis, misalnya, latihan penguatan otot paha dan pinggul terbukti membantu mengurangi tekanan pada lutut sehingga rasa nyeri perlahan berkurang. Dengan program yang tepat, fisioterapi dapat membantu lansia kembali aktif tanpa rasa takut terhadap cedera.

Selain manfaat fisik, fisioterapi juga memberi dampak besar pada kesehatan mental para orang tua. Banyak lansia merasa tidak berdaya dan kehilangan kepercayaan diri ketika tubuh mereka tidak dapat diajak bekerja sama seperti dulu. 

Ketika fisik mereka mulai membaik—perlahan mampu bergerak lebih bebas, mampu berjalan lebih jauh, atau kembali melakukan kegiatan yang disukai—muncul rasa bahagia, optimisme, dan motivasi untuk terus menjalani hidup secara aktif. Dukungan emosional dari fisioterapis yang sabar dan komunikatif juga berperan penting dalam membangun kedekatan dan semangat pemulihan.

Kunci terbaik dari fisioterapi adalah konsistensi. Orang tua yang rutin menjalani sesi fisioterapi dan terus melakukan latihan mandiri di rumah cenderung mengalami peningkatan signifikan dibanding mereka yang hanya mengandalkan obat pereda nyeri. Terlebih lagi, fisioterapi bersifat aman dan minim efek samping sehingga cocok dijalankan dalam jangka panjang. 

Bahkan pada kasus degeneratif atau penyakit sendi kronis, meskipun kondisi sendi tidak dapat kembali seperti usia muda, latihan fisioterapi terbukti mampu memperlambat kerusakan, menjaga kekuatan otot, dan memungkinkan lansia tetap mandiri.

Friday, November 21, 2025

Osteoartritis

Penyakit Sendi Degeneratif yang Mengganggu Kualitas Hidup

Osteoartritis adalah suatu kondisi degeneratif pada sendi yang muncul ketika tulang rawan—lapisan pelindung yang menutupi ujung tulang—mengalami kerusakan secara perlahan. Tulang rawan berfungsi sebagai bantalan agar tulang tidak bergesekan langsung saat bergerak. 

Ketika bantalan ini menipis atau aus, gerakan sendi menjadi terasa kaku, nyeri, bahkan disertai bunyi “krek” atau “klik.” Osteoartritis merupakan bentuk radang sendi yang paling umum dijumpai, terutama pada orang berusia di atas 50 tahun, tetapi juga dapat terjadi lebih awal pada mereka yang pernah mengalami cedera sendi atau memiliki riwayat obesitas. Penyakit ini berkembang perlahan dan sering tanpa disadari sampai gejalanya cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Secara medis, osteoartritis terjadi akibat ketidakseimbangan antara proses regenerasi dan kerusakan pada jaringan sendi. Tulang rawan yang mengalami kerusakan tidak dapat pulih secepat kerusakan yang terjadi, sehingga lama-kelamaan ruang antar tulang makin sempit dan pergerakan sendi menjadi terbatas. 

Tubuh kemudian mencoba memperbaiki diri dengan membentuk tulang baru di area sendi, yang disebut osteofit atau taji tulang. Namun, pertumbuhan tulang ini justru dapat menambah rasa nyeri dan memperburuk mobilitas. Sendi-sendi yang paling sering terdampak adalah lutut, pinggul, tulang belakang, serta jari-jari tangan—bagian tubuh yang menanggung beban dan sering digunakan.

Faktor risiko osteoartritis sangat beragam. Usia adalah faktor terbesar karena proses penuaan alami membuat jaringan sendi lebih rentan terhadap kerusakan. Wanita, terutama setelah menopause, cenderung memiliki risiko lebih tinggi karena perubahan hormon yang memengaruhi kesehatan tulang dan sendi. 

Obesitas juga berperan besar, karena berat badan berlebih memberikan tekanan tambahan pada sendi lutut dan pinggul. Cedera lama—misalnya akibat olahraga atau kecelakaan—sering menjadi pemicu osteoartritis pada usia lebih muda. Gaya hidup pasif, pekerjaan yang repetitif, dan faktor genetik pun dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kondisi ini.

Gejala osteoartritis biasanya berkembang perlahan dan memburuk seiring waktu. Penderita sering merasakan nyeri sendi yang muncul saat beraktivitas dan berkurang saat beristirahat. Kekakuan di pagi hari atau setelah duduk lama juga sangat umum, meski biasanya hilang dalam beberapa menit setelah bergerak. 

Pembengkakan, rasa hangat di area sendi, dan penurunan fleksibilitas dapat muncul pada tahap lebih lanjut. Pada beberapa kasus, sendi menjadi berbentuk lebih besar atau terlihat tidak simetris akibat peradangan kronis dan penebalan jaringan.

Meski termasuk penyakit jangka panjang, osteoartritis bukan berarti tidak dapat dikendalikan. Penanganannya difokuskan pada mengurangi rasa nyeri, meningkatkan fleksibilitas, dan memperlambat perkembangan penyakit. Olahraga ringan seperti berjalan, bersepeda, yoga, dan latihan kekuatan otot dapat membantu menopang sendi serta mengurangi rasa sakit. 

Menjaga berat badan ideal merupakan salah satu strategi paling efektif, terutama bagi penderita osteoartritis lutut dan pinggul. Terapi panas dan dingin, fisioterapi, serta penggunaan alat bantu seperti knee brace juga sering direkomendasikan. Dalam beberapa kasus, dokter dapat memberikan obat antiinflamasi atau injeksi khusus untuk mengurangi rasa nyeri. Pada tahap lanjut, tindakan operasi seperti penggantian sendi (joint replacement) bisa menjadi pilihan.

Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa osteoartritis bukan sekadar “nyeri biasa karena usia.” Kesadaran untuk menjaga kesehatan sendi sejak dini sangat penting, terutama dengan pola hidup aktif, diet sehat, dan pengendalian berat badan. 

Pemeriksaan medis secara berkala dapat membantu mendeteksi kondisi ini lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kerusakan bertambah parah. Dengan pendekatan tepat dan manajemen berkelanjutan, penderita osteoartritis tetap bisa menjalani hidup aktif dan produktif tanpa harus terus-terusan dibayangi rasa sakit.

Wednesday, November 19, 2025

Osteoporosis

Penyakit Tulang yang Sering Terabaikan tetapi Berisiko Serius

Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan dan kekuatan tulang menurun secara signifikan, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Penyakit ini dikenal sebagai “silent disease” karena biasanya tidak menimbulkan gejala apa pun hingga terjadi patah tulang. 

Banyak orang baru menyadari keberadaan osteoporosis ketika terjadi cedera ringan—bahkan hanya terpeleset ringan atau mengangkat benda yang tidak terlalu berat—namun dapat menyebabkan patah tulang pinggul, pergelangan tangan, atau tulang belakang. Karena itulah, osteoporosis kini menjadi salah satu masalah kesehatan utama bagi masyarakat, terutama pada usia lanjut.

Secara biologis, tulang adalah jaringan hidup yang terus mengalami siklus regenerasi. Saat masih muda, proses pembentukan tulang baru lebih cepat daripada penguraiannya, sehingga tulang menjadi kuat dan padat. 

Namun, seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 30–35 tahun, proses ini mulai berbalik: tubuh kehilangan massa tulang lebih cepat daripada kemampuannya membangun yang baru. Kondisi ini lebih cepat terjadi pada wanita, terutama setelah menopause, karena penurunan hormon estrogen yang berperan penting dalam menjaga kekuatan tulang.

Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Faktor risiko alami yang tidak dapat diubah termasuk usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, dan ras tertentu—wanita Asia dan kulit putih cenderung lebih rentan. 

Di sisi lain, faktor risiko yang dapat dikendalikan meliputi gaya hidup seperti kurangnya asupan kalsium dan vitamin D, jarang berolahraga, konsumsi alkohol berlebihan, merokok, hingga penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid jangka panjang. Kurang terpapar sinar matahari dan diet modern rendah nutrisi juga berperan mempercepat pelemahan tulang.

Dampak dari osteoporosis bukan hanya fisik tetapi juga sosial dan emosional. Patah tulang pinggul, misalnya, merupakan salah satu komplikasi paling berbahaya karena dapat menyebabkan penurunan mobilitas secara drastis, kehilangan kemandirian, hingga meningkatkan risiko komplikasi lain seperti infeksi paru atau gangguan peredaran darah. 

Patah tulang belakang juga dapat menyebabkan perubahan postur menjadi bungkuk, rasa nyeri kronis, dan penurunan tinggi badan. Semua ini tentu memengaruhi kualitas hidup seseorang dan dapat memicu kesedihan, kecemasan, bahkan depresi.

Meskipun osteoporosis tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, penyakit ini bisa dicegah dan dikelola dengan baik. Langkah pertama adalah memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D. Kalsium membantu memperkuat struktur tulang, sedangkan vitamin D sangat penting untuk membantu tubuh menyerap kalsium secara optimal. 

Keduanya dapat diperoleh dari makanan seperti susu, ikan berlemak, sayuran hijau, telur, dan paparan sinar matahari pada pagi hari. Olahraga yang berfokus pada beban tubuh seperti berjalan, jogging ringan, angkat beban, serta latihan keseimbangan sangat bermanfaat untuk menjaga kepadatan tulang sekaligus mengurangi risiko jatuh pada usia lanjut.

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat memberikan obat-obatan khusus untuk menghentikan proses pengeroposan tulang—seperti bisphosphonate—atau terapi hormon untuk menyeimbangkan kebutuhan estrogen pada wanita menopause. 

Pemeriksaan kepadatan tulang atau bone mineral density (BMD) menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi tulang sejak dini, terutama bagi mereka yang berada dalam kelompok risiko tinggi.

Kesadaran masyarakat terhadap osteoporosis masih perlu ditingkatkan. Banyak orang yang menganggap penyakit ini hanya bagian alami dari proses penuaan dan tidak membutuhkan perhatian serius. Padahal, tulang adalah fondasi tubuh; ketika fondasi ini melemah, seluruh kualitas hidup ikut menurun. 

Dengan pola hidup sehat, nutrisi yang cukup, dan pemeriksaan rutin, osteoporosis dapat dicegah sehingga seseorang dapat memasuki usia lanjut dengan tetap aktif, mandiri, dan sehat.

Saturday, October 25, 2025

Berkumpul dalam Diam

Hari Sabtu, tanggal 25 Oktober 2025, pukul 21.00 malam itu, sebuah kabar datang tanpa aba-aba. Pesan singkat yang masuk terasa berat dibaca: Mas Deni (saudara sepupu) telah meninggal dunia di RSUD Sidoarjo setelah berjuang melawan kanker usus. 

Kanker usus adalah penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar (kolon) atau rektum, sehingga sering juga disebut sebagai kanker kolorektal. Kanker ini bermula dari pertumbuhan sel abnormal pada dinding usus yang awalnya bisa berupa polip jinak, lalu berkembang secara perlahan menjadi ganas jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Pada tahap awal, kanker usus sering tidak menimbulkan gejala yang jelas, sehingga banyak penderita baru menyadari ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Gejala kanker usus dapat berupa perubahan pola buang air besar (sembelit atau diare berkepanjangan), tinja bercampur darah, nyeri atau kram perut, perut terasa penuh, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, serta tubuh mudah lelah akibat anemia. Faktor risikonya antara lain pola makan rendah serat dan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, obesitas, usia di atas 50 tahun, serta riwayat keluarga dengan kanker usus. Oleh karena itu, deteksi dini melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan rutin sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.

Sejenak suasana hening, seolah waktu berhenti. Tidak banyak kata yang bisa diucapkan, hanya kesadaran bahwa hidup memang bisa berubah dalam hitungan detik. Tanpa banyak pertimbangan, kami segera bersiap menuju rumah sakit.

Perjalanan menuju RSUD Sidoarjo terasa berbeda dari biasanya. Jalanan malam yang lengang justru menambah rasa pilu. Setibanya di rumah sakit, kami langsung menuju ruang administrasi. Proses demi proses dijalani dengan kepala tertunduk—mengurus berkas, tanda tangan, dan keperluan lain yang terasa kaku di tengah duka. 

Di ruang tunggu, kami berkumpul dalam diam, saling menguatkan tanpa perlu banyak bicara. Sesekali terdengar isak pelan, bercampur dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam hati.

Setelah menunggu beberapa lama kemudian, ambulans akhirnya siap. Tubuh almarhum dibawa dengan penuh kehati-hatian, diiringi keluarga yang terus mengucap istigfar. Malam semakin larut, jarum jam perlahan mendekati tengah malam. 

Sesampai di rumah, para warga sudah menunggu dan siap mengantar jenazah ke tempat persemanyaman terakhir. Dengan dikomando oleh warga setempat, para warga cukup kompak memandikan, mengkafani dan menyolati. Lalu bersama-sama kita berangkat menuju pemakaman. 

Pukul 00:10, setibanya di pemakaman, suasana terasa sunyi dan khidmat. Pada waktu itu artinya sudah terjadi pergantian hari, yaitu sudah hari Minggu dini hari. 

Dan tepat pukul 00.34, proses pemakaman selesai. Di bawah langit malam yang gelap, kami berdiri sejenak, menyadari bahwa perjalanan hidup seseorang telah usai, sementara kami yang ditinggalkan harus belajar menerima, mendoakan, dan melanjutkan langkah dengan hati yang lebih sadar akan rapuhnya kehidupan.


Nyeri Sendi Pada Orang Tua

Nyeri sendi merupakan salah satu masalah kesehatan paling umum yang dialami orang tua, dan menjadi keluhan yang sering memengaruhi kualitas hidup mereka. Seiring bertambahnya usia, struktur tubuh mengalami proses degeneratif alami—tulang rawan menipis, cairan sendi berkurang, dan jaringan penghubung kehilangan elastisitas—sehingga membuat sendi lebih rentan mengalami peradangan dan rasa nyeri. 

Ketika seseorang memasuki usia lanjut, perubahan ini bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan fisik, tetapi juga dapat berdampak pada mobilitas, kemandirian, dan kesehatan mental.

Secara umum, penyebab nyeri sendi pada orang tua tidak hanya terbatas pada penuaan. Osteoarthritis adalah penyebab paling dominan; penyakit ini terjadi ketika tulang rawan yang melindungi ujung tulang mulai terkikis, sehingga tulang saling bergesekan dan menimbulkan rasa sakit. Selain itu, rheumatoid arthritis, yakni peradangan sendi akibat gangguan autoimun, juga dapat menyebabkan nyeri yang menetap. 

Faktor lain seperti berat badan berlebih, kurangnya aktivitas fisik, riwayat cedera lama yang tidak pulih sempurna, hingga kebiasaan pekerjaan sepanjang hidup yang membebani sendi tertentu, semuanya meningkatkan risiko munculnya keluhan sendi di usia tua. Bahkan aspek keturunan juga bisa memengaruhi kerentanan seseorang terhadap penyakit sendi tertentu.

Nyeri sendi memiliki dampak yang luas terhadap kehidupan sehari-hari orang tua. Aktivitas sederhana seperti berjalan di halaman, menaiki anak tangga, berkebun, atau menggendong cucu dapat terasa menyakitkan dan melelahkan. 

Pada tahap tertentu, kondisi ini bisa membuat seseorang membatasi aktivitas sosial karena takut menimbulkan rasa sakit, sehingga memengaruhi aspek psikologis seperti menurunnya rasa percaya diri dan munculnya perasaan terisolasi. 

Tidak jarang, nyeri sendi yang tidak ditangani dapat mempercepat terjadinya kelemahan otot, menurunkan keseimbangan tubuh, dan meningkatkan risiko jatuh—yang pada usia tua bisa berakibat fatal.

Meski demikian, nyeri sendi pada orang tua bukan berarti tidak dapat dikendalikan. Banyak langkah yang dapat dilakukan untuk meringankan gejala sekaligus memperlambat kerusakan sendi. Aktivitas fisik tetap memegang peranan penting. 

Olahraga ringan seperti berjalan santai, berenang, atau senam sendi dapat membantu menjaga fleksibilitas otot, meningkatkan aliran darah, dan mengurangi kekakuan. Menjaga berat badan ideal juga sangat penting karena setiap kilogram berat badan berlebih memberikan beban ekstra pada sendi lutut dan pinggul. 

Selain itu, pola makan yang kaya akan anti-inflamasi—seperti ikan berlemak, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan buah-buahan—dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh.

Bagi sebagian orang tua, penggunaan obat pereda nyeri, suplemen glukosamin, atau vitamin D dapat membantu mengurangi keluhan, namun tetap harus berada dalam pengawasan dokter. Terapi fisik atau fisioterapi juga terbukti efektif dalam memperbaiki mobilitas sendi dan menguatkan otot penopang. 

Di beberapa kasus tertentu, penggunaan alat bantu seperti tongkat, walker, atau brace lutut dapat membantu menjaga stabilitas dan mengurangi beban pada sendi. Sedangkan untuk kondisi yang lebih sulit ditangani, prosedur medis hingga pembedahan—seperti penggantian sendi (joint replacement)—dapat menjadi pilihan.

Lebih dari sekadar masalah fisik, nyeri sendi juga membutuhkan dukungan emosional dari keluarga. Kesabaran, pendampingan saat beraktivitas, hingga membantu memastikan orang tua menjalani rutinitas kesehatan yang tepat sangat berpengaruh pada kualitas hidup mereka. 

Yang terpenting, nyeri sendi tidak boleh dianggap sebagai bagian “normal” dari penuaan yang harus diterima begitu saja. Dengan penanganan yang tepat dan perhatian yang konsisten, para orang tua tetap dapat menjalani hari-hari mereka dengan nyaman, aktif, dan penuh kemandirian.

Wednesday, May 7, 2025

Prognosa

Prognosa adalah istilah penting yang merujuk pada perkiraan jalannya suatu penyakit dan kemungkinan hasilnya di masa depan. Kata ini berasal dari bahasa Yunani "prognōsis" yang berarti “pengetahuan sebelumnya”. 

Prognosa bukan sekadar tebakan, melainkan penilaian berbasis bukti ilmiah dan pengalaman klinis yang membantu pasien, dokter, dan keluarga memahami apa yang bisa diharapkan dari suatu kondisi kesehatan.

Prognosa berperan vital dalam proses pengambilan keputusan medis. Ketika seseorang didiagnosis suatu penyakit—baik itu ringan seperti flu atau berat seperti kanker.

Informasi ini menjadi dasar bagi pasien untuk membuat keputusan seputar pengobatan, gaya hidup, bahkan perencanaan masa depan.

Penting untuk diingat bahwa prognosa bukan vonis final. Ia adalah perkiraan, bukan kepastian. Banyak pasien yang melampaui ekspektasi dokter, dan sebaliknya, ada pula yang kondisi kesehatannya menurun lebih cepat dari prediksi. Oleh karena itu, prognosis harus digunakan sebagai panduan, bukan hukuman. Dukungan emosional, motivasi, dan kemauan untuk sembuh juga memainkan peran besar dalam proses penyembuhan.

Prognosa adalah jembatan antara diagnosa dan harapan. Ia membantu kita melihat ke depan dengan lebih siap—baik untuk bersiap melawan penyakit maupun menerima realitas dengan bijak. Dalam setiap perjalanan penyembuhan, penting untuk tetap terbuka, berharap, dan mengambil tindakan terbaik berdasarkan informasi yang tersedia.

Saturday, January 11, 2025

Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Dari gejala yang tampak sederhana: rasa mual dan muntah yang terus-menerus, lalu badan terasa lemas, tubuh berkeringat dingin, dan perut seperti tak mau kompromi. Melihat adanya keluhan lain seperti nyeri di punggung bagian bawah, dokter memutuskan untuk melakukan serangkaian tes lanjutan, termasuk pemeriksaan urin.

Hasilnya mengejutkan. 

Tes urin menunjukkan adanya infeksi bakteri, dan dokter menyimpulkan bahwa saya mengalami Infeksi Saluran Kemih (ISK). Dokter menjelaskan bahwa ISK, terutama yang sudah menyebar hingga ginjal (pyelonephritis), dapat menyebabkan gejala yang menyerupai gangguan pencernaan. Infeksi yang tidak segera ditangani bisa memicu respons sistemik pada tubuh, seperti demam, mual, muntah, dan lemas. 

Hal ini terjadi karena tubuh berusaha melawan infeksi, tetapi peradangan yang timbul dapat memengaruhi organ-organ lain, termasuk saluran pencernaan.

Untuk itu diberikan antibiotik untuk menangani infeksi serta obat tambahan untuk meringankan gejala mual dan nyeri. Dokter juga menekankan pentingnya mengonsumsi banyak air untuk membantu mengeluarkan bakteri dari saluran kemih. 

Pengalaman ini membuka mata kita bahwa gejala yang tampak umum seperti mual dan muntah tidak selalu berasal dari masalah pencernaan. Infeksi Saluran Kemih, yang sering kali dianggap remeh, ternyata dapat memberikan dampak yang cukup berat jika tidak segera ditangani. Penting untuk mendengarkan tubuh dan tidak mengabaikan gejala lain yang mungkin tampak kecil, seperti nyeri saat buang air kecil atau demam ringan.

Kini, kita harus lebih berhati-hati dalam menjaga kebersihan dan kesehatan, terutama dalam hal pola makan, hidrasi, dan kebiasaan sehari-hari. 







Friday, January 10, 2025

Nausea Vomiting

Ketika Gejala Mengarah ke Nausea Vomiting

Setelah dugaan awal mengarah pada asam lambung yang bisa jadi karena pola makan saya kurang lalu muncul gejala mual yang tak kunjung hilang, muntah yang mulai sering, serta rasa penuh di perut bagian atas. 

Petugas medis dan dokter memberikan dugaan awal adalah nausea vomiting, atau mual muntah yang dipicu oleh berbagai faktor. Nausea vomiting sering kali berkaitan dengan masalah lambung, tetapi penyebabnya bisa lebih kompleks. Stres, dehidrasi, hingga gangguan pada sistem pencernaan lain bisa memicu kondisi ini.

Masalah lambung memang menjadi pemicu utama, namun bisa jadi dipengaruhi oleh faktor stres dan kelelahan.

Pengalaman ini mengajarkan kita agar senantiasa menjalani pola hidup sehat, menjaga asupan makanan, serta memberikan waktu untuk tubuh beristirahat. 

Thursday, January 9, 2025

Dugaan Asam Lambung

Malam itu, pukul 19.30, udara dingin tidak mampu mengusir rasa cemas yang tiba-tiba menyergap. Diawali dari keluhan sakit di area dada dan perut, gejala yang dikira adalah asam lambung. Berhubung sudah 2 minggu dan tidak membaik, akhirnya kita menuju ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit.

Setibanya di IGD, suasana sudah cukup ramai. Pasien-pasien lain dengan berbagai keluhan tampak menunggu giliran untuk diperiksa. Kami pun ikut mendaftar dan menunggu di ruang tunggu yang dipenuhi oleh rasa harap dan gelisah dari para pengantar.

Pukul 21.30 kemudian dipanggil oleh dokter untuk berbaring dalam rangka pemeriksaan awal. Petugas medis dengan sigap mengecek tekanan darah, kadar oksigen, dan melakukan wawancara singkat tentang gejala yang dirasakan. 

Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan, mulai dari tes darah hingga EKG atau ECG (elektrokardiogram) yaitu tes medis untuk mengukur aktivitas listrik jantung untuk memantau kondisi jantung. 

Meskipun dugaan awal asam lambung cukup masuk akal, dokter tidak ingin mengambil risiko, mengingat gejala nyeri dada sering kali bisa menutupi masalah yang lebih serius.

Menjelang tengah malam, sekitar pukul 22.45, hasil tes mulai mengerucutkan kemungkinan. Dokter menyarankan untuk opname atau rawat inap. Pukul 22.57 jarum infus pun telah terpasang.

Akhirnya, pukul 01.44 kita menuju kamar di lantai 6 nomor 12A. Pukul 02.30 dini hari, meski lelah namun tidak bisa tidur. 

Penyebab utama gejala masih mengarah pada kombinasi antara gangguan asam lambung dan stres yang memicu ketegangan otot dada atau nyeri pada ulu hati. 

Cukup pentingnya waspada terhadap gejala kesehatan, bersabar dalam menghadapi situasi darurat, dan menghargai kerja keras petugas medis yang berjibaku sepanjang malam. Pada akhirnya, kesehatan adalah harta yang tak ternilai, dan perhatian dini terhadap tubuh kita adalah langkah bijak yang harus selalu diutamakan.

Tuesday, December 24, 2024

Antara Stres - Hormon Kortisol - Trigliserida - Asam Urat - Asam Lambung

Ketika seseorang mencapai tingkat stres tertentu, tubuh akan mengirimkan sinyal untuk melakukan apa saja guna meredakan stres tersebut. Tubuh menganggap kalori menjadi cara untuk mengatasi stres padahal sebenarnya tidak. Stres melambatkan sistem metabolisme pada perempuan. 

Stres meningkatkan konsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi kalori, ternyata ini memiliki interaksi dengan tingkat metabolisme terkait kadar gula darah, trigliserida, insulin, dan juga kortisol.

Salah satu organ yang terpengaruh secara signifikan oleh stres adalah lambung. Stres memengaruhi kesehatan lambung, terutama dalam konteks peningkatan asam lambung.

Ketika seseorang mengalami stres, sistem saraf otonom mereka teraktivasi, memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.

Asam lambung adalah zat asam yang dihasilkan oleh sel-sel lambung dan berperan penting dalam pencernaan makanan.

Namun, ketika terlalu banyak asam lambung diproduksi atau terjadi regurgitasi asam dari lambung ke kerongkongan, itu dapat menyebabkan gejala yang tidak nyaman seperti mulas, heartburn, dan bahkan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Studi telah menunjukkan bahwa stres dapat menjadi pemicu bagi peningkatan produksi asam lambung.

Stres memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan lambung, terutama melalui peningkatan produksi asam lambung.

Trigliserida merupakan salah satu bentuk lemak yang kadarnya bisa diperiksa dari darah. Peningkatan trigliserida kemungkinan besar tidak berkaitan dengan penyakit lambung atau keluhan berdebar, sesak, kembung, pegal, nyeri dada dan lemas. Kadar trigliserida yang tinggi dan dapat menyebabkan gejala ialah >500 (bahkan 1000), yaitu pankreatitis (peradangan pankreas).

Keluhan sesak, nyeri dada, kembung dapat disebabkan oleh penyakit asam lambung. Nyeri dada bisa disebabkan oleh masalah lambung karena kerongkongan (saluran yang menghubungkan mulut dan lambung) terletak di rongga dada dan sesak bisa disebabkan oleh masalah lambung karena lambung terletak persis di bawah diafragma (otot utama pernapasan). Pemeriksaan jantung rutin berupa wawancara klinis dan pemeriksaan fisik, ditunjang dengan pemeriksaan rekam jantung (EKG) secara umum cukup untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit jantung.

Untuk memastikan penyebab keluhan Anda, diperlukan pemeriksaan langsung oleh Dokter / Spesialis Penyakit Dalam (Sp. PD). Mungkin diperlukan pemeriksaan darah dan foto Roentgen untuk menunjang diagnosis. Setelah penyebabnya jelas, barulah penanganan yang tepat bisa diberikan. Sementara waktu, Anda sebaiknya menghindari makanan pedas, asam, terlalu berminyak, kopi, soda dan alkohol karena dapat memicu produksi asam lambung berlebih. Hindari juga stres dan kelelahan fisik karena dapat memicu produksi asam lambung juga. Hindari juga paparan asap rokok dan debu kendaraan karena mungkin memicu sesak.

Banyak para ahli percaya bahwa stress berkontribusi terhadap peningkatan asam lambung. Teori lainnya, saat stress lambung menjadi lebih sensitif, sehingga apabila terjadi peningkatan asam lambung sedikit saja, akan menyebabkan rasa tidak nyaman pada lambung. Stress juga dapat mengubah proses kimiawi otak sehingga lebih sensitif merespon nyeri dan mengurangi prostaglandin, suatu substansi yang normalnya melindungi lambung dari efek asam lambung.

Untuk mengurangi efek buruk dari asam lambung, selain mengatur pola makan yang baik, mengelola stress dengan baik juga diperlukan. Bila diperlukan Anda bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis psikiatri agar segera mendapat penanganan yang tepat. Penanganan bisa berupa psikoterapi atau pemberian medikasi/obat.

Stress tidak hanya memberikan efek pada lambung, namun juga pada kondisi tubuh secara umum. Saat stress atau depresi tubuh akan melepas hormon kortisol dan adrenalin sehingga kerja jantung akan meningkat. Kondisi ini akan membuat tubuh mengalami kenaikan tekanan darah, bernafas lebih cepat dan pembuluh darah menyempit. Energi akan terbuang dengan tidak efektif sehingga merasa cepat lelah. Berikut beberapa anjuran yang mungkin bisa Anda terapkan untuk membantu mnegurangi gejala stress atau depresi:

-

Stres dan Hormon Kortisol

Stres merangsang pelepasan hormon kortisol, yang dikenal sebagai "hormon stres." Kortisol memiliki peran penting dalam meningkatkan energi dan menjaga tubuh tetap waspada. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi dalam jangka panjang, kortisol dapat menyebabkan:

  • Peningkatan kadar gula darah.
  • Gangguan metabolisme lipid seperti kolesterol dan trigliserida.
  • Inflamasi kronis yang berkontribusi pada peningkatan kadar asam urat.

Kortisol dan Trigliserida

Kortisol yang tinggi selama stres juga memengaruhi metabolisme lemak tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan:

  • Peningkatan kadar trigliserida dalam darah.
  • Trigliserida adalah salah satu jenis lemak darah yang, jika kadarnya tinggi, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan metabolik.
  • Ketika seseorang stres, mereka cenderung mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak, yang memperburuk kondisi trigliserida tinggi.

Stres dan Asam Urat

Kortisol yang tinggi juga berdampak pada keseimbangan sistem metabolisme purin dalam tubuh. Hal ini dapat meningkatkan risiko penumpukan asam urat karena:

  • Inflamasi yang disebabkan oleh stres kronis.
  • Penurunan efisiensi ginjal dalam membuang asam urat.
  • Kadar asam urat yang tinggi dapat menyebabkan gout, yang ditandai dengan nyeri sendi akut, terutama di bagian kaki.

Stres dan Asam Lambung

Stres memiliki efek langsung pada saluran pencernaan, khususnya lambung. Ketika stres:

  • Produksi asam lambung meningkat.
  • Hal ini dapat menyebabkan gejala seperti heartburn, mulas, dan bahkan gangguan GERD.
  • Penurunan perlindungan mukosa lambung, yang membuat lambung lebih rentan terhadap kerusakan akibat asam.


Stres bertindak sebagai pemicu utama yang memengaruhi hormon kortisol, kadar trigliserida, asam urat, dan asam lambung secara bersamaan. Misalnya:

  • Hormon kortisol meningkatkan trigliserida dan memengaruhi ekskresi asam urat.
  • Kebiasaan makan akibat stres (comfort eating) dapat memperburuk kadar trigliserida dan asam urat.
  • Peningkatan produksi asam lambung dapat memperburuk stres fisik dan mental, menciptakan lingkaran setan.


Sumber :

https://www.halodoc.com/artikel/stres-bisa-sebabkan-obesitas-ini-alasannya?srsltid=AfmBOopN66gK0DvFeob9vi3zr4be5m-MuwxicWqPW2Vn3n5r9eykQcB_

https://health.grid.id/read/354087371/pengaruh-stres-terhadap-kesehatan-lambung-ini-penjelasannya?page=all&utm_source=chatgpt.com

https://www.alodokter.com/komunitas/topic/hubungan-asam-lambung-dengan-trigliserida?utm_source=chatgpt.com

https://www.alodokter.com/komunitas/topic/mungkin-gak

https://www.alodokter.com/komunitas/topic/hubungan-asam-lambung-dengan-trigliserida

Saturday, November 16, 2024

Sensitivitas Gigi

Kejadian persis setahun lalu terulang, yaitu sakit gigi sensitif. Sensitivitas gigi mungkin terdengar sepele, tetapi dampaknya sangat mengganggu. Sensasi nyeri tajam yang datang tiba-tiba, terutama saat makan atau minum sesuatu yang dingin, panas, manis, atau asam, benar-benar bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Dokter gigi yang memeriksa tahun lalu mengatakan bahwa penyebabnya adalah erosi gigi, yaitu pengikisan enamel sebagai lapisan pelindung gigi yang menipis akibat kebiasaan menyikat gigi terlalu keras atau menggunakan sikat berbulu kasar atau resesi gusi sehingga terjadi penyusutan gusi yang membuat akar gigi terekspos.

Oleh karena itu, harus ada cara untuk mengurangi sensitivitasnya. Salah satu pilihannya adalah menggunakan pasta gigi untuk gigi sensitif, yang mengandung bahan aktif tertentu yang seharusnya menghilangkan sensitivitas. 

Cara pasta gigi gigi sensitif meredakan gigi sensitif adalah dengan menghalangi sensor rasa sakit yang merespon rangsangan (panas, dingin, gula, dll). Setelah menggunakan pasta gigi setiap hari, dua kali sehari, selama beberapa minggu maka kita akan mulai merasakan adanya perbaikan.


Sumber :

https://www.smilemakersal.com/toothpaste-for-sensitive-teeth-does-it-make-a-difference/

Monday, September 9, 2024

Keringat Dingin

Prevalensi penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia masih cukup tinggi dan terus meningkat, terutama penyakit serangan jantung akut dan gagal jantung. Penyakit jantung dan pembuluh darah ini perlu mendapat perhatian khusus karena masih menjadi salah satu penyebab nomer satu kematian di Indonesia, yaitu sekitar 42,4%  atau 7,4 juta jiwa pada tahun 2013. 

Masih tingginya angka kematian tersebut salah satunya disebabkan oleh kesalahan dalam mengenali gejala dini penyakit jantung sehingga menyebabkan keterlambatan dalam evaluasi dan penanganan.

Gejala sakit jantung yang khas umumnya ditandai dengan nyeri di seluruh dada atau di bagian kiri dada seperti ditekan benda berat yang menjalar ke rahang leher, leher, bahu, lengan, dan ulu hati dan disertai mual, muntah, dan keringat dingin. 

Berdebar

Berdebar dapat merupakan pertanda adanya gangguan listrik jantung atau non-listrik jantung. Gangguan non-listrik jantung dapat menimbulkan gejala berdebar, misalnya pada penyakit jantung bengkak. Berdebar pada penyakit jantung bengkak merupakan kompensasi dari rendahnya darah yang dipompa oleh jantung. 


Nyeri Dada

Nyeri dada khas yang disebabkan oleh serangan jantung akut biasanya terasa di seluruh dada atau di bagian kiri dada (tidak terlokalisir di titik tertentu) yang bersifat berat seperti ditekan benda berat, diremas-remas, terbakar, atau ditusuk-tusuk. 


Keringat Dingin

Keringat dingin terutama muncul di kaki, telapak tangan, bawah lengan, dan ketiak. Keringat dingin yang menyertai keluhan nyeri dada khas atau sesak nafas mengindikasikan adanya serangan jantung akut. 


Bagaimana Penyakit Jantung Sebabkan Keringat Dingin

Keringat dingin yang muncul bahkan tanpa aktivitas disebabkan oleh kinerja jantung yang mengalami tekanan berat. Salah satu pemicu masalah jantung adalah tersumbatnya pembuluh darah baik sebagian maupun seluruhnya oleh tumpukan plak yang terdiri atas kolesterol dan zat lain. Jantung harus bekerja ekstra-keras untuk memompa darah jika pembuluh darah mengalami sumbatan. Karena itulah tubuh mengeluarkan keringat berlebih. Bagaimanapun, jantung tetaplah bagian dari organ manusia walaupun bekerja di dalam tubuh. Aktivitasnya turut memicu respons tubuh, termasuk dalam hal keluarnya keringat.



Sumber :

https://pjnhk.go.id/artikel/dada-sering-berdebar-debar-sesak-nafas-dan-berkeringat-dingin

https://primayahospital.com/jantung/keringat-dingin-tanda-sakit-jantung/

Monday, February 5, 2024

Pertolongan Pertama pada Tersedak

First Aid for Choking

Cara menolong bayi yang tersedak berbeda dengan cara menolong anak yang tersedak. Berikut ini adalah langkah-langkah dan penjelasannya:


Bayi (usia di bawah 1 tahun)

Pada bayi yang tersedak, penanganan awal yang bisa dilakukan adalah melakukan back blows dan chest thrusts. Berikut adalah langkah yang perlu Bunda lakukan:

  • Posisikan bayi tengkurap di lengan yang ditopang dengan paha. Pastikan posisi kepala bayi lebih rendah dibandingkan badannya.
  • Topang kepala dan rahang bayi dengan jari tangan Bunda. Kemudian, tepuk lembut punggungnya di antara tulang belikat sebanyak 5 kali, menggunakan tangan Bunda yang lain. Tindakan ini disebut back blows.
  • Jika cara tersebut belum berhasil, posisikan bayi telentang dengan kepala menghadap ke atas. Temukan tulang dada dan tempatkan 2 jari di tengahnya.
  • Setelah itu, berikan tekanan di bagian tengah tulang dada bayi sebanyak 5 kali. Tindakan ini disebut chest thrusts. Jika benda belum keluar juga, ulangi lagi tindakan tersebut


Anak di atas 1 tahun

Bila anak masih mampu untuk mengeluarkan sedikit suara dan bernapas. Minta ia untuk batuk dengan keras. Hal ini bermanfaat untuk mengeluarkan benda yang tersangkut.

Cara lain yang dapat Bunda lakukan adalah dengan melakukan back blows dan chest thrust, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Pada anak yang berusia lebih dari 1 tahun, tindakan lain yang Bunda lakukan adalah abdominal thrusts. Untuk melakukan abdominal thrusts, Bunda bisa mengikuti langkah berikut:

  • Lingkarkan kedua lengan Bunda di antara pusar dan tulang rusuk perut.
  • Setelah itu, kepalkan tangan yang melingkar di antara pusar dan tulang rusuk anak.
  • Hentakkan tangan ke arah atas sambil menarik tubuh anak ke belakang sebanyak lima kali. Hindari melakukan hentakan yang terlalu keras untuk menghindari cedera.

Jika anak masih tersedak, Bunda bisa mengulangi back blows, chest thrusts, dan abdominal thrusts, serta segera panggil bantuan untuk membawa anak ke rumah sakit terdekat.

Jika anak tidak sadar, Bunda bisa melakukan teknik CPR sebagai pertolongan pertama ketika anak tersedak. Namun jika ingin melakukan CPR, pastikan Bunda sudah mendapatkan pelatihan sebelumnya. 


Sumber :

https://dinsospmd.babelprov.go.id/content/anak-tersedak-wajib-tahu-pertolongan-pertama-pada-anak-tersedak#:~:text=Lingkarkan%20kedua%20lengan%20Bunda%20di,terlalu%20keras%20untuk%20menghindari%20cedera.

Thursday, February 1, 2024

Disease X

Banyak penyakit, yang sudah diketahui maupun yang kurang dikenal menimbulkan ancaman global, hal ini disebut dengan Disease X. Covid-19 adalah Disease X yang pertama. Dan dimungkinkan akan muncul Disease X lain di masa depan.

Penyakit serupa sebelumnya, adalah pandemi flu pada 1918 hingga 1919 yang menewaskan sedikitnya 50 juta orang di seluruh dunia, dua kali lebih banyak dari jumlah korban tewas dalam Perang Dunia I. 

Termasuk Disease X adalah yang bersifat zoonosis, seperti Ebola.

Lalu apa definisi Disease X, dan apa penyebabnya?.


Istilah Disease X diciptakan pada tahun 2017, dan WHO sendiri telah menggunakan istilah Disease X untuk penyakit-penyakit yang tak diketahui sejak tahun 2018.

Disease X adalah label yang digunakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk merujuk pada suatu kondisi menular yang saat ini tidak diketahui yang mampu menyebabkan epidemi atau jika menyebar ke beberapa negara akan menjadi pandemi. 

Di sisi satu sisi hal ini dapat menimbulkan kepanikan, namun hal lain ini peringatan bagi kita untuk mengantisipasi hal tersebut.


Saat ini Indonesia telah siap dengan ancaman disease X, yaitu penyakit hipotetikal yang belum diketahui secara jelas patogennya, dimana Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap disease X. Karena selama pandemi kemarin Indonesia telah membangun jaringan surveilans yang baru.


Disease X, bisa menyerang kapan saja, karena ada jutaan virus yang belum ditemukan dan bisa 20 kali lebih mematikan dibandingkan virus corona, yang menyebabkan 2,5 juta kematian. Karena itu, dunia perlu menciptakan vaksin lebih lanjut.

Patogen Disease X yang dimungkinkan menjadi pandemi selanjutnya disebabkan oleh agen seperti virus, bakteri, atau jamur.


Selain itu, climate change atau perubahan iklim juga menjadi penyebab sekaligus dampak bagi kesehatan mental masyarakat dunia. Perubahan iklim secara signifikan meningkatkan risiko terhadap kesehatan mental dan kondisi psikososial masyarakat. Mulai dari tekanan emosional, kecemasan, depresi, kesedihan, hingga kecenderungan untuk bunuh diri. 

WHO menyampaikan dampak kesehatan mental dari perubahan iklim, bergantung pada faktor-faktor seperti status sosial ekonomi, jenis kelamin dan usia. Kendati demikian, mereka menggarisbawahi perubahan iklim memengaruhi banyak faktor penentu sosial, yang telah menyebabkan peningkatan beban kesehatan mental secara global. 


Perubahan iklim menjadi faktor yang menyulitkan, apalagi jika virus mematikan muncul saat mencairnya lapisan tanah beku setelah ribuan tahun. Virus-virus zombie yang terkunci dalam permafrost atau lanskap beku lainnya selama berabad-abad, tetapi dilepaskan oleh perubahan iklim yang memanas.

Resiko limpahan meningkat dengan limpasan dari pencairan gletser, proksi untuk perubahan iklim. Jika perubahan iklim juga menggeser rentang spesies dari perantara virus dan wadahnya ke utara, Arktik Tinggi bisa menjadi lahan subur bagi pandemi yang muncul.

Perubahan iklim juga memicu perpindahan habitat hewan liar ke daerah dengan populasi manusia yang besar yang berisiko menyebarkan virus.

Perubahan iklim hingga perubahan ekosistem yang memicu mutasi genetik mikroba yang lebih resisten. Akibatnya, penyakit baru sulit untuk diprediksi namun bisa tumbuh signifikan, karena manusia mungkin hanya memiliki sedikit kekebalan terhadap penyakit ini atau tidak sama sekali.


Disease X berikutnya yang menjadi penyakit yang berada di bawah pengawasan WHO, diantaranya adalah:.

  1. demam berdarah Krimea-Kongo
  2. virus Ebola dan Marburg
  3. demam Lassa
  4. MERS-CoV dan SARS
  5. penyakit nipah dan henipaviral
  6. demam Rift Valley
  7. virus Zika.


Sumber :

https://www.kompas.com/sains/read/2024/01/19/200000423/jadi-perhatian-who-apa-itu-disease-x-.

https://isafetymagazine.com/indonesia-diklaim-siap-hadapi-ancaman-disease-x/#:~:text=Disease%20X%20adalah%20istilah%20yang,Organization%20(WHO)%20sejak%202018.

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20230926092140-255-1003739/ahli-peringatkan-pandemi-disease-x-disebut-lebih-mematikan-dari-covid.

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20230527145502-255-954746/disebut-bisa-picu-pandemi-yang-lebih-fatal-apa-itu-disease-x.

https://www.kompas.com/sains/read/2022/06/06/160500123/who-sebut-perubahan-iklim-sebabkan-masalah-kesehatan-mental?page=all.

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5319363/10-fakta-disease-x-yang-diprediksi-jadi-pandemi-seperti-covid-19.

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/06/06/disease-x-pandemi-berikutnya

https://www.ketiknews.id/news/3018925113/dampak-perubahan-iklim-global-pemerintah-mitigasi-adanya-fenomena-penyakit-disease-x

https://sains.sindonews.com/read/289638/768/disease-x-jadi-ancaman-selanjutnya-warga-bumi-cek-faktanya-di-sini-1609747281

https://www.antaranews.com/berita/3873183/mengidentifikasi-aneka-penyakit-baru-di-2023

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6365814/ilmuwan-sebut-cairnya-es-di-kutub-bisa-sebabkan-pandemi-ini-alasannya.

Monday, November 20, 2023

Heat related-illness

Heat related-illness (penyakit akibat panas) merupakan keluhan atau kelainan klinis yang disebabkan oleh gangguan pengaturan suhu tubuh akibat peningkatan paparan panas yang tidak diimbangi oleh pengeluaran panas oleh tubuh. 

Suhu tubuh yang meningkat tajam akan membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan keadaan seimbang (homeostasis). Meningkatnya suhu tubuh saat berolahraga dapat menyebabakan beberapa penyakit akibat panas (health ilnesses) seperti Heat Cramps, heat syncope, heat exhaustion, dan heat stroke. 

Mari kita bahas satu persatu.

Heat Cramps

Heat cramps merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh adanya peningkatan panas tubuh. Penyakit ini merupakan tahap awal rangkaian penyakit akibat panas. Individu yang mengalami heat cramps akan merasakan kejang otot hebat akibat keringat yang berlebih. Pada umumnya terjadi pada individu yang mengalami dehidrasi 4%.

Gejala: kram, otot menjadi tegang, nyeri, suhu tubuh di atas normal (37-40°C).


Heat Syncope

Merupakan rangkaian heat illness sesudah heat cramps. Pada tahap ini individu yang mengalami heat syncope dapat mengalami kehilangan kesadaran (pingsan).

Gejala: denyut nadi menurun, pucat,


Heat exhausted (kelelahan akibat panas)

Merupakan rangkaian heat illness yang terjadi akibat terkena / terpapar panas selama berjam-jam. Pada tahap ini heat exhausted dapat berubah menjadi heat stroke apabila tidak ditangani dengan segera.

Gejala: kelelahan, kecemasan, tekanan darah menurun, denyut nadi melambat, suhu tubuh di atas normal (37-40°C), mual, dan muntah.*


Heat Stroke

Merupakan fase paling akut/parah dari heat illness. Heat stroke terjadi akibat hiponatremia. Berpotensi terjadi pada saat seseorang yang berolahraga dengan intensitas yang tinggi dalam waktu yang lama di suhu relatif tinggi. Individu yang mengalami heat stroke berisiko mengalami gangguan organ hingga kematian.

Gejala: kejang-kejang, koma, sakit kepala, kulit kering hingga basah, suhu tubuh >40°C.


Sumber :

https://apki.or.id/gangguan-kesehatan-akibat-suhu-yang-panas/

https://deohs.washington.edu/pnash/heat_illness

Tuesday, November 7, 2023

Erosi Gigi

Sudah lebih dari 1 tahun, tiba gejala gigi sensitif terasa lagi. Hal ini dikarenakan erosi gigi. Erosi gigi adalah terkikisnya lapisan keras gigi  secara kimiawi oleh asam yang tidak bersumber dari metabolisme bakteri. Erosi akan mengurangi lapisan enamel sebagai pelindung terluar gigi dan mengekspos lapisan dentin. 

Lapisan dentin bersifat porus atau memiliki lubang yang terhubung dengan saraf sehingga apabila terekspos akan menimbulkan rasa nyeri atau biasa disebut erosi enamel gigi.

Lapisan keras gigi yang terkuat adalah enamel. Enamel atau email adalah lapisan luar gigi yang bisa dilihat. Enamel merupakan bagian terkuat dalam tubuh manusia. Bagian ini bahkan lebih kuat daripada tulang. Akan tetapi, enamel retan dengan asam dan penumpukan bakteri. Enamel bisa menjadi larut atau rusak jika terkena zat tersebut.

Lapisan enamel ini mengandung 5% air dan 95% zat inorganik hidroksi apalit (senyawa kalsium fospat) dan zat organik (protein dan mukopolisakarida).

Email rusak disebabkan oleh pengikisan email atau erosi email yang merupakan akibat dari beberapa hal berikut:

  • Akumulasi plak pada gigi
  • Makanan dan minuman: terutama yang manis, asam, atau soda
  • Kebiasaan menggeretakkan gigi atau bruxism
  • Penyakit asam lambung 
  • Kondisi mulut kering, yang juga bisa merupakan efek samping penyakit diabetes
  • Penggunaan obat-obat tertentu secara terus menerus
  • Teknik menyikat gigi yang salah

Banyak cara praktis agar Anda terhindar dari kehilangan dan kerusakan email:

  • Kurangi makanan dan minuman berasam, termasuk minuman bersoda dan jus buah, buah sitrus dan cuka. Jika Anda mengonsumsinya, ikuti dengan minum banyak air putih.  
  • Menyeruput minuman berasam melalui sedotan agar air langsung ke belakang mulut dan jauh dari gigi.
  • Kurangi camilan bergula atau bertepung di antara waktu makan adalah makanan bagi bakteri di mulut, yang kemudian akan memproduksi asam. 
  • Gunakan pasta gigi ber-fluoride. dan yang mengandung hydroxyapatite, yang merupakan mineral kalsium yang ditemukan di gigi. Saat dikombinasikan dengan fluoride maka bahan ini akan membantu remineralisasi email gigi.
  • Menyikat gigi yang salah dapat menyebabkan kerusakan email dan gigi sensitif.


Sumber :

https://www.tanyapepsodent.com/tips-kesehatan-gigi/plak-dan-kerusakan-gigi/erosi-enamel-gigi.html 

https://id.wikipedia.org/wiki/Enamel

https://www.tanyapepsodent.com/tips-kesehatan-gigi/sakit-gigi-dan-kerusakan-gigi/cara-merawat-email-gigi.html

https://www.tanyapepsodent.com/tips-kesehatan-gigi/sakit-gigi-dan-kerusakan-gigi/bagaimana-cara-mencegah-kerusakan-email.html

https://www.thesterlingdentist.com/understanding-the-difference-between-demineralization-and-tooth-erosion/

Related Posts