Friday, February 3, 2006

Seven Habits

to be more effective people

paradigma : sudut pandang yang terbentuk oleh pendidikan, latar belakang dan pengalaman hidup kita

diketik ulang berdasarkan catatan dari tanggal 3 Februari 2004

Pemikiran - Tindakan - Kebiasan (plus Paradigma) - Watak - Nasib

Sharing mengenari Seven Habits to be more effective people pertama kali aku dapatkan salah satu dosen Fakultas Teknik Industri di kampus ITS saat menjelang wisuda. Pelajaran dengan format seminar ini sangat banyak membantu aku saat lepas wisuda menjadi bekal saat bekerja pertama kali di perusahaan.

Berikut aku share juga agar ilmu yang aku dapat bisa berguna. Ke-7 kebiasaan tersebut adalah sebagai berikut

A. Ketergantungan (Dependent) :

Private victory
1. Be Proactive
2. Begin With The End in Mind
3. Put First Thing First

B. Kemandirian (Independent)

Public victory
4. Think Win-Win
5. Seek First to Understand then to be Understood
6. Synergize

C. Saling tergantung (Interpendent)

7. Sharpen the Saw


Teori SEVEN HABITS To Be More Effective People merupakan buah pikiran dari Stephen Covey dalam bukunya yang berjudul sama "The 7 Habits of Highly Effective People".

Yang membedakan orang-orang yang sangat efektif dengan orang yang tidak produktif adalah bukan pada apa yang mereka miliki, tetapi pada kebiasaan-kebiasaannya. Watak seseorang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaannya. Di alam bawah sadar, kebiasaan-kebiasaan itu membentuk dan mengubah watak seseorang. Dan ternyata kebiasaan-kebiasaan itu bisa diubah, asal kita mau walaupun membutuhkan waktu.

Taburlah pemikiran, maka Anda akan menuai tindakan.
Taburlah tindakan, maka Anda akan menuai kebiasaan.
Taburlah kebiasaan, maka Anda akan menuai watak.
Taburlah watak, maka Anda akan menuai nasib Anda.

Kebiasaan itu sendiri terjadi karena adanya paradigma. Yang dimaksud paradigma adalah sudut pandang atau kerangka yang terbentuk oleh pengalaman hidup, pendidikan maupun latar belakang kita.

Paradigma inilah yang menentukan bagaimana kita memandang dan mengartikan dunia ini, dan dengan demikian menentukan bagaimana kita bereaksi dan bersikap terhadapnya. Sebagai contoh mula-mula astronom Mesir, Ptolemy mengatakan bahwa bumi adalah pusat jagat raya. Tapi kemudian COpernicus menyebabkan perubahan paradigma, ketika dia membuktikan bahwa sebenarnya mataharilah pusat dari jagad raya.

Pengertian akan konsep paradigma ini membuat orang belajar mengerti bagaimana orang lain memandang persoalan yang sama dengan kacamata yang berbeda. Pengertian tentang paradigma ini juga dapat menghindarkan orang dari sikap merasa dirinya sebagai korban lingkungan atau orang lain, sehingga seringkali melakukan "blaming others" (menyalahkan orang lain), karena menganggap dunialah yang salah kalau sesuatu itu tidak sesuai dengan harapannya.

Selanjutnya Stephen Covey menjelaskan bahwa di dunia ini ada hukum alam untuk kematangan. Seorang bayi berkembang dari ketergantungan pada orang tuanya menjadi mandiri sebelum akhirnya mencapai kamatangan pemahaman akan saling ketergantungan dengan orang lain di sekitarnya. Ekosistem alam tercermin dalam ketergantungan kolektif dari masing-masing warga masyarakat, satu terhadap yang lain.

Ketergantungan seorang bayi paradigmanya adalah "Engkau" (engkau merawatku, kalau ada yang salah, itu salahmu), sedangkan pada kemandirian remaja adalah "Aku" (ini pilihanku, aku akan mengerjakannya sendiri). Dan dalam tahap saling tergantung, orang dewasa adalah "Kita" (kita bisa bekerja sama, sebaiknya kita bersatu)

--------

Dalam proses kematangan seseorang dari tahap ketergantungan (dependent) menjadi kemandirian (independent) dan kemudian saling tergantung (interdependent) ada kebiasaan-kebiasaan yang perlu dikuasai supaya seseorang bisa menjadi sangat efektif.

Stephen Covey menyatakan bahwa adanya 7 kebiasaan yang perlu dimiliki. 3 diantaranya berkaitan dengan penguasaan diri, yaitu:

1. Be Proactive (Jadilah pro-aktif)
2. Begin with the End in Mind (Merujuk pada tujuan akhir)
3. Put First Thing First (Dahulukan yang utama)

Kalau kita dapat menguasai ketiga kebiasaan ini, maka kita akan mengalami apa yang disebut "Private Victory" (Kemenangan Pribadi) dan kita boleh dikatakan telah mencapai tahap kemandirian (independent).

Setelah mandiri ini, kita dapat meraih "Public Victory" (kemenangan publik) dengan menguasai 3 kebiasaan selanjutnya, yaitu

4. Think Win-Win (Berpikir menang-menang)
5. Seek First to Understand then to be Understood (Berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti)
6. Synergize (Wujudkan sinergi)

Proses ini tidak bisa dibalik, sebagaimana kita tidak mungkin panen sebelum menanam. Jadi prosesnya berlangsung dari dalam keluar (inside out), yaitu memulai dari diri sendiri (Ibda bin nafsi - Rasulullah SAW) baru dengan orang lain.

Dan kemudian kebiasaan terakhir
7. Sharpen the Saw (asahlah gergaji) adalah kebisaan untuk selalu melakukan pengembangan diri.

Saturday, January 21, 2006

Pertunangan



Pertunangan merupakan masa peralihan antara lamaran dengan pernikahan. Biasanya dalam pertunangan terdapat tradisi saling memberikan hadiah.

Berikut tips mempertahankan pertunangan sebelum menikah.

Jangan buru-buru
Tidak perlu membicarakan ide tentang nama anak bersama pasangan di masa depan. Jangan buru-buru membahas hal yang sebenarnya baru bisa dibicarakan setelah menikah.

Teman-teman
Meskipun sudah bertunangan, bukan berarti Anda sudah tidak punya waktu bersenang-senang. Hubungi teman untuk berbagi kabar gembira dan habiskan waktu bersama mereka seharian.

Berpisah sementara
Terkadang, ada perasaan bosan di antara pasangan setelah bertunangan. Anda pun bisa mencoba untuk berpisah sementara demi memupuk rasa rindu dan ingin segera bertemu.

Mengenal keluarga
Pelan tapi pasti, Anda juga harus mengenal keluarga pasangan dengan lebih baik lagi. Pahami tradisi yang mereka anut. Sebab bukan tidak mungkin suatu hari Anda juga harus mengikutinya.

Bertengkar hebat
Ketika bertengkar, segera selesaikan masalah tersebut. Sebab pertengkaran hebat yang dibiarkan begitu saja bisa meracuni hubungan. Bisa-bisa pertunangan hancur sebelum pernikahan.

Masalah keuangan
Sebelum benar-benar menikah, masalah keuangan juga perlu dipertimbangkan. Setidaknya Anda harus yakin urusan finansial beres demi kelancaran berbagai urusan rumah tangga mendatang.

Menerima keburukan
Bagaimana dengan keburukan pasangan? Jika Anda mulai menemukannya setelah bertunangan, jangan langsung memutuskan hubungan. Sebab Anda bisa menerimanya pelan-pelan.

Dari aku menjadi kita
Jika Anda termasuk pribadi yang begitu mandiri dan menyukai kehidupan sosial, Anda mungkin perlu mengubah gaya hidup setelah menikah. Sebab sebentar lagi Anda menyandang status "kita" dan bukan cuma membawa "aku."

Bersenang-senang
Tidak masalah jika Anda bersenang-senang dengan teman atau mengikuti pesta hingga larut malam. Namun biasakan diri untuk meminta izin pada pasangan jika Anda memang sudah bertunangan.


Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://www.merdeka.com

Wednesday, January 4, 2006

Promosi Kerja




Salah satu cara agar seorang karyawan dapat meningkatkan karirnya yaitu melalui jenjang promosi yang ada di perusahaan tempat karyawan tersebut bekerja. 
Promosi adalah kesempatan dimana seseorang dapat memperbaiki posisi jabatannya yang berarti perpindahan dari suatu jabatan ke jabatan yang lain, yang mempunyai status dan tanggung jawab yang lebih tinggi yang pada umumnya dianggap mempunyai prestasi yang baik, dan juga ada beberapa pertimbangan lainnya yang menunjang. 

Syarat penetapan promosi adalah sebagai berikut:

1. Pengalaman
Banyaknya pengalaman seorang karyawan sering kali digunakan sebagai salah satu syarat untuk promosi, karena dengan adanya pengalainan yang lebih banyak, maka diharapkan kemampuan kerja yang tinggi, ide yang lebih banyak, dan sebagainya.

2. Tingkat Pendidikan
Ada sebagian perusahaan memberikan syarat minimal pendidikan agar dapat dipromosikan pada jabatan tertentu. Hal ini mempunyai alasan bahwa dengan pendidikan yang lebih tinggi, maka dapat diharapkan karyawan yang memiliki jalan pemikiran yang lebih baik.

3. Loyalitas
Loyalitas atas kesetiaan terhadap perusahaan tempat karyawan bekerja sering kali digunakan sebagai syarat promosi Hal ini disebabkan karena dengan loyalitas yang
tinggi karyawan diharapkan memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

4. Kejujuran
Untuk jabatan-jabatan tertentu mungkin kejujuran merupakan syarat yang utama yang perlu diperhatikan, misalnya untuk jabatan kasir atau bagian keuangan, kejujuran adalah merupakan syarat utama yang harus di perhatikan .

5. Tanggung Jawab
Seringkali perusahaan memerlukan tanggung jawab yang cukup besar sehingga masalah tanggung jawab merupakan syarat utama untuk promosi. Apabila seorang karyawan meniiliki tanggung jawab dalam melakukan pekerjaan yang kecil, maka demikian juga dalam melakukan pekerjaan yang besar.

6. Kepandaian dalam bergaul
Untuk promosi pekerjaan tertentu mungkin diperlukan kepandaian bergaul. Sehingga persyaratan kemampuan bergaul dengan orang lain perlu dicantumkan untuk promosi jabatan tersebut misalnya untuk jabatan salesman dimana syarat ini sangat penting untuk diperhatikan.

7. Prestasi kerja
Pada umumnya setiap perusahaan mencantumkan syarat prestasi kerja untuk promosi. Hal ini dapat dilihat dari catatan-catatan prestasi yang telah dikerjakan.

8. lnisiatif dan Kreativitas
Untuk promosi pada jabatan tertentu mungkin syarat tingkat inisiatif dan kreativitas harus diperhatikan. Hal ini disebabkan karena jabatan yang akan dipromosikan ini memerlukan inisiatif dan kreativitas karyawan.

Sumber :
http://jurnal-sdm.blogspot.com