Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Sunday, June 28, 2026

Perjalanan Spiritual dalam Perjalanan Pulang

Minggu pagi dimulai dengan suasana yang tenang.

Setelah sarapan bersama di lantai satu Hotel Dafam Java Lotus Jember, kami tidak langsung berkemas untuk pulang. Kami memilih menikmati pagi sedikit lebih lama. Tujuan berikutnya adalah lantai sembilan, tempat kolam renang berada.

Anak-anak berenang memenuhi pagi yang cerah. Sementara saya hanya duduk sejenak di tepi kolam, menikmati momen yang sering kali luput karena kesibukan sehari-hari. Terkadang, kebahagiaan keluarga tidak membutuhkan agenda yang rumit.

Cukup hadir sepenuhnya.

Selepas berenang dan bersiap meninggalkan hotel, kami mampir makan siang di Pecel Gudeg Lumintu, salah satu kuliner legendaris khas Jember. Perpaduan pecel yang gurih dan gudeg yang manis menjadi penutup yang pas sebelum kembali menempuh perjalanan panjang menuju Surabaya.

Namun seperti sehari sebelumnya, perjalanan pulang bukan hanya soal berpindah dari satu kota ke kota lain. Bagi saya, perjalanan kali ini adalah perjalanan spiritual. Jika Sabtu sore kami berbincang tentang emotional intelligence, maka sepanjang perjalanan pulang topik kami bergeser kepada spiritual intelligence.

Saya mengatakan kepada anak-anak bahwa manusia memiliki banyak jenis kecerdasan. Ada kecerdasan intelektual yang membantu kita memecahkan soal. Ada kecerdasan emosional yang membantu kita memahami diri sendiri dan orang lain.Namun ada satu kecerdasan yang sering terlupakan, padahal justru menjadi kompas bagi keduanya.

Yaitu kecerdasan spiritual.

Spiritual intelligence bukan hanya tentang banyaknya pengetahuan agama. Ia adalah kemampuan untuk menemukan makna di balik setiap peristiwa. 

Mengapa kita harus jujur meskipun tidak ada yang melihat?

Mengapa kita harus tetap berbuat baik kepada orang yang pernah mengecewakan kita?

Mengapa kita tetap bersyukur ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan?

Jawabannya tidak selalu ditemukan oleh logika. Tetapi sering kali ditemukan oleh hati yang terhubung dengan nilai-nilai yang lebih tinggi. Saya juga mengatakan bahwa kehidupan bukan hanya tentang menjadi sukses.

Tetapi tentang menjadi bermanfaat.

Bukan hanya tentang memiliki banyak.

Tetapi tentang mampu berbagi.

Bukan hanya tentang mengejar tujuan.

Tetapi juga memastikan bahwa cara kita mencapainya tetap benar.

Di dalam mobil, jalan terus berganti. Pemandangan berubah. Percakapan pun mengalir tanpa terasa. Tidak ada presentasi. Tidak ada papan tulis. Hanya sebuah keluarga yang sedang berbagi cerita di sepanjang perjalanan pulang. Menjelang sore, Surabaya kembali menyambut kami.

Perjalanan telah selesai.

Namun saya merasa, dua hari ini kami sebenarnya telah menempuh dua perjalanan yang berbeda.

Hari pertama adalah perjalanan emosional.

Hari kedua adalah perjalanan spiritual.

Yang satu mengajarkan bagaimana mengelola perasaan. Yang satunya lagi mengajarkan bagaimana menemukan makna. Dan saya percaya, perjalanan keluarga yang paling berharga bukanlah perjalanan yang menghasilkan banyak foto.

Melainkan perjalanan yang menghasilkan banyak percakapan.

Karena mungkin suatu hari nanti, anak-anak akan lupa hotel tempat kami menginap, kolam renang tempat mereka bermain, atau rasa pecel gudeg yang kami nikmati bersama.

Namun saya berharap mereka akan tetap mengingat bahwa di suatu perjalanan pulang dari Jember, pernah ada obrolan tentang hati, tentang makna hidup, dan tentang pentingnya menjadi manusia yang tidak hanya cerdas berpikir dan cerdas mengelola emosi, tetapi juga cerdas menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan dirinya sendiri.

Saturday, June 27, 2026

Perjalanan Emosional Menuju Rumah Kakek

Sabtu sore, pukul tiga tepat.

Mobil mulai melaju meninggalkan rumah. Tujuan kami sederhana: pulang kampung, mengunjungi rumah kakek. Perjalanan yang biasanya diisi dengan obrolan ringan, musik, atau cerita sehari-hari, kali ini terasa sedikit berbeda.

Sepanjang perjalanan kita berbicara tentang sesuatu yang lebih penting daripada sekadar tujuan kami hari itu, yaitu emotional intelligence.

Saya mengatakan kepada anak-anak bahwa dalam hidup, orang yang paling pintar belum tentu menjadi yang paling berhasil. Nilai rapor yang tinggi memang penting, tetapi ada kemampuan lain yang sering kali lebih menentukan arah kehidupan.

Kemampuan mengendalikan emosi.

Kemampuan memahami perasaan orang lain.

Kemampuan tetap tenang ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Kemampuan meminta maaf ketika salah, dan kemampuan memaafkan ketika disakiti.

Semua itu tidak selalu diajarkan dalam mata pelajaran di sekolah, tetapi justru sering menjadi penentu dalam kehidupan nyata. Misal banyak konflik di keluarga, pertemanan, organisasi, bahkan di tempat kerja, bukan terjadi karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena kurangnya kemampuan mengelola emosi.

Orang yang cerdas bisa kalah oleh amarahnya.

Orang yang berbakat bisa kehilangan kesempatan karena egonya.

Sebaliknya, orang yang mampu menjaga emosi sering kali lebih mudah membangun kepercayaan dan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Tidak semua kata harus dijawab. Kadang yang terpenting adalah ada telinga yang mendengar dan hati yang menyimpan.

Mungkin suatu hari nanti, ketika mereka menghadapi masalah, percakapan sederhana di dalam mobil itu akan kembali teringat.

Perjalanan terus berlanjut.

Jalan tol berganti dengan jalan kampung. Gedung-gedung tinggi berganti dengan sawah dan pepohonan. Tanpa terasa, rumah kakek sudah terlihat di depan mata.

Mobil berhenti.

Obrolan pun ikut berhenti.

Namun saya percaya, perjalanan emosional sore itu tidak benar-benar berakhir ketika mesin dimatikan. Mungkin ia baru saja dimulai, tersimpan dalam ingatan, dan suatu hari akan tumbuh menjadi kebijaksanaan.

Karena perjalanan menuju kampung halaman selalu memiliki dua tujuan.

Yang pertama adalah sampai di rumah.

Yang kedua, dan mungkin lebih penting, adalah membawa pulang nilai-nilai kehidupan kepada orang-orang yang kita cintai.

Setelah melepas rindu dan berbincang bersama keluarga di rumah kakek, malam harinya kami melanjutkan perjalanan kecil menikmati suasana kota Jember. Kami makan malam bersama di sebuah kafe, menikmati waktu tanpa terburu-buru, lalu membeli tahu petis khas Jember dan kacang rebus untuk camilan yang akan selalu mengingatkan kami pada cita rasa kampung halaman.

Malam semakin larut.

Perjalanan hari itu kami akhiri dengan beristirahat di Dafam Java Lotus Jember. Setelah berjam-jam berada di jalan, akhirnya tubuh bisa beristirahat, sementara pikiran kembali mengulang percakapan yang terjadi sepanjang perjalanan.

Friday, June 12, 2026

Perjalanan ke Solo


Kamis siang itu sedikit berbeda dari biasanya. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan utama di kantor, saya mengajukan izin untuk pulang lebih cepat. Bukan untuk berlibur atau menghadiri acara khusus, melainkan untuk sebuah agenda yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang orang tua memiliki makna yang sangat penting: menghadiri pengambilan rapor sekolah anak.

Sesampainya di rumah, ternyata pekerjaan belum benar-benar selesai. Masih ada beberapa report yang harus dirampungkan. Daripada membawanya menjadi beban sepanjang perjalanan, saya memilih menuntaskan semuanya terlebih dahulu. Laptop kembali dibuka, data diperiksa sekali lagi, dan laporan yang tertunda akhirnya berhasil diselesaikan.

Menjelang sore, perjalanan pun dimulai.

Mobil melaju memasuki Tol Trans Jawa, salah satu infrastruktur yang telah mengubah cara masyarakat bepergian antarkota. Jika dulu perjalanan menuju Solo membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang dan melelahkan, kini perjalanan terasa lebih nyaman dan efisien.

Malam itu jalan tol menjadi saksi perjalanan seorang ayah yang sedang menuju Solo, bukan untuk urusan bisnis, bukan pula untuk menghadiri rapat penting, tetapi untuk hadir dalam salah satu momen pendidikan anaknya.

Sampai di Solo sudah sangat larut malam, kita sempatkan beristirahat terlebih dahulu di Sans Fourth Loft yang berlokasi di Jl. Moh. Husni Thamrin No.33, Kerten, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57141.

Jumat pagi, tujuan utama perjalanan akhirnya tercapai. Kehadiran orang tua dalam setiap tahap perkembangan anak adalah investasi yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.

Pengambilan rapor sekolah mungkin hanya berlangsung beberapa menit atau jam. Namun bagi orang tua, rapor bukan sekadar kumpulan angka dan nilai. Di dalamnya terdapat cerita tentang usaha, proses belajar, tantangan, dan perkembangan anak selama satu semester.

Melihat hasil belajar anak secara langsung memberikan kebahagiaan tersendiri. Bukan semata-mata soal nilai tinggi atau rendah, melainkan kesempatan untuk memahami perjalanan pendidikan yang sedang dijalani anak.

Setelah agenda sekolah selesai, masih ada sedikit waktu untuk menikmati suasana Kota Solo. Siang hari diisi dengan berjalan-jalan santai di Solo Square. Tidak ada agenda besar, hanya menikmati suasana, melihat aktivitas masyarakat, dan menghabiskan waktu bersama keluarga sebelum perjalanan kembali dimulai.

Menjelang malam, perjalanan pulang pun dimulai. Kembali menyusuri Tol Trans Jawa menuju rumah.

Saturday, May 23, 2026

Sebuah Akhir Pekan dengan Dua Pernikahan dan Dua Kota


Sabtu pagi dimulai dengan bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan putri seorang teman di Gresik. Acara yang berlangsung sekitar pukul 11 siang itu menjadi momen yang menyenangkan untuk kembali bertemu sahabat lama, berbagi cerita, dan menyaksikan kebahagiaan sebuah keluarga yang tengah mengantarkan putri tercintanya memasuki babak kehidupan yang baru.

Namun perjalanan hari itu belum selesai.

Usai menghadiri resepsi di Gresik, perjalanan langsung dilanjutkan menuju Malang. Waktu terasa begitu berharga karena tujuan berikutnya adalah menghadiri pernikahan saudara sepupu yang berlangsung pukul 1 siang. Beruntung perjalanan berjalan lancar sehingga masih dapat tiba tepat waktu di akhir-akhir acara sehingga masih bisa ikut merasakan suasana bahagia bersama keluarga besar.

Menariknya, meskipun kedua acara tersebut sama-sama pernikahan, nuansa yang dirasakan berbeda. Di Gresik bertemu dengan sahabat dan rekan lama, sementara di Malang berkumpul bersama keluarga yang mungkin tidak setiap hari dapat dijumpai. Hari itu menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang pekerjaan dan rutinitas, tetapi juga tentang menjaga hubungan dengan orang-orang yang pernah dan sedang menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Karena tidak ingin terburu-buru pulang, diputuskan untuk menginap semalam di Hotel Pelangi Malang. Hotel yang sarat nuansa sejarah ini menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat setelah seharian menempuh perjalanan lintas kota.

Malam harinya, langkah kaki mengarah ke kawasan Kayutangan Heritage. Kawasan yang kini menjadi salah satu ikon wisata Kota Malang tersebut menawarkan suasana yang berbeda. Bangunan-bangunan tua yang terawat, lampu-lampu jalan yang hangat, serta keramaian pengunjung menciptakan suasana yang membuat siapa saja ingin berjalan lebih lama.

Di sana, waktu seolah berjalan lebih lambat. Orang-orang duduk santai, berbincang, menikmati kuliner, dan mengabadikan momen. Tidak ada target yang harus dicapai. Tidak ada rapat yang harus dihadiri. Hanya menikmati malam dan merasakan suasana kota yang penuh cerita.

Keesokan harinya, Minggu pagi, perjalanan dilanjutkan ke Car Free Day di Jalan Ijen. Sejak pagi, kawasan tersebut sudah dipenuhi masyarakat yang berjalan kaki, berolahraga, bersepeda, maupun sekadar menikmati udara pagi.

Deretan pohon besar di sepanjang Jalan Ijen, bangunan-bangunan berarsitektur kolonial, dan suasana yang tertib membuat kawasan ini selalu memiliki daya tarik tersendiri. Banyak keluarga yang datang bersama anak-anak, komunitas yang berkumpul, hingga pedagang yang menawarkan berbagai makanan dan minuman.

Dua hari ini ada banyak cerita, tentang persahabatan, tentang keluarga, tentang kebersamaan, dan tentang pentingnya meluangkan waktu untuk menikmati perjalanan, bukan hanya mengejar tujuan.

Hidup bukan hanya soal seberapa cepat kita sampai, tetapi juga tentang siapa saja yang kita temui dan kenangan apa saja yang kita bawa pulang sepanjang perjalanan.

Saturday, April 18, 2026

Contoh Masalah

Untuk lebih memahami konsep masalah dari artikel sebelumnya tersebut, bayangkan seseorang yang sedang berada di Surabaya dan memiliki tujuan untuk pergi ke Solo. Sekilas, tujuan ini terlihat sederhana: berpindah dari satu kota ke kota lain. Namun dalam praktiknya, perjalanan ini bisa menjadi kompleks jika tidak direncanakan dengan baik.

Masalah yang sering terjadi bukan karena jarak Surabaya ke Solo terlalu jauh, melainkan karena hambatan di sepanjang perjalanan. Misalnya, seseorang tidak mengetahui rute yang harus ditempuh, tidak memiliki kendaraan, atau bahkan tidak tahu pilihan transportasi yang tersedia. Ada juga kemungkinan ia memiliki tujuan, tetapi tidak memiliki cukup biaya, waktu, atau informasi yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, jelas bahwa yang menjadi masalah bukanlah tujuan ke Solo, tetapi apa saja yang menghambat perjalanan ke sana.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahami posisi saat ini. Ia harus benar-benar sadar bahwa dirinya berada di Surabaya, mengetahui titik awal secara spesifik, serta memahami kondisi yang dimiliki—apakah ia punya kendaraan pribadi, berapa budget yang tersedia, berapa waktu yang dimiliki, dan bagaimana kondisi fisiknya. Tanpa kesadaran ini, ia mungkin akan mengambil keputusan yang tidak realistis, seperti ingin sampai cepat tetapi tidak mempertimbangkan keterbatasan yang ada.

Langkah kedua adalah mendefinisikan tujuan dengan jelas. Pergi ke Solo bukan hanya soal sampai di kota tersebut, tetapi juga kapan ingin tiba, dengan cara apa, dan untuk tujuan apa. Apakah ia ingin sampai secepat mungkin, atau lebih mengutamakan efisiensi biaya? Apakah perjalanan ini mendesak atau bisa fleksibel? Dengan tujuan yang lebih terdefinisi, pilihan yang diambil akan menjadi lebih terarah.

Langkah ketiga adalah menyusun komposisi capital yang tepat. Jika memiliki dana yang cukup, ia bisa memilih transportasi yang lebih cepat seperti kereta atau pesawat. Misal menggunakan kereta api Jayakarta dari Surabaya Gubeng pukul 13.45 dengan tujuan akhir Stasiun Pasar Senen, Jika budget terbatas, mungkin bus atau travel menjadi pilihan. Selain itu, strategi perjalanan juga penting—memilih waktu keberangkatan yang tepat untuk menghindari macet, atau memanfaatkan promo tiket. Network juga bisa berperan, semisal kita tidak harus menginap di Pop Hotel Solo jalan Slamet Riyadi, namun misalnya memiliki teman di Solo yang bisa membantu tempat tinggal sementara atau memberikan informasi rute terbaik.

Langkah keempat adalah menggunakan helicopter view. Dalam perjalanan, bisa saja terjadi perubahan situasi—misalnya kemacetan, keterlambatan transportasi, atau kondisi cuaca yang tidak mendukung. Dengan melihat dari sudut pandang yang lebih luas, ia bisa mengambil keputusan alternatif, seperti mengganti rute, menunda perjalanan, atau memilih moda transportasi lain. Ia tidak terpaku pada satu cara, tetapi tetap fokus pada tujuan akhir, yaitu sampai di Solo.

Dari contoh sederhana ini, terlihat bahwa perjalanan dari Surabaya ke Solo bukan hanya soal berpindah lokasi, tetapi juga soal bagaimana seseorang memahami kondisi awal, menyusun rencana, dan mengelola hambatan yang ada. Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan dan karier. Tujuan yang besar tidak akan terasa mustahil jika kita mampu mengidentifikasi hambatan, menyesuaikan strategi, dan tetap melihat gambaran besar dalam setiap langkah yang diambil.

Friday, March 27, 2026

Petuah dari Sopir Taksi Online (lagi)

Tidak terasa, sudah hampir 1 tahun, yaitu bulan Mei 2025 saat survey mencari kost untuk anak. Meski jarak antara Surabaya ke Bandung cukup jauh, yaitu sekitar 700 km, namun ini Bukan Hanya Tentang Jarak, ini merupakan sebuah perjalanan.

Kali ini bulan Maret 2026 menuju kampus ITB Jatinangor adalah untuk menengok anak yang sedang menempuh pendidikannya di sana. Tidak ada agenda besar, hanya ingin main dan liburan, karena libur lebaran anak sekolah dan kuliah tahun ini cukup pendek, sehingga kami sebagai orang tua yang mengalah pergi kesana.

Sekaligus memberi semangat bahwa dunia barunya tidak terlalu keras untuknya.

Namun seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, selalu ada cerita yang lebih dari sekadar tujuan.

Suasana kampus di Jatinangor terasa berbeda. Lebih tenang, lebih terbuka, seolah memberi ruang bagi mahasiswa untuk benar-benar “tumbuh”. Sehingga cocok bagi anak muda, yang bukan lagi sebagai anak kecil yang sering bergantung pada orang tua, tapi sudah menjadi individu yang sedang belajar berdiri di atas kakinya sendiri.

Perantauan memang seperti itu. Ia memisahkan secara fisik, tapi justru mendekatkan secara makna. Di tempat seperti inilah, seorang anak mulai belajar, mengatur hidupnya sendiri menghadapi masalah tanpa orang tua di sampingnya, dan memahami arti tanggung jawab.

Dari Jatinangor, perjalanan berlanjut menuju kampus Institut Teknologi Bandung kampus Ganesha. Berbeda dengan Jatinangor, suasana di sini terasa lebih padat, lebih hidup, dengan sejarah panjang yang seolah terasa di setiap sudutnya, seperti Merajut Langkah, Menyulam Makna.

Gedung-gedung tua berdiri kokoh, membawa cerita tentang generasi demi generasi yang pernah belajar, jatuh, bangkit, dan akhirnya menemukan jalannya masing-masing. Di sini, kita tidak hanya melihat kampus, tapi juga melihat perjalanan waktu.

Dalam perjalanan menuju Ganesha, saya kembali bertemu dengan sopir taksi online. Seperti sebelumnya dimana kami mendapatkan Petuah dari Sopir Taksi Online, obrolan ringan berubah menjadi percakapan yang lebih dalam.

Ia bertanya, “Habis dari mana, Pak?”

Saya menjawab, “Dari Jatinangor, nengok anak kuliah.”

Ia mengangguk pelan, seolah mengerti.

“Berat ya, Pak… punya anak merantau.”

Saya tersenyum. “Iya, tapi memang harus begitu.”

Sopir itu kemudian bercerita.

Ia juga pernah merantau. Tidak untuk kuliah, tapi untuk bekerja. Jauh dari orang tua, hidup dengan segala keterbatasan.

“Perantauan itu bukan cuma soal tempat, Pak,” katanya.
“Ini soal mental.”

Menurutnya, mahasiswa yang merantau sedang berada di fase paling penting dalam hidupnya. Bukan hanya belajar teori, tapi belajar hidup.

“Kadang yang bikin kuat bukan ilmunya, tapi karena tidak punya pilihan selain bertahan.”

Kalimat itu terasa sederhana, tapi sangat nyata.

Saya kemudian bertanya, “Menurut Bapak, orang tua harus bagaimana?”

Ia menjawab tanpa ragu:

“Support saja, Pak. Tapi jangan terlalu menekan.”

Ia melanjutkan,
“Anak yang merantau itu sudah berjuang. Kadang mereka tidak cerita, bukan karena tidak mau, tapi karena tidak ingin bikin orang tua khawatir.”

Di situ saya terdiam.

Sering kali, orang tua ingin yang terbaik, tapi lupa bahwa setiap anak punya caranya sendiri untuk bertumbuh.

Dalam perantauan, mahasiswa berada di tengah dua dunia, harapan dari orang tua, realita yang harus mereka hadapi sendiri. Tidak semua hari mudah. Tidak semua langkah pasti.

Namun justru di situlah mereka ditempa. Seperti besi yang dipanaskan, perantauan membentuk karakter yang tidak bisa didapat di tempat yang nyaman.

Dan akhirnya perjalanan sementara berakhir di Dago Asri 3, sebelum nanti malam melanjutkan kembali ke Surabaya dengan menggunakan kereta api Harina.

Thursday, March 26, 2026

Petuah dari Sopir Taksi Online di Bandung

Pagi itu, bahkan subuh saja masih belum, suasana Stasiun Bandung masih dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang datang dan pergi. Kami baru saja turun dari kereta Harina. Lalu sambil menunggu waktu sholat subuh kami jalan menuju Masjid Al Jabbar.

Perjalanan yang awalnya saya kira biasa saja, justru berubah menjadi pelajaran hidup yang tidak terduga. Mobil taksi online yang saya tumpangi melaju perlahan meninggalkan stasiun. Sopirnya ramah, tidak banyak bicara di awal, seperti kebanyakan pengemudi lainnya.

Namun, obrolan ringan mulai mengalir. Mirip dengan pengalaman pelajaran dari sopir taxi 9 tahun lalu, yaitu tepatnya pada tahun 2017 silam.

“Ke Al Jabbar, Pak?” tanyanya memastikan.

Saya mengangguk.

Beberapa menit kemudian, percakapan mulai masuk ke hal-hal yang lebih personal, pekerjaan, rutinitas, dan kehidupan sehari-hari.

Di situlah saya mulai sadar, pria di balik kemudi ini bukan sekadar sopir.

“Ini sambilan saja, Pak,” katanya santai.

Ternyata, pekerjaan utamanya adalah sebagai marketing in-house untuk sebuah vila di daerah Bandung. Mengemudi taksi online bukan hanya untuk menambah penghasilan, tapi juga menjadi “jalan” untuk bertemu orang-orang baru.

Saya mulai tertarik.

“Jadi, ini sekalian cari pelanggan juga, Pak?”

Ia tersenyum, lalu mengeluarkan selembar kartu nama.

“Betul. Siapa tahu cocok. Kalau tidak sekarang, mungkin nanti.”

Ada sesuatu yang sederhana namun dalam, dia tidak hanya bekerja, dia menggabungkan peluang. Setiap penumpang bukan hanya “orderan”, tapi juga potensi relasi. Setiap perjalanan bukan hanya soal jarak, tapi juga kemungkinan.

Tanpa terasa, konsep lama yang sering kita dengar menjadi nyata di depan mata, sekali menyelam sambil minum air. Dia tetap mendapatkan penghasilan dari mengemudi. Namun di saat yang sama, ia membuka peluang baru untuk pekerjaannya yang lain.

Yang menarik, ia tidak terdengar seperti sedang “jualan”. Tidak ada paksaan. Tidak ada promosi berlebihan. Hanya percakapan ringan, lalu kartu nama yang diberikan dengan santai.

“Saya cuma kasih tahu saja, Pak. Rezeki itu kan dari mana saja,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tapi terasa jujur. Sering kali kita berpikir bahwa untuk sukses, kita harus melakukan sesuatu yang besar. Padahal, kadang yang dibutuhkan hanyalah cara berpikir yang berbeda.

Sopir taxi onlin ini mengajarkan satu hal penting, bahwa peluang tidak selalu datang, tapi bisa diciptakan, pekerjaan tidak harus satu arah, dan setiap interaksi bisa memiliki nilai lebih. Dia tidak menunggu kesempatan besar. Dia memaksimalkan yang sudah ada di tangannya.

Sesampainya di Masjid Al Jabbar, saya turun dengan perasaan yang berbeda. Bukan hanya karena tujuan telah tercapai, tapi karena perjalanan itu sendiri membawa makna. Kadang, pelajaran hidup tidak datang dari buku tebal atau seminar besar.

Dia bisa datang dari kursi depan sebuah mobil, dari seseorang yang menjalani hidupnya dengan cara sederhana, tapi penuh kesadaran.

Dan selepas dari masjid kebanggaan warga Bandung kemudian kita melanjutkan ke Dhika Serenity untuk istirahat sejenak.

Saturday, December 20, 2025

Pulang ke Surabaya

Perjalanan terakhir berlangsung pada Sabtu, 20 Desember 2025, menjadi penutup rangkaian perjalanan panjang yang telah dilalui dalam beberapa hari sebelumnya. Malam itu, dari Stasiun Bekasi, perjalanan dilanjutkan menggunakan Kereta Api Gumarang yang dijadwalkan berangkat pada pukul 21.55

Suasana stasiun kembali diwarnai oleh para penumpang perjalanan malam, sebagian dengan raut lelah, sebagian lain dengan ekspresi tenang karena mengetahui tujuan akhir sudah semakin dekat.

Kereta Gumarang melaju menembus malam dengan ritme yang konsisten. Malam berganti dini hari, dan perjalanan panjang perlahan berubah menjadi penantian akan tiba di kota tujuan.

Pagi hari menyambut saat kereta akhirnya tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi pada pukul 07.58. Cahaya matahari pagi dan hiruk-pikuk awal aktivitas kota memberikan nuansa yang berbeda dibandingkan perjalanan malam sebelumnya. 

Tiba di Surabaya menandai berakhirnya seluruh rangkaian perjalanan lintas kota—dari Sidoarjo, Solo, Bekasi, hingga kembali ke Surabaya. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga rangkaian pengalaman, jeda, dan perenungan yang menyatu dalam perjalanan panjang di atas rel kereta api.

Friday, December 19, 2025

Senja Utama

Perjalanan berlanjut pada Jumat, 19 Desember 2025, menutup rangkaian aktivitas di Kota Solo dengan menuju Bekasi menggunakan Kereta Api Senja Utama. Menjelang malam, suasana Stasiun Solo Balapan terasa lebih tenang dibandingkan siang hari, namun tetap ramai oleh para penumpang yang bersiap menempuh perjalanan jarak jauh. 

Tepat pukul 18.55, kereta Senja Utama berangkat meninggalkan Solo, membawa penumpang menembus malam dengan ritme rel yang konstan dan menenangkan. Sebagian penumpang memilih beristirahat, sebagian lain menikmati perjalanan sambil merenung atau membaca. 

Kereta terus melaju melintasi kota-kota di Jawa Tengah hingga Jawa Barat, hingga akhirnya tiba di Stasiun Bekasi pada pukul 02.21 dini hari. Udara malam Bekasi terasa lebih sejuk, dengan suasana kota yang lengang dan sunyi.

Turun di stasiun perjalanan berikutnya adalah menuju Hotel Front One Ahmad Yani Bekasi, yang menjadi tempat beristirahat setelah perjalanan panjang. Lokasinya yang berada di jalur utama memudahkan akses dari stasiun, terutama di jam-jam dini hari. 

Setibanya di hotel, hanya istirahat sebentar kemudian dilanjutkan menuju Jati Asih kota Bogor untuk menghadiri acara akad nikah saudara. Siang hari setelah acara ijab qobul dan resepsi kemudian menuju ke kota Depok tepatnya di kampus UI untuk bertemu dengan teman-teman SMA.

Thursday, December 18, 2025

Menuju Solo

Perjalanan pada Kamis, 18 Desember 2025 dimulai sejak pagi hari di Stasiun Sidoarjo menggunakan Kereta Api Ranggajati. Tepat pukul 08.43 WIB, kereta berangkat meninggalkan Stasiun Sidoarjo. Di dalam kereta, suasana cukup sepi, sehingga cukup nyaman menikmati waktu sambil membaca buku.

Tepat pukul 13.29 WIB, kereta tiba di Stasiun Solobalapan. Setibanya di Solo, perjalanan dilanjutkan menuju Jalan Slamet Riyadi, salah satu urat nadi Kota Solo yang selalu hidup. Deretan bangunan bersejarah, serta pilihan tempat makan dan kafe yang nyaman. 

Kita bisa memilih Front One Cabin Slamet Riyadi Solo untuk beristirahat, dimana hotel ini berlokasi strategis karena dekat sejumlah stasiun transit, berjarak 8 menit berkendara dari Stasiun Solo Balapan.

Selain sangat mudah diakses, hotel ini dekat dengan restoran cepat saji mulai dari McDonald’s Almaz dan KFC. Keberadaan McDonald’s dan KFC di sekitar hotel menjadi nilai tambah tersendiri, terutama bagi tamu yang ingin mencari makanan cepat dan praktis tanpa harus berjalan jauh atau mencari lokasi lain.

Di malam hari, kawasan sekitar hotel tetap terasa hidup. Jalan Slamet Riyadi dikenal sebagai salah satu area paling aktif di Solo, namun tetap memberikan suasana yang relatif tertib dan nyaman. 

Thursday, October 30, 2025

Perjalanan Menuju Madiun dan Solo

Perjalanan menuju Solo pada hari Kamis, 30 Oktober 2025, dimulai tepat setelah jam kerja berakhir pukul 17.00. Suasana kantor masih terasa melekat ketika pintu mobil ditutup, tetapi begitu mesin menyala, ada perasaan ringan yang perlahan muncul. 

Langit sore bergerak cepat menuju senja, mewarnai perjalanan awal dengan gradasi jingga yang perlahan memudar. Jalanan selepas jam pulang kerja cukup padat, namun ritme perjalanan yang stabil memberi ruang untuk menikmati transisi dari suasana kerja menuju suasana perjalanan. 

Radio memutar lagu-lagu lama yang akrab di telinga, menemani setiap kilometer yang dilalui. Semakin jauh dari kota asal, lampu-lampu jalan dan suasana malam mulai mendominasi, seolah mengisyaratkan bahwa perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga sebuah jeda dari rutinitas.

Di tengah perjalanan setelah mengisi bensin di rest area, kami mampir sejenak di rumah saudara di kota Madiun.

Memasuki malam hari, udara semakin sejuk. Kota-kota kecil yang dilewati memberikan pemandangan sederhana namun menenangkan—warung di pinggir jalan yang masih buka, pengendara motor yang melintas dengan lampu kuning redup, dan bau khas tanah malam hari setelah angin bergerak. 

Perjalanan menuju Solo terasa lebih ringan ketika tujuan semakin dekat. Dan akhirnya, beberapa jam setelah meninggalkan kantor, Solo menyambut dengan atmosfer khasnya: hangat, tenang, dan sedikit nostalgik. 

Setibanya di kota, lelah perjalanan seakan terbayar oleh suasana malam Solo yang damai. Waktu untuk beristirahat tidak panjang, tapi beruntung Pop Hotel Solo yang berada di jalan Slamet Riyadi No.464, Purwosari, Laweyan, Surakarta City, memberikan kasur yang nyaman, meski istirahat singkat namun cukup untuk menenangkan tubuh dan pikiran setelah hari yang panjang.

Keesokan harinya, hari Jumat, setelah mengambil rapot dan setelah menyelesaikan urusan lain di sekolah, perjalanan dimulai dengan suasana kota yang berbeda—lebih hidup, lebih cerah, dan lebih akrab. 

Aktivitas di Solo berjalan dalam ritme yang khas, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Urusan yang perlu diselesaikan pada hari itu berjalan lancar, memberikan rasa lega dan kepuasan tersendiri. Ada bagian dari perjalanan ini yang terasa sederhana, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya berkesan.

Ketika waktu menunjukkan pukul 15.00, perjalanan kembali dimulai. Sore itu, Solo perlahan menghilang di kaca spion, namun meninggalkan jejak hangat yang sulit dijelaskan. Jalan pulang terasa lebih tenang dibanding perjalanan berangkat. 

Ada rasa syukur karena semua urusan berjalan baik, ada ketenangan karena rencana bisa diselesaikan tepat waktu, dan ada kepuasan tersendiri karena perjalanan singkat ini memberi energi baru. Sepanjang perjalanan pulang, langit kembali menjelma dalam warna-warna senja, seolah mengulang suasana berangkat sehari sebelumnya. 

Namun kali ini rasanya berbeda—lebih reflektif, lebih lembut, dan lebih penuh makna.

Tuesday, October 7, 2025

The Journey Never End

Tentang Kesempatan, Diri, dan Perjalanan Panjang Kehidupan

Tidak semua orang memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk meniti perjalanan yang panjang. Ada yang lahir dengan banyak kemudahan, ada pula yang harus berjuang menembus batas hanya untuk memulai langkah pertama. Namun, hidup tidak pernah sekadar tentang dari mana kita berangkat — melainkan bagaimana kita melangkah dan ke mana kita memilih untuk terus berjalan.

Karena pada akhirnya, the journey never end. Setiap tujuan hanyalah awal dari perjalanan baru, setiap keberhasilan membuka bab berikutnya dari kisah hidup yang lebih besar.


Kemampuan & Kesempatan

Dua hal yang sering menjadi pembeda antara mereka yang berhasil dan yang menyerah adalah kemampuan dan kesempatan.

Kemampuan bisa diasah; kesempatan bisa diciptakan. Namun keduanya hanya bermakna jika kita memiliki kemauan. Mereka yang terus belajar, beradaptasi, dan berani mengambil langkah akan selalu menemukan jalannya sendiri, bahkan di tengah keterbatasan.


Be Yourself, But Be the Best of Yourself

Menjadi diri sendiri adalah kejujuran, tapi menjadi versi terbaik dari diri sendiri adalah perjuangan. Kita boleh berbeda, tapi jangan berhenti berkembang. Kita boleh berjalan lambat, tapi jangan berhenti belajar. Hidup adalah proses panjang untuk mengenali siapa diri kita, dan bagaimana menjadikannya lebih baik dari kemarin.


Persiapan Human Capital

Dalam dunia organisasi maupun komunitas, setiap peran membutuhkan kesiapan. Jika ingin mengambil peran dalam organisasi, tidak ada jalan lain selain mempersiapkan human capital — sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Bukan hanya cerdas, tapi juga berintegritas. 

Bukan hanya mampu bekerja, tapi juga mampu membawa nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap tindakannya. Organisasi yang besar bukan hanya karena struktur, tapi karena manusianya yang tumbuh bersama visi.


Hidup Adalah Universitas yang Abadi

Setiap hari adalah ruang kuliah, setiap pengalaman adalah dosen, dan setiap kesalahan adalah ujian. Hidup adalah universitas yang abadi, tempat kita belajar tanpa batas waktu. Kita belajar dari keberhasilan, tapi jauh lebih banyak belajar dari kegagalan.

Dan sering kali, di balik kekalahan atau kegagalan selalu ada rencana Tuhan yang lebih baik.


Never Ever Give Up

Perjalanan memang panjang, melelahkan, dan sering kali tidak berjalan sesuai rencana. Namun jangan pernah menyerah. Never ever give up. Karena ketika kita bertahan sedikit lebih lama, kesempatan yang kita tunggu mungkin sedang menunggu di tikungan berikutnya.


Melompat Lebih Tinggi

Kadang kita harus jatuh agar bisa mengambil ancang-ancang untuk melompat lebih tinggi. Kegagalan bukan akhir, melainkan pijakan untuk naik ke level berikutnya. Selalu ada peluang untuk kita bisa melompat lebih tinggi, selama kita mau belajar, berbenah, dan percaya bahwa perjalanan ini — meski berat — tetap bermakna.


Karena hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang terus berjalan tanpa kehilangan arah.

The journey never end — dan kita semua masih punya kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri. 

Saturday, October 4, 2025

Family Gathering di Nabila Villa Trawas

Merayakan Kebersamaan di Lereng Pegunungan


Di tengah rutinitas yang padat dan kesibukan masing-masing keluarga, momen untuk berkumpul dalam suasana santai sering kali menjadi hal yang langka. Karena itu, Family Gathering warga RT 19 di Nabila Villa & Cafe, Trawas Mojokerto, menjadi kesempatan berharga untuk kembali menghangatkan tali silaturahmi dan menumbuhkan rasa kebersamaan. 

Berada di kawasan lereng pegunungan yang sejuk, acara ini bukan hanya menjadi ajang rekreasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antarwarga dalam suasana penuh tawa dan cerita.

Nabila Villa & Cafe, yang dikenal dengan suasana alamnya yang menenangkan, menjadi lokasi yang tepat bagi kegiatan keluarga seperti ini. Udara pegunungan yang segar, pemandangan hijaunya pepohonan, serta nuansa kafe yang nyaman membuat setiap tamu merasa rileks sejak pertama kali menginjakkan kaki di area tersebut. 

Suasana dan acara hangat yang diselenggarakan oleh Panitia menambah keakraban antarwarga. Momen ini menjadi pengingat bahwa kegembiraan tidak selalu harus mahal; cukup dengan hadir bersama dan membuka diri untuk menikmati waktu, kebahagiaan bisa muncul dengan sendirinya. 

Banyak warga yang memanfaatkan waktu untuk berfoto bersama, mengabadikan momen langka ketika hampir semua anggota RT 19 berkumpul dalam satu tempat. Kebersamaan ini bukan hanya sekadar foto, tetapi juga menjadi simbol solidaritas dan kekuatan sebuah komunitas kecil yang saling menopang.

Family Gathering di Nabila Villa & Cafe menjadi napas baru bagi kehidupan sosial warga RT 19. Di era di mana orang sering disibukkan oleh urusan masing-masing, momen seperti ini mengingatkan bahwa sebuah komunitas dibangun dari interaksi yang tulus, dari sapaan hangat, dan dari kesediaan untuk hadir satu sama lain. 

Karena itu, acara ini bukan hanya berakhir ketika warga pulang, tetapi meninggalkan kesan mendalam yang akan menjadi pengalaman yang tak hanya menyenangkan, tetapi juga mempererat jalinan kekeluargaan sehingga akan menjadi energi positif untuk hari-hari berikutnya.

Saturday, September 20, 2025

Tetirah

Dalam kehidupan yang kian padat dengan tuntutan, sering kali manusia terjebak dalam arus kesibukan yang tak berujung. Pekerjaan, target, kewajiban sosial, bahkan tekanan dari diri sendiri membuat langkah terasa berat, pikiran penuh sesak, dan hati kian lelah. 

Di titik inilah, tetirah—sebuah kata Jawa yang berarti berhenti sejenak untuk beristirahat dan memulihkan diri—menjadi relevan dan penting. 

Tetirah bukan sekadar liburan, melainkan sebuah jeda yang disadari, di mana seseorang sengaja melepaskan diri dari rutinitas harian, kembali pada keheningan, dan menyelami ulang makna hidup. Dalam tetirah, jiwa yang penat diberi ruang untuk bernapas, tubuh yang lelah diberi kesempatan untuk pulih, dan pikiran yang kusut diluruskan dengan keheningan. 

Saat seseorang melakukan tetirah, ia sesungguhnya sedang merawat dirinya sendiri, seperti seorang petani yang memberi waktu bagi tanah untuk kembali subur setelah lelah ditanami. Dari tetirah, lahirlah energi baru, kejernihan pikiran, dan semangat untuk kembali menempuh perjalanan. 

Manusia bukan mesin yang bisa bekerja tanpa henti. Ia adalah makhluk dengan hati, rasa, dan batin yang juga membutuhkan kehangatan jeda. Dan dalam jeda itulah, kita menemukan kembali siapa diri kita sebenarnya.

Dalam jeda, kita menemukan kesadaran bahwa hidup bukan semata tentang mengejar, tetapi juga tentang merasakan; bukan hanya tentang berlari, tetapi juga tentang berhenti dengan penuh makna. Kesadaran itu tumbuh ketika kita memahami bahwa diri ini bukan ditentukan oleh pencapaian semata, melainkan oleh sejauh mana kita mengenali diri kita sendiri. 

Dari jeda lahirlah pengertian, dari pengertian lahirlah penerimaan, dan dari penerimaan itulah tumbuh keberanian untuk melangkah kembali dengan tenang. Maka, jeda bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang halus—sebuah momen ketika manusia menemukan kembali siapa dirinya sebenarnya, dan itulah inti dari kesadaran sejati.

Sunday, June 29, 2025

Menyusuri Jalan Pulang

Perjalanan Singkat dari Jember ke Sidoarjo

Minggu siang di Jember menyisakan sisa-sisa kehangatan dari malam sebelumnya. Setelah sehari penuh menikmati udara kampung yang bersih, menyantap masakan khas Jember, dan berbagi cerita tanpa batas, akhirnya tiba waktunya untuk kembali ke rutinitas—ke Sidoarjo, ke rumah, ke kehidupan yang menanti di awal pekan. 

Tepat pukul 12 siang, setelah makan siang bersama, kami berempat kembali menaiki mobil dan bersiap menempuh perjalanan sekitar 6 jam menyusuri jalur selatan Pulau Jawa.

Suhu udara masih cukup terik saat kami meninggalkan Jember. Jalanan kota tampak lengang, lalu mulai berkelok melewati perkebunan dan perbukitan kecil menuju arah utara. Di sepanjang perjalanan, pemandangan alam kembali menyuguhkan ketenangan yang kontras dengan hiruk-pikuk kota. 

Anak-anak di kursi tengah mulai terlelap, mungkin masih membawa lelah dari kegiatan selama di kampung.

Kami memilih jalur yang sama seperti saat berangkat: melewati Lumajang, Probolinggo, lalu Pasuruan. Lalu lintas di beberapa titik mulai padat, terutama mendekati sore hari. Banyak kendaraan pribadi dan bus pariwisata yang tampak beriringan, semua sama: kembali dari liburan singkat menuju rutinitas harian. 

Meski sempat terjebak antrean di beberapa ruas jalan pasar, perjalanan tetap terasa ringan karena hati masih hangat oleh kesan akhir pekan.

Kami sempat berhenti di rest area pertama saat memasuki tol di daerah Probolinggo untuk beristirahat dan membeli minuman dingin. Di sana, obrolan kecil kembali mencair—tentang betapa singkatnya waktu saat berada di kampung, tentang rencana liburan berikutnya, dan tentang bagaimana anak-anak tampak lebih ceria setelah bertemu keluarga besar.

Menjelang magrib, langit mulai memerah saat mobil perlahan memasuki wilayah Sidoarjo. Rasa lelah tergantikan oleh perasaan tenang—kami pulang dengan hati penuh. Rumah yang kami tinggalkan dua hari lalu kembali menyambut dalam keheningan yang familiar. 

Meski hanya perjalanan singkat, namun seperti biasa, perjalanan pulang dari kampung selalu meninggalkan kesan panjang—tentang rumah yang sesungguhnya, tentang waktu yang berharga, dan tentang arti kembali.

Saturday, June 28, 2025

Sabtu Sore Menuju Kampung Halaman di Jember

Perjalanan Pulang

Hari Sabtu selalu membawa aroma pulang. Bagi kami, keluarga kecil dari Sidoarjo, akhir pekan kali ini bukan sekadar istirahat—melainkan momen untuk kembali ke akar, ke kampung halaman di Jember. Jam menunjukkan pukul tiga sore ketika kami berempat—aku, istri, dan dua anak kami—bergegas keluar dari rumah setelah seharian penuh bekerja. 

Mumpung lagi libur sekolah. 

Meski lelah belum sepenuhnya reda, ada semangat yang tak bisa disembunyikan: rindu akan udara kampung, suara jangkrik malam, dan senyum hangat orangtua yang selalu menanti.

Perjalanan dimulai dari jalanan padat kota Sidoarjo. Lalu lintas cukup bersahabat meski sesekali tersendat di titik-titik pertemuan jalan raya dan kawasan industri. Kami memilih jalur darat menggunakan mobil pribadi, karena selain lebih fleksibel, ini adalah waktu terbaik untuk berbincang di sepanjang jalan—tentang hidup, sekolah anak-anak, hingga kenangan masa kecilku di Jember.

Di sepanjang perjalanan, sawah-sawah yang mulai menguning menyapa dari balik jendela. Langit sore di atas Pandaan dan Lumajang begitu bersahabat, dengan semburat jingga yang pelan-pelan berganti biru kelam. 

Kami sempat berhenti sejenak di Alfamart untuk membeli jajanan ringan, sekaligus memberi waktu anak-anak untuk melepas penat. Obrolan ringan dan tawa kecil dari bangku belakang menjadi musik perjalanan yang tak tergantikan.

Mendekati Jember, suasana terasa makin akrab. Lampu-lampu desa mulai menyala, dan jalanan berubah dari lebar menjadi sempit, dari ramai menjadi tenang. Aroma kampung perlahan masuk ke dalam kabin mobil: campuran tanah basah, kayu bakar, dan angin pegunungan yang sejuk. 

Sebelum keliling kami sempatkan bersih-bersih dulu di penginapan AYO, Alice's Homestay! yang berlokasi di Jl.Citarum.no 10 Jember, kita bisa menghubungi di nomor whatsapp +62 877-1404-2944

Ketika akhirnya kami tiba di depan rumah orangtua, sambutan hangat dan pelukan akrab menjadi penutup sempurna dari perjalanan ini.

Bagi kami, pulang ke Jember bukan hanya soal melepas rindu—tapi juga menyambung kembali yang kerap terlupa: keluarga, akar, dan rasa syukur yang tumbuh dalam ketenangan desa. Di sana, di antara lampu temaram dan suara malam, kami menemukan kembali siapa diri kami, dan mengisi ulang hati untuk kembali menghadapi hari-hari kota yang padat.

Saturday, June 14, 2025

Sidoarjo-Solo-Surabaya dalam Harmoni Perjalanan (2)

Keesokan paginya, Solo menyambut dengan langit cerah dan udara pagi yang segar. Selepas sholat subuh, aku bergegas menuju Jalan Slamet Riyadi berolahraga pagi sambil berolahraga pagi mencari sarapan pagi. 

Selepas sarapan, aku melanjutkan perjalanan menuju sebuah sekolah anakku untuk mengambil rapor. Sekolah sudah ramai sejak pukul 7 pagi, penuh wajah-wajah ceria dan gugup para siswa serta orang tua, suasana penuh harap dan doa.

Sebelum rapot dibagikan dan sebelum konsultasi orang tua dan siswa kepada guru masing-masing, terdapat pertunjukkan apik yang disajikan oleh para siswa dari angkatan PD 06 dan PD 07.

Setelah semua urusan sekolah selesai, waktu menunjukkan pukul 13.30, alih-alih langsung ke stasiun, kita memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe di Paragon Mall Solo Hotel. Kafe ini menjadi tempat ideal untuk beristirahat sejenak. 

Seperti biasa aku memesan coffee latte panas sedangkan anakku memesan es cokelat dan roti.

Menjelang sore kita menuju Stasiun Solo Balapan. Kereta api Sancaka jurusan Surabaya sudah siap berangkat. Duduk di kursi dekat jendela, saya menatap langit oranye yang perlahan meredup. Ada rasa lega sekaligus syukur telah menuntaskan perjalanan yang padat namun penuh makna. 

Kereta melaju meninggalkan Solo, membawa pulang bukan hanya badan, tapi juga hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih.

Friday, June 13, 2025

Sidoarjo-Solo-Surabaya dalam Harmoni Perjalanan (1)

Perjalanan dengan kereta api, deru roda di atas rel, lanskap pedesaan yang bergulir perlahan di balik jendela, serta pertemuan singkat dengan penumpang lain yang sama-sama melintasi waktu dan jarak. Jumat siang aku memulai perjalanan dari Sidoarjo menuju Solo dengan Kereta Api Sri Tanjung, moda transportasi dengan harga terjangkau.

Perjalanan menuju Solo cukup panjang, tapi tidak membosankan. Sepanjang jalur, pemandangan berganti-ganti: persawahan luas, pasar tradisional, sungai, hingga perkampungan yang masih mempertahankan wajah klasiknya.

Kereta berhenti di beberapa stasiun besar dan kecil, namun tetap tepat waktu. 

Menjelang petang, kereta akhirnya tiba di Stasiun Solo Purwosari. Dari stasiun, cukup berjalan kaki menuju penginapan yang sudah dipesan, yang sebelumnya sempat menginap disini juga saat Rangga Ulang Tahun, POP! Hotel Solo, yang terletak di kawasan strategis. 

Hotel ini menjadi pilihan karena harganya yang ramah di kantong, desainnya yang ceria, serta kenyamanan fasilitasnya, cocok banget untuk backpacker.

Malam pun tiba di Solo dengan angin yang lembut dan suasana kota yang tenang. Aku sempatkan berjalan kaki di jalanan Slamet Riyadi untuk mencari makan malam sambil mencari sepasang kaos dan celana pendek yang tertinggal.

Saturday, May 31, 2025

Merajut Langkah, Menyulam Makna

Perjalanan Lanjutan dari Bumiaria ke ITB Jatinangor dan Ganesha.

Perjalanan panjang dari Surabaya ke Jatinangor dengan kereta Harina bukan hanya tentang jarak, tapi juga tentang transisi suasana. 

Dari kost Bumiaria, Jatinangor, langkah dimulai. Udara pagi masih segar, jalanan belum terlalu padat. Tujuan pertama: kampus ITB Jatinangor. Tak jauh dari tempat kost, cukup berjalan kaki hanya memakan waktu beberapa menit, kampus sudah terlihat dengan bangunan-bangunan yang menunjukkan geliat perkembangan pendidikan.

Di ITB Jatinangor, suasana begitu segar sembari memandangi langit Sumedang yang berawan tipis.

Menjelang siang, perjalanan berlanjut menuju ITB Ganesha, kampus utama yang ikonik di pusat kota Bandung. Menggunakan moda transportasi online perjalanan kurang lebih 1 jam. Namun sebelum kesana kita sempatkan terlebih dahulu bersih-bersih diri dan istirahat di Wisma Dago yang berlokasi di Jl. Ciungwanara No.16, Coblong, Bandung, Jawa Barat. Sebelum kita melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Surabaya kembali menggunakan Kereta HARINA pukul 21:35 


ITB Ganesha menyambut dengan suasana khasnya—pohon besar menaungi jalan, mahasiswa berdiskusi di selasar, dan suasana kampus yang menyimpan sejarah panjang pendidikan teknik dan sains di Indonesia. 

Di sinilah berbagai kenangan terpatri akan berbagai tokoh bangsa yang pernah mengenyam pendidikan disana. Perjalanan dari ITB Jatinangor ke kampus Ganesha Bandung bukan sekadar perpindahan lokasi, tapi peralihan dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya—dari belajar menjadi berkontribusi.

Langkah-langkah hari itu mungkin terasa biasa. 

Namun di balik itu terselip semangat yang tak biasa: semangat untuk terus belajar, bertumbuh, dan menjelajah lebih luas lagi. 

Sebuah perjalanan yang tampaknya lokal, tapi bermakna universal: dari kamar kecil di rumah, menuju ruangan mimpi besar.

Semangat kuliah anakku.

Friday, May 30, 2025

Bukan Hanya Tentang Jarak

Sore ini, Jumat 30 Mei 2025, Stasiun Pasar Turi Surabaya mulai ramai. Di antara deretan penumpang yang bersiap naik kereta jarak jauh, aku berdiri menunggu keberangkatan KA Harina—kereta malam yang menghubungkan Surabaya dan Bandung. 

Kereta ini memiliki waktu tempuh yang cukup panjang, sekitar 10 jam, yang menempuh perjalanan lintas provinsi dari Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Jawa Barat.

Kereta berangkat pada pukul 17.45 WIB, ke arah Barat melewati Lamongan, Semarang, hingga Cikampek. Lalu kemudian berbelok ke arah Selatan menuju Bandung.

Di dalam kereta, suasananya nyaman: penumpang tenang, AC sejuk, dan pramugari kereta sesekali lewat menawarkan makanan dan kopi panas. Sambil menyeruput kopi dari restorasi, saya sempat membuka laptop, menyelesaikan beberapa pekerjaan ringan. Malam berganti, dan mata pun terpejam ditemani guncangan lembut roda baja di atas rel.

Sabtu dini hari, sekitar pukul 04.15 WIB, KA Harina tiba di Stasiun Bandung. Suasana masih dingin dan berkabut kita sholat subuh di masjid stasiun. Beruntung didepan stasiun ada outlet Burger Bangor yang sudah buka, jadi sambil menunggu matahari terbit kita sarapan terlebih dahulu.

Dari sana, saya lanjutkan perjalanan menuju Jatinangor menggunakan layanan jasa transportasi online. Perjalanan Bandung–Jatinangor memakan waktu sekitar 1 jam jika lalu lintas lancar, melewati kawasan Dago dan Cileunyi yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.


Tiba di Jatinangor, sebelum jalan-jalan ke ITB Kampus Jatinangor, kita mencari kos Bumiaria yang sebelumnya sudah kita kontak. Lanjut ke kampus Jatinangor, langsung terasa suasana kampus yang tenang, rindang, dan penuh semangat akademik. 

Perjalanan panjang dari Surabaya ke Jatinangor dengan kereta Harina bukan hanya tentang jarak, tapi juga tentang transisi suasana: dari hiruk-pikuk kota pelabuhan menuju atmosfer pendidikan yang tenang dan reflektif. 

Dan dalam perjalanan itulah, saya menemukan jeda yang berharga untuk merenung, mengingat, dan menyusun langkah berikutnya.

Related Posts