Friday, March 27, 2026

Petuah dari Sopir Taksi Online (lagi)

Tidak terasa, sudah hampir 1 tahun, yaitu bulan Mei 2025 saat survey mencari kost untuk anak. Meski jarak antara Surabaya ke Bandung cukup jauh, yaitu sekitar 700 km, namun ini Bukan Hanya Tentang Jarak, ini merupakan sebuah perjalanan.

Kali ini bulan Maret 2026 menuju kampus ITB Jatinangor adalah untuk menengok anak yang sedang menempuh pendidikannya di sana. Tidak ada agenda besar, hanya ingin main dan liburan, karena libur lebaran anak sekolah dan kuliah tahun ini cukup pendek, sehingga kami sebagai orang tua yang mengalah pergi kesana.

Sekaligus memberi semangat bahwa dunia barunya tidak terlalu keras untuknya.

Namun seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, selalu ada cerita yang lebih dari sekadar tujuan.

Suasana kampus di Jatinangor terasa berbeda. Lebih tenang, lebih terbuka, seolah memberi ruang bagi mahasiswa untuk benar-benar “tumbuh”. Sehingga cocok bagi anak muda, yang bukan lagi sebagai anak kecil yang sering bergantung pada orang tua, tapi sudah menjadi individu yang sedang belajar berdiri di atas kakinya sendiri.

Perantauan memang seperti itu. Ia memisahkan secara fisik, tapi justru mendekatkan secara makna. Di tempat seperti inilah, seorang anak mulai belajar, mengatur hidupnya sendiri menghadapi masalah tanpa orang tua di sampingnya, dan memahami arti tanggung jawab.

Dari Jatinangor, perjalanan berlanjut menuju kampus Institut Teknologi Bandung kampus Ganesha. Berbeda dengan Jatinangor, suasana di sini terasa lebih padat, lebih hidup, dengan sejarah panjang yang seolah terasa di setiap sudutnya, seperti Merajut Langkah, Menyulam Makna.

Gedung-gedung tua berdiri kokoh, membawa cerita tentang generasi demi generasi yang pernah belajar, jatuh, bangkit, dan akhirnya menemukan jalannya masing-masing. Di sini, kita tidak hanya melihat kampus, tapi juga melihat perjalanan waktu.

Dalam perjalanan menuju Ganesha, saya kembali bertemu dengan sopir taksi online. Seperti sebelumnya dimana kami mendapatkan Petuah dari Sopir Taksi Online, obrolan ringan berubah menjadi percakapan yang lebih dalam.

Ia bertanya, “Habis dari mana, Pak?”

Saya menjawab, “Dari Jatinangor, nengok anak kuliah.”

Ia mengangguk pelan, seolah mengerti.

“Berat ya, Pak… punya anak merantau.”

Saya tersenyum. “Iya, tapi memang harus begitu.”

Sopir itu kemudian bercerita.

Ia juga pernah merantau. Tidak untuk kuliah, tapi untuk bekerja. Jauh dari orang tua, hidup dengan segala keterbatasan.

“Perantauan itu bukan cuma soal tempat, Pak,” katanya.
“Ini soal mental.”

Menurutnya, mahasiswa yang merantau sedang berada di fase paling penting dalam hidupnya. Bukan hanya belajar teori, tapi belajar hidup.

“Kadang yang bikin kuat bukan ilmunya, tapi karena tidak punya pilihan selain bertahan.”

Kalimat itu terasa sederhana, tapi sangat nyata.

Saya kemudian bertanya, “Menurut Bapak, orang tua harus bagaimana?”

Ia menjawab tanpa ragu:

“Support saja, Pak. Tapi jangan terlalu menekan.”

Ia melanjutkan,
“Anak yang merantau itu sudah berjuang. Kadang mereka tidak cerita, bukan karena tidak mau, tapi karena tidak ingin bikin orang tua khawatir.”

Di situ saya terdiam.

Sering kali, orang tua ingin yang terbaik, tapi lupa bahwa setiap anak punya caranya sendiri untuk bertumbuh.

Dalam perantauan, mahasiswa berada di tengah dua dunia, harapan dari orang tua, realita yang harus mereka hadapi sendiri. Tidak semua hari mudah. Tidak semua langkah pasti.

Namun justru di situlah mereka ditempa. Seperti besi yang dipanaskan, perantauan membentuk karakter yang tidak bisa didapat di tempat yang nyaman.

Dan akhirnya perjalanan sementara berakhir di Dago Asri 3, sebelum nanti malam melanjutkan kembali ke Surabaya dengan menggunakan kereta api Harina.

No comments:

Post a Comment

Related Posts