Seorang Manufacturing Operations & Cost Analyst, bertanggung jawab
- melakukan analisis dan optimalisasi kinerja operasional manufaktur dengan mengintegrasikan aspek production planning, capacity planning, production scheduling, manpower, productivity, efficiency, utilization, material, packaging, logistics, dan manufacturing cost;
- melakukan perhitungan serta analisis standard cost, actual cost, cost per unit/kg, variance, overtime, waste, yield, dan cost driver;
- menyusun scenario analysis untuk mengevaluasi dampak volume produksi, kapasitas, batch size, resource utilization, dan economies of scale terhadap biaya produksi;
- memonitor dan menganalisis KPI operasional serta mengidentifikasi bottleneck, waste, cost inefficiency, dan peluang cost reduction;
- melakukan evaluasi proses end-to-end untuk meningkatkan productivity, capacity utilization, operational efficiency, dan cost competitiveness;
- serta berkolaborasi dengan Production, PPIC, Warehouse, Supply Chain, Procurement, Engineering, Quality, dan Finance dalam penyusunan business case, operational improvement, cost optimization, dan Continuous Improvement berbasis data.
Menghubungkan Operasional dengan Biaya dan Profitabilitas
Dalam sebuah perusahaan manufaktur, aktivitas operasional dan biaya tidak pernah berdiri sendiri. Ketika Production Planning berubah, kebutuhan material ikut berubah. Ketika volume produksi berubah, utilisasi mesin dan tenaga kerja ikut berubah. Ketika mesin mengalami downtime, output menurun tetapi sebagian biaya tetap berjalan. Ketika defect meningkat, material terbuang dan cost per unit ikut naik.
Karena itu, perusahaan membutuhkan sebuah fungsi yang mampu melihat hubungan antara operational activity dan cost. Di sinilah peran Operation & Cost Analysis menjadi penting.
Apa Itu Operation & Cost Analysis?
Operation & Cost Analysis adalah fungsi yang melakukan analisis terhadap aktivitas operasional perusahaan dan menghubungkannya dengan struktur biaya untuk mengetahui:
- apakah operasi berjalan sesuai rencana,
- apakah kapasitas digunakan secara optimal,
- apakah biaya sesuai budget,
- berapa biaya aktual yang terjadi,
- apa penyebab terjadinya variance,
- serta bagaimana aktivitas operasional memengaruhi cost per unit dan profitabilitas.
Dengan kata lain, Operation melihat apa yang terjadi di lapangan, sedangkan Cost Analysis melihat konsekuensi finansial dari apa yang terjadi tersebut. Keduanya kemudian dipertemukan dalam satu analisis.
1. Operation Analysis
Operation Analysis dimulai dari memahami bagaimana perusahaan menjalankan proses bisnisnya. Dalam manufaktur, misalnya:
Sales Order > Production Planning > Material Planning > Capacity Planning > Line Balancing > Production Scheduling > Production > Quality > Finished Goods > Delivery
Setiap tahapan menghasilkan data yang dapat dianalisis.
Contohnya:
- Production Planning
- Actual Production
- Plan Achievement
- Capacity Planning
- Available Capacity
- Required Capacity
- Capacity Utilization
- Capacity Gap
- Productivity
- Efficiency
- Quality
- Defect
- Reject
- Rework
- Loss Rate
- Downtime
Data tersebut kemudian menjadi dasar untuk melihat apakah operasi berjalan secara efektif dan efisien.
2. Cost Analysis
Setelah mengetahui aktivitas operasional, langkah berikutnya adalah memahami biayanya. Dalam manufacturing, cost dapat dikelompokkan misalnya menjadi:
- Raw & Sub Material
- Labor
- Electricity
- Packing
- Maintenance
- Depreciation
- Manufacturing Overhead
- Administrative Cost
Namun yang penting bukan hanya mengetahui nominalnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Mengapa biaya tersebut terjadi?" Misalnya, Electricity bulan ini = Rp100 juta
Angka tersebut sendiri belum banyak bercerita. Tetapi ketika dibandingkan dengan production = 100.000 kg, maka Electricity Cost = Rp1.000/kg
Kemudian bulan berikutnya, Electricity = Rp110 juta, Production = 80.000 kg, Maka, Electricity Cost = Rp1.375/kg. Biaya listrik hanya naik sekitar 10%, tetapi electricity cost per kg naik 37,5%.
Di sinilah Cost Analysis menjadi penting.
3. Cost Tidak Bisa Dipisahkan dari Production
Salah satu kesalahan dalam melakukan cost analysis adalah melihat biaya hanya berdasarkan nominal. Misalnya, "Labor cost bulan ini naik." Pertanyaannya bukan hanya mengapa labor cost naik. Tetapi, Apakah production juga naik? Jika, Labor Cost naik 10%, tetapi Production naik 30%, maka biaya tenaga kerja per unit justru dapat turun.
Sebaliknya, Labor Cost turun 5%, tetapi Production turun 30% maka labor cost per unit justru dapat meningkat.
Karena itu, Operation & Cost Analysis harus selalu melihat hubungan:
Cost → Output → Cost per Unit
4. HPP sebagai Titik Temu Operation dan Cost
Salah satu output penting dari analisis ini adalah Cost per Unit atau HPP. Misalnya:
Cost Component Cost/kg
Raw & Sub Material Rp 8.000
Labor Rp 1.500
Electricity Rp 1.000
Packing Rp 500
Maintenance Rp 400
Depreciation Rp 600
Overhead Rp 1.000
Total HPP Rp 13.000/kg
Angka Rp13.000/kg bukan sekadar hasil perhitungan accounting.
Di balik angka tersebut terdapat aktivitas operasional. Misalnya Raw Material Cost naik karena,
- harga resin naik,
- material loss meningkat,
- yield turun.
Labor Cost naik karena:
- overtime,
- productivity turun,
- manpower tidak sesuai loading.
Electricity Cost naik karena:
- machine utilization rendah,
- downtime tinggi,
- energy consumption meningkat.
Maintenance Cost naik karena:
- breakdown meningkat,
- preventive maintenance tidak optimal.
Dengan demikian:
HPP adalah hasil akhir dari berbagai keputusan dan aktivitas operasional.
5. Variance Analysis
Salah satu jobdesc utama Operation & Cost Analysis adalah melakukan variance analysis. Misalnya, Budget Electricity = Rp100 juta, Actual Electricity = Rp120 juta
Variance = +Rp20 juta
Tetapi analisis tidak boleh berhenti pada:
"Over budget Rp20 juta."
Kita harus mencari penyebabnya. Apakah karena:
- production volume meningkat?
- operating hours meningkat?
- machine efficiency menurun?
- downtime?
- electricity tariff?
- abnormal consumption?
Dengan demikian variance dapat dibedakan menjadi:
- Volume Variance
- Price Variance
- Efficiency Variance
- Usage Variance
Tujuannya bukan mencari siapa yang salah. Tujuannya adalah menemukan:
"Apa yang menyebabkan cost berubah?"
6. Hubungan Downtime dengan Cost
Misalnya sebuah mesin mempunyai: Available Time = 720 jam/bulan
Tetapi mengalami: Downtime = 100 jam
Maka hanya: 620 jam yang tersedia untuk produksi aktual.
Namun beberapa biaya tetap berjalan:
- depreciation,
- labor,
- building,
- sebagian electricity,
- maintenance.
Akibatnya output turun sementara fixed cost relatif tetap. Jika sebelumnya = 100.000 kg, dengan total manufacturing cost = Rp1 miliar
maka = Rp10.000/kg
Jika karena downtime output hanya = 80.000 kg
sementara cost menjadi = Rp950 juta
maka = Rp11.875/kg
Cost total memang turun. Tetapi, Cost per kg justru naik.
Inilah contoh bagaimana sebuah masalah operasional dapat berubah menjadi masalah cost.
7. Hubungan Defect dengan Cost
Defect juga memiliki konsekuensi biaya. Misalnya production = 100.000 kg
Loss/defect = 10%
Berarti = 10.000 kg tidak menjadi good output.
Jika material cost = Rp10.000/kg
maka secara sederhana terdapat potensi material value = 10.000 × Rp10.000 = Rp100 juta
yang terpengaruh oleh loss tersebut.
Namun loss tidak hanya material.
Ada juga:
- labor,
- electricity,
- machine time,
- rework,
- handling,
- waste disposal.
Jadi, Defect adalah operational problem yang mempunyai financial impact.
8. Line Balancing dan Cost
Line Balancing juga dapat dianalisis dari sisi biaya.
Misalnya dalam satu production line:
Process A → Process B → Process C → Process D
Jika Process B menjadi bottleneck, maka proses lain dapat mengalami waiting atau idle.
Akibatnya:
- machine utilization tidak optimal,
- manpower utilization tidak optimal,
- WIP meningkat,
- overtime dapat muncul,
- production lead time meningkat.
Dengan melakukan Line Balancing, perusahaan berusaha membuat beban kerja antarproses lebih seimbang. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan output. Tetapi juga, mengoptimalkan penggunaan resource dan menurunkan cost per unit.
9. Production Leveling dan Cash Flow
Operation & Cost Analysis bahkan dapat diperluas sampai ke cash flow. Produksi yang terlalu tinggi dibandingkan demand dapat menyebabkan:
Overproduction > Finished Goods meningkat > Inventory meningkat > Cash tertahan
Sementara produksi yang terlalu rendah dapat menyebabkan:
Customer demand tidak terpenuhi > Sales opportunity terganggu
Karena itu Production Planning harus mempertimbangkan:
Demand + Capacity + Inventory + Cost + Cash Flow
Bukan hanya mengejar sebanyak-banyaknya produksi.
10. Jobdesc Operation & Cost Analysis
Secara praktis, jobdesc posisi ini dapat mencakup:
A. Operational Analysis
Menganalisis Production Plan vs Actual
Menganalisis capacity utilization
Menganalisis productivity dan efficiency
Menganalisis downtime
Menganalisis defect dan loss
Menganalisis line balancing
Mengidentifikasi bottleneck
B. Cost Analysis
Menyusun dan menganalisis production cost
Menghitung cost per unit
Menganalisis HPP
Menganalisis material cost
Menganalisis labor cost
Menganalisis energy cost
Menganalisis maintenance cost
Menganalisis overhead
Melakukan budget vs actual analysis
C. Variance Analysis
Mengidentifikasi cost variance
Menganalisis price variance
Menganalisis volume variance
Menganalisis efficiency variance
Mengidentifikasi root cause variance
D. Cost Improvement
Mengidentifikasi cost reduction opportunity
Mengurangi material loss
Mengurangi downtime
Meningkatkan productivity
Mengoptimalkan manpower
Mengoptimalkan machine utilization
Mengoptimalkan production loading
E. Reporting & Dashboard
Membuat Operation Dashboard
Membuat Cost Dashboard
Membuat HPP monitoring
Membuat variance report
Membuat management report
Menyajikan rekomendasi berdasarkan data
11. KPI Operation & Cost Analysis
Beberapa KPI yang relevan antara lain:
Area KPI
Production Production Achievement
Schedule Schedule Adherence
Capacity Capacity Utilization
Productivity Output/Man-Hour
Efficiency Efficiency %
Quality Defect Rate
Loss Loss Rate
Machine Downtime %
Material Material Yield
Labor Labor Cost/kg
Energy Electricity Cost/kg
Maintenance Maintenance Cost/kg
Overall Cost Manufacturing Cost/kg
Profitability Contribution Margin/kg
Dengan demikian, posisi ini tidak hanya membuat laporan. Ia harus mampu menjawab:
- Apa yang terjadi?
- Mengapa terjadi?
- Berapa dampaknya terhadap cost?
- Apa yang harus dilakukan?
12. Operation & Cost Analysis sebagai "Jembatan"
Kalau digambarkan, posisi ini berada di tengah antara Operation, Finance, dan Management.
OPERATION
Production
Capacity
Material
Quality
Downtime
Productivity
↓
OPERATION & COST ANALYSIS
↓
Cost
HPP
Variance
Budget
Cost/Unit
Profitability
↓
MANAGEMENT DECISION
Dengan posisi tersebut, seorang Operation & Cost Analyst tidak cukup hanya pandai Excel.
Ia harus memahami:
- Process
- Production
- Capacity
- Cost Accounting
- Data Analysis
- Problem Solving
- Business Understanding
Operation & Cost Analysis pada dasarnya adalah pekerjaan untuk menerjemahkan aktivitas operasional menjadi angka biaya dan menerjemahkan angka biaya kembali menjadi keputusan operasional.
Karena itu, seorang Operation & Cost Analyst tidak cukup mengatakan:
"Cost naik Rp100 juta."
Ia harus mampu menjelaskan:
"Cost naik Rp100 juta karena production volume berubah, material loss meningkat, downtime bertambah, dan utilization turun. Dampaknya manufacturing cost meningkat sebesar RpX/kg. Berdasarkan analisis tersebut, area improvement terbesar berada pada material yield dan machine downtime."
Di situlah nilai sebenarnya dari Operation & Cost Analysis.
Bukan sekadar menghitung cost, tetapi memahami mengapa cost terjadi, bagaimana operasi memengaruhinya, dan bagaimana perusahaan dapat mengendalikan biaya tanpa mengorbankan kualitas, kapasitas, delivery, dan sustainability operasi.