Kesempurnaan Bukan Berarti Tidak Pernah Berakhir, Bahkan Akhir adalah Bagian dari Kesempurnaan
Kita sering salah memahami kesempurnaan. Kita mengira sesuatu disebut sempurna ketika tidak ada lagi yang bisa diperbaiki.
Sebuah pekerjaan harus tanpa kesalahan. Sebuah perjalanan harus tanpa hambatan. Sebuah hubungan harus tanpa pertengkaran. Sebuah kehidupan harus tanpa kegagalan. Akibatnya, kita terus memperbaiki.
Terus menunda. Terus menunggu. Sampai akhirnya kita lupa bahwa ada sesuatu yang memang harus diselesaikan.
Padahal mungkin kesempurnaan bukan tentang membuat sesuatu berlangsung selamanya. Kesempurnaan justru bisa berarti mengetahui kapan sesuatu harus berakhir.
Sebuah buku memiliki halaman terakhir.
Apakah karena buku itu memiliki halaman terakhir berarti buku tersebut gagal?
Tidak.
Justru tanpa halaman terakhir, buku itu tidak pernah menjadi sebuah karya yang utuh. Sebuah lagu memiliki nada terakhir. Sebuah film memiliki adegan terakhir. Sebuah perjalanan memiliki tempat tujuan. Sebuah pertandingan memiliki peluit akhir.
Kita tidak pernah mengatakan bahwa sebuah lagu buruk hanya karena lagunya selesai Kita justru menikmati lagu karena tahu bahwa ada awal, ada perjalanan, dan akhirnya ada nada terakhir. Akhir memberikan bentuk kepada sebuah perjalanan.
Mungkin inilah kesalahan terbesar kita dalam memahami kesempurnaan. Kita menganggap sempurna berarti, tidak ada lagi yang salah.
Padahal mungkin kesempurnaan lebih dekat kepada, sesuatu telah mencapai tujuan yang seharusnya.
Sebuah rumah tidak harus menjadi rumah paling mewah untuk menjadi rumah yang sempurna. Ia cukup menjadi tempat yang membuat penghuninya merasa pulang. Sebuah pekerjaan tidak harus menjadi karya terbaik sepanjang sejarah untuk menjadi pekerjaan yang sempurna.
Ia cukup menyelesaikan tujuan yang memang harus dicapai. Sebuah perjalanan tidak harus selalu menyenangkan. Ia cukup membawa kita menjadi seseorang yang berbeda ketika sampai di tujuan. Kesempurnaan tidak selalu tentang kualitas tanpa cela. Kadang kesempurnaan adalah tentang makna yang berhasil dicapai.
Ada pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai, tetapi terus kita revisi. Ada proyek yang sudah mencapai target, tetapi terus kita tambah. Ada keputusan yang sebenarnya sudah jelas, tetapi terus kita pertanyakan. Ada hubungan yang sebenarnya sudah berakhir, tetapi kita terus memaksanya untuk bertahan.
Mengapa?
Karena kita takut bahwa dengan mengakhiri sesuatu, kita sedang mengakui bahwa sesuatu tersebut tidak sempurna. Padahal tidak demikian. Mengakhiri sesuatu bukan berarti menyerah. Kadang justru berarti kita sudah menyelesaikan tugasnya.
Ada waktunya bertahan. Ada waktunya memperbaiki. Dan ada waktunya mengatakan:
"Sudah cukup. Sekarang waktunya selesai."
Ketika sebuah buku selesai ditulis, penulisnya tidak berhenti belajar menulis. Ketika seorang mahasiswa lulus, ia tidak berhenti belajar. Ketika sebuah proyek selesai, pengalaman dari proyek tersebut menjadi modal untuk proyek berikutnya. Ketika sebuah perjalanan berakhir, perjalanan berikutnya bisa dimulai. Artinya, akhir bukan akhir dari pertumbuhan.
Akhir hanyalah akhir dari satu fase. Dan justru karena satu fase selesai, kita memiliki ruang untuk memasuki fase berikutnya.
Seperti sebuah bab dalam buku. Kita tidak mungkin terus berada di Bab 1 hanya karena kita menyukai bab tersebut. Kita harus membalik halaman.
Kita sering memandang akhir sebagai sesuatu yang menyedihkan. Padahal akhir juga memiliki keindahan. Matahari terbenam adalah akhir dari sebuah hari. Tetapi justru karena matahari terbenam, malam mendapatkan tempatnya.
Masa kanak-kanak berakhir agar seseorang bisa tumbuh dewasa. Masa sekolah berakhir agar seseorang bisa memasuki dunia yang lebih luas. Sebuah pekerjaan berakhir agar mungkin ada kesempatan baru. Sebuah perjalanan berakhir agar kita bisa pulang.
Tidak semua akhir adalah kehilangan. Sebagian akhir adalah perpindahan. Dari satu bentuk kehidupan menuju bentuk yang lain.
Ada orang yang tidak pernah menerbitkan bukunya karena terus merasa tulisannya belum sempurna. Ada yang tidak pernah memulai bisnis karena merasa belum siap. Ada yang tidak pernah mengambil keputusan karena terus menunggu kepastian. Ada yang tidak pernah menyelesaikan sesuatu karena selalu merasa masih bisa dibuat lebih baik.
Padahal selalu ada sesuatu yang bisa diperbaiki. Kalau kita menunggu sampai tidak ada lagi yang bisa diperbaiki, kita mungkin tidak akan pernah selesai. Karena kesempurnaan absolut hampir selalu menjadi tujuan yang bergerak.
Hari ini kita merasa sudah sempurna. Besok kita menemukan sesuatu yang bisa diperbaiki. Lusa kita menemukan sesuatu yang lain. Dan begitu seterusnya.
Maka kita membutuhkan satu kemampuan penting, kemampuan untuk berhenti pada saat yang tepat.
Berhenti bukan berarti berhenti berusaha. Berhenti berarti tahu bahwa sebuah proses telah mencapai tujuan yang ditetapkan. Seorang pelari berhenti ketika mencapai garis finish. Bukan karena ia tidak mampu berlari lagi. Tetapi karena perlombaan itu memang sudah selesai.
Ini perbedaan yang penting. Kita tidak berhenti karena kehabisan kemampuan. Kita berhenti karena tujuannya sudah tercapai. Setelah itu, kita boleh berlari lagi. Tetapi dalam perlombaan yang berbeda.
Coba bayangkan sebuah cerita tanpa akhir. Kita membaca halaman demi halaman. Konflik muncul. Tokoh mengalami masalah. Cerita semakin menarik. Tetapi tidak pernah ada penyelesaian.
Bagaimana perasaan kita?
Mungkin kita justru merasa ada sesuatu yang kurang. Karena cerita membutuhkan resolusi. Akhir membuat perjalanan menjadi utuh. Begitu pula dengan kehidupan. Kita tidak bisa terus berada dalam satu fase.
Ada masa untuk memulai. Ada masa untuk berjuang. Ada masa untuk bertumbuh. Ada masa untuk menyelesaikan. Dan ada masa untuk memulai kembali.
Mungkin kita perlu mengganti pertanyaan. Bukan, "Apakah ini sudah sempurna?"
Tetapi, "Apakah ini sudah utuh?"
Apakah pekerjaan ini sudah menyelesaikan tujuannya? Apakah perjalanan ini sudah memberikan pelajarannya? Apakah pengalaman ini sudah memberikan maknanya? Apakah bab ini sudah selesai sehingga kita bisa membuka halaman berikutnya?
Jika jawabannya iya, mungkin kita tidak perlu terus memaksanya menjadi sesuatu yang lebih.
Biarkan ia selesai. Biarkan ia menjadi bagian dari perjalanan. Pada akhirnya, kesempurnaan bukanlah keadaan ketika tidak ada lagi yang bisa ditambahkan. Kesempurnaan juga bukan keadaan ketika tidak ada lagi yang bisa diperbaiki. Karena hampir selalu ada sesuatu yang bisa kita tambahkan.
Hampir selalu ada sesuatu yang bisa kita perbaiki. Tetapi hidup tidak dirancang untuk membuat kita terus berada di satu tempat. Ada waktunya kita menyelesaikan sesuatu. Ada waktunya kita melepaskan. Ada waktunya kita menutup sebuah buku.
Kemudian membuka buku yang baru.
Jadi, jangan takut pada akhir.
Karena akhir bukan kebalikan dari kesempurnaan. Justru, kesempurnaan bukan berarti tidak pernah berakhir. Bahkan akhir adalah bagian dari kesempurnaan. Sebab sesuatu yang benar-benar selesai bukan berarti kehilangan nilainya.
Ia justru menjadi utuh.
Dan mungkin, menjadi utuh jauh lebih penting daripada terus mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai.
No comments:
Post a Comment