Sunday, October 24, 2010

Kirana

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan  tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya  (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)

Akhir tahun 2006 aku merasa dalam kegelapan. Proses pencarian jati diri telah menyampai puncak dan hampir menyentuh titik nadir. Bekerja jauh 2000 km dari kampung dan saudara juga ikut berusaha menggoyahkan pendirian.

Pilihan banyak disodorkan dan ditawarkan dari gemerlap langit dan dari pesona dunia. Kebimbangan untuk menegaskan diri dalam memilih dan menentukan pilihan selalu menjadi tarik ulur setiap hari.

Siang hari matahari bersinar terik dan malam penuh lampu listrik masih belum mampu menerangi hati dan kepala yang serasa selalu dinaungi mendung, seperti dalam pedalaman gua yang gelap gulita.

Awal tahun 2007, akhirnya aku mantap dan tegas dalam menentukan pilihan. Semua demi orientasi masa depan yang cerah. Hidup memang penuh dengan pilihan, dan setiap pilihan selalu ada konsekuensi.



Tanggal 28 Januari 2007, aku mengucapkan sumpah suci. Tanggal dipilih karena berada di tengah-tengah tanggal kelahiran kita berdua. Yaitu, 10 hari sebelumnya (18 Januari) adalah tanggal kelahiran Taufan Yanuar, dan 10 hari setelahnya (7 Februari) adalah tanggal lahir istriku. Meneruskan proses kelanjutan dari tunangan yang telah diikrarkan sebelumnya pada 21 Januari 2006. Perempuan bernama Multia Febriani lah wanita yang beruntung sekaligus tidak beruntung tersebut.

Beruntung menerima kelebihan dan tidak beruntung ikhlas menerima segala kekurangan yang kumiliki.

Semenjak pernikahan ini, hidup seperti anak panah yang dilepaskan dari busur. Melesat cepat. Baik dari segi karir, organisasi maupun yang lainnya. Terlebih saat bulan April, calon buah hati-ku telah mulai tumbuh dalam hitungan hari di rahim istriku.

Dunia semakin terang.
Seakan ada cahaya berlapis cahaya yang menerangi jalanku dan selalu menyelimuti dalam menjalani hari-hariku. Cahaya yang tidak menyilaukan dan tidak membuat panas. Lembut tapi cukup terang.


Teduhkanlah hatiku

Lelahkanlah jiwaku 
Duhai engkau cahaya mataku 
Yang menuntun jalanku 
Yang memandu hidupku 
Yang meredupkan pedih penatku 
Tersenyumlah ..  Bahagialah ..  Sungguh engkau
Yang melumpuhkan hatiku 
Yang melipurkan rinduku 
Senyuman itu menyenangkan aku 
(Cahaya Mata – Padi)


Dan akhirnya, tanggal 23 Januari 2008, cahaya mata yang telah dinanti telah lahir ke dunia. Tarafa Al-Cashi Kirana. Nama yang ku sematkan untuk putra pertama ku ini. 

Yang mempunyai arti, 
tara : meninggikan, sesuatu yang tinggi (Arab), 
rafa : sejahtera(Arab), 
cashi : tokoh matematika & astronomi muslim, 
kirana : sinar (Sansekerta)


Matematikawan Al-Cashi (lahir tahun 1380) memberikan kontribusi besar bagi perkembangan teori pecahan desimal. Teori ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan teori bilangan riil dan sejarah penemuan bilangan (pi). Selanjutnya ia mengembangkan algoritma penghitungan akar pangkat n. Metode ini beberapa abad kemudian dikembangkan oleh matematikawan barat Ruffini dan Horner.(http://aakassev.atwiki.com/page/Matematika)



Dan tahun 2010, putra kedua ku, Tarangga El-Chawarizmi Kirana, lahir ke dunia pada 23 Februari 2010 untuk menyempurnakan kebahagian kita.

Yang artinya, 
tarangga    : Bintang (Sansekerta); 
chawarizmi : muslim yang ternama dalam ilmu Matematika
kirana : sinar (Sansekerta). 

Semoga menjadi pribadi muslim yang intelektual laksana sinar bintang di langit

Laksana nur yang menerangi dan semakin menerangi kehidupan aku dan keluargaku. Dan semua itu diawali tepat 9 tahun lalu, 24 Oktober 2001, saat aku mengirim pesan lagu kirana, for my lovely wife.



Peluhku pun mengering menanti jawabmu
Tak akan pernah usai cintaku padamu