Showing posts with label My White Bicycle. Show all posts
Showing posts with label My White Bicycle. Show all posts

Sunday, August 18, 2024

Maha Vihara Majapahit di Mojokerto



Mojokerto, sebuah kota yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Majapahit pada masa lalu, kini tidak hanya menyimpan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi, tetapi juga menjadi rumah bagi Maha Vihara Majapahit, sebuah tempat ibadah yang megah dan penuh makna spiritual. 

Vihara ini memiliki arsitektur yang unik dengan perpaduan gaya tradisional Jawa dan elemen arsitektur khas Majapahit, yang terlihat dari ornamen-ornamen serta tata letak bangunan yang megah.



Salah satu daya tarik utama di Maha Vihara Majapahit adalah patung Buddha tidur (Reclining Buddha) yang besar, dengan panjang mencapai 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter. Patung ini terinspirasi dari patung serupa di Wat Pho, Thailand, dan menjadi simbol ketenangan serta kedamaian dalam ajaran Buddha.


Di Maha Vihara Majapahit terdapat patung Raden Wijaya.

Raden Wijaya lahir dari keluarga bangsawan Singhasari dan dikenal sebagai tokoh yang cerdas dan berwibawa. Setelah berhasil melarikan diri dari kekacauan yang melanda Singhasari akibat serangan tentara Mongol, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit pada tahun 1293. Dengan bantuan tentara Mongol yang diperalatnya, ia berhasil mengusir musuh-musuhnya dan mendirikan pusat kekuasaan baru di daerah Tarik, yang kini dikenal sebagai Trowulan.

Di bawah kepemimpinan Raden Wijaya, Majapahit berkembang pesat dan menjadi pusat kekuatan politik, ekonomi, dan kebudayaan di Nusantara. Ia dikenal sebagai raja yang bijaksana dan mampu mempersatukan berbagai wilayah di bawah satu kekuasaan. Prestasinya ini menjadikan Majapahit sebagai kerajaan yang disegani dan dihormati hingga masa keemasannya.



Selain Raden Wijaya juga terdapat patung Gajah Mada.

Mahapatih Gajah Mada adalah salah satu tokoh paling legendaris dalam sejarah Nusantara, yang dikenal sebagai arsitek di balik kejayaan Kerajaan Majapahit. Dikenal karena kecerdasan, keberanian, dan tekadnya yang luar biasa, Gajah Mada memainkan peran penting dalam mengonsolidasikan kekuasaan Majapahit dan menyatukan Nusantara di bawah satu panji. Ia adalah figur yang tak hanya dihormati sebagai negarawan dan panglima militer, tetapi juga dikenang karena sumpahnya yang terkenal, Sumpah Palapa.

Gajah Mada diperkirakan lahir pada akhir abad ke-13, meski latar belakang awal kehidupannya tidak banyak diketahui secara pasti. Ia pertama kali dikenal sebagai seorang prajurit yang bergabung dalam pasukan Bhayangkara, yang merupakan pasukan pengawal khusus raja. Melalui kecerdasan dan keberaniannya, Gajah Mada dengan cepat naik pangkat dan mendapatkan kepercayaan dari raja.

Karier Gajah Mada mulai menonjol ketika ia berhasil menumpas pemberontakan Ra Kuti yang mengancam kedudukan Raja Jayanegara. Keberhasilan ini mengukuhkan posisinya di istana, dan pada tahun 1334, ia diangkat sebagai Patih di Kahuripan. Tak lama kemudian, Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Majapahit oleh Ratu Tribhuwana Tunggadewi pada tahun 1336. Dengan pengangkatannya ini, Gajah Mada memulai langkahnya untuk membawa Majapahit menuju puncak kejayaan.


Sumpah Palapa merupakan salah satu momen paling penting dalam karier Gajah Mada. Dalam sumpahnya, Gajah Mada berjanji tidak akan menikmati kesenangan duniawi sebelum berhasil menyatukan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Sumpah ini mencerminkan tekadnya yang kuat untuk mempersatukan berbagai kerajaan di kepulauan Nusantara dan membentuk sebuah kesatuan politik yang besar dan kuat.

Di bawah kepemimpinan Gajah Mada, Majapahit berhasil memperluas wilayah kekuasaannya secara signifikan. Melalui strategi militer yang cerdas dan diplomasi yang terampil, Gajah Mada berhasil menaklukkan banyak kerajaan di Nusantara, termasuk Bali, Sumatra, Kalimantan, dan wilayah lain di Asia Tenggara. Keberhasilan ini tidak hanya menjadikan Majapahit sebagai kekuatan dominan di kawasan tersebut, tetapi juga memperkuat posisi Gajah Mada sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.

Saturday, August 17, 2024

Warisan Sejarah Majapahit

Warisan Sejarah yang Masih Hidup

Desa Bejijong, yang terletak di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, adalah sebuah desa yang kaya akan sejarah dan budaya. Desa ini dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Kerajaan Majapahit yang pernah menguasai Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-15. Hingga saat ini, Desa Bejijong menyimpan banyak jejak sejarah Majapahit, menjadikannya tempat yang penting bagi mereka yang ingin mempelajari dan menghargai warisan budaya Indonesia.

Di Desa Bejijong, jejak sejarah Majapahit masih terlihat jelas dalam bentuk arsitektur, artefak, dan tradisi yang terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Salah satu peninggalan yang paling terkenal adalah Candi Brahu, yang merupakan salah satu candi peninggalan Majapahit yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. 

Dengan potensi sejarah yang dimiliki, Desa Bejijong kini dikembangkan menjadi desa wisata yang menawarkan pengalaman edukatif bagi para pengunjung. Pemerintah dan komunitas lokal juga aktif dalam mempromosikan Desa Bejijong sebagai destinasi wisata sejarah yang menarik.


Jejak Pendiri Kerajaan Majapahit

Raden Wijaya, pendiri dan raja pertama Kerajaan Majapahit, adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Nusantara. Namanya dikenal sebagai pemimpin yang berhasil mendirikan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara. Sebagai penghormatan terhadap jasanya, makam Raden Wijaya yang terletak di Siti Hinggil, Mojokerto, Jawa Timur, menjadi situs sejarah yang sangat dihormati dan sering dikunjungi oleh para peziarah dan pecinta sejarah.


Raden Wijaya lahir dari keluarga bangsawan Singhasari dan dikenal sebagai tokoh yang cerdas dan berwibawa. Setelah berhasil melarikan diri dari kekacauan yang melanda Singhasari akibat serangan tentara Mongol, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit pada tahun 1293. Dengan bantuan tentara Mongol yang diperalatnya, ia berhasil mengusir musuh-musuhnya dan mendirikan pusat kekuasaan baru di daerah Tarik, yang kini dikenal sebagai Trowulan.

Di bawah kepemimpinan Raden Wijaya, Majapahit berkembang pesat dan menjadi pusat kekuatan politik, ekonomi, dan kebudayaan di Nusantara. Ia dikenal sebagai raja yang bijaksana dan mampu mempersatukan berbagai wilayah di bawah satu kekuasaan. Prestasinya ini menjadikan Majapahit sebagai kerajaan yang disegani dan dihormati hingga masa keemasannya.


Siti Hinggil: Tempat Peristirahatan Terakhir Raden Wijaya

Makam Raden Wijaya terletak di Siti Hinggil, sebuah area di Trowulan, Mojokerto, yang dianggap sebagai tempat peristirahatan terakhir sang raja. Siti Hinggil sendiri merupakan kawasan yang dahulu digunakan sebagai tempat pertemuan para raja dan bangsawan Majapahit. Lokasi ini tidak hanya strategis secara geografis, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang tinggi bagi masyarakat setempat.

Makam Raden Wijaya di Siti Hinggil dikelilingi oleh suasana yang tenang dan penuh penghormatan. Situs ini dijaga dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah, memastikan bahwa warisan sejarah ini tetap terpelihara untuk generasi mendatang. Bagi mereka yang datang berziarah, makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan seorang raja, tetapi juga simbol kejayaan Majapahit dan cerminan dari kebesaran Nusantara di masa lalu.


Tidak jauh dari Makam Raden Wijaya, terdapat Candi Brahu, salah satu candi peninggalan Majapahit yang memiliki nilai sejarah dan arsitektur tinggi. Candi ini merupakan bagian dari kompleks candi yang tersebar di sekitar Trowulan, yang dulunya merupakan ibu kota kerajaan. 



Candi Brahu memiliki struktur yang megah dan indah, meskipun sebagian besar bangunannya telah hancur akibat waktu dan alam. Candi Brahu adalah salah satu candi yang paling terawat di kawasan Trowulan, dan dipercaya merupakan tempat yang digunakan untuk upacara keagamaan serta sebagai tempat kremasi raja-raja Majapahit.

Thursday, May 9, 2024

Kota Wali Gresik

Long weekend di minggu kedua bulan Mei sangat disayangkan jika tidak disempatkan untuk olahraga. Oleh karena itu waktu yang tepat untuk gowes bareng lagi setelah Gowes ke Desa Leran Gresik pada bulan Januari lalu.

Konon, nama Gresik berasal dari kata giri gisik, yang berarti gunung di tepi pantai, merujuk pada topografi kabupaten yang berada dipinggir pantai.

Pada tahun 1680 kedatuan Giri tunduk dibawah Mataram.

Tahun 1738 Gresik diambil alih oleh Madura ketika Bupati-Bupati Jawa di Mataram.

Pada awal Kemerdekaan Indonesia, Gresik merupakan sebuah kawedanan dibawah Kabupaten Surabaya. 

Lalu pada tahun 1974, berubah menjadi Kabupaten Gresik.


Setelah gowes separuh perjalanan, kita sempatkan untuk istirahat sejenak di Pendopo Kabupaten Gresik. Atap teras pendopo di kompleks rumah dinas Bupati Gresik roboh pada Minggu, tanggal 13 November 2022, pukul 12.10 WIB, yang disebabkan lapuk karena bangunan tersebut memang sudah tua.

Tepat di seberang Pendopo Kabupaten Gresik, terdapat Alun-Alun Gresik yang merupakan fasilitas publik sehingga masyarakat maupun wisatawan bisa mengunjungi alun-alun ini secara bebas.

Sebelum proses renovasi di tahun 2017, area alun-alun merupakan tanah lapang dengan taman. Seperti alun-alun di daerah Jawa pada umumnya. Namun sejak tahun 2019, wajah Alun-Alun Kota Gresik semakin menawan. Berkonsep Timur Tengah, selain dipenuhi banyak pohon kurma, tabebuya, hingga tanaman-tanaman kecil.

Akhirnya sebelum mengakhiri gowes edisi hari ini, kita sarapan sehat dulu. 


Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Gresik

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2022/pendopo-pemkab-gresik-roboh-karena-lapuk/

https://www.tvonenews.com/daerah/jatim/81329-astaga-atap-pendopo-alun-alun-kabupaten-gresik-mendadak-ambruk-rata-dengan-tanah

https://www.jawapos.com/surabaya-raya/01348940/alunalun-gresik-makin-cantik-dengan-beragam-tanaman-berbentuk

Saturday, January 20, 2024

Gowes ke Desa Leran Gresik

Gowes hari Sabtu, tanggal 20 Januari 2024 ini menjadi flashback kembali mundur ke tanggal 6 Juni 2020, saat Gowes ke Gresik Menyambut Era New Normal. Yaitu waktu itu kita gowes bareng ke makam Siti Fatimah binti Maimum. Makam Siti Fatimah binti Maimun terletak di Dusun Leran, Desa Pesucian, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. 


Siti Fatimah Binti Maimun, atau dikenal dengan sebutan Putri Retno Suwari, lahir di Malaka pada 1064 Masehi. Ayahnya bernama Maimun (bergelar Sultan Mahmud Syah Alam) dan berasal dari Iran. Sedangkan ibunya bernama Siti Aminah dan berasal dari Aceh. 

Maimun merupakan sepupu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), karena itu Siti Fatimah Binti Maimun merupakan keponakan langsung dari Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Siti Fatimah datang ke tanah Jawa atas perintah Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk menyebarkan Islam. Syekh Maulana Malik menginjakkan kaki di tanah Jawa sekitar tahun 1079-1080, sedangkan Siti Fatimah menyusul kemudian pada tahun 1081. Saat datang ke tanah Jawa, Siti Fatimah Binti Maimun masih berusia 17 tahun.

Siti Fatimah wafat akibat wabah penyakit yang menyerang daerah Leran dan sekitarnya kala itu. Siti Fatimah wafat pada 7 Rajab 475 Hijriyah (2 Desember 1082 M) atau saat masih beusia 18 tahun.


Dari situs makam Siti Fatimah Binti Maimun, kita lanjut gowes ke Telogo Dowo atau Telaga Panjang. Tlogodowo berada di bekas tambang Semen Gresik. Tempat tersebut merupakan lahan bekas tambang PT Semen Gresik anak perusahaan PT Semen Indonesia. Lokasi tepatnya berada di Jl. Rajawali Gn. Malang, Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.


Dan terakhir, gowes edisi perdana di tahun 2024 ini kita akhiri dengan menyantap soto. Mantap


Sumber :

https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/kisah-siti-fatimah-binti-maimun-pendakwah-islam-di-jawa-abad-ke-11-m-1rD0a30opdK/full

Sunday, May 14, 2023

Gowes ke Situs Giri Kedaton

Sudah 4 bulan lamanya tidak gowes semenjak gowes ke Makam Mbah Buyut Surgi pada bulan Januari 2023 lalu, minggu pagi ini tiba-tiba pengen bersepeda lagi. Pukul 05.15 berangkat dari rumah untuk menuju ke Pondok Permata Suci sebagai titik start gowes.


Sekitar pukul 06.30 perjalanan dimulai. Rute di daerah kota Gresik cukup lumayan dengan jalan tanjakan dan turunan. Pukul 07.12 akhirnya kita sampai di lokasi pertama yaitu Situs Giri Kedaton & Makam Raden Supeno.



Situs Giri Kedaton berada Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kebomas, sekitar 200 meter sebelah selatan dari kompleks makam Sunan Giri yang terletak di puncak sebuah bukit dengan tanjakan tajam yang relatif curam.

Situs ini merupakan kedaton (istana) atau pusat pemerintahan era Giri I yang didirikan oleh Raden Paku atau Raden Ainul Yaqin pada 1408 Saka (1486 M), dan bergelar Sunan Giri. Pada 1409 Saka (1487M) ia menjadi Nata (kepala pemerintahan) bergelar Prabhu Satmata, dan sebagai Pandita (pemimpin umat Islam) dengan gelar Tetunggul Khalifatul Mukminin.

Bangunan tersebut berbentuk tingkat tujuh di puncak bukit ini dibangun Masjid / Pondok Pesantren yang tinggal nampak bekas-bekasnya, lalu di belakang masjid terdapat makam Raden Supeno yaitu putera Sunan Giri yang meninggal ketika masih remaja.

Raden Supeno adalah putra dari Sunan Giri dari istri Dewi Wardah binti Sunan Bungkul Surabaya. Raden Supeno mempunyai nama lain yaitu Raden Ramli. Konon beliau terbunuh oleh prajurit yang diutus untuk membunuh Sunan Giri di Giri Kedaton.

Prajurit tersebut menuju Giri Kedaton dengan cara diam-diam dan mengambil posisi di area Telaga Pegat, namun usaha tersebut menewaskan putra Sunan Giri yang bernama Raden Supeno tersebut. Jasa kepahlawanannya ditandai dengan gelar ‘Pangeran Pasir Batang’ artinya pelopor tanah tebakan yaitu Bumi Kedaton.


Giri Kedaton menjadi sebuah daerah yang sangat istimewa, wilayah enklave di tengah kerajaan Majapahit yang begitu besar. Lebih rinci Giri Kedaton bisa dipahami sebagai Monastic State atau negara berbasis institusi agama.

Konsep ini seperti Monastic community of Mount Athos, Monastic State of the Teutonic Order, dan beberapa negara lain. Dalam kasus ini Giri Kedaton adalah sebuah negara pesantren yang tidak memiliki perangkat lengkap layaknya sebuah negara namun memiliki pengaruh yang sangat luar biasa.


Selanjutnya pukul 08.30 kita gowes ke Makam Putri Cempo, hal ini mengulang 2 tahun lalu yaitu pada bulan Januari 2021 saat Gowes Bareng ke Makam Putri Cempo. Cuma pada waktu itu tidak bisa sampai lokasi karena terdapat ruas jalan yang longsor.

Putri Cempo merupakan putri yang berasal dari Negeri Campa (Vietnam), sebagian orang menganggap sebagai istri dari Sunan Giri. Putri Cempo merupakan seorang saudagar yang berasal dari Campa atau Vietnam yang mengikuti jejak perjuangan Sunan Giri dalam memperjuangkan Islam di pulau Jawa khususnya Gresik.

Putri Cempo atau Dewi Retno Suwari dimakamkan secara Islam di perbukitan yang ditumbuhi pohon-pohon rindang yang terletak di Gunungsari kelurahan Sidomoro, Kecamatan Kebomas-Gresik, sekitar kurang lebih 2 km ke arah timur dari kompleks makam Sunan Giri. 


Sumber :

https://disparekrafbudpora.gresikkab.go.id/2020/07/29/situs-giri-kedaton/ 

https://gresspedia.id/salah-satu-wisata-religi-gresik-makam-raden-supeno-putra-sunan-giri-begini-riwayatnya/

https://www.aroengbinang.com/2018/04/situs-giri-kedaton-gresik.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Putri_Cempo_(Campa)

https://www.voetnoot.web.id/2023/02/paus-dari-jawa-sunan-giri-sosok-sentral.html

Sunday, February 12, 2023

Ke Petirtaan Candi Belahan (lagi)


Setelah terakhir ke Petirtaan Candi Belahan pada tanggal 18 September 2021, kali ini hari Minggu tanggal 12 Februari 2023 aku kembali mau gowes ke Petirtaan Candi Tetek yang merupakan salah satu situs candi sumber mata air yang dibangun pada tahun 1049 Masehi atau pada abad 11 masa Kerajaan Kahuripan.


Sumber lain menyebutkan bahwa candi tersebut dibangun lebih awal lagi, hal ini sesuai yang bisa kita lihat di sisi selatan, di atas petirtaan, berdiri satu kronogram berwujud arca yang dapat ditafsirkan sebagai tahun 931 Saka, atau 1009 M. Bila dikaitkan dengan angka tahun yang tertulis di kompleks Petirtaan Jolotundo (991 M), Petirtaan Belahan diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan raja yang sama; kemungkinan adalah Raja Dharmawangsa Teguh, atau mungkin lebih awal lagi (Mpu Sindok).

Candi Sumber Tetek merupakan salah satu cikal bakal Candi Patirtan Jolotundo yang dibangun oleh Raja Airlangga dan berlokasi di lereng Gunung Bekal desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.

Candi Belahan dibangun sebagai petirtaan, tempat pertapaan Prabu Airlangga beserta kedua permaisurinya, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Konon awalnya pada Candi Belahan terdapat arca yang diyakini sebagai arca Prabu Airlangga yang berwujud Dewa Wisnu dengan empat tangan, yaitu tangan kiri bagian belakang memegang sangka, sedangkan tangan kanan belakang menggenggam cakra, semacam senjata berupa roda bergerigi yang dapat mengakhiri segala kehidupan. Sementara kedua tangan yang lain membentuk sifat mudra, tulus bersemedi. Namun arca tersebut telah lama runtuh, dan hanya meninggalkan relungnya saja.



Sumber :
https://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/menelusuri-sejarah-candi-sumber-tetek-pasuraun
https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/candi-belahan-petirtaan-peninggalan-kerajaan-airlangga/
https://id.wikipedia.org/wiki/Petirtaan_Belahan

Saturday, January 14, 2023

Gowes Lagi ke Gresik

Terakhir sepedaan bareng dengan ICC (Ipoms Cycle Club) adalah pada tanggal 4 September 2021 saat Gowes Bareng ke Masjid Ceng Hoo. Setelah gowes cuma bertiga seperti saat Gowes ke Candi Belahan pada tanggal 18 September 2021.

Lalu berdua saat Gowes Surabaya Heritage naik Kereta Api pada tanggal 1 Februari 2022. Dan terakhir gowes sendirian pada tanggal 19 Juni 2022 saat Foto Gowes Hepi.

Dan akhirnya, hari Sabtu ini tanggal 14 Januari 2023 ini kembali sepedaan bertiga dengan lokasi Gresik, seperti tempat paling awal saat Gowes ke Gresik Menyambut Era New Normal pada tanggal 6 Juni 2020 yang saat itu ke Makam Panjang di Komplek Makam Siti Fatimah Binti Maimun.

Sekarang ini kita gowes ke Makam Mbah Buyut Surgi atau Pangeran Sargi di Desa Banjarsari Kecamatan Manyar. Kemudian lanjut ke Makam Mbah Buyut Santri Toman.

Desa Banjarsari di Kabupaten Gresik, ternyata ada dua. Satu di berada di Kecamatan Cerme dan satunya lagi di Kecamatan Manyar. Namun dari dua nama desa yang sama itu ternyata ada kaitanya dengan pangeran sakti dari Banjarmasin yang pernah adu kesaktian dengan Sunan Giri.

Menurut M Syifa’ dalam buku “Sang Gresik Bercerita Lagi” karangan Kris Adji dan Kawan Kawan, beliau adalah seorang putra mahkota kerajaan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dari Marga Sargi yang hendak ke Gresik untuk bertemu dengan Sunan Giri di Kerajaan Giri Kedaton yang dikenal sebagai anggota Wali Songo.

Raden Sargi pun membaca 2 kalimat syahadat dengan dituntun oleh Kanjeng Sunan Giri dan nama beliau pun turut diganti menjadi nama Islam, yaitu Raden Sihabuddin dan kemudian diberikan jabatan oleh Sunan Giri sebagai Panglima Perang Kerajaan Giri.

Sunan Giri menugaskan Raden Sargi untuk menyebarkan syiar Agama Islam dengan menyuruh beliau pergi ke hutan dan membangun sebuah desa. Semula Raden Sargi menuju ke arah barat yang letaknya kira-kira sejauh 25 km dari arah barat Kerajaan Giri dan mulai mbabat alas serta membangun pemukiman di sana.

Desa ini kemudian menjadi cikal bakal adanya Desa Banjarsari di Kecamatan Cerme. 

Namun karena lokasi tersebut keliru, kemudian Sunan Giri memanggil kembali RÄ…den Sargi agar Raden Sargi berjalan lurus mengikuti arah barat laut hingga kemudian menemukan pohon asam yang sangat besar dan tinggi. Raden Sargi pun mulai mbabat alas dan mendirikan sebuah desa lalu diberilah nama desa tersebut dengan nama Desa Banjarsari yang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Manyar.

Pangeran Sargi pun kemudian dimakamkan di daerah tersebut, namun oleh warga sekitar makam itu lebih dikenal Mbah Buyut Surgi, bukan Sargi.

Sedangkan lokasi gowes kedua juga masih di Desa Banjarsari, Manyar, Gresik yaitu Makam Mbah Buyut Santri Toman yang insya Allah beliau adalah santri pangeran Diponegoro. Beliau wafat sekitar tahun 1840 M. Asal Mbah Toman dari Rembang dan nyantri ke Magelang. 

Saat perang Suci Jawa 1825-1830 banyak santri dan pasukan Pangeran Diponegoro dikejar-kejar Belanda. Salah satunya Mbah Toman, setelah selesai peperangan tersebut beliau mengasingkan diri di wilayah Manyar dan menyebarkan agama Islam disana hingga wafat di desa Banjarsari, Manyar.

Salah satu situs peninggalan beliau yaitu sumur tua di sebelah barat makam kurang lebih 50-100 meteran.


Sumber :

https://gresiksatu.com/asal-usul-dua-nama-desa-banjarsari-dari-pangeran-sargi-yang-menantang-sunan-giri/

https://www.facebook.com/2223192974607814/posts/pfbid02zFQ1uJR6fwjMzdsLYmc968Ksn8btsuhU5Kiqv2xkXciu1AfcZqjY1oosCcUWDHqMl/?mibextid=Nif5oz

Sunday, June 19, 2022

Foto Gowes Hepi

Setelah gowes sebelumnya dipotret oleh @surabaya.loop dan sebelumnya lagi oleh @masbambangmoto kali ini oleh @gowes_hepi. Hasil fotonya cukup keren, bisa dilihat beberapa foto yang dipajang di akun instagram.

Sedangkan untuk foto-foto yang lebih lengkap dipajang di folder google drive.

Foto-foto gowes ini diambil saat naik sepeda melintasi jembatan Jenggolo di Sidoarjo.




Gowes atau olahraga pada umumnya selain untuk meningkatkan kekuatan, kesehatan dan kebugaran tubuh juga bisa membuat kita menjadi hepi atau bahagia. Hal ini dikarenakan saat dan setelah olahraga tubuh melepaskan hormon bahagia atau hormon dopamin ke dalam otak

Hormon dopamin adalah senyawa yang membuat kita merasa bahagia atau senang. Ketika tubuh bergerak, seperti melompat berlari dan bermain, tubuh akan secara alami melepaskan dopamin. Dengan hormon dopamin yang dilepaskan ini, kadar serotonin atau hormon stres akan berkurang.

Selain itu bagi orang yang menderita insomnia alias susah tidur, maka berdasarkan beberapa penelitian membuktikan bahwa olahraga membantu menyembuhkan insomnia. karena energi yang digunakan tubuh diubah menjadi asam laktat, dan ketika asam laktat itu menumpuk, akan menyebabkan tubuh mengantuk sehingga mudah tertidur.

Sunday, May 29, 2022

Foto Gowes di Jenggolo

Hampir setahun kurang sebulan yang lalu, aku bersepeda lagi melewati fotografer jalanan yang terakhir waktu itu hasil Foto Gowes cukup apik dan menarik. Hari Minggu pagi kebetulan aku ada janji ketemu sama rekan. 

Dan akhirnya lewat di Jembatan Jenggolo tersebut. Perbedaannya jika sebelumnya dijepret oleh @masbambangmoto, kali ini oleh @surabaya loop. Untuk melihat hasil foto kita bisa lihat di link linktr.ee/surabayaloop51 dan aku temukan hasil foto gowesku di drive.google.




Para fotografer jalanan ini memang marak sejak awal pandemi Covid-19 dengan segala keterbatasan saat itu. Mereka memanfaatkan peluang menjadi juru bidik yang memotret para pesepeda di jalanan.

Sang juru foto bersiap di tepi jalan dengan menggenggam kamera, lalu membidik dan mengabadikan secara candid para pesepeda yang tengah menggowes di jalanan.

Bagi para fotografer selain untuk menyalurkan kreatifitasnya juga sekaligus mencari nafkah di tengah pandemi Covid-19. Hasil foto dijual dan dapat diakses melalui media sosial. 

Hal ini dikarenakan banyak sektor ekonomi termasuk profesi fotografer tenaga lepas yang terdampak secara ekonomi, karena ketiadaan acara-acara besar  yang biasanya menggunakan jasa mereka. Ini menjadi ladang baru bagi para juru bidik yang kebanyakan sebelumnya bekerja sebagai fotografer olahraga.

Tidak hanya di Sidoarjo dan Surabaya, para fotografer juga marak di Jakarta.


Hampir setiap pagi pemotret sepeda mangkal di area yang dilalui pegowes. Dengan keterampilan dan kreativitas mereka dihasilkanlah foto ciamik. Setelah memotret, pemotret akan mengedit foto dengan watermark lalu mempostingnya di akun Instagram pribadi. 

Usaha ini didukung dengan maraknya foto di media sosial Instagram yang juga diramaikan foto-foto orang yang sedang bersepeda, karena selama pandemi, sepeda menjadi salah satu olahraga yang dipilih masyarakat selain lari dan jalan kaki.

Lebih-lebih bagi pegowes yang juga memiliki sikap tampil atau narsis. Selain untuk mengabadikan dirinya juga untuk outfit dan sepeda beserta perlengkapannya. Ditambah lagi dengan adanya sosial media seperti Instagram, Facebook dan Whatsapp yang menjadi ajang untuk aktualisasi diri.

Tentu saja kehadiran para pelaku jasa fotografer olahraga ini menguntungkan bagi para sport enthusiast. Karena dnegan kehadiran para fotografer membantu untuk mengabadikan momen dengan cara yang profesional.

Peran fotografer seperti ini membuat hobi bersepeda ini bisa diabadikan, dibicarakan, dan dikenang. Mereka menyajikan dan menjual keahlian mereka kepada siapa pun secara suka rela.

Nah, tips agar punya foto yang keren dari fotografer gowes yang biasanya ada di jalanan, maka kita harus maksimal saat sadar ada kamera yang membidik. Lalu jauhkan diri dari pleton. Karena jika hasil foto gowes bareng rombongan kurang optimal dan kurang kelihatan keren.

Caranya dengan memisahkan diri, menahan laju sepeda atau keluar dari barisan.

Kemudian jangan lupa senyum, dan jangan sampai saat difoto kelihatan ngos-ngosan atau jangan sampai waktu moment nuntun sepeda karena gagal nanjak.


Sumber :
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5282702/pegowes-ingin-pakai-foto-keren-jepretan-fotografer-begini-etikanya.
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5346771/ini-yang-bikin-pecinta-gowes-rela-bayar-mahal-buat-dapat-foto.
https://www.brilio.net/sosok/cerita-fotografer-raup-untung-dari-pesepeda-di-jembatan-kuningan-2012166.html
https://www.mainsepeda.com/r/2534/kolom-sehat-fotografer-cyclist
https://www.lazone.id/entertainment/sport/cara-dapetin-foto-kece-saat-gowes-di-jalanan-17l03

Wednesday, February 9, 2022

Rim Brake

Pukul 5 pagi ini aku bersepeda luar kota dari Sidoarko ke Surabaya sejauh 27 km dengan waktu tempuh 1 jam 29 menit. Kemudian setelah sampai tujuan aku sempatkan berkeliling terlebih dahulu ke Kampus ITS dan mencari sarapan di Soto Lamongan Cak Har.

Sekalian makan pagi sambil lihat kondisi dimana beberapa hari sebelumnya sempat kebakaran.

Pulangnya aku mengambil rute lain, ada yang aneh saat pulang saat melakukan pengereman. Agak kurang pakem. Aku putuskan saat pulang mampir ke toko sparepart sepeda untuk membeli karet rem atau brake pad.

Berbeda dengan sepeda gunung dan sepeda lipat yang aku punya yang menggunakan Disc Brake, sepeda balap atau road bike yang aku gunakan sekarang menggunakan Rim Brake. Terdapat perdebatan klasik tentang mana sebaiknya yang dipilih ketika membeli roadbike. 

Apakah menggunakan disc brake (rem cakram) yang semakin populer, atau tetap menggunakan rim brake (rem pelek).

Akhirnya aku mencoba mencari beberapa sumber.

Jika menyangkut cuaca basah (habis hujan) tidak dapat disangkal bahwa disc-brake akan memberikan kekuatan penegreman yang lebih konsisten dan responsif dibandingkan dengan rim-brake. Penggunaan rem cakram relatif akan menghilangkan suara buruk dari bantalan basah berpasir yang memenuhi pelek roda Anda. 

Kekuatan menghentikan cakram juga membutuhkan sedikit upaya (ringan) yang diperlukan dari tuas, oleh karena itu rem cakram mengurangi ketegangan dan kelelahan otot, terutama pada turunan yang panjang. 

Lalu bagaimana dengan para atlet sepeda?

Aku masuk ke tulisan Azrul Ananda di website mainsepeda.com

Jika mengacu ke arena balap profesional kelas dunia, hingga Tour de France 2019 rim brake masih jadi raja. Dari total 21 etape di Tour de France 2019, 20 di antaranya punya pemenang. Dari 20 etape itu, 13 masih dimenangkan oleh sepeda rim brake. 

Tim-tim paling sukses di Tour de France 2019 masih memilih rim brake misalnya Team Ineos (dulu Team Sky), yang finis 1-2 di general classification lewat Egan Bernal dan Geraint Thomas. Tim ini menggunakan Pinarello Dogma F12 versi rim brake.

Tim Jumbo-Visma juga memakai rim brake. 

Sudah puluhan tahun pesepeda roadbike memilih menggunakan rim-brake. Mulai dari U-Brake, V-Brake, Cantilever Brake hingga Caliper Brake. Beberapa alasan diantaranya seperti memiliki beban yang lebih ringan, modulasi rem yang baik, lebih aerodinamis, atau lebih sedap dipandang karene road bike tampak lebih minimalis dibanding jenis sepeda yang lain. 

Mungkin 10 tahun ini terjadi sedikit pergeseran. Seiring kemajuan teknologi, hydraulic/mechanical disc-brake semakin populer digunakan pada road bike. Sekarang ini tampak berimbang antara pengguna rim-brake dan disc-brake pada roadbike mereka.

Dan akhirnya setelah membaca beberapa referensi diatas, akhirnya aku putuskan untuk tetap menggunakan Brake Pads Tektro P453 namun spec yang berbeda sedikit yaitu Tektro P473 Road Brake Pads, dimana bantalan rem rem ini sangat efisien dengan memiliki rentang penyesuaian yang lebar untuk pemasangan yang dioptimalkan dan memberikan pegangan yang kuat dan andal, menjadikannya tambahan yang sangat baik untuk pengaturan pengereman.

Sumber :

https://genio.bike/roadbike-pilih-disc-brake-atau-rim-brake/

https://www.mainsepeda.com/r/1046/rim-brake-masih-kalahkan-disc-brake-di-tour-de-france

https://www.braderian.id/2021/10/16/jenis-rem-sepeda-dan-pilih-yang-tepat/

https://www.chainreactioncycles.com/tektro-p473-road-brake-pads-non-cartridge-/rp-prod181732

https://www.tektro.com/products.php?p=143

Related Posts