Tuesday, April 23, 2013

Dari Kelas Diskusi SSG


Sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2013/04/21/dari-kelas-diskusi-ssg


Dari Kelas Diskusi SSG

Minggu, 21 April 2013 19:16 WIB | Dibaca: 240 | Editor: Tri Hatma Ningsih | Sumber : Surya Cetak

Oleh : Taufan Yanuar  
Pemerhati Logistic & SCM 
yanuartaufan@gmail.com 
Pertemuan Surabaya Study Group (SSG) Minggu (14/4/2013) lalu menyisakan banyak catatan menarik. Pertama, ini merupakan pertemuan SSG ke-20 sekaligus ulang tahun ke-3, sejak reborn atau reactivation pada 11 April 2010, sebagai upaya meneruskan SSG yang sebenarnya dirintis sejak 2004 namun sempat vakum.

Catatan menarik lainnya, ini menjadi kegiatan pertama SSG diluar kandang, karena semua pertemuan selama ini selalu dihajat di PT IMS Logistic, Sidoarjo. Pertemuan kali ini diadakan di kampus ITS S, bekerja sama dengan LSCM Teknik Industri ITS. 

Sedikit mundur ke belakang, SSG adalah komunitas non profit untuk memajukan SDM dan industri di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Komunitas ini secara berkala melakukan belajar bersama mengenai berbagai topik yang berhubungan dengan production & operations management. 
 
SSG mempunyai visi cukup mulia, yaitu belajar dan ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan keunggulan bersaing industri Indonesia. Proses belajar bersama ini dibimbing banyak pakar, akademisi dan praktisi yang kompeten di bidangnya masing-masing. Sumber pembelajaran memang dapat diperoleh dari mana saja, tak harus di sekolah formal, SSG menjadikan proses pembelajaran itu menjadi menarik karena pakar dan anggota bertemu untuk berbagi.

Pertemuan kali ini bertema cukup menarik, logistics yang disampaikan Prof Ir I Nyoman Pujawan, MEng PhD CSCP. Sekitar dua puluh peserta dengan profesi berbeda dari berbagai kota menyimak paparan Nyoman Pujawan. Logistic, jelas Pujawan, bagian dari proses rantai pasok mulai dari perencanaan, implementasi hingga kontrol dari efisiensi dan efektivitas dari aliran dan penyimpanan barang, pelayanan dan informasi yang terkait dari titik asal barang hingga titik konsumsi dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggan. 

Poin demi poin materi disampaikan pemateri dengan gamblang dan mengalir. Peserta aktif merespons dan pemateri menanggapi positif sehingga suasana belajar dan diskusi hidup dan menarik. Semoga visi mulia SSG dapat tercapai.

- See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/04/21/dari-kelas-diskusi-ssg#sthash.fIpBRxXL.dpuf

Saturday, April 6, 2013

Reyog


REYOG telah menjadi salah satu aset budaya nasional bangsa Indonesia. Reyog adalah budaya asli dari kota Ponorogo yang terletak di bagian barat dari propinsi Jawa Timur dan merupakan kota perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah di sebelah Selatan. 

Reyog ponorogo memiliki sejarah panjang. Nama REYOG diganti menjadi REOG dengan alasan agar penulisan dan pengucapan sesuai dengan rumus bahasa ejaan yang disempurnakan (atau EYD). Keputusan ini sampai saat ini menuai protes dari kalangan budayawan baik dari Ponorogo maupun budayawan nasional, karena tidak seharusnya pemerintah atau siapapun dapat mengganti properti dari budaya asli kita. 

Sampai saat ini, istilah REYOG tetap dipakai oleh orang asli Ponorogo walaupun di bagian Indonesia lainnya telah menggunakan REOG.

Kata REOG diciptakan oleh Bupati Ponorogo Bapak Markum Singadimeja sebagai semboyan kota Ponorogo. Kata REOG sebagai sebuah semboyan kota merupakan kepanjangan dari 
(R) Resik 
(E) Endah 
(O) Omber 
(G) Girang-gemirang. 

Semboyan tersebut kurang lebih artinya adalah sebagai berikut kota Ponorogo diharapkan menjadi kota yang bersih, indah (asri), murah (makmur), sehingga serba bahagia.

Kata REYOG merupakan penulisan nama untuk seni REYOG PONOROGO. Kata REYOG merupakan sebuah singkatan dari sebagian gatra dalam tembang Pocung. REYOG berasal kepanjangan dari Rasa kidung, Ingwang (dibaca: Engwang) suksma adi luhung, Hyang Widhi, Olah kridhaning Gusti, Gelar gulung karsaning Sang Maha Kwasa.

(R) Rasa kidung 
(E) Engkang sukmo adi luhung 
(Y) Yang Widhi, Yang Agung, 
(O) Olah kridaning Gusti 
(G) Gelar gulung kersaneng Kang Moho Agung.


Kata REYOG dalam buku “Pedoman Dasar Kesenian Reog Ponorogo dalam Pentas Budaya Bangsa” disebutkan berasal dari kata Riyeg dan Riyoqun. Kata Riyeg berasal dari padanan kata reyot atau horeg (bergetar) diambil dari suasana dimana seni Reyog Ponorogo tersebut diciptakan. 

Perbedaan dalam penggunaan kata Reyog dan Reog memang sudah sangat akut. Padahal, konon, yang benar adalah kata Reyog. 


Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. 

Asal-usul Reog dan Warok adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. 

Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya. 

Sumber : 

reyog.com
id.wikipedia.org

Putaran Bumi


Terdapat dua jenis gerakan Bumi, yaitu revolusi Bumi mengelilingi Matahari dan rotasi Bumi mengelilingi dirinya sendiri. 

Bumi berotasi dari  barat ke timur, sehingga kita melihat Matahari terbit di timur dan terbenam di barat. 

Sumbu rotasi Bumi (sumbu imajiner Bumi) membentuk sudut 23,50 terhadap sumbu revolusinya sehingga kutub utara Bumi selalu mengarah ke satu arah yaitu ke arah bintang utara.

Sumbu rotasi yang miring menyebabkan terdapat empat musim di belahan Bumi utara dan selatan. Ketika kemiringannya mengarah ke Matahari, di belahan Bumi utara yang mendapat lebih banyak sinar Matahari terjadi musim panas. 

Dan sebaliknya, di belahan Bumi selatan terjadi musim dingin. Di daerah kutub utara tidak ada malam (terang terus sepanjang hari), sebaliknya di daerah kutub selatan tidak ada siang (gelap terus sepanjang hari). 

Ketika kemiringannya menjauhi Matahari, terjadi musim dingin di utara dan musim panas di selatan. Di antara kedua posisi itu terjadi musim semi dan musim gugur. 

Friday, April 5, 2013

Jiwa Korsa



Solidaritas jiwa korsa, atau I'sprit de corps

Sejarawan militer Amerika Joseph S. Rouchek (1935: 164-174) dalam esai berjudul: Social Attitudes of the Soldier in War Time, menyatakan faktor utama yang membedakan warga sipil dengan kombatan, seperti anggota militer terletak pada faktor hilangnya semua kepribadian dan individualisme.

Saat seorang sipil menjadi militer, maka rasa nyaman berada di ruang pribadi mesti lenyap. Mereka harus menghilangkan inisiatif, sikap mematut diri, dan bekerja sama dengan rekan seperjuangan.

Sementara Willard Waller (1899-1945) dalam bukunya berjudul Willard W. Waller On The Family, Education, and War mengatakan, militer terbiasa memiliki budaya yang berbeda dari golongan masyarakat lain. Mereka memiliki tradisi sendiri yang dibentuk melalui latihan-latihan khusus.

Perwujudan dari budaya itu terbawa dalam diri seorang militer selama dia hidup sampai mati. Hal itu terwakili mulai dari lagu-lagu, rumor, mitos, sampai bahasa-bahasa slank khas tentara. 

Jiwa korsa seorang tentara modern tidak hanya mengandalkan patriotisme. Berkaca pada pengalaman Legiun Caesar zaman Romawi dulu, seorang prajurit harus memiliki kepercayaan kuat pada rekan, dan jiwa korsa ini terbukti lebih mudah muncul dibanding semangat tempur. 

Sementara itu Ralph Linton, Antropolog Amerika menyebut situasi tersebut sebagai asimilasi. Saat seseorang menjadi seorang personil militer, secara otomatis dia menceburkan diri dan beradaptasi dengan prinsip-prinsip hidup yang sangat kental dengan nuansa militer.

Salah satu penanda bahwa sistem sosial khas tentara ini sukses adalah ketika personil militer dapat menunjukkan esprit de corps, alias solidaritas korps.

Parameter buat mengukur sikap korsa dalam dunia militer tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan tempur. Tentara tidak boleh sekadar terampil, tapi dia juga harus memiliki kebanggaan tergabung dalam sebuah kesatuan.

Jiwa korsa digunakan dalam pertempuran untuk menyatukan pasukan sehingga terorganisir dan tidak bergerak sendiri-sendiri.

Teori peperangan yang dibuat oleh Napoleon Bonaparte, yaitu Esprit de corps. Pasukan satu sama lain harus membantu, melindungi, berbagi, mengingatkan, menjaga, dengan kata lain senasib sepenanggungan untuk bersama dalam satu unit memenangkan pertempuran.

Jiwa korsa adalah semangat positif yang sebenarnya dimiliki oleh setiap orang. Dalam kehidupan sehari-hari, semangat ini juga tercermin dalam interaksi antar masyarakat.

Sumber :
merdeka.com
nasional.news.viva.co.id

Perut Buncit



Perut buncit,  yang diketahui sebagai faktor risiko beberapa penyakit seperti hipertensi, jantung, stroke dan diabetes mellitus.  

Banyak pasien saya yang menganggap dan menyalahkan perut mereka yang buncit itu akibat usia mereka yang semakin tua. 

Misalnya Tuan A. Laki-laki usia 52 tahun, datang konsultasi dengan keluhan dada panas dan perut menyesak, terutama setelah makan. Waktu saya beritahu bahwa keluhannya ada kaitannya dengan perutnya yang buncit itu, pasien seperti tidak percaya, dan merasa bahwa perutnya yang besar itu adalah normal karena usianya yang dia anggap sudah mulai tua. 

Pasien lain, seorang wanita berusia 55 tahun dengan keluhan nyeri pada salah satu lututnya. Waktu saya jelaskan bahwa salah satu faktor risiko nyeri pada lututnya ada hubungan dengan kegemukan dan perutnya yang besar, juga beranggapan demikian. "Gimana lagi dokter,  umur saya kan sudah cukup tua", kata pasien

Seperti diketahui, umur memang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya perut buncit. Semakin tua Anda, maka kemungkinan perut Anda semakin buncit kian besar pula. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertanyaan yang sering diajukan pasien saya. Salah satu penyebabnya adalah berkaitan dengan menurunnya tingkat metabolisme tubuh kita seiring dengan menuanya kita. 

Metabolisme yang menurun ini disebakan oleh berkurangnya massa otot, perubahan hormonal, dan kebutuhan kalori organ internal kita yang semakin menurun seiring dengan bertambahnya usai kita. 

Perubahan hormonal yang terjadi ini, dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi lebih gemuk. Penurunan hormon testosteron dan DHEA pada laki-laki, dan hormon estrogen pada wanita pada wanita dapat menurunkan massa otot dan penumpukan lemak di sekitar perut. 
Tetapi, itu tidak berarti bahwa kita tidak dapat mempertahan kebidupan yang sehat dan menjaga keseimbangan hormonal dengan semakin tuanya kita. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan masaa otot akibat bertambahnya umur, sebagian besar dibawah kendali kita. 

Semakin sehat makanan kita, semakin sehat kita hidup, dan semakin sering kita bergerak, olahraga, maka semakin seimbang hormon dan semakin baik metabolisme tubuh kita.

Kemudian, umur hanyalah salah satu faktor risiko perut Anda semakin buncit. Massa otot yang semakin berkurang apalagi aktifitas fisik Anda juga semakin menurun dan asupan  makanan Anda sama saja atau bahkan lebih banyak lagi merupakan faktor penting bertambahnya tumpukan lemak di sekitar perut Anda. Massa otot yang berkurang menyebabkan metabolisme tubuh menurun. Penurunan ini akan mengurangi kebutuhan rata-rata kalori kita. 

Jadi, bila kita tetap makan dengan porsi yang sama, sementara kebutuhan kalorinya menurun, penumpukan lemak itu akan tetap terjadi. Karena itu, sangat penting mempertahankan massa otot walau usia Anda bertambah. Seperti diketahui, jaringan  otot membakar kalori 3 kali lebih banyak dibandingkan jaringan  lemak.

Lalu, karena umur itu tidak dapat dikendalikan, yang dapat kita lakukan adalah mengatur masukan kalori dan mempertahankan aktivitas fisik yang cukup

Jadi, agar penumpukan lemak itu tidak terjadi, maka  Anda harus mengurangi masukan kalori harian Anda atau menaikkan kalori keluarannya


Masukan kalori dapat dikurangi dengan mengurangi asupan makanan yang mengandung kalori tinggi seperti gula, karbohidrat olahan, lemak jenuh, dan memperkecil takaran piring Anda, serta sebaliknya  memilih makanan yang banyak mengandung serat, seperti sayuran dan buah-buahan


Untuk meningkatkan keluaran kalori, dapat Anda lakukan dengan olahraga aerobik secara teratur, paling tidak 30-40 menit setiap hari, minimal 5 kali dalam seminggu

Dan, untuk meningkatkan massa otot Anda, lakukan olahraga peregangan, dan pembebanan ringan, 2-3 kali dalam seminggu. Insya Allah dengan memperhatikan asupan makanan Anda, olahraga yang Anda lakukan, ancaman perut buncit seiring dengan bertambahnya usia Anda, dapat dihindari.

Sumber : health.kompas.com