Saturday, April 6, 2013

Reyog


REYOG telah menjadi salah satu aset budaya nasional bangsa Indonesia. Reyog adalah budaya asli dari kota Ponorogo yang terletak di bagian barat dari propinsi Jawa Timur dan merupakan kota perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah di sebelah Selatan. 

Reyog ponorogo memiliki sejarah panjang. Nama REYOG diganti menjadi REOG dengan alasan agar penulisan dan pengucapan sesuai dengan rumus bahasa ejaan yang disempurnakan (atau EYD). Keputusan ini sampai saat ini menuai protes dari kalangan budayawan baik dari Ponorogo maupun budayawan nasional, karena tidak seharusnya pemerintah atau siapapun dapat mengganti properti dari budaya asli kita. 

Sampai saat ini, istilah REYOG tetap dipakai oleh orang asli Ponorogo walaupun di bagian Indonesia lainnya telah menggunakan REOG.

Kata REOG diciptakan oleh Bupati Ponorogo Bapak Markum Singadimeja sebagai semboyan kota Ponorogo. Kata REOG sebagai sebuah semboyan kota merupakan kepanjangan dari 
(R) Resik 
(E) Endah 
(O) Omber 
(G) Girang-gemirang. 

Semboyan tersebut kurang lebih artinya adalah sebagai berikut kota Ponorogo diharapkan menjadi kota yang bersih, indah (asri), murah (makmur), sehingga serba bahagia.

Kata REYOG merupakan penulisan nama untuk seni REYOG PONOROGO. Kata REYOG merupakan sebuah singkatan dari sebagian gatra dalam tembang Pocung. REYOG berasal kepanjangan dari Rasa kidung, Ingwang (dibaca: Engwang) suksma adi luhung, Hyang Widhi, Olah kridhaning Gusti, Gelar gulung karsaning Sang Maha Kwasa.

(R) Rasa kidung 
(E) Engkang sukmo adi luhung 
(Y) Yang Widhi, Yang Agung, 
(O) Olah kridaning Gusti 
(G) Gelar gulung kersaneng Kang Moho Agung.


Kata REYOG dalam buku “Pedoman Dasar Kesenian Reog Ponorogo dalam Pentas Budaya Bangsa” disebutkan berasal dari kata Riyeg dan Riyoqun. Kata Riyeg berasal dari padanan kata reyot atau horeg (bergetar) diambil dari suasana dimana seni Reyog Ponorogo tersebut diciptakan. 

Perbedaan dalam penggunaan kata Reyog dan Reog memang sudah sangat akut. Padahal, konon, yang benar adalah kata Reyog. 


Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. 

Asal-usul Reog dan Warok adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. 

Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya. 

Sumber : 

reyog.com
id.wikipedia.org