Saturday, October 29, 2011

Korupsi

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, yang bisa diakses di www.kamusbesar.com, korupsi (ko.rup.si) mempunyai arti : penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Menurut wikipedia, yang bisa diakses di id.wikipedia.org, adalah sebagai berikut : Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.


Kedua definisi diatas mempunyai arti yang mirip, yaitu subyek adalah pejabat atau pemerintah, obyek adalah uang. Dimana hal ini begitu banyak yang sudah mengulasnya, ibaratnya orang bicara sampai berbusa tapi masih tidak habis untuk dijadikan tajuk rencana.


Tapi untuk skala yang lebih kecil, penulis rasa juga banyak korupsi yang dilakukan di jalan. Terutama jika penulis sedang berangkat kerja dan pulang kerja. Banyak sekali pengendara kendaraan, yang tidak mengindahkan peraturan lalu lintas dan marka jalan. Main serobot, dimana akhirnya hak dari orang lain dirampas, untuk keuntungan pribadi.


Jadi, jangan bicara dulu keburukan korupsi yang diberitakan di koran dan TV, mari kita lebih disiplin dan tidak melakukan korupsi yang mungkin kesempatan itu akan ‘datang’ dan ‘tersedia’ di jalanan saat mengendarai kendaraan.


@taufanyanuar

Monday, October 24, 2011

Bumi dan Langit


Perumpamaan bagai bumi dan langit, menurut http://id.wikiquote.org adalah dua hal yang mempunyai perbedaan yang sangat jauh. Contoh: Naik sepeda dengan naik mobil, kecepatannya “bagai bumi dan langit”Atau contoh lain adalah perbandingan orang asing dengan orang pribumi. Misalnya juga adalah antara hewan kelinci dengan kura-kura dalam hal lari.

Jika ditanya lebih lanjut, memang berapa sih jarak antara bumi dan langit, kok sampai jadi peribahasa yang mencerminkan hal yang sangat jauh sekali? Menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi, jarak antara bumi dengan langit (kita asumsikan adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi) adalah sekitar 700 kilometer. Dimana lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer dan Eksosfer.

Setara jarak antara Surabaya ke Jakarta. Jika dilalui dengan jalur darat maka akan ditempuh 10 – 12 jam. Dan hanya sekitar 45 menit jika naik pesawat terbang.

Tapi bukan tentang peribahasa yang akan aku bicarakan. Juga bukan dilihat dari sudut pandang ilmiah dan sains. Tapi adalah bumi itu sendiri dan langit itu sendiri.

Bulan Oktober tahun 2011 ini adalah tepat 10 tahun aku (Taufan Yanuar) dan istriku (yang dulunya menjadi pacarku), Multia Febriani, saling mengenal lebih dalam. Betul, sudah sejak Oktober 2001 lalu.

Padahal banyak sekali perbedaan antara kita berdua, yang rasanya akan sangat amat sulit sekali disatukan. Ya, seperti bumi dan langit yang disinggung diatas tadi.

Dimana bumi mewakili diriku sendiri sebagai manusia dan langit mewakili istriku sebagai bidadari dari kahyangan. Persis seperti cerita Jaka Tarub, lelaki dari desa, yang beruntung mempersunting bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan.Agar tidak terlalu panjang, cerita legenda Jaka Tarub bisa dibaca di http://id.wikipedia.org/wiki/Jaka_Tarub

Hingga akhirnya kita berdua menikah 4 tahun lalu, Januari 2007, hingga akhirnya dikaruniai 2 anak laki-laki yang menggemaskan yaitu Tarafa Al-Cashi Kirana (RAFA) dan Tarangga El-Chawarizmi Kirana (RANGGA).

Semoga kisah cinta kita berdua akan terjalin selamanya.
Amin


Ten years come and gone so fast
I might as well be dreaming

Ten years from this question
The love that never died

taufanyanuar