Ada sebuah kalimat sederhana yang sering kita dengar, "Kalau seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, ia akan menemukan jalan. Kalau tidak, ia akan menemukan alasan."
Kalimat ini terdengar sederhana. Tetapi semakin lama kita menjalani hidup, semakin terasa bahwa kalimat tersebut mengandung kebenaran yang dalam. Karena sebenarnya, sering kali masalah terbesar bukan pada ada atau tidak adanya jalan. Melainkan pada seberapa besar kita benar-benar menginginkannya.
Bayangkan seseorang yang sangat ingin bertemu dengan orang yang dicintainya. Jaraknya jauh. Waktunya terbatas. Biayanya mahal. Cuaca tidak bersahabat.
Tetapi kalau keinginan itu benar-benar besar, pikirannya tidak berhenti pada, "Tidak bisa."
Pikirannya akan bergerak menuju, "Bagaimana caranya?". Naik kendaraan apa?. Berangkat kapan?. Lewat jalan mana?. Kalau tidak bisa hari ini, apakah besok?. Kalau tidak punya cukup uang, apa yang bisa dilakukan?
Keinginan mengubah cara kita melihat masalah. Orang yang benar-benar ingin mencari jalan akan sibuk mencari kemungkinan. Sedangkan orang yang sebenarnya tidak cukup ingin, akan sibuk mengumpulkan hambatan.
Menariknya, alasan hampir selalu tersedia. Tidak punya waktu. Tidak punya uang. Belum siap. Tidak ada kesempatan. Tidak didukung. Terlalu sibuk. Terlalu sulit. Usia sudah terlalu tua. Masih banyak pekerjaan. Besok saja. Nanti saja.
Semuanya mungkin benar.
Tetapi pertanyaannya bukan, "Apakah alasan tersebut benar?"
Pertanyaannya adalah, "Apakah alasan tersebut cukup kuat untuk menghentikan saya?"
Karena dua orang bisa menghadapi masalah yang sama.
Orang pertama berkata, "Ini sulit, tetapi bagaimana saya bisa melakukannya?"
Orang kedua berkata, "Ini sulit, jadi saya tidak bisa melakukannya."
Masalahnya sama. Situasinya sama. Tetapi responsnya berbeda.
Kita sering mengatakan, "Saya tidak punya waktu."
Padahal mungkin yang lebih tepat adalah, "Saya belum menjadikan hal itu sebagai prioritas."
Karena setiap manusia memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari.
Yang berbeda adalah bagaimana kita menggunakannya. Orang yang ingin berolahraga akan menemukan waktu untuk berolahraga. Orang yang ingin membaca akan menemukan waktu untuk membaca. Orang yang ingin belajar akan menemukan waktu untuk belajar. Bukan berarti mereka memiliki lebih banyak waktu. Mereka hanya memberikan tempat yang lebih tinggi dalam daftar prioritasnya.
Namun ada satu hal yang perlu diluruskan. Benar-benar menginginkan sesuatu tidak menjamin kita pasti mendapatkannya. Kita bisa sudah bekerja keras dan tetap gagal. Kita bisa sudah berusaha dan tetap ditolak. Kita bisa sudah mempersiapkan semuanya dan kesempatan tetap tidak datang. Hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Ada faktor yang berada di luar kendali kita.
Tetapi ada perbedaan besar antara, "Saya gagal setelah mencoba."
dengan, "Saya tidak mencoba karena sudah menemukan alasan."
Kegagalan setelah berusaha adalah pengalaman. Tidak mencoba karena takut gagal adalah penyesalan.
Kadang jalan yang ditemukan bukan jalan yang kita bayangkan. Kita ingin A. Tetapi kehidupan membawa kita melalui B. Kita ingin langsung berhasil. Tetapi harus melewati kegagalan terlebih dahulu. Kita ingin sampai dengan cepat. Tetapi ternyata harus berjalan lebih lama. Namun orang yang memiliki keinginan kuat akan terus menyesuaikan diri. Jika satu cara tidak berhasil, ia mencoba cara lain. Jika pintu pertama tertutup, ia mencari pintu berikutnya. Jika tidak ada pintu, mungkin ia membuat pintunya sendiri. Bukan karena ia tidak punya masalah. Tetapi karena tujuannya lebih besar daripada masalah yang dihadapinya.
Ada perbedaan kecil dalam bahasa yang digunakan seseorang. Orang yang berorientasi pada alasan berkata, "Saya tidak bisa karena..."
Sedangkan orang yang berorientasi pada jalan berkata, "Kalau begitu, apa yang bisa saya lakukan?"
Yang pertama berhenti pada masalah. Yang kedua bergerak menuju solusi. Kalimat kedua mungkin terdengar sederhana. Tetapi di dalamnya terdapat perubahan cara berpikir yang sangat besar.
Dari, Why can't I?
menjadi, How can I?
Kita sering mengagumi orang yang berhasil. Kemudian kita mengatakan, "Dia memang hebat."
Padahal mungkin yang membedakannya bukan bakat. Bukan pula keberuntungan. Melainkan ia bertahan sedikit lebih lama. Ketika orang lain berhenti, ia masih mencoba. Ketika orang lain menemukan alasan, ia masih mencari jalan.
Ketika orang lain mengatakan tidak mungkin, ia bertanya, "Benarkah tidak mungkin, atau saya belum menemukan caranya?"
Pertanyaan itu membuatnya terus bergerak.
Ada satu kebijaksanaan yang tidak kalah penting. Mencari jalan bukan berarti keras kepala. Ada kalanya kita harus mengakui bahwa sesuatu memang tidak bisa kita miliki. Ada tujuan yang harus dilepaskan. Ada hubungan yang harus diakhiri. Ada kesempatan yang sudah lewat. Ada mimpi yang perlu diganti dengan mimpi yang lebih sesuai dengan kehidupan kita. Mencari jalan berarti berusaha sebaik mungkin dalam wilayah yang masih berada dalam kendali kita. Setelah itu, kita perlu belajar menerima sesuatu yang memang berada di luar kendali. Ketekunan bukan berarti memaksa kehidupan. Ketekunan adalah memberikan usaha terbaik sebelum belajar menerima hasilnya.
Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri bukan, "Mengapa saya belum mendapatkannya?"
Tetapi, "Seberapa besar saya benar-benar menginginkannya?"
Karena jawaban atas pertanyaan itu akan terlihat dari tindakan. Jika benar-benar ingin belajar, kita akan membaca. Jika benar-benar ingin sehat, kita akan menjaga tubuh. Jika benar-benar ingin berhasil, kita akan bekerja. Jika benar-benar ingin berubah, kita akan mulai.
Tidak sempurna. Tidak selalu mudah. Tetapi mulai. Sebab keinginan yang sungguh-sungguh tidak hanya tinggal di kepala. Ia turun menjadi keputusan. Keputusan berubah menjadi tindakan. Tindakan berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan perlahan membawa kita mendekati tujuan.
Mungkin hidup memang tidak selalu memberikan jalan yang kita inginkan. Tetapi hampir selalu memberikan pilihan, mencari jalan atau mencari alasan. Kita boleh gagal. Boleh jatuh. Boleh mengubah rencana. Boleh berjalan lebih lambat. Bahkan boleh berhenti sejenak.
Tetapi jika sesuatu memang benar-benar penting bagi kita, jangan terlalu cepat mengatakan, "Tidak bisa."
Gantilah dengan, "Bagaimana caranya?"
Karena sering kali, jalan itu bukan tidak ada. Kita hanya belum cukup serius mencarinya.
No comments:
Post a Comment