KNOWING VS DOING
Ingin tahu bagaimana menjadi lebih sehat, ada ribuan artikel dan video. Ingin belajar bisnis, ada ratusan buku dan podcast. Ingin memahami investasi, ada banyak kursus dan seminar. Ingin menjadi pemimpin yang baik, ada begitu banyak teori tentang leadership. Hampir tidak ada lagi alasan untuk mengatakan, “Saya tidak tahu.”
Tetapi ada persoalan yang lebih besar, kita tahu, tetapi apakah kita melakukannya?
Kita tahu bahwa olahraga itu penting. Kita tahu bahwa membaca akan menambah wawasan. Kita tahu bahwa menabung lebih baik daripada menghabiskan semuanya. Kita tahu bahwa komunikasi yang baik membutuhkan kemampuan mendengar. Kita tahu bahwa pekerjaan harus diselesaikan tepat waktu. Kita bahkan mungkin sudah mengetahui caranya.
Knowing adalah pengetahuan.
Pengetahuan memberikan kita arah. Tetapi pengetahuan tidak akan membawa kita ke mana-mana jika kita tidak mulai berjalan.
Ada jarak antara Knowing dan Doing dimulai.
Doing adalah eksekusi. Di sinilah pengetahuan diuji oleh kenyataan. Mengetahui cara berlari berbeda dengan berlari. Mengetahui cara menulis berbeda dengan menghasilkan tulisan. Mengetahui bagaimana membangun bisnis berbeda dengan benar-benar menjual sesuatu. Mengetahui teori kepemimpinan berbeda dengan memimpin manusia dalam situasi yang sulit. Doing memaksa kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak selalu ada di dalam buku, kenyataan.
Di dalam teori, semuanya terlihat sederhana. Tetapi ketika dilakukan, muncul masalah.
Ada rasa malas. Ada rasa takut gagal. Ada keterbatasan waktu. Ada keterbatasan biaya. Ada orang lain yang tidak sejalan. Ada kondisi yang tidak sesuai dengan rencana. Di situlah pengetahuan berubah menjadi pengalaman.
Orang yang membaca seratus buku tentang berenang tetap tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan keseimbangan di dalam air. Ia harus masuk ke kolam. Begitu pula kehidupan. Ada pengetahuan yang hanya bisa diperoleh melalui tindakan.
Knowing memberi kita teori.
Doing memberi kita pengalaman.
Experience kemudian melahirkan wisdom.
Barangkali salah satu persoalan terbesar manusia modern bukan lagi lack of knowledge, tetapi lack of execution.
Kita terlalu banyak tahu. Terlalu banyak membaca. Terlalu banyak menonton. Terlalu banyak menyimpan informasi. Terlalu banyak mengikuti seminar. Tetapi terlalu sedikit melakukan. Kita mengoleksi pengetahuan seperti mengoleksi buku.
Rak semakin penuh. Tetapi kehidupan tidak banyak berubah.
Ada orang yang sudah bertahun-tahun ingin menulis buku, tetapi tidak pernah menyelesaikan satu bab. Ada yang ingin memulai bisnis, tetapi terus menunggu waktu yang tepat. Ada yang ingin hidup lebih sehat, tetapi selalu mengatakan akan mulai besok. Ada yang ingin berubah, tetapi lebih nyaman membicarakan perubahan daripada menjalankannya. Pengetahuan akhirnya berubah menjadi ilusi kemajuan.
Kita merasa sedang bergerak karena kita terus belajar. Padahal sebenarnya kita hanya berjalan di tempat.
Namun Doing bukan berarti kita harus berhenti belajar. Justru sebaliknya. Yang ideal bukan Knowing atau Doing. Tetapi, Knowing → Doing → Learning → Improving → Doing again.
Inilah proses belajar yang sebenarnya. Bukan sekadar learn to know, tetapi learn to do.
Salah satu jebakan terbesar dalam hidup adalah menunggu sampai kita merasa benar-benar siap. Padahal kesiapan sering kali datang setelah kita memulai. Kita tidak harus mengetahui seluruh perjalanan sebelum mengambil langkah pertama.
Cukup tahu arah. Lalu berjalan. Ketika menemukan masalah, belajar. Ketika salah, memperbaiki. Ketika gagal, mencoba kembali.
Sekarang kita perlu berhenti bertanya:
“Apa lagi yang harus saya ketahui?”
Dan mulai bertanya:
“Dari semua yang sudah saya ketahui, apa yang harus saya lakukan?”
Mungkin kita tidak membutuhkan buku berikutnya. Mungkin kita tidak membutuhkan seminar berikutnya. Mungkin kita tidak membutuhkan teori berikutnya. Mungkin kita hanya membutuhkan keberanian untuk melakukan apa yang sebenarnya sudah kita tahu.
Sekarang, seberapa banyak dari yang kita ketahui yang benar-benar kita lakukan.
No comments:
Post a Comment