Pagi itu, pukul 08.50 suasana di jalan Gembong terasa lebih sunyi dari biasanya. Karena masih pagi belum banyak yang memulai aktivitas. Sepuluh menit kemudian, beberapa orang pedagang sudah berdatangan.
Di sebuah lapak buku, rak-rak dipenuhi buku yang diam, seolah menunggu disentuh, dibuka, dan dibaca. Aroma kertas tua bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh—hangat, sederhana, dan menenangkan.
Di depan lapak yang berhadapan, duduk dua penjaga toko buku yang bernama Pak Amir dan Pak Kusno. Mereka berdua bersua setelah hampir 1 minggu libur lebaran. Pak Amir baru saja mudik dari kota Jombang, kampung halamannya.
Usia mereka tak lagi muda. Rambut memutih, gerak melambat, tapi sorot mata mereka tetap hidup—seperti seseorang yang masih punya alasan untuk bangun setiap pagi. Di atas meja kecil di antara mereka, ada dua hal sederhana, yaitu secangkir kopi hitam dan sepiring lepet, makanan khas saat lebaran.
“Sekarang ini, kalau cuma cari uang, ya sudah cukup dari dulu,” ujar Pak Amir sambil meniup pelan kopinya.
Saya tersenyum, lalu bertanya, “Lalu kenapa masih bekerja, Pak?”
Ia tidak langsung menjawab. Menatap rak buku sejenak, lalu berkata pelan,
“Supaya tetap hidup.”
Jawaban itu sederhana, tapi terasa dalam.
Pak Kusno yang sejak tadi diam, ikut menimpali,
“Banyak orang berhenti bekerja, lalu pelan-pelan berhenti hidup. Bukan mati, tapi kehilangan arah.”
Di usia mereka, bekerja bukan lagi tentang kebutuhan finansial.
Melainkan tentang menjaga ritme hidup—tentang tetap merasa dibutuhkan, tetap bergerak, tetap menjadi bagian dari dunia.
Bagi mereka, toko buku ini bukan sekadar tempat kerja.
Ini adalah ruang pertemuan antara manusia dan cerita.
Tempat di mana waktu berjalan lebih pelan, dan makna bisa ditemukan dalam halaman-halaman sederhana.
“Setiap hari ketemu buku, rasanya seperti ngobrol sama banyak orang,” kata Pak Kusno sambil tersenyum.
Ia tidak membaca semua buku di sana.
Tapi ia tahu bahwa setiap buku punya pembacanya sendiri—dan mungkin, punya takdirnya sendiri.
Di sela obrolan, Pak Amir mengambil sepotong Lepet.
“Ini makanan khas Lebaran,” katanya.
“Tapi sebenarnya bukan soal makanannya… ini soal kenangan.”
Lepet, dengan rasa gurih dan teksturnya yang khas, seolah membawa mereka kembali ke masa lalu—ke rumah, ke keluarga, ke momen yang mungkin sudah lama berlalu.
“Sekarang Lebaran sudah beda,” ujar Pak Kusno.
“Tapi selama masih ada rasa ini, ya kenangannya tidak hilang.”
Di situ saya sadar, kadang yang kita jaga bukan tradisinya, tapi makna di baliknya.
Kopi di meja mereka sudah mulai dingin. Tapi obrolan tidak pernah benar-benar berhenti.
Tidak ada yang terburu-buru.
Tidak ada yang harus dikejar.
Di dunia yang serba cepat, mereka seperti hidup dalam ritme yang berbeda—lebih pelan, tapi justru lebih dalam.
“Anak-anak sekarang sering bilang tidak punya waktu,” kata Pak Amir.
“Padahal mungkin yang tidak punya itu… bukan waktu, tapi jeda.”
Dari dua lelaki ini, ada satu hal yang terasa jelas, bahwasanya hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai.
Tapi tentang apakah kita masih punya alasan untuk berjalan.
Mereka tidak lagi mengejar sesuatu.
Tapi juga tidak berhenti.
Mereka memilih untuk tetap hadir, hari demi hari, dengan cara yang sederhana menjaga toko buku, menyeduh kopi, dan berbagi cerita.
Bagi mereka hidup tidak selalu harus tentang pencapaian besar. Kadang, cukup dengan tetap melakukan sesuatu yang berarti, meski kecil, meski sederhana. Mereka berdua mungkin tidak lagi mengejar dunia, tapi justru telah menemukan cara untuk benar-benar hidup di dalamnya.

No comments:
Post a Comment