Minggu pagi dimulai dengan suasana yang tenang.
Setelah sarapan bersama di lantai satu Hotel Dafam Java Lotus Jember, kami tidak langsung berkemas untuk pulang. Kami memilih menikmati pagi sedikit lebih lama. Tujuan berikutnya adalah lantai sembilan, tempat kolam renang berada.
Anak-anak berenang memenuhi pagi yang cerah. Sementara saya hanya duduk sejenak di tepi kolam, menikmati momen yang sering kali luput karena kesibukan sehari-hari. Terkadang, kebahagiaan keluarga tidak membutuhkan agenda yang rumit.
Cukup hadir sepenuhnya.
Selepas berenang dan bersiap meninggalkan hotel, kami mampir makan siang di Pecel Gudeg Lumintu, salah satu kuliner legendaris khas Jember. Perpaduan pecel yang gurih dan gudeg yang manis menjadi penutup yang pas sebelum kembali menempuh perjalanan panjang menuju Surabaya.
Namun seperti sehari sebelumnya, perjalanan pulang bukan hanya soal berpindah dari satu kota ke kota lain. Bagi saya, perjalanan kali ini adalah perjalanan spiritual. Jika Sabtu sore kami berbincang tentang emotional intelligence, maka sepanjang perjalanan pulang topik kami bergeser kepada spiritual intelligence.
Saya mengatakan kepada anak-anak bahwa manusia memiliki banyak jenis kecerdasan. Ada kecerdasan intelektual yang membantu kita memecahkan soal. Ada kecerdasan emosional yang membantu kita memahami diri sendiri dan orang lain.Namun ada satu kecerdasan yang sering terlupakan, padahal justru menjadi kompas bagi keduanya.
Yaitu kecerdasan spiritual.
Spiritual intelligence bukan hanya tentang banyaknya pengetahuan agama. Ia adalah kemampuan untuk menemukan makna di balik setiap peristiwa.
Mengapa kita harus jujur meskipun tidak ada yang melihat?
Mengapa kita harus tetap berbuat baik kepada orang yang pernah mengecewakan kita?
Mengapa kita tetap bersyukur ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan?
Jawabannya tidak selalu ditemukan oleh logika. Tetapi sering kali ditemukan oleh hati yang terhubung dengan nilai-nilai yang lebih tinggi. Saya juga mengatakan bahwa kehidupan bukan hanya tentang menjadi sukses.
Tetapi tentang menjadi bermanfaat.
Bukan hanya tentang memiliki banyak.
Tetapi tentang mampu berbagi.
Bukan hanya tentang mengejar tujuan.
Tetapi juga memastikan bahwa cara kita mencapainya tetap benar.
Di dalam mobil, jalan terus berganti. Pemandangan berubah. Percakapan pun mengalir tanpa terasa. Tidak ada presentasi. Tidak ada papan tulis. Hanya sebuah keluarga yang sedang berbagi cerita di sepanjang perjalanan pulang. Menjelang sore, Surabaya kembali menyambut kami.
Perjalanan telah selesai.
Namun saya merasa, dua hari ini kami sebenarnya telah menempuh dua perjalanan yang berbeda.
Hari pertama adalah perjalanan emosional.
Hari kedua adalah perjalanan spiritual.
Yang satu mengajarkan bagaimana mengelola perasaan. Yang satunya lagi mengajarkan bagaimana menemukan makna. Dan saya percaya, perjalanan keluarga yang paling berharga bukanlah perjalanan yang menghasilkan banyak foto.
Melainkan perjalanan yang menghasilkan banyak percakapan.
Karena mungkin suatu hari nanti, anak-anak akan lupa hotel tempat kami menginap, kolam renang tempat mereka bermain, atau rasa pecel gudeg yang kami nikmati bersama.
Namun saya berharap mereka akan tetap mengingat bahwa di suatu perjalanan pulang dari Jember, pernah ada obrolan tentang hati, tentang makna hidup, dan tentang pentingnya menjadi manusia yang tidak hanya cerdas berpikir dan cerdas mengelola emosi, tetapi juga cerdas menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan dirinya sendiri.
No comments:
Post a Comment