Mencari Tujuan Hidup yang Sesungguhnya
Di suatu titik dalam hidup, hampir setiap orang pernah bertanya kepada dirinya sendiri:
"Sebenarnya untuk apa saya menjalani semua ini?"
Pertanyaan itu bisa muncul ketika baru lulus kuliah, saat merasa jenuh dengan pekerjaan, ketika mengalami kegagalan, atau bahkan ketika sudah memiliki karier yang baik dan kehidupan yang terlihat mapan. Anehnya, semakin dewasa seseorang, sering kali pertanyaan tersebut justru semakin sering muncul.
Banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari apa yang ingin mereka lakukan. Mereka berpindah pekerjaan, mencoba bisnis baru, mengambil berbagai pelatihan, atau mengejar berbagai pencapaian. Namun tidak sedikit yang tetap merasa kosong. Bukan karena mereka kurang sukses, melainkan karena mereka belum menemukan alasan yang lebih dalam tentang mengapa mereka melakukan semua itu.
Inilah yang menjadi inti pemikiran dari Simon Sinek dalam konsep Find Your Why. Menurutnya, kebanyakan orang mengetahui apa yang mereka kerjakan. Sebagian mengetahui bagaimana cara mereka melakukannya. Namun hanya sedikit yang benar-benar memahami mengapa mereka melakukannya.
Padahal tujuan hidup tidak selalu ditemukan dengan melihat ke depan. Justru sering kali ditemukan dengan melihat ke belakang.
Coba ingat kembali perjalanan hidup Anda. Kapan Anda merasa paling bangga? Kapan Anda merasa pekerjaan yang dilakukan benar-benar berarti? Kapan Anda merasa energi seolah tidak habis meskipun sedang bekerja keras?
Biasanya ada pola yang berulang.
Mungkin Anda selalu merasa bahagia ketika membantu orang lain berkembang. Mungkin Anda selalu bersemangat ketika menyelesaikan masalah yang rumit. Atau mungkin Anda merasa puas ketika mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang.
Pola itulah yang sering kali menjadi petunjuk menuju "why" kita.
Banyak orang mengira tujuan hidup harus berupa sesuatu yang besar dan luar biasa. Harus menjadi orang terkenal, membangun perusahaan besar, atau mengubah dunia. Padahal tidak selalu demikian. Tujuan hidup sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana.
Seorang guru mungkin menemukan tujuannya ketika melihat muridnya berhasil. Seorang manager mungkin menemukan tujuannya ketika melihat anggota timnya berkembang menjadi pemimpin baru. Seorang pengusaha mungkin menemukan tujuannya ketika bisnisnya mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Tujuan hidup bukan tentang profesinya. Tujuan hidup adalah alasan di balik profesi tersebut.
Karena itu, dua orang yang memiliki pekerjaan yang sama bisa memiliki tujuan hidup yang berbeda. Dua orang manager bisa memimpin dengan cara yang sama sekali berbeda. Yang satu bekerja untuk mengejar jabatan, sementara yang lain bekerja karena ingin membantu orang-orang di sekitarnya tumbuh menjadi lebih baik. Jabatannya sama, tetapi maknanya berbeda.
Menemukan "why" juga membuat seseorang lebih kuat menghadapi kesulitan. Ketika pekerjaan terasa berat, ketika bisnis sedang menurun, atau ketika hasil belum sesuai harapan, orang yang memiliki alasan yang jelas biasanya lebih mampu bertahan. Bukan karena mereka lebih hebat, tetapi karena mereka tahu untuk apa mereka terus melangkah.
Pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah sesuatu yang menunggu ditemukan di ujung perjalanan. Tujuan hidup sering kali sudah ada di dalam diri kita, tersembunyi di balik pengalaman-pengalaman yang pernah kita jalani. Tugas kita hanyalah mengenali pola tersebut dan menyadari apa yang sebenarnya membuat hidup terasa bermakna.
Mungkin pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah:
"Apa yang ingin saya capai?"
Tetapi:
"Mengapa saya ingin mencapainya?"
Karena ketika seseorang menemukan "why"-nya, pekerjaan tidak lagi sekadar mencari nafkah, karier tidak lagi sekadar mengejar jabatan, dan hidup tidak lagi sekadar menjalani hari demi hari. Semua memiliki arah, makna, dan alasan yang membuat setiap langkah terasa lebih berharga.
Sebab orang yang mengetahui apa yang dikerjakannya akan mampu bekerja dengan baik. Tetapi orang yang mengetahui mengapa ia melakukannya akan mampu menjalani hidup dengan penuh makna.

No comments:
Post a Comment