Wednesday, June 3, 2026

Memanusiakan Manusia

Banyak orang berpikir bahwa loyalitas bawahan dapat dibeli dengan gaji yang tinggi. Ada juga yang beranggapan bahwa rasa hormat dari tim akan datang seiring naiknya jabatan seorang pemimpin. Padahal kenyataannya, tidak selalu demikian.

Kita sering menemukan karyawan yang tetap bertahan meskipun gajinya tidak paling tinggi di industri. Sebaliknya, tidak sedikit pula karyawan yang memilih keluar meskipun menerima gaji yang cukup baik. Hal yang sama berlaku pada rasa hormat. Jabatan memang bisa membuat seseorang dipatuhi, tetapi belum tentu dihormati.

Ada satu hal yang sering dilupakan oleh banyak pemimpin, padahal dampaknya sangat besar terhadap loyalitas dan rasa hormat dari tim. Dalam budaya Jawa, hal itu dikenal dengan istilah "nguwongke wong", atau memanusiakan manusia.

Nguwongke bukan berarti selalu menuruti keinginan bawahan. Bukan pula berarti menjadi pemimpin yang terlalu lunak atau tidak tegas. Nguwongke adalah memperlakukan orang lain sebagai manusia yang memiliki harga diri, perasaan, harapan, dan kontribusi yang layak dihargai.

Seorang bawahan mungkin bisa menerima target yang berat. Ia juga bisa menerima kritik ketika melakukan kesalahan. Bahkan ia bisa menerima keputusan yang tidak selalu menguntungkannya. Namun yang sulit diterima adalah ketika ia merasa dianggap tidak penting, tidak didengarkan, atau diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai target.

Sering kali hal-hal kecil justru memiliki dampak yang besar. Menyapa karyawan dengan namanya. Mendengarkan pendapatnya saat rapat. Mengucapkan terima kasih setelah pekerjaan selesai. Memberikan apresiasi atas usaha yang dilakukan. Menanyakan kabarnya ketika terlihat tidak seperti biasanya. Hal-hal sederhana seperti itu membuat seseorang merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar nomor induk karyawan.

Pemimpin yang mampu nguwongke bawahannya biasanya tidak perlu terlalu sering meminta loyalitas. Loyalitas itu akan tumbuh dengan sendirinya. Ketika karyawan merasa dihargai, mereka akan lebih rela memberikan usaha terbaiknya. Mereka tidak bekerja hanya karena gaji, tetapi juga karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna.

Begitu pula dengan rasa hormat. Respect tidak lahir dari posisi di struktur organisasi. Respect lahir dari perilaku sehari-hari. Seorang leader bisa saja memiliki jabatan tinggi, tetapi jika ia tidak menghargai timnya, maka yang ia dapatkan hanyalah kepatuhan karena kewajiban. Sebaliknya, pemimpin yang mampu memanusiakan orang lain sering kali tetap dihormati bahkan setelah tidak lagi menjabat.

Pada akhirnya, karyawan mungkin datang karena gaji. Mereka mungkin tertarik karena jenjang karier. Namun sering kali mereka bertahan karena lingkungan kerja dan sosok pemimpinnya.

Karena itu, jika ingin memiliki tim yang loyal dan memberikan rasa hormat yang tulus, mulailah dari hal yang paling mendasar. Jangan hanya fokus pada target, KPI, dan angka-angka. Ingatlah bahwa di balik setiap jabatan, setiap seragam, dan setiap absensi, ada manusia yang ingin dihargai keberadaannya.

Sebab pada akhirnya, bukan gaji yang membuat bawahan loyal. Bukan pula jabatan yang membuat bawahan respect. Tetapi cara seorang pemimpin memperlakukan orang lain sebagai manusia. Itulah yang disebut nguwongke.

No comments:

Post a Comment

Related Posts