Film The Bucket List bukanlah film tentang kematian. Film ini adalah tentang bagaimana manusia belajar hidup.
Sebagian orang baru mulai memikirkan arti hidup ketika waktu terasa masih sangat panjang. Sebagian lainnya baru benar-benar menghargai hidup ketika waktu yang tersisa justru semakin sedikit. Cerita dimulai dari dua orang yang berasal dari dunia yang sangat berbeda.
Edward Cole adalah seorang miliarder sukses. Ia memiliki perusahaan, kekayaan, dan hampir semua hal yang diimpikan banyak orang. Di sisi lain ada Carter Chambers, seorang montir yang cerdas, gemar membaca, tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja demi keluarga.
Keduanya dipertemukan bukan karena persahabatan. Melainkan karena penyakit yang sama. Mereka harus berbagi satu kamar rumah sakit setelah sama-sama didiagnosis menderita kanker stadium lanjut.
Di sanalah Carter menulis sebuah daftar berisi hal-hal yang ingin dilakukan sebelum meninggal dunia. Daftar itu disebut bucket list, yaitu daftar impian yang ingin diwujudkan sebelum "menendang ember"—ungkapan dalam bahasa Inggris yang berarti meninggal dunia.
Awalnya daftar itu hanya berisi keinginan sederhana. Namun Edward melihat sesuatu yang berbeda. Ia memutuskan menggunakan kekayaannya untuk mewujudkan seluruh daftar tersebut. Mereka pun memulai perjalanan keliling dunia.
Melompat dengan parasut.
Mengendarai mobil sport.
Melihat Piramida Giza.
Mengunjungi Taj Mahal.
Mengunjungi Tembok Besar China.
Menyaksikan keindahan Himalaya.
Dan berbagai pengalaman lain yang selama ini hanya menjadi mimpi. Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin jelas bahwa inti film ini bukanlah destinasi yang mereka kunjungi. Melainkan percakapan yang mereka lakukan di sepanjang perjalanan.
Edward mulai menyadari bahwa selama hidupnya ia berhasil mengumpulkan kekayaan, tetapi gagal membangun hubungan yang hangat dengan keluarganya. Sebaliknya, Carter mungkin tidak pernah menjadi orang kaya, tetapi ia memiliki keluarga yang selalu mencintainya.
Film ini perlahan membalik pertanyaan yang sering kita ajukan.
Bukan lagi:
"Apa yang belum saya miliki?"
Tetapi:
"Apa yang benar-benar berarti?"
Ada satu momen yang sangat mengesankan ketika Carter mengingat dua pertanyaan dalam tradisi Mesir Kuno. Saat seseorang meninggal, ia akan ditanya:
Apakah engkau menemukan kebahagiaan dalam hidupmu?
Dan,
Apakah hidupmu membawa kebahagiaan bagi orang lain?
Dua pertanyaan sederhana. Namun mungkin menjadi ukuran hidup yang jauh lebih penting daripada jabatan, gelar, atau jumlah harta yang berhasil dikumpulkan. Di akhir cerita, Carter meninggal lebih dahulu.
Edward kemudian menyelesaikan satu per satu impian sahabatnya. Sebelum akhirnya ia juga meninggal, daftar itu benar-benar selesai. Namun sesungguhnya, yang selesai bukanlah daftar impian. Melainkan perubahan dalam diri mereka.
Edward belajar bahwa keluarga lebih berharga daripada perusahaan. Carter belajar bahwa tidak ada kata terlambat untuk menikmati hidup. Keduanya sama-sama menemukan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari memiliki lebih banyak, tetapi dari menjalani hidup dengan lebih bermakna.
The Bucket List bukanlah ajakan untuk mengunjungi banyak negara atau melakukan hal-hal ekstrem. Film ini mengajak kita membuat daftar yang jauh lebih sederhana.
Siapa yang ingin kita bahagiakan?
Permintaan maaf apa yang belum sempat kita ucapkan?
Orang tua mana yang sudah lama ingin kita kunjungi?
Sahabat mana yang sudah lama tidak kita hubungi?
Impian apa yang terus kita tunda karena merasa masih memiliki banyak waktu?
Karena sesungguhnya, tidak seorang pun tahu berapa panjang daftar hari yang masih dimilikinya. Mungkin itulah pelajaran terbesar dari The Bucket List. Jangan menunggu hidup menjadi sempurna untuk mulai menjalani hidup. Karena yang akan dikenang bukanlah seberapa lama kita hidup, melainkan seberapa bermakna kita mengisi waktu yang telah diberikan.

No comments:
Post a Comment