Saturday, February 3, 2007

Seven Habits (2)

Personal Leaderhip : Begin with the End in Mind

Sebelum membaca artikel Seven Habits (2) ini, ada baiknya membaca artikel sebelumnya yang berjudul mirip yaitu Seven Habits. Sedangkan berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai 7 kebiasaan dari Seven Habits yang ditulis oleh Stephen Covey.

Kebiasaan 1
Be Proactive

Bersikap proaktif tidak hanya berarti mengambil inisiatif tetapi juga bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya. Seseorang yang proaktif mempunya kebiasaan memilih sendiri keputusan-keputusannya dan bertanggung jawab akan akibat dari keputusannya itu.

Sedangkan orang yang reaktif (kebalikan dari proaktif) sikapnya berdasarkan kondisi atau sikap orang lain dan karena itu tidak bertanggung jawab dan cenderung menyalahkan orang lain.

Contoh pernyataan orang proaktif sbb:
Apa pilihan yang ada?
Apa yang dapat diperbaiki?
Saya menguasai emosiku
Saya mau atau tidak mau
Saya suka atau tidak suka
Saya hendak dan merencanakan

Sedangkan contoh pernyataan orang reaktif sbb:
Saya tidak bisa berbuat apa-apa
Begitulah sifat saya
Dia sih yang bikin aku marah
Saya tidak bisa
Saya terpaksa
Seandainya saja


Kebiasaaan 2
Begin with the End in Mind

Ini adalah kebiasaan kepemimpinan diri (personal leaderhip) yaitu memulai suatu kegiatan dengan suatu kejelasan tentang apa hasil yang ingin dicapai. Segala sesuatu diciptakan dua kali. Produk apa pun yang dihasilkan pada mulanya telah ada sebagai konsep, baru kemudian secara fisik.

Misalnya : membangun rumah, selalu ada rancangannya terlebih dahulu.

Kepemimpinan adalah “ciptaan pertama”, yaitu “doing the right things“.
Manajemen adalah “ciptaan kedua”, yaitu “doing things right“.


Kebiasaan 3: 
Put First Thing First

Ini adalah kebiasaan mengelola prioritas. Kita harus bisa membedakan apa yang penting (important) dan apa yang mendesak (urgent). Hal-hal yang mendesak selalu “menyerang” kita, dan biasanya kita bereaksi terhadapnya; waktu kita banyak yang habis untuk mengurusi hal-hal yang mendesak ini, dan seringkali melupakan hal-hal yang justru penting.

Orang-orang yang sangat efektif pandai menggunakan waktunya untuk mengelola hal-hal yang     penting, dan sikapnya yang proaktif akan mengurangi timbulnya hal-hal yang mendesak.

Kalau ketiga kebiasaan ini bisa kita kuasai maka kita bisa dikatakan mandiri, dan kini siap memasuki kehidupan yang saling tergantung atau interdependent. Agar kita bisa sangat efektif dalam hidup yang saling tergantung, kita perlu memiliki kebiasaan-kebiasaan selanjutnya.


Kebiasaan 4
Think Win-Win

Menang-menang adalah suatu sikap mental untuk mencari keuntungan bersama. Pada dasarnya ada enam paradigma interaksi manusia; empat di antaranya adalah:

Menang/Kalah. Semboyannya “Kalau Anda menang, saya pasti kalah; jadi saya harus menang,  dan Andalah yang kalah” (contoh: kepemimpinan yang otoriter). Segala sesuatu menjadi persaingan dan setiap kemenangan harus menyebabkan kekalahan pihak lain.

Kalah/Menang adalah mentalitas orang kalah yang selalu tunduk pada keinginan pihak lain. “Apa sajalah, asal tetap damai”. Ini lebih buruk daripada sikap Menang/Kalah karena sama  sekali tidak mempunyai pendirian atau keberanian untuk menyatakan keyakinannya. Yang ada hanya mengalah terus-menerus.

Kalah/Kalah adalah hasil jika dua orang keras kepala, egois dan bersikap mau menang sendiri bertemu. Ini dapat berubah menjadi obsesi permusuhan yang dapat mendorong terjadinya peperangan. Orang dikuasai oleh dorongan untuk mengalahkan pihak lain, bahkan tanpa peduli  akan kerugiannya sendiri.

Menang/Menang adalah falsafah yang dianjurkan Stephen Covey bagi hubungan antara manusia. Yaitu, mencari terus menerus akan manfaat timbal balik dalam setiap interaksi.      

Dengan menganut paradigma ini, seseorang tidak akan bahagia kalau pihak lainnya tidak bahagia juga. Hidup ini dipandang sebagai kerjasama bukan sebagai permusuhan. Orang yang efektif berprinsip menang-menang dalam tindakannya dan kesepakatannya. Mentalitas menang-menang ini baru bisa dilakukan kalau kita punya “abundance mentality”, yaitu pemikiran bahwa segala sesuatunya itu berkelebihan sehingga tidak perlu kita mematikan orang lain untuk mendapatkan keuntungan.

Orang yang mempunyai sikap menang-kalah didasari oleh “scarcity mentality”, seakan-akan segala sesuatunya itu terbatas sehingga harus  diperebutkan, bilamana perlu dengan mengalahkan pihak lain.


Kebiasaan 5
Seek first to Understand then to be Understood

Inilah kebiasaan berkomunikasi secara efektif. Para dokter menganalisa penyakit pasiennya sebelum memberi resep. Seorang top salesman akan mempelajari kebutuhan pelanggannya terlebih dahulu sebelum menawarkan produk atau jasanya.

We see the world as we are, not as it is. Kita melihat dunia dari kacamata kita bukan sebagaimana adanya. Persepsi kita dibentuk oleh pengalaman-pengalaman kita, dan seringkali hal ini membatasi kita. Tantangan untuk memecahkan perbedaan pendapat adalah   dengan mencoba mengerti sudut pandang atau paradigma orang lain terlebih dahulu.

Kalau kita bisa mengerti secara penuh seseorang, maka ia akan menurunkan tembok pembatasnya.
Memaksakan kehendak kita secara emosional tidak akan produktif malahan sebaliknya: counterproductive.


Kebiasaan 6
Synergize

Ini adalah kebiasaan untuk mewujudkan kerja sama dan mencari alternatif-alternatif baru yang jauh lebih besar.

Sinergi berarti 1 + 1 > 2. Sinergi adalah hasil dari menciptakan suasana di mana orang-orang yang berbeda dapat saling memberi sumbangannya berdasarkan kekuatan masing-masing sehingga hasilnya akan lebih besar dibandingkan bila dikerjakan sendiri-sendiri.

Sinergi adalah pendekatan yang paling efektif untuk memecahkan persoalan daripada sikap    yang apatis (asal damai saja) ataupun konfrontasi (tidak mau kalah).


Kebiasaan 7
Sharpen the Saw

Ini adalah kebiasaan untuk perbaikan diri.Istilah ini berasal dari kisah dua orang tukang kayu. Yang satu terus menggergaji dan merasa terlalu sibuk untuk berhenti sebentar. Yang lain berhenti sesekali untuk mengasah gergajinya. Justru yang kedua ini hasilnya lebih banyak dan lebih baik.

Seorang yang efektif akan melakukan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan pertumbuhan pengetahuan, mental, spiritual maupun ketahanan fisiknya, karena menyadari bahwa dengan pengembangan diri itu dia bisa lebih produktif dan efektif dan tidak “habis-habisan”.