Kita memilih fokus, terutama Fokus Masa Depan, dengan terus melakukan yang terbaik dan terus memperbaiki diri. Dan masih tentang Keliru & Fokus yang pernah ditulis pada tahun 2020 lalu yang mendapatkan inspirasi dari video youtube tentang perlombaan antara kelinci dan kura-kura.
Saking perlu dan pentingnya fokus, jadi kembali aku ulas.
Sebelumnya, agar kita bisa fokus dan cepat saat dalam pengambilan keputusan, kita tidak perlu menunggu informasi 100%, karena tersebut selain memakan waktu yang cukup lama juga hampir mustahil. Kita cukup gunakan aturan 70% informasi.
Artinya, jika kamu sudah memiliki ±70% data yang relevan, itu sudah cukup untuk mengambil keputusan yang masuk akal. Sisanya biasanya tidak menambah kualitas keputusan, hanya menambah keraguan.
Selain itu, hal yang perlu dilakukan adalah mengurangi opsi, dan jangan terlalu banyak pilihan. Karena jika terlalu banyak pilihan maka itu sama saja dengan analysis paralysis. Oleh karena itu batasi menjadi 2–3 opsi terbaik, lalu bandingkan secara sederhana, yaitu mana yang paling sejalan dengan tujuan, dan mana yang paling realistis dijalankan sekarang.
Ya, 2 hal diatas perlu kita camkan untuk bisa fokus dan cepat saat dalam pengambilan keputusan.
Namun jangan kebablasan bahwasanya sejatinya adalah fokus bukan memperkecil sesuatu, melainkan membesarkan pikiran. Karena jika kita memahami fokus sebagai tindakan mempersempit ruang gerak: menyingkirkan hal lain, menutup kemungkinan, dan mengurung diri pada satu titik kecil, maka kita akan menganggap sebagai hal yang kaku dan serba terbatas.
Padahal, hakikat fokus yang sesungguhnya bukanlah memperkecil dunia, melainkan membesarkan pikiran agar mampu melihat dengan lebih jernih apa yang benar-benar penting.
Memperkecil sesuatu berarti kita hanya menatap sebagian kecil dari kenyataan. Pikiran menjadi sempit, mudah terjebak pada detail yang tidak esensial, dan rentan terhadap distraksi kecil. Dalam kondisi seperti ini, fokus justru berubah menjadi tekanan: kita merasa harus menuntaskan satu hal sambil menahan banyak kegelisahan lain. Akibatnya, energi mental terkuras bukan karena pekerjaan berat, melainkan karena pikiran terlalu sesak.
Sebaliknya, membesarkan pikiran berarti memperluas perspektif. Kita memahami konteks, tujuan, dan makna dari apa yang sedang dikerjakan. Dengan pikiran yang luas, fokus tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai arah. Kita tahu mengapa suatu hal perlu dikerjakan dan mengapa hal lain bisa ditunda atau dilepaskan. Fokus menjadi keputusan sadar, bukan paksaan.
Membesarkan pikiran juga membuat kita lebih tenang dalam menghadapi gangguan. Distraksi tidak dihadapi dengan kemarahan atau penolakan berlebihan, tetapi dengan kesadaran. Kita tidak panik ketika ada hal lain yang muncul, karena pikiran yang luas mampu menempatkan semuanya pada proporsinya. Fokus lahir dari kejernihan, bukan dari ketakutan akan kehilangan kendali.
Sekali lagi, fokus bukan soal menyempitkan hidup agar terasa terkendali, tetapi tentang meluaskan kesadaran agar kita tidak tersesat di dalamnya. Ketika pikiran dibesarkan, fokus datang dengan sendirinya—tenang, tajam, dan penuh makna.

No comments:
Post a Comment