Friday, January 16, 2026

Dilema Ouroboros

Siklus Penderitaan Menuju God of Stories

sumber foto : greenscene.co.id

Terinspirasi oleh kisah Loki, terutama Loki season 2, yang dimulai dengan sub judul Ouroboros. Ouroboros sejatinya adalah simbol kuno berbentuk ular yang memakan ekornya sendiri, melambangkan siklus tanpa awal dan tanpa akhir, pengulangan, serta keterikatan pada pola yang sama. 

Dalam perjalanan Loki, Ouroboros bukan sekadar simbol waktu, tetapi jebakan eksistensial: sebuah kondisi di mana ia terus mengulang kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Loki terjebak dalam dilema mendasar—tetap bertahan dalam penderitaan yang sudah dikenal (suffer in a loop), atau menyerah pada ketidakpastian perubahan (surrender to change).

Pada awalnya, Loki memilih bertahan. Dia takut kehilangan identitas, sehingga berulang kali mencoba memperbaiki masa lalu tanpa benar-benar melepaskannya. Setiap upaya memperbaiki garis waktu justru menguatkan lingkaran Ouroboros. 

Ternyata segala kecerdikan, kekuatan, dan manipulasi waktu tidak cukup untuk mematahkan siklus. 

Dalam setiap pengulangan, Loki melihat wajah yang sama: dirinya sendiri, versi yang belum siap berubah. Penderitaan itu bukan hukuman semata, melainkan cermin yang memaksanya menghadapi kebenaran yang ia hindari.

Sesungguhnya dilema terbesar Loki bukan soal menyelamatkan multiverse, melainkan soal melepaskan kontrol. 

Surrender to change bukan berarti menyerah karena lemah, tetapi menerima bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki dengan paksaan kehendak. Dalam momen pencerahan, Loki memahami bahwa waktu bukanlah rantai yang harus dikendalikan, melainkan alur cerita yang perlu dijaga agar tetap bermakna. 

Akhirnya Loki berhenti melawan siklus dan mulai memahami strukturnya—sebuah pergeseran dari ego menjadi tanggung jawab.

Keputusan Loki untuk memutus Ouroboros adalah keputusan untuk menanggung beban makna, bukan sekadar beban waktu. Ia tidak lagi berusaha keluar dari lingkaran demi dirinya sendiri, melainkan menjadi poros yang menjaga agar cerita tetap berjalan. 

Di titik inilah Loki berevolusi—bukan sebagai penguasa waktu, tetapi sebagai God of Stories. Ia tidak menghapus penderitaan, tetapi memastikan bahwa penderitaan memiliki arah dan tujuan.

Sebagai God of Stories, Loki memahami bahwa setiap realitas adalah narasi yang rapuh. Tugasnya bukan mengatur akhir cerita, melainkan menjaga agar setiap kisah memiliki kesempatan untuk berkembang. 

Ouroboros tidak benar-benar dihancurkan; ia ditransformasikan. Siklus tanpa makna diubah menjadi kesinambungan cerita yang hidup. Loki berdiri di pusatnya, bukan sebagai tiran waktu, tetapi sebagai penjaga makna.

Kisah Loki adalah refleksi manusia modern. 

Kita sering terjebak dalam lingkaran yang sama—pekerjaan, relasi, penyesalan—takut berubah karena perubahan terasa seperti kehilangan. 

Namun, seperti Loki, pertumbuhan sejati lahir ketika kita berhenti bertanya “bagaimana cara memperbaiki semuanya” dan mulai bertanya “makna apa yang ingin aku jaga.” Memutus Ouroboros bukan tentang mengakhiri siklus, melainkan tentang menemukan peran kita di dalam cerita yang lebih besar.

No comments:

Post a Comment

Related Posts