Rama alias Cimot, sebagaimana pada umumnya anak laki-laki, begitu sangat dekat sekali dengan Laras, ibunya. Di sisi lain, lemahnya peran ayah dan munculnya teknologi AI terkadang menjadi subtitusi emosional, padahal chatGPT atau Gemini tidak akan pernah mampu menggantikan sentuhan manusia.
Pada suatu pagi, keluarga kecil ini sedang berpetualang berjalan-jalan ke hutan dengan tujuan menyeberangi jembatan untuk melihat sesuatu yang dijanjikan oleh Laras adalah sesuatu yang indah. Saat berjalan, Rama menghabiskan 1 botol minum, sedangkan 1 botol lagi yang harusnya dibawa oleh Rama tertinggal di mobil.
Mau tidak mau, Laras hendak mengambil botol minum tersebut. Sedangkan Rama dan Ayah diminta untuk meneruskan perjalanan. Tiba-tiba, smartwatch mereka berdua berdenging SOS, mereka pun berlari.
Namun hidup tidak pernah memberi aba-aba. Dan nahas, Laras mengalami sempat tidak sadarkan diri sehingga mengakibatkan dirinya harus dilarikan ke rumah sakit, karena kritis dan dinyatakan koma.
Tanpa Ibu sebagai jembatan, Bapak kehilangan arah untuk mengerti Rama, anaknya yang masih remaja.
Disinilah klimaks dan inti film dimulai sebagai kisah tentang kehilangan, waktu, dan proses berdamai dengan kenyataan yang tidak pernah benar-benar kita siapkan. Rama dan ayahnya harus menghadapi perubahan besar ketika sosok ibu—sebagai pusat kehangatan dan penopang emosional keluarga—tidak lagi hadir dalam kehidupan mereka.
Kepergian sang ibu bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga kekosongan yang perlahan membuka luka-luka lama, konflik yang terpendam, serta pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dihindari. Setiap anggota keluarga memaknai kehilangan dengan cara yang berbeda: ada yang memilih diam, ada yang memberontak, dan ada pula yang berusaha terlihat kuat meski rapuh di dalam.
Hal ini diperparah saat Rama bukannya menerima kepergian, namun malah mencoba menggantikan peran Ibu lewat sebuah artificial intelligence yang dipersonalisasi bernama i-Bu. Problem pun bertambah panjang, karena ketergantungan i-Bu justru membawa hubungan Rama dan ayah semakin renggang dan berjarak.
Muncul kembali momen-momen kecil sehari-hari sebagai kenangan —meja makan yang lebih sepi, rutinitas yang berubah, dan percakapan yang terasa tertahan—sebagai simbol betapa besar peran seorang ibu dalam kehidupan keluarga.
Ini tentang waktu: bahwa duka tidak memiliki jadwal, dan pemulihan bukan soal melupakan, melainkan belajar hidup dengan kehilangan itu sendiri. Esok hari tetap datang, tetapi tidak pernah sama. Kita akan merenung—tentang orang-orang yang sering kita anggap akan selalu ada, hingga suatu hari kita dipaksa menjalani esok tanpa mereka.
Ini juga menjadi refleksi tentang keluarga, cinta, dan kenyataan bahwa hidup terus berjalan, bahkan ketika hati belum sepenuhnya siap, tentang menerima bahwa esok tetap datang, meski tidak lagi sama.
Sumber:
https://www.instagram.com/filmesoktanpaibu/
https://www.beautyjournal.id/article/review-film-esok-tanpa-ibu-angkat-kisah-keluarga-dan-ketergantungan-ai
https://makassar.antaranews.com/berita/619882/film-esok-tanpa-ibu-gambarkan-pergeseran-peran-keluarga-di-era-digital
https://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/indonesia/film-esok-tanpa-ibu-kisah-haru-yang-siap-sentuh-hati-penonton-biff-2025.html

No comments:
Post a Comment