Saturday, August 1, 2015

Soera Ing Baia

Berani Melawan Bahaya


Dari mengikuti Surabaya Heritage Track yaitu perjalanan Keliling kota Surabaya Gratis yang diatas oleh Museum House of Sampoerna, aku mengetahui asal usul kota Surabaya yang sebenarnya. Memang terdapat legenda antara hiu melawan buaya tidak lah perlu disalahkan, namun sejarah yang sebenarnya juga perlu diketahui.

Setelah pulang dari Surabaya Heritage Track aku coba cari sejarah yang berkaitan dengan Hujung Galuh dan Surabaya.


Surabaya atau "Soera Ing Baya" berasal dari bahasa Jawa yang artinya "Berani Melawan Bahaya". Kata sura juga dipakai oleh kota lain misalnya Surakarta dan Kartasura. Kata sura juga dipakai oleh tokoh legenda di Jawa juga mengandung kata SURA, seperti, Suramenggala, Suradilaga, atau Surapati. Sura mempunyai arti berani.

Surabaya dahulu kala merupakan sebuah pelabuhan yang ramai dengan nama Hujung Galuh. Hujung atau ujung tanah yang menjorok ke laut atau disebut juga tanjung. Galuh atau perak, Sehingga Hujung Galuh atau Hujung Perak yang kemudian menjadi “Tanjung Perak” terletak di muara sungai Kalimas merupakan pelabuhan tempat bertemunya pedagang antar pulau yang melakukan bongkar muat barang dengan perahu.

Hujung Galuh merupakan pelabuhan penting sejak zaman kerajaan Kahuripan, Janggala, Kediri, Singhasari, hingga Majapahit. Selain menjadi pelabuhan Hujung Galuh sekaligus menjadi pintu gerbang utama untuk memasuki ibukota Majapahit dari lautan.

Pada abad 14 penguasa Hujung Galuh, Arya Lêmbu Sora memberi nama kota pelabuhan sebagai Soera Ing Baia, dimana pada tahun 1293 Masehi, pasukan Majapahit dibawah pimpinan Raden Wijaya, yang terdiri dari pasukan gabungan Jawa dan Madura, berhasil memukul mundur pasukan Tiongkok dinasti Yuan yang hendak menggagahi bhumi Jawa dan Nusantara.

Kala itu, dinasti mongol dipimpin oleh Kubilai Khan, one of the Great Khan, yang juga merupakan cucu dari Genghis Khan, dan kerajaannya membentang dari daratan Eropa wilayah Hungaria sampai seluruh dataran cina dan Korea, bahkan sebagian wilayah timur tengah dan asia tenggara sudah berada dibawah kekuasaanya.

Kubilai khan merupakan salah satu Khan Agung, sekaligus cucu dari Genghis Khan, pada tahun 1280, untuk menunjukkan kekuasaanya wilayah asia tenggara dengan mengirim dutanya ke kerajaan Singasari. Tujuan adalah agar kerajaan di nusantara membayar sejumlah upeti dan mengaku tunduk kepada kekaisaran mongol.

Kerajaan Singasari ketika itu dipimpin oleh Raja Kertanegara, dan permintaan duta dari mongol itu langsung ditolaknya mentah-mentah. Setahun berikutnya kekaisaran mongol mengirim lagi dutanya, dan sekali lagi Kertanegara tetap bersih keras menolak untuk tunduk. Pada tahun 1289, utusan ketiga dikirim, dalam sejarah tercatat nama duta besar tersebut adalah Meng Qi. Dalam ekspedisi ketiga ini, untuk menunjukkan ketegasannya, Kertanegara melukai muka Meng Qi, dan diusirnya Meng Qi ke Cina.

Jawaban dari Kertanegara tersebut tentu saja membuat Kubilai Khan Marah. Kubilai Khan mengirim pasukannya yang besar yang terdiri dari 20.000 orang tentara Tionghoa yang direkrut dari Hokkian, Kiangsi dan Hukuang. Dimulailah ekspedisi besar-besar ke pulau jawa untuk menghukum Kerajaan Singasari. Ketika armada pasukan Mongol sampai di Jawa. Sebagian pasukan mendarat di Tuban, sebagian lagi di muara Kali Berantas.

Dengan cepat Raden Wijaya membaca situasi. Ketika itu keadaan di kerajaan Singasari sudah berubah, dan sesampainya di Jawa, Utusan Raden Wijaya datang ke pasukan mongol untuk menawarkan diri sebagai sekutu untuk menggulingkan Singasari (raja yang berkuasa Jayakatwang). Utusan Raden Wijaya memberikan hadiah sebuah peta wilayah Kalang.

Dalam waktu kurang lebih 19 hari, 100.000 pasukan turut bertempur dalam penyerbuan tersebut. Penyerbuan tersebut dinilai sukses, karena mongolia berhasil menghukum raja Jawa sekaligus membunuh rajanya yaitu Jayakatwang.

Namun Wilayah Jawa yang bersuhu tropis membuat pasukan mongol cepat lelah dan sulit beradaptasi dengan model medan pertempuran diwilayah tropis. Akibat kelemahan itu, saat lengah, Pasukan Raden Wijaya menyerang pasukan mongol dan sekaligus mengusir pasukan mongol dari tanah Jawa. Pasukan mongol memilih segera mundur daripada menunggu 6 bulan lagi untuk mendapatkan angin menuju utara. Ketika itu mongol kehilangan 3000 ribu pasukan terbaiknya.

Sura (ikan hiu) dilambangkan sebagai bahaya dari laut (pasukan Mongol) dan baya (buaya) dilambangkan sebagai prajurit Raden Wijaya yang berhasil mengusir pasukan Mongol.

Ahirnya tahun 1293 ditetapkan sebagai tahun kelahiran kota Surabaya.


Sumber :
http://tentangkotasurabaya.blogspot.com/2014/08/logo-surabaya-salah-kaprah.html
http://tentangkotasurabaya.blogspot.com/search/label/Sejarah