Saturday, October 25, 2025

Berkumpul dalam Diam

Hari Sabtu, tanggal 25 Oktober 2025, pukul 21.00 malam itu, sebuah kabar datang tanpa aba-aba. Pesan singkat yang masuk terasa berat dibaca: Mas Deni (saudara sepupu) telah meninggal dunia di RSUD Sidoarjo setelah berjuang melawan kanker usus. 

Kanker usus adalah penyakit keganasan yang terjadi pada usus besar (kolon) atau rektum, sehingga sering juga disebut sebagai kanker kolorektal. Kanker ini bermula dari pertumbuhan sel abnormal pada dinding usus yang awalnya bisa berupa polip jinak, lalu berkembang secara perlahan menjadi ganas jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Pada tahap awal, kanker usus sering tidak menimbulkan gejala yang jelas, sehingga banyak penderita baru menyadari ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Gejala kanker usus dapat berupa perubahan pola buang air besar (sembelit atau diare berkepanjangan), tinja bercampur darah, nyeri atau kram perut, perut terasa penuh, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, serta tubuh mudah lelah akibat anemia. Faktor risikonya antara lain pola makan rendah serat dan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, obesitas, usia di atas 50 tahun, serta riwayat keluarga dengan kanker usus. Oleh karena itu, deteksi dini melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan rutin sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.

Sejenak suasana hening, seolah waktu berhenti. Tidak banyak kata yang bisa diucapkan, hanya kesadaran bahwa hidup memang bisa berubah dalam hitungan detik. Tanpa banyak pertimbangan, kami segera bersiap menuju rumah sakit.

Perjalanan menuju RSUD Sidoarjo terasa berbeda dari biasanya. Jalanan malam yang lengang justru menambah rasa pilu. Setibanya di rumah sakit, kami langsung menuju ruang administrasi. Proses demi proses dijalani dengan kepala tertunduk—mengurus berkas, tanda tangan, dan keperluan lain yang terasa kaku di tengah duka. 

Di ruang tunggu, kami berkumpul dalam diam, saling menguatkan tanpa perlu banyak bicara. Sesekali terdengar isak pelan, bercampur dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam hati.

Setelah menunggu beberapa lama kemudian, ambulans akhirnya siap. Tubuh almarhum dibawa dengan penuh kehati-hatian, diiringi keluarga yang terus mengucap istigfar. Malam semakin larut, jarum jam perlahan mendekati tengah malam. 

Sesampai di rumah, para warga sudah menunggu dan siap mengantar jenazah ke tempat persemanyaman terakhir. Dengan dikomando oleh warga setempat, para warga cukup kompak memandikan, mengkafani dan menyolati. Lalu bersama-sama kita berangkat menuju pemakaman. 

Pukul 00:10, setibanya di pemakaman, suasana terasa sunyi dan khidmat. Pada waktu itu artinya sudah terjadi pergantian hari, yaitu sudah hari Minggu dini hari. 

Dan tepat pukul 00.34, proses pemakaman selesai. Di bawah langit malam yang gelap, kami berdiri sejenak, menyadari bahwa perjalanan hidup seseorang telah usai, sementara kami yang ditinggalkan harus belajar menerima, mendoakan, dan melanjutkan langkah dengan hati yang lebih sadar akan rapuhnya kehidupan.


No comments:

Post a Comment

Related Posts