Artikel merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Ide itu Bukan Dipikirkan, masih dari buah saripati oleh Bang Pandji, di podcast dan dari akun video youtube yang sama, yaitu bahwa "ada orang yang bahagia dengan atau karena ketenangan, dan ada juga orang yang bahagia karena pencapaian."
Ada orang yang bahagia dengan atau karena ketenangan, dan ada juga orang yang bahagia karena pencapaian. Keduanya sama-sama bahagia, tetapi mungkin memiliki cara yang berbeda dalam memaknai kehidupan. Bagi sebagian orang, kebahagiaan adalah ketika hidup terasa tenang. Tidak banyak masalah, tidak banyak tuntutan, tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Bangun pagi tanpa terburu-buru, menikmati kopi, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, pulang ke rumah, bertemu keluarga, kemudian tidur dengan pikiran yang tidak dipenuhi kegelisahan. Bagi mereka, kehidupan yang sederhana bukan berarti kehidupan yang kecil. Justru di dalam kesederhanaan itu terdapat sesuatu yang sangat mahal: ketenangan.
Tetapi bagi sebagian orang lainnya, ketenangan bukanlah sumber utama kebahagiaan. Mereka justru merasa hidup ketika memiliki sesuatu untuk dikejar. Ada target yang ingin dicapai, pekerjaan yang ingin diselesaikan, bisnis yang ingin dibangun, angka yang ingin dilampaui, karya yang ingin dibuat, atau mimpi yang ingin diwujudkan. Bagi mereka, pencapaian memberikan rasa puas. Mereka bahagia ketika melihat sesuatu yang dahulu hanya ada dalam pikiran akhirnya menjadi kenyataan. Bahagia ketika target tercapai, ketika kerja keras menghasilkan sesuatu, ketika kemampuan mereka diakui, atau bahkan ketika mereka berhasil membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa mereka mampu.
Tidak ada yang salah dengan keduanya. Persoalannya muncul ketika kita mulai menganggap bahwa cara orang lain mencari kebahagiaan harus sama dengan cara kita. Orang yang menyukai ketenangan sering kali tidak memahami mengapa seseorang harus bekerja begitu keras hanya untuk mengejar pencapaian. Mereka mungkin bertanya, “Untuk apa mengejar semuanya kalau akhirnya hanya membuat hidup lelah?” Sebaliknya, orang yang hidup dengan orientasi pencapaian mungkin sulit memahami seseorang yang sudah merasa cukup. Mereka mungkin bertanya, “Kalau masih bisa lebih baik, mengapa berhenti?” Pertanyaan keduanya sama-sama masuk akal karena keduanya berangkat dari kebutuhan yang berbeda.
Ada anggapan bahwa orang yang menyukai ketenangan adalah orang yang tidak memiliki ambisi. Tidak selalu. Seseorang bisa sangat ambisius, tetapi tidak ingin hidup dalam kegaduhan. Ia bisa memiliki target besar tanpa harus menjadikan hidupnya sebagai perlombaan. Ia bisa ingin sukses tetapi tidak merasa harus menunjukkan kesuksesannya kepada semua orang. Ketenangan bukan berarti berhenti bergerak. Ketenangan adalah kemampuan untuk bergerak tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri. Ada orang yang mengejar karier tinggi tetapi tetap menikmati makan malam bersama keluarga. Ada orang yang membangun bisnis besar tetapi tidak merasa perlu menjadikan kekayaannya sebagai ukuran harga dirinya. Ada orang yang memiliki pencapaian luar biasa tetapi tetap bisa tidur dengan tenang ketika hari berakhir. Mereka tidak berhenti mengejar sesuatu. Mereka hanya tidak membiarkan sesuatu yang dikejarnya menguasai seluruh hidupnya.
Sebaliknya, kita juga tidak seharusnya menganggap orang yang mengejar pencapaian sebagai orang yang tidak pernah puas. Ada orang yang memang mendapatkan kebahagiaan dari proses menaklukkan tantangan. Mereka membutuhkan tujuan, membutuhkan sesuatu untuk dikerjakan, dan membutuhkan masalah untuk dipecahkan. Bagi mereka, hidup tanpa tantangan justru terasa kosong. Ketika seorang atlet berlatih bertahun-tahun untuk memenangkan pertandingan, ketika seorang pengusaha membangun perusahaan dari nol, ketika seorang penulis menyelesaikan sebuah buku setelah bertahun-tahun menulis, atau ketika seorang profesional berhasil menyelesaikan proyek yang sangat sulit, ada kebahagiaan yang tidak dapat digantikan oleh sekadar ketenangan. Bukan karena mereka tidak menghargai ketenangan, tetapi karena bagi mereka, pencapaian adalah bentuk lain dari makna.
Mungkin perbedaan keduanya dapat dilihat dari sumber kepuasannya. Orang yang mencari ketenangan lebih banyak menemukan kebahagiaan dari apa yang dimilikinya saat ini. Rumah yang nyaman, keluarga yang sehat, hubungan yang baik, pekerjaan yang cukup, waktu yang cukup, dan pikiran yang tenang sudah dapat menjadi alasan untuk bersyukur. Sementara itu, orang yang berorientasi pada pencapaian lebih banyak menemukan kebahagiaan dari apa yang sedang menjadi dirinya. Lebih kompeten, lebih kaya pengalaman, lebih sukses, lebih berpengaruh, lebih ahli, atau lebih dekat dengan tujuan yang ingin dicapai. Yang satu menemukan kebahagiaan dalam rasa cukup, sedangkan yang lain menemukannya dalam rasa bertumbuh. Dan manusia memang tidak harus memilih salah satunya sepanjang hidup.
Pencapaian dapat memberikan kebahagiaan yang luar biasa. Namun ada satu jebakan ketika pencapaian menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan. Ketika seseorang hanya dapat merasa berharga setelah mencapai sesuatu, hidupnya akan selalu bergantung pada target berikutnya. Target tercapai, bahagia. Kemudian target baru muncul, lalu mengejar lagi. Ketika target itu tercapai, muncul target berikutnya. Siklus tersebut bisa terus berlangsung tanpa pernah memberikan kesempatan kepada seseorang untuk merasa cukup. Hari ini ingin memiliki sepuluh juta, setelah tercapai ingin seratus juta, kemudian satu miliar, kemudian sepuluh miliar. Memiliki target tentu bukan sesuatu yang buruk. Masalahnya adalah ketika setiap pencapaian hanya menjadi tiket menuju pencapaian berikutnya, sementara rasa bahagia selalu ditunda. Akhirnya seseorang memiliki banyak hal tetapi tidak pernah benar-benar menikmati apa yang sudah dimilikinya. Ia terus berlari, tetapi tidak pernah merasa sampai.
Namun, ketenangan juga memiliki jebakannya. Ada kalanya seseorang menggunakan kata “tenang” untuk menyembunyikan ketakutan terhadap perubahan. Tidak ingin mengambil risiko karena takut gagal, tidak ingin mencoba sesuatu yang baru karena nyaman dengan keadaan sekarang, atau tidak ingin mengejar mimpi karena merasa hidup sudah cukup. Padahal, rasa cukup dan rasa takut bukanlah hal yang sama. Ketenangan yang sehat membuat seseorang mampu menerima keadaan, sedangkan ketenangan yang semu membuat seseorang takut meninggalkan keadaan. Begitu pula dengan pencapaian. Ambisi yang sehat membuat seseorang bertumbuh, sedangkan ambisi yang tidak sehat membuat seseorang tidak pernah merasa cukup.
Karena itu, persoalannya bukan apakah kita memilih ketenangan atau pencapaian. Persoalannya adalah apakah pilihan tersebut membuat kita menjadi manusia yang lebih utuh. Ada orang yang bahagia ketika bisa duduk sendirian membaca buku. Ada orang yang bahagia ketika berhasil menyelesaikan pekerjaan yang sulit. Ada orang yang bahagia ketika memiliki cukup uang untuk hidup tanpa kekhawatiran. Ada orang yang bahagia ketika namanya dikenal banyak orang. Ada orang yang bahagia ketika keluarganya berkumpul di meja makan. Ada pula orang yang baru merasa hidup ketika berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil. Semua memiliki ukurannya sendiri. Kita tidak perlu merasa bersalah hanya karena kebahagiaan kita berbeda dari orang lain.
Yang perlu kita tanyakan adalah apakah kehidupan yang sedang kita jalani benar-benar membuat kita bahagia, atau kita hanya sedang mengejar definisi bahagia yang dibuat oleh orang lain. Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar bertanya siapa yang lebih sukses. Sebab seseorang bisa memiliki pencapaian yang luar biasa tetapi kehilangan ketenangan. Dan seseorang bisa memiliki ketenangan yang luar biasa tetapi kehilangan kesempatan untuk berkembang.

No comments:
Post a Comment