Wednesday, October 24, 2012

Pemfosilan Pemikiran Barat



sebuah wacana
PEMFOSILAN PEMIKIRAN BARAT
dengan Just-in-Time

Taufan Yanuar

 Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

24 Oktober 2003

PENDAHULUAN
            Seorang pemuda berumur 28 tahun pada tahun 1813 bernama Baron Drais membuat sepeda kayu yang sangat sederhana seperti gambar dibawah ini. Dengan menggunakan sepeda kayu ini, manusia dapat menghemat waktu hampir empat kali lebih cepat daripada berjalan kaki.

gambar 1. sepeda rancangan Baron Drais

Kemudian pada tahun 1872, August Nicolaus Otto seorang ahli mekanik dan Gottlieb Daimler bekerja sama untuk membuat sepeda motor. Dan pada tahun 1885, tetangga dari Daimler, yaitu Karl Benz yang usianya 10 tahun lebih muda, ternyata berhasil menciptakan kendaraan roda tiga yang lebih cepat.


Gambar a) Kendaraan ciptaan Daimler  



b) Kendaraan ciptaan Benz

Diawali persaingan antara Daimler dengan Benz dan kemudian kedua bersatu pada tahun 1890 dan membentuk perusahaan patungan dengan nama Daimler-Benz, yang sekarang bernama Mercedez Benz.
Kemudian banyak sekali bermunculan industri-industri otomotif yang terkenal. Namun kebanyakan mereka masih berkutat di teknologi otomotifnya sendiri. Bisa dikatakan, penyempurnaan masih belum “disentuh”.

PEMIKIRAN BARAT
Tahun 1776, Adam Smith melalui the Wealth of Nation, menyatakan peran pentingnya spesialisasi dalam bekerja. Hal ini juga dibuktikan yaitu apabila seorang pekerja dapat menghasilkan 1000 pin sehari dengan bekerja sendiri, maka apabila 10 orang bekerja sama dengan spesialisasi akan menghasilkan 48.000 pin seharinya (Hicks, 1994).
Sebagai penyegaran, masih ingat tidak, salah satu tokoh Industri yang kita pelajari waktu mendapat mata kuliah Pengantar Teknik Industri, yaitu F. W. Taylor (1895) dengan memunculkan metoda Scientific Management. Seiring dengan semakin pesatnya Industri Barat setelah revolusi industri.

Pemikiran barat saat itu didasari pada oleh budaya barat yang berciri menonjol dalam kompetisi, individualis dan peran rasional otak kiri manusia. Selain itu, juga sebagai pendorong suksesnya penyelaman ruang angkasa mulai tahun 1970 dan komunikasi komputer tahun 1980 adalah industri barat menganut teori Y, yang beranggapan manusia akan bekerja lebih giat dengan adanya motivasi yang cukup sehingga dapat meningkatkan produktivitas.

Layaknya yang kita pelajari dibangku kuliah, dalam melakukan industri, sebelumnya diadakan perancangan dan perencanaan yang rapi meliputi layout, mesin, aliran bahan dan prosedur kerja. Manajemen industri Barat yang rapi ini disebut dengan Design Based Industry. Meskipun rapi namun manajemen Barat ini cenderung kaku karena tidak dirancang untuk mengadaptasi perubahan lingkungan yang mungkin timbul. Kemudian juga ada MRP (Material Requirement Planning), MRP II (Manufacturing Resource Planning) hingga campur tangan komputer melalui CIM (Computer Integrated Manufacturing).

Kemudian sekitar tahun 1910, sistem Ford dengan jalan bahan baku diolah dan dibawa dengan conveyor menjadi suku cadang. Kemudian pada asembly, komponen-komponen tersebut dirakit dengan kecepatan tetap hingga akhirnya menjadi mobil jadi satu persatu.
Kesuksesan industri Barat juga dialami oleh yang lainnya yang juga menggunakan sistem Ford. Namun dibalik kesuksesan tersebut ternyata, banyak PR yang tersisa,diantaranya yaitu produk Barat terkenal mahal, boros, rumit sehingga banyak complain.

INDUSTRI TIMUR
            Setelah berakhirnya perang dunia II, Jepang menderita kekalahan dengan terpuruknya perekonomian Jepang. Namun dengan motivasi harga diri dan semangat mempertahankan hidup, bangsa Jepang berusaha mengejar ketertinggalan. Sehingga sekitar tahun 1950, Jepang dapat dikatakan telah pulih kembali.
            Dimulai dengan mengundang pakar dari Amerika yaitu J.M Juran dan nama yang tidak begitu asing bagi kita yaitu W. E. Deming, yang ahli dibidang Quality Control sehingga industri Barat mencapai sukses. Kemudian mulai tahun 1952, industri Jepang seperti Nissan, Mitsubishi, Hino dan Isuzu bekerja sama memproduksi kendaraan dibawah lisensi Austin, Rootes, Renault dan Willys. Setelah 8 tahun mampu meniru, kemudian mulai tahun 1960 industri tersebut telah menggunakan 100% komponen lokal.  
            Selama 40 tahun, industri Jepang terutama di bidang otomotif telah merajai dunia, bagaimana hal ini terjadi? Hal tersebut karena Jepang menggunakan manajemen Barat yang tidak digunakan mentah-mentah, tapi pemakaiannya dipoles sesuai dengan budaya Timur asli.
            Misalnya budaya Timur yang senang ngumpul, diterapkan untuk mengatasi kekakuan manajemen Barat, sehingga Design Based Industry-nya Barat, diaplikasikan  oleh industri Jepang dengan melakukan penyempurnaan yang berkesinambungan dengan melibatkan semua orang secara rutin dan terjadwal, yang kemudian disebut dengan Continually-Improved-Based Industry.
            Terdapat beberapa konsep yang menyebabkan industri di Jepang berkembang pesat, diantaranya yaitu;
1.  Prinsip 5 R
Yaitu ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin. Banyak sekali yang memandang sepele hal ini, namun apabila dilaksanakan dengan konsisten dan disiplin akan terasa hasilnya yang menajubkan.
2. KAIZEN
Merupakan filosofi kerja yang diturunkan dari hasil sistem pendidikan dan interaksi sosial Jepang yang mengutamakan keharmonisan dan kegiatan bersama.
3.  Produksi berorientasi Proses
Manajemen ini menggunakan siklus SDCA, Standardize-Do-Chek-Action. Sehingga apabila terdapat kesalahan akan diperbaiki dan diikuti dengan pembuatan standard baru yang semakin lama akan semakin sempurna.
4.  Berbicara dengan Data
Budaya Jepang yang menonjol adalah mengidentifikasi masalah, mengumpulkan, menganalisis data dan penyelesaiannya. Beberapa toolnya yang tidak asing bagi kita adalah seven tool (diagram Pareto, Ishikawa, sebar, histogram, peta kendali, grafik dan formulir pemeriksaan)
            Dan masih banyak lagi konsep Jepang yang diadopsi dari Barat. Salah satu yang lainnya adalah Just-in-Time yang dipopulerkan oleh Toyota. Berikut sekilas mengenai Just-in-Time.

JUST-IN-TIME
            Just-in-Time merupakan suatu sistem produksi dengan menggunakan Pull System, yaitu material dan komponen ditarik dari belakang pabrik ke arah depan hingga menjadi produk jadi. Berbeda dengan sistem Barat yang pada umumnya menganut Push System, yaitu material dan komponen dibuat dan setelah itu dikirim ke tempat proses selanjutnya (terkadang sebelumnya diletakkan di suatu tempat sebagai persediaan), pendorongan ini dilakukan berdasarkan jadwal.

Sistem produksi Jepang ini, mempunyai filosofi dasar memperkecil kemubaziran (Eliminate of Waste). Bentuk-bentuk kemubaziran tersebut antara lain;
1.  Waktu
    Misalnya ada pekerja yang menganggur, mesin yang menganggur, waktu material handling yang tidak efisien, jadwal produksi yang tidak ditepati, keterlambatan material, botleneck dan lain-lain.
2.  Material
    Terlalu banyak scrap, banyak terjadi kerusakan, material yang usang, material yang hilang dan lain-lain.
3.  Manajemen
    Terlalu banyak karyawan, mis-informasi antar departemen, overlaping penugasan dan lain-lain.

            Dikarenakan di Jepang, resource sangatlah terbatas, maka prinsip efisiensi, efektifitas dan produktivitas perlu ditegakkan. Maka strategi yang dilaksanakan adalah;
1.  Hanya memproduksi jenis produk yang diperlukan
2.  Hanya memproduksi produk sejumlah yang dibutuhkan
3.  Hanya memproduksi produk pada saat diperlukan

Tujuan dari sistem produksi Just-in-Time adalah memproduksi dengan kualitas (Quality) terbaik, ongkos (Cost) termurah dan pengiriman (Delivery) pada saat yang tepat, disingkat QCD. Kiat agar tujuan tersebut dapat berjalan dengan baik adalah;
1.      Pengendalian kuantitas
Dilakukan dengan sistem informasi yang baik, yang disebut dengan Kanban, termasuk dengan suplier dan konsumen yang pasti dan tepat waktu. Sehingga dengan adanya komunikasi yang baik tersebut diharapkan dapat mengurangi inventory order lead time, yang ujung-ujungnya konsep zero inventory dapat tercapai.
2.      Pengendalian kualitas
Untuk mencapai zero defect, maka departemen pengendalian kualitas (QC) ditiadakan, yang ada adalah Quality Assurance, sehingga pekerja diberi kewenangan untuk tidak memberi hasil produk yang tidak baik ke proses selanjutnya.
3.      Memanusiakan manusia
Terdapat tiga cara, dalam melaksanakannya, yaitu, Otonomi, Flexibility dan Creativity. Contoh flexibility adalah memungkinkan pekerja untuk melakukan subtitusi kerja apabila terjadi kejenuhan dalam bekerja. Keuntungan lainnya yang didapat adalah koordinasi yang baik karena setiap karyawan akan mengerti keterkaitan-nya dengan tugas-tugas rekan yang lain. Sehingga dengan demikian akan dimungkinakan munculnya creativity dari karyawan yang dapat disalurkan melalui brainstorming.

Hal Penting dalam Penerapan Just-in-Time di Toyota
1.      ANDON
Ketika operasi berjalan normal, maka lampu akan menyala hijau. Ketika pekerja membutuhkan bantuan karena sesuatu pada line kerja, maka lampu akan menyala kuning. Jika line kerja berhenti dan membutuhkan perbaikan dari masalah maka lampu akan menyala merah.
2.      AUTONOMATION (AUTONOmous operATION)
Otomasi dengan sentuhan manusia atau mentransfer kecerdasan manusia kepada mesin.
3.      BAKA-YOKE (Fool Proofing)
Inovasi harus dibuat dengan peralatan yang dirancang dengan mencegah kesalahan. Konsep tersebut diterjemahkan sebagai berikut;
-        Jika terjadi kesalahan pada pekerja, maka material tidak dapat digunakan dengan tool.
-        Jika material salah, maka mesin tidak akan berjalan.
-        Jika pekerja melakukan kesalahan, maka mesin tidak akan melakukan proses.
-        Jika terdapat langkah yang terlewat, maka proses selanjutnya tidak akan dimulai

Contoh sederhana dari penerapan BAKA-YOKE adalah, apabila kita memasukkan disket terbalik, maka disket tersebut tidak dapat masuk ke dalam CPU.

gambar 2. pemasukan disket yang terbalik

4.      REAL CAUSE
Didalam penyebab dari suatu masalah, penyebab sebenarnya adalah tersembunyi.
5.      VISUAL CONTROL (Management of Sight)
Berkaitan dengan otonomi atau kewenangan pekerja untuk menyatakan produk yang dihasilkan cacat atau tidak.

Beberapa perbedaan Just-in-Time dengan pemikiran Barat yaitu, di industri Barat, digunakan safety stock untuk beberapa tujuan, namun dalam Just-in-Time, idealnya adalah tidak ada buffer stock, sehingga jika terdapat kesalahan, operasi akan berhenti total sehingga dapat diketahui dengan cepat akar kesalahan dan juga semakin cepat pula penyelesaian permasalahan tersebut (Marc J. Schiederjans, 1993).


Ilustrasi

Berikut merupakan tulisan dari Kristianto Jahja (KAIZEN Institute) yang menceritakan pengalamannya mengenai penerapan Just-in-Time.

Pada sekitar 1994, saya bertugas di sebuah pabrik komponen di  kota kecil Bissingen (dekat Stutgart) di Jerman, sebuah projek Kaizen dari sebuah jalur produksi yang menghasilkan produk penghapus kaca (wiper). Ini adalah perubahan cara berproduksi  dari aliran produk yang "jumbled"  menjadi aliran produksi  mengikuti konfigurasi "U". Sebelumnya ada berbagai komponen yang  dibuat di mesin-mesin terpisah untuk kemudian dirakit pada satu  jalur. Seperti umumnya industri Jerman yang punya standard bagus, wadah komponen pun harus mengikuti standard, komponen harus ditempatkan ada palet keranjang yang dikenal dengan DB-standard  (Deutsche Bahn, kereta api). Tentu jumlah per batchnya besar  sekali (mungkin lebih dari 2000), akibatnya perakitan akhir  terdapat banyak palet yang menyita tempat kerja. Kami melakukan  bedah proses, di mana mesin-mesin yang saling berhubungan itu dilakukan re-layout diurutkan mengikuti aliran produk.  Konfigurasi aliran itupun diatur dengan bentuk "U", Lima proses  dengan mesin-mesin yang tidak terlampau besar (seperti mesin  punch, press hidraulis, notcher dsb.) digabungkan dalam satu sel  manufaktur. Satu orang karyawan ditugaskan untuk melakukan semua siklus kerja secara berurutan, sehingga dia harus berjalan dari  satu mesin ke mesin berikutnya, dan  produk diselesaikan satu demi satu, langsung sampai jadi (one piece flow). Jelas ini harus  dilakukan dengan sikap berdiri. Dengan cara ini kami menghapuskan  banyak pekerjaan yang tak perlu terutama pada segi material handling dan barang setengah jadi, aliran produk pun menjadi terkendali disesuaikan dengan  kebutuhan/permintaan konsumen. Ini adalah JIT, yang intinya bukan bukan sekadar mengurangi stock  saja, tapi membenahi cara berproduksi (produktivitas per karyawan  meningkat sekitar 48%).
Contoh Production Line U

            Berikut juga merupakan cerita mengenai penerapan Just-in-Time (yang disebut dengan MAN, Material as Needed) pada motor gede Harley Davidson di Amerika  (sutrisno, 2002).

Pukulan balasan dari kemajuan industri Jepang yang mendasari diri dengan filosofi industri Just-In-Time sangat berat dirasakan oleh industri Amerika pada tahun 1980-an. Harley Davidson yang telah memasuki usia 80 tahun, antara tahun 1981-82 menderita rugi demikian parah karena datangnya empat pesaing industri Jepang, yaitu Honda, Yamaha, Suzuki dan Kawasaki. Kerugian ini akibat dari kekecewaan pelanggan sebelumnya pada produk Harley Davidson yang dianggap terlalu mahal, dan juga pelayanan purna jual yang dikenal tidak memuaskan.  Penerapan JIT membuat perusahaan ini sehat kembali. Antara tahun 1982-86 terjadi perbaikan kinerja, produktivitas karyawan naik 50 %, pengerjaan ulang turun 80 %, biaya garansi turun 46 %. Perusahaan sepeda motor ini mulai untung kembali sejak 1983 (Dilworth, 1989). Pada perusahaan-perusahaan yang lain terjadi pula perubahan yang spektakuler. Perubahan-perubahan tersebut meliputi, average lead time reduction 90%, inventory turun 35 - 79%, change-over time turun 75-94%, harga material yang dibeli turun 6-11%, cost of quality turun 26-63%.

            Masih banyak lagi penggunaan Pull System di berbagai perusahaan, selain Toyota dengan Just-in-Time-nya, perusahaan lain adalah Hewlett Packard dengan Stockless Production-nya, Westinghouse dengan MIPS, Minimum Inventory Production System-nya, atau juga perusahaan lainnya dengan nama Lean Manufacturing dan sebagainya.

SUMMARY
Tujuan dari penggunaan Just-in-Time adalah melakukan perbaikan bersama-sama secara terus-menerus sehingga akan didapatkan pengurangan beberapa macam pemborosan. Jika dibandingkan dengan Push System, maka akan didapatkan pemborosan karena over produksi. Meskipun kemungkinan permintaan yang didapatkan pertama kali sedikit (kelemahan Just-in-Time adalah ketiadaan demand), namun hasil yang didapat adalah pengurangan inventory sekaligus peningkatan kualitas. Less is more.

Referensi:
Philip E Hicks (1994) Industrial Engineering and Management: A New Perspective, Mc Graw Hill, New York
Marc J. Schniederjans (1993) Just in Time Management, Allyn & Bacon
Sutrisno Eddy, ( Tokoh-Tokoh Industri, Intimedia&Ladang Pustaka, Jakarta
Dick Locke (1996)  Global Supply Management, Mc Graw Hill, USA
Dr. Ir. Sutrisno MSME (2002) Industri Manufaktur Amerika, Jepang, Korea & Menggagas Pengembangan Industri & Teknologi Indonesia
Taiichi Ohno (1988) Toyota Production System, Productivity Press, Portland, Oregon
Norman Bodek, Just In Time, Toyota Production System & Lean Manufacturing, http://www.strategosinc.com/just_in_time.htm
William Patrick Hendrickson, Lean Manufacturing (Just in Time), http://members.aol.com/williamfla/jit.htm

11th Anniversary


LOVE IS TRUSTING
Itu adalah sari pati yang dapat dipetik dari 11 tahun perjalana cinta kita berdua. TRUSTING, saling percaya dan saling memberi kepercayaan. Tanpa ada rasa TRUST, kita berdua akan senantiasa dihinggapi rasa curiga dan tidak nyaman.

UNDECENNIAL or STEEL
Jika diistilahkan atau disimbolkan, anniversary ke-11 itu adalah STEEL, baja. Yang men-siratkan hubungan antara 2 insan manusia yang kokoh dan tangguh (kuat dan ulet) seperti baja, yang semestinya tidak akan memudarkan dan meretakkan hubungan kita.

Our anniversary is a time to look back at the good times and a time to look ahead to live our dreams together.

Thursday, October 4, 2012

Tweet Inter Milan


Lawan Neftci di UEFA Europa League, Inter Milan wajib menunjukkan tren positif kemenangannya


Thursday, September 20, 2012

Tweet Ronaldo


Ronaldo kembali tersenyum setelah mencetak goal kemenangan bagi Madrid atas Man.City


Saturday, September 1, 2012

Lumpia Sayur

Susah-susah gampang memberi makanan terutama sayuran kepada anak-anak. Terutama untuk memenuhi asupan vitamin kepada mereka agar tidak gampang sakit. Harus menggunakan bujuk rayu yang dashyat agar mau. Atau pakai cara terakhir, dipaksa.

Tapi tidak sepenuhnya berhasil.

Ada cara lain, selain asupan vitamin dari sayuran untuk anak terpenuhi, juga hobi masak kita juga terpenuhi. Kita bikin menu kreatif yang mudah tapi efektif. Salah satunya adalah Lumpia Sayur.

Kebetulan hari ini adalah hari libur Sabtu dan Minggu, jadi bisa berkreasi sambil berekreasi ke Supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan sekaligus sambil belanja bulanan, mumpung tanggal muda.

Bahan-bahan semuanya bisa didapat disana dan cara membuatnya juga relatif mudah. Jangan lupa kita ajak juga anak untuk membuat atau sekedar menyaksikan, sehingga mereka semakin penasaran untuk mencoba.

Dan terbukti hasinya cukup efektif dan berhasil kepada Rafa & Rangga, mereka mau dan suka. Untuk menu si kecil bisa dibuat lebih kecil (lihat gambar sebelah kanan). Selamat mencoba.




Bahan-bahan :

kulit lumpia, bisa di dapat di supermarket terdekat 
wortel 2 buah, dikupas dan dipotong seperti korek api
taoge 50 gram, disiangi
bawang prei 2 batang, diiris tipis-tipis
kecap asin 1 sendok teh
minyak wijen 2 sendok teh
putih telur 1 butir
minyak goreng 750 ml

Bumbu Halus :

bawang putih 4 siung, iris dan dicincang
bawang merah 6 butir, iris dan dicincang
merica 1/4 sendok teh
garam secukupnya
gula pasir 1/2 sendok teh

Cara Membuat Lumpia Sayur :

Panaskan 2 sdm minyak, tumis bumbu halus hingga harum.
Masukkan wortel, taoge dan bawang prei. Masak sambil diaduk hingga layu.
Tambahkan kecap asin dan minyak wijen. Masak sambil diaduk hingga semua bahan matang. Angkat dan biarkan uap panasnya hilang.
Ambil kulit lumpia, letakkan adonan isi pada salah satu sisinya.
Lipat sisi kanan dan kiri ke arah tengah, gulung. Rekatkan ujungnya dengan putih telur.
Panaskan minyak, goreng hingga kuning keemasan. Angkat dan tiriskan.

Sunday, August 19, 2012

Mudik 2012 ke Jember



Liburan Taufan Yanuar & Multia Febriani bareng Rafa (Tarafa Al-Cashi Kirana) dan Rangga (Tarangga El-Chawarizmi Kirana) di Jember, dari tanggal 19 - 24 Agustus 2012, bareng keluarga besar Mbah Sajiman Kartodimedjo

Friday, August 3, 2012

Target dan Komitmen


Dream
Tahun 2005-an sedang booming orang untuk mengejar mimpi. Tidak diharamkan lagi orang bermimpi. Diharapkan dengan punya mimpi, orang dapat mengejar cita-citanya yang rasa-rasanya tidak mungkin karena se-khayal mimpi. Tapi banyak yang mengatakan bahwa kiat-kiat orang menjadi sukses adalah berawal berani bermimpi. Yang banyak dijadikan rujukan adalah Andrea Hirata, dimana sang pemimpi ini dapat meraih kesuksesan setelah mempunyai mimpi. Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia, begitu kata Nidji dalam sebagian lirik lagunya yang berjudul Laskar Pelangi.

Mimpi adalah peta jalan menuju tujuan yang kita inginkan. Mereka adalah visi tentang apa yang ingin kita capai dalam hidup, memandu langkah-langkah kita dan memberikan arah pada perjalanan kita. Mimpi memberi kita alasan untuk bangun setiap pagi dengan semangat, menginspirasi kita untuk bertahan saat rintangan datang, dan memberi kita keberanian untuk mengejar yang tampaknya tidak mungkin.


Passion
Tahun 2010-an, terdapat pemikiran yang booming yang memutar balikkan pandangan kita dalam melihat suatu kegiatan dalam mencari nafkah atau yang biasa kita sebut dengan pekerjaan (job) dan karir (career). Banyak orang yang terjebak dalam pekerjaan sehingga melupakan karir. Rene Suhardono, dalam bukunya Your Job is Not Your Career, mengulas banyak tentang pekerjaan dan karir. Dimana agar sukses dalam pekerjaan dan karir kita harus berlandaskan passion (hasrat).

Passion adalah hal yang kita sukai dan minati sehingga tidak ada pikiran kita untuk tidak mengerjakannya. Passion adalah  keunikan yang kita miliki dan rasakan. Kerjakan hal yang kita sukai maka tidak ada satu hari pun kita perlu bekerja. Memahami passion adalah anak tangga pertama menuju a great life.

Ketika mimpi dan passion bersatu, keajaiban terjadi. Mimpi memberikan arah, sementara passion memberi kekuatan untuk terus bergerak maju, bahkan ketika jalan terlihat sulit. Bersama-sama, mimpi dan passion membentuk aliran energi yang tak terhentikan, mengubah impian menjadi kenyataan.

Banyak sekali kita dengar para motivator, anak muda yang baru sukses, jika ditanya tips dan kiat sukses mereka adalah 2 hal diatas, Dream (mimpi) dan Passion (hasrat).

Tidak salah, tapi juga tidak mutlak benar.  Mimpi harus mempunyai deadline, jika tidak kita akan hanya menjadi sebatas pemimpi atau si tukang khayal. Kita akan terbuai oleh mimpi tanpa pernah terealisasi. Mimpi tidak boleh memakan waktu yang lama, karena yang membutuhkan waktu lama seharusnya adalah sewaktu kita melakukan kegiatan dalam mewujudkan mimpi tersebut.

Begitu juga passion. Jangan sampai terbuai dan lama dalam menentukan passion kita. Karena saat kita melakukan kegiatan lalu kita mentok atau sudah dititik jenuh, lalu dengan gampangnya kita mengatakan, “ah, ini bukan passion-ku”. Sehingga tercipta generasi moody, atau angin-anginan.

Harusnya kita balance, tidak hanya Dream & Passion.
Kita harus mempunyai Target dan Komitmen.

Target
Segeralah mempunyai target begitu selesai bermimpi. Dengan adanya target ini, kita tidak akan menjadi sekedar sang pemimpi dan pengkhayal. Karena kita telah mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Seperti pemain bola, jika mereka masih hanya menjadi pemimpi, tanpa diiringi latihan dan kerja yang keras, niscaya mereka tidak akan dapat membuat goal di gawang lawan yang menjadi target.

Target memberikan arah pada langkah-langkah kita. Mereka adalah gambaran tentang apa yang ingin kita capai di masa depan, baik itu dalam karier, pendidikan, hubungan, atau hal lainnya. Dengan menetapkan target yang jelas dan terukur, kita memberi diri kita sendiri fokus dan motivasi untuk terus bergerak maju.


Komitmen
Begitu juga dengan passion. Jika passion tidak segera digeser menjadi komitmen, selamanya kita akan menjadi orang yang bekerja berdasarkan mood. Sehingga dengan komitmen ini kita akan menjadi orang yang pantang menyerah dan tidak mudah berputus asa. Seseorang akan berlatih-berlatih dan bekerja-bekerja untuk menjadi lebih baik dan sempurna. Contoh sederhana yang mudah kembali adalah pemain bola internasional, setelah mereka menentukan passion mereka adalah sepakbola, lalu mereka berkomitmen akan giat berlatih dan bekerja keras, maka bukan suatu hal yang mustahil jika kesuksesan akan diraih.

Tanpa komitmen, target hanya menjadi impian yang mengambang di langit-langit pikiran. Namun, dengan komitmen yang kuat, target menjadi sasaran yang dapat dicapai. Komitmen adalah janji kepada diri sendiri untuk tetap bertahan, bahkan ketika perjalanan terasa sulit atau lambat.

Dengan memadukan target yang jelas dan komitmen yang kuat, kita membuka pintu menuju kesuksesan. Ketika kita memiliki tujuan yang didefinisikan dengan baik dan kita berkomitmen untuk mencapainya, tidak ada yang tidak mungkin. Setiap langkah kecil yang kita ambil membawa kita lebih dekat menuju pencapaian impian kita.


@taufanyanuar

Related Posts