Oleh : Taufan Yanuar
Interisti dari kecil
taufanyanuar@yahoo.com
Roberto Mancini datang saat Internazionale Milan paceklik gelar di tahun 2004, dan di perjalanan dapat menghasilkan dua gelar Coppa Italia (2005 & 2006), dua Scudetto (2005-06 & 2006-07) dan dua Super Italia (2005, 2006).
Wajar jika Mancini tahun 2007-08 ngebet & penasaran untuk meraih gelar Liga Champion, karena belum merasakan nikmatnya mencium piala Juara Liga Champion. Apalagi skuad sekarang adalah yang terbaik, dari penjaga gawang (Julio Cesar), defender (Marco Materazzi, Ivan Cordoba), midfielder (Esteban Cambiaso, Dejan Stankovic) dan striker (Zlatan Ibrahimovic, Julio Cruz). Now or Never.
Cita-cita luhur dari ksatria sudah tertanam.
Bulan Maret, serasa episode yang berat buat “Ekosistem Intermilan”, bukan hanya bagi Mancini. Yaitu buat Presiden Masimo Moratti, Pelatih Mancini, Pemain, Suporter & Stadion Giuseppe Meazza. Dimulai dari tanggal 6 Maret kalah dari Liverpool 0-2 di Anfiled pada laga Liga Champion dilanjutkan leg kedua di kandang sendiri tanggal 12 Maret kembali takluk 0-1.
Emang semua pertandingan ada “excuse” yaitu Intermilan selalu menerima espulso dari wasit (Materazzi saat leg pertama lawan Liverpool & Burdisso saat leg kedua). Tapi pelatih Intermilan yang berusia 43 tahun ini mengeluarkan pernyataan akan hengkang dari Beneamata dan mundur dari kursi pelatih.
Sifat pengecut telah muncul.
Tangis berdarah juga berlanjut di laga domestik, seri dari tim “ecek-ecek” Genoa 1-1 dan kalah 1-2 saat melawan Juventus dengan tajuk Derby Italia. Plus drama perang mulut Mancini dengan Matrix –julukan Materazzi- dan Ibrahimovic. Ada yang sakit.
Mental Juara telah rapuh.
Perlu diingat, disini yang mengalami kekalahan dan sakit bukan hanya Mancio –panggilan Mancini-, tapi segenap “Ekosistem Intermilan”, yakni Presiden, Pelatih, Pemain, Suporter & Stadion Giuseppe Meazza. Dan yang harus bangkit adalah semuanya.
Dan perlu diketahui faktor kesuksesan bukan dari seorang pelatih saja. Ini bukan one man show. Tapi kerjasama antar isi dari “Ekosistem Intermilan”.
Seperti gigi yang sakit, telah membuat pikiran tidak bisa berpikir jernih, telah menyerang urat syaraf. Jika sudah tidak bisa ditambal lagi dan tidak bisa dilawan lagi rasa sakitnya dengan obat, cabut saja daripada yang lain ikut sakit. Meski gigi yang dicabut ini pernah berjasa menguyah daging yang keras.
Jika sakit ini sudah akut, sifat kstaria telah sirna, mental juara telah runtuh, cuman tersisa pengecut saja. Meski Mancini terbilang pelatih yang sukses dalam satu dekade ini di Intermilan. Jadi, cabut saja daripada pemain yang lain ikut “sakit” dan hasil pertandingan ikutan “sakit”.
“Whatever we possess becomes of double value when we have the opportunity of sharing it with others"
Wednesday, March 26, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Related Posts
-
Tipe kepribadian MBTI bisa diketahui salah satunya melalui https://kinibisa.com/tes-karakter . MBTI adalah singkatan dari Myers-Briggs Type ...
-
Banyak orang menganggap Bahasa Indonesia hanyalah mata pelajaran sekolah. Padahal sesungguhnya Bahasa Indonesia adalah alat berpikir. Sebelu...
-
Selalu ada yang menarik melihat konten dari Ferry Irwandi, begitu juga selalu ada yang bisa diambil hikmahnya dari Raditya Dika. Dan saat me...
-
Panggung stand up comedy selalu menjadi tempat lahirnya ide-ide segar. Namun di saat yang sama, panggung komedi juga menjadi ruang yang meng...
-
Saat service air radiator kemarin, saat pemeriksaan tutup radiator ternyata ada air yang menetes. Artinya tutup radiator sudah lemah dan ha...
No comments:
Post a Comment