Hari ini seperti biasa beraktivitas sehari-hari sambil mendengarkan podcast, kali ini mendengarkan video yang berjudul Lebih Sering Ketemu Band daripada Emak Sendiri di akun youtube Malaka, salah satu yang menarik adalah di menit ke 51:19 dimana saat Bang Ferry Irwandi menanyakan satu persatu ke personel NTRL, apa lagu favorit mereka masing-masing, dan jawaban dari Bagus NTRL adalah Langit Senja.
Langit Senja
NTRL
Sendiri terbang melayang aku pulang
Diiringi megahnya nirwana langit senja
Senyuman hari bahagia sejuta rindu
Melintasi ribuan bintang yang cemerlang
Waktunya telah tiba kembali dalam pelukan
Waktuku untuk pulang bertemu denganmu kekasih yang tercinta
Waktunya telah tiba kembali dalam pelukan
Waktuku untuk pulang bertemu denganmu kekasih yang tercinta
Aku Pulang
Bagi Bagus NTRL, Langit Senja memiliki tempat yang istimewa. Lagu ini bukan sekadar rangkaian nada dan lirik, melainkan ruang untuk menyimpan kenangan sekaligus mengungkapkan kepedihan saat sang ayah berpulang.
Kehilangan seorang ayah bukan hanya kehilangan sosok yang pernah hadir di rumah, karena pasti ada begitu banyak hal sederhana yang baru terasa berharga ketika semuanya telah menjadi kenangan. Di balik musik sangat yang terdengar, tersimpan pengalaman emosional seorang anak yang harus menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya telah berpulang.
Tidak semua perasaan kehilangan mudah disampaikan melalui percakapan. Terkadang, seseorang justru lebih mampu mengungkapkannya melalui musik, melalui nada yang mengalir, dan melalui kata-kata yang mungkin tidak sanggup diucapkan secara langsung.
Senja memiliki makna yang unik dalam kehidupan manusia. Ia adalah peralihan antara terang dan gelap, antara hari yang telah dilalui dan malam yang segera datang. Ada keindahan di dalamnya, tetapi juga ada kesan perpisahan. Matahari perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan warna jingga yang indah di cakrawala. Kita tahu matahari akan kembali esok hari, tetapi dalam kehidupan manusia, tidak semua yang pergi memiliki kesempatan untuk kembali.
Mungkin itulah mengapa judul Langit Senja terasa begitu dekat dengan cerita kehilangan. Senja dapat menjadi pengingat tentang seseorang yang pernah hadir, pernah memberikan kehangatan, kemudian pergi meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah digantikan.
Dan jika suatu sore kita kembali memandang langit yang perlahan berubah jingga, mungkin kita akan teringat kepada mereka yang telah lebih dahulu berpulang. Kita tidak bisa mengulang waktu, tidak bisa meminta mereka kembali, dan tidak bisa menyampaikan semua hal yang dahulu belum sempat dikatakan.
Namun, kita masih bisa mengenang, melanjutkan kebaikan mereka, dan mengirimkan doa. Sebab, senja boleh berakhir, tetapi kenangan tentang seseorang yang kita cintai tidak harus ikut menghilang.