Sunday, May 19, 2013

Mencari Paket yang Hilang


Kamis, 16 Mei 2013

Sidoarjo. 
Telepon berdering dan mengatakan bahwa dokumen passport nenek harus dikumpulkan paling lambat hari Sabtu. Jika tidak maka perjalanan umroh akan terancam batal.

Pekerjaan mudah. Tapi dikarenakan passport nenek ada di Jember. Buru-buru aku telepon keluarga di Jember agar segera mengirim passport menggunakan paket super kilat agar sehari sudah sampai.

Jadi rencananya adalah Kamis surat dikirim dari Jember. Hari Jumat paket diterima di Sidoarjo. Hari Sabtu menyerahkan dokumen passport ke agen travel. Beres. Gampang.

Jumat, 17 Mei 2013

Pagi hari aktivitas seperti biasa. Setelah mandi, sarapan terus berangkat kerja. Di kantor disibukkan dengan rutininas kantor dan meeting.

Malam hari pulang, juga seperti biasa. Macet menjadi rutinas biasa juga.

Sesampai di rumah. Dokumen passport belum datang.
Berpikir positif, ah paling karena baru dikirim dari Jember hari Kamis siang harinya, jadi nyampai di Sidoarjo mungkin Jumat siang hari. Jadi dari kantor Pos belum sempat disebarkan ke rumah-rumah tujuan.

Positif thingking.
Paling-paling besok, Sabtu sudah sampai.

Sabtu, 18 Mei 2013

Nongkrong di depan rumah dari pagi hari. Agar pak Pos begitu sampai segera berangkat ke agen travel.

Pukul 08.00.
Sabar toh masih pagi. Sarapan dulu, terus minum susu sambil baca koran. Masih berpikir positif pak Pos bakal datang.

Pukul 09.00
Koran sudah terbaca semua. Bahkan ada artikel yang dibaca 2x, bukan karena seru, tapi hanya untuk membunuh waktu menunggu pak Pos.

Pukul 10.00
Wah ga bener ini, agen travel tutup jam 12.00, bisa-bisa berantakan semua rencana yang disusun. 

Pukul 10.02
Buka laptop, untuk mencari no telp kantor Pos di Sidoarjo. Akhirnya dapat. Dengan ramah mbak operator menjelaskan bahwa paket tersebut dapat dilacak, dia menanyakan no paket yang dikirim berapa.

Pukul 10.04
Nelp keluarga Jember, untuk menanyakan berapa nomor paket. Aku catat di kertas 124-325-364-xx.

Pukul 10.05
Nelp kantor Pos lagi. Setelah aku sebutkan nomor paket, diterangkan bahwa paket sudah terkirim dan diterima oleh seorang bernama Avin, hari Jumat sore, pukul 16.00.

Waduh. Gawat. Dirumah ga ada yang bernama Avin.

Paket bisa raib nih. Aku menanyakan no telp pak Posnya. Mbak operator memberikan no telp kantor Pos yang terkait langsung dengan tukang Pos tersebut. Aku catat.

10.10
Aku telp kantor Pos yang dimaksud, untuk menanyakan tukang Pos yang mengirim paket tersebut. Diberikan nama dan no telp. Yaitu bapak S, dengan no telp 0852xxxxyyyy.

Aku telp, beliau menjelaskan kronologisnya, bahwa kemarin (Jumat) personil tukang Pos ada yang tidak masuk. Sehingga terjadi tukar tukang Pos untuk mengirim paket. Beliau memberikan nama dan no telp orang yang mengirim paket ke area rumahku.

Nama tukang Pos adalah pak B, dengan no telp 0877xxxxyyyy.

10.14
Pak tukang Pos B, membenarkan bahwa dia mengirim paket yang dimaksud. Dia mengirim paket tersebut di terima oleh Avin. Cocok klop.

Setelah sadar bahwa Pak Pos B telah keliru kirim paket dia menawarkan akan mengambil dan mengirim ke tempat yang benar.

Dikarenakan sudah mepet, aku bilang tidak perlu, aku menanyakan ciri-ciri rumah yang salah alamat tadi. Gampang. Tempat yang dimaksud adalah warnet. Dan cuman ada 1 di daerah perumahanku.

10.16
Ketemu. Akhirnya paket diterima. Misi selanjutnya pergi ke agen travel, yang jika tidak macet akan sampai sebelum deadline.

10.20
Berangkat ke agen travel. Ditengah perjalanan ternyata macet. Tumben. Hari Sabtu kok macet.

10.50
Akhirnya sampai juga di agen travel. Dokumen passport diserahkan, dan closed.
Misi completed.


Berdasarkan kisah nyata, dalam usaha pencarian paket yang hilang. Yang terpenting tenang. Gunakan alat komunikasi laptop, internet dan telepon.

(Gaya tulisan agak berlebihan, akibat efek sehabis nonton film Mission Imposible : Ghost Protocol)