Thursday, March 13, 2014

Masa Kadaluarsa Obat


Jika obat si kecil tersisa, bolehkah diberikan kembali bila suatu waktu ia mengalami penyakit yang sama?


Bergantung jenis obatnya, jika:

1. Antibiotik. Tidak boleh! Apapun bentuknya baik itu sirup atau puyer. Antibiotik harus dihabiskan atau sesuai instruksi dokter.
2. Racikan. Baik sirup maupun puyer sebaiknya tidak diberikan, dikhawatirkan terdapat jenis obat yang tidak bisa dikonsumsi kembali.
3. Obat sirup. Boleh diberikan, misalnya obat penurun panas, batuk, pilek, dan lain-lain.
4. Puyer, seperti obat kejang atau obat emergency lainnya, bisa diberikan asalkan kondisi obat tidak berubah, baik warna atau tekstur (menggumpal/tidak). Serta, berat badan atau usia bayi tidak jauh berbeda saat obat tersebut diberikan.

Obat sirup dapat tahan berapa lama setelah kemasannya dibuka?


Sebenarnya tidak ada waktu yang pasti. Moms sebaiknya mengecek kembali kondisi dan tanggal kadaluwarsa obat.


Obat yang sudah dibuka segelnya tentu berbeda daya simpannya dibandingkan dengan yang masih utuh, dan tanggal kadaluarsa obat di kemasan tidak dapat dijadikan patokan setelah obat dibuka.

Obat khususnya yang berupa cair atau setengah cair (krim, salep) apabila telah dibuka memiliki risiko tercemar oleh bakteri/jamur dari udara bebas, meskipun umumnya jenis sediaan/obat seperti ini memiliki pengawet dalam kadar minimum yang aman namun cukup untuk menghambat pertumbuhan mikroba. Akan tetapi, kemampuan ini akan menurun akibat semakin banyaknya paparan dari mikroba.


Khusus untuk obat tetes mata, daya simpannya maksimal adalah 45-60 hari sejak segel dibuka (apabila tidak ada pernyataan lain). Sedangkan obat seperti betadine ataupun obat batuk cair, apabila sudah terlalu lama disimpan sebaiknya pada saat akan menggunakan diperiksa dahulu apakah ada perubahan warna, konsistensi (misal yang tadinya kental menjadi lebih encer) atau bau yang meragukan. Apabila terjadi perubahan, sebaiknya jangan digunakan lagi. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah tempat/kondisi penyimpanan obatnya, sebaiknya sesuai dengan yang tertera di label obat (misal. simpan di tempat yang kering dengan suhu tidak lebih dari 30 C, atau yang lainnya).


Berikut beberapa pendapat dari beberapa orang mengenai masa kadaluarsa obat yang sudah terbuka


Referensi 1

lbah baik bli yg baru, jngka wktu yg dgunakan biasa ny hany 2mgg, bila anda ingin meliat bndingkn antra obat ;lama dg obt bbaru pr4ubahan wrna psti tjd,kekentalann nya pun jg dah brubah. so prlu nati2 dlam pmberian obat bt anak aplg obat yg sdah lama dbuka.

Referensi 2

Anda akan menjadi ibu yang bijak jika tidak meminumkan syrup tersebut. Info: Sirup dalam bentuk cair masih dapat digunakan kurang dari 7 hari, itupun dalam penyimpanan dengan suhu yang sesuai (lemari es), tidak terpapar sinar matahari langsung. Semoga bermanfaat. Terima kasih

Referensi 3

Maksimum 3 bulan, kalau sdh lebih dari 3 bulan, walaupun msih tersisa banyak harap dibuang (terlebih lagi obat untuk anak2, bisa berbahaya, bahkan mengakibatkan efek keracunan), dan beli lagi yang baru, sedangkan expired date berlaku hanya untuk obat yang masih belum dibuka segelnya


Masa penyimpanan  semua jenis obat mempunyai batas waktu, karena lambat laun obat akan terurai secara kimiawi akibat pengaruh cahaya, udara dan suhu. Akhirnya khasiat obat akan berkurang. Tanda2 kerusakan obat kadangkala tampak dengan jelas, misalnya bila larutan bening menjadi keruh dan bila warna suatu krim berubah tidak seperti awalnya ataupun berjamur. 


Akan tetapi dalam proses rusaknya obat tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Bentuk dan baunya obat tidak berubah, namun kadar zat aktifnya sudah banyak berkurang, atau terurai dengan membentuk zat-zat beracun. berkurangnya zat aktif hanya dapat ditetapkan dengan analisa di laboratorium. Menurut aturan nternasional, kadar obat aktif dalam suatu sediaan diperbolehkan menurun sampai maksimal 10%, lebih dari 10% dianggap terlalu banyak dan obat harus dibuang.


Aturan penyimpanan

Guna memperlambat penguraian, maka semua obat sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk dalam wadah asli dan terlindung dari lembab dan cahaya. Dan hendaknya di suatu tempat yang tidak bisa dicapai oleh anak2, agar jangan dikira sebagai permen berhubung bentuk dan warnanya kerapkali sangat menarik. Obat-obat tertentu harus disimpan di lemari es dan persyaratan ini selalu dicantumkan pada bungkusbya, mis. insulin.


Lama penyimpanan obat

Masa penyimpanan obat tergantung dari kandungan dan cara menyimpannya. Obat yang mengandung cairan paling cepat terurainya, karena bakteri dan jamur dapat tumbuh baik di lingkungan lembab. Maka itu terutama obat tetes mata,  kuping dan hidung, larutan, sirup dan salep yang mengandung air/krim sangat terbatas jangka waktu kadaluwarsanya. Pada obat-obat biasanya ada kandungan zat pengawet, yang dapat merintangi pertumbuhan kuman dan jamur. Akan tetapi bila wadah sudah dibuka, maka zat pengawetpun tidak dapat menghindarkan rusaknya obat secara keseluruhan. 

Apalagi bila wadah sering dibuka-tutup. mis. dengan tetes mata, atau mungkin bersentuhan dengan bagian tubuh yang sakit, mis. pipet tetes mata, hidung atau telinga. Oleh karena itu obat hendaknya diperlakukan dengan hati-hati, yaitu setelah digunakan, wadah obat perlu ditutup kembali dengan baik, juga membersihkan pipet/sendok ukur dan mengeringkannya. Di negara2 maju pada setiap kemasan obat harus tercantum bagaimana cara menyimpan obat dan tanggal kadaluwarsanya, diharapkan bahwa di kemudian hari persyaratan ini juga akan dijalankan di Indonesia secara menyeluruh. 


Akan tetapi, bila kemasan aslinya sudah dibuka, maka tanggal kadaluwarsa tsb tidak berlaku lagi. Dalam daftar di bawah ini diberikan ringkasan dari jangka waktu penyimpanan dari sejumlah obat, bila kemasannya sudah dibuka. Angka2 ini hanya merupakan pedoman saja, dan hanya berlaku bila obat disimpan menurut petunjuk2 yang tertera dalam aturan pakai




Jangka waktu penyimpanan                                       
tab/kap
3 tahun
salep mata
6 bulan
salep/pasta (tube)
serbuk/tabor
pil
krim/gel (tube)
larutan tetesan
suspensi
3 tahun
1 tahun
1 tahun
6 bulan
6 bulan
6 bulan
salep/pasta
pot cairan untuk kulit
tet .telinga 
tet/sempr.hidung
krem (pot)
 tet/bilasan mata        
6 bulan
6 bulan
6 bulan
3 bulan
3 bulan
1 bulan


Mencegah Keracunan Obat Pada Anak


Paling tidak sekitar 165 anak di AS harus dirawat di ICU setiap harinya karena masalah obat. lebih dari 60.000 balita per tahun tercatat mengalami gangguan akibat kesalahan pengobatan atau overdosis obat. dalam 25 tahun terakhir, angka kematian akibat keracunan obat pada anak usia 14 tahun ke bawah di AW telah mengalami penurunan. tetapi pada periode waktu yang sama, angka kematian keracunan kecelakaan obat melonjak hampir 2 kali, dari 36% pada 1979 jadi sekitar 64% pada 2006.


Peningkatan angka kecelakaan keracunan obat ini ditengarai akibat makin banyaknya jenis obat yang tersedia di rumah, dari obat resep, obat bebas, vitamin, herbal, dan suplemen makanan, sehingga anak-anak rentan mengalami masalah akibat menelan salah satu produk tersebut.


Bukan hanya akibat kemudahan atau seringnya anak melihat wadah obat dalam lingkungan rumah, gaya hidup yang menuntut kecepatan juga turut andil menyebabkan masalah. anggota keluarga yang bekerja diburu waktu bisa jadi lupa meletakkan obat dengan benar, jauh dari jangkauan anak. orang tua bisa lupa meletakkan botol obatnya dalam tas. para remaja meninggalkan obat dalam laci yang bisa terjangkau tangan si kecil yang selalu penasaran dengan hal baru.


The Safe Kids melaporkan bahwa sekitar 95% masalah overdosis obat pada anak disebabkan karena kurangnya pengawasan orang tua atau pengasuh anak, seperti yang dijelaskan dalam paragraf di atas. 5% sisanya akibat salah pemberian dosis. jadi kunci keamanan yang perlu diperhatikan di sini adalah penyimpanan yang aman dan pendosisan yang aman.


Obat apa saja yang tercatat sering dikonsumsi anak secara tidak sengaja? pada 2010, tercatat obat penghilang rasa sakit, bisa obat resep atau pun obat bebas. golongan obat ini tercatat menimbulkan 30% keracunan fatal pada balita. di urutan berikutnya adalah obat alergi dan sedatif, seperti obat tidur atau antidepresan, yang menyebabkan 17% keracunan fatal pada balita.


Berikut tips keamanan untuk mencegah masalah anak akibat obat dari program pendidikan CDC's "Up and Away and Out of Sight":


1. Simpan obat di tempat yang aman dan terlindung dari pandangan dan jangkauan anak (termasuk jika dosis obat berikutnya akan diberikan pada beberapa waktu ke depan).

2. Jangan menyebut obat sebagai permen.
3. Meminta tamu dan pengasuh untuk menyimpan jaket, dompet, atau tas yang menyimpan obat di dalamnya jauh dari pandangan anak saat datang ke rumah.
4. Tutup rapat penutup botol child-resistant setiap kali selesai digunakan dan simpan di tempat yang tidak terjangkau anak.
5. Jangan gunakan sendok makan untuk menakar obat karena sendok makan tidak akurat. gunakan penakar yang disediakan dalam wadah obat.
6. Orang dewasa hendaknya menghindari penggunaan obat di depan anak karena anak bisa meniru perilaku tersebut.

Sumber :

http://lifestyle.okezone.com
http://www.informasi-obat.com
http://forum.kompas.com
http://masasiyah.blogspot.com