Tuesday, November 4, 2014

What is Easy?


Ibarat sebuah pegas yang akan bekerja setelah ditekan.

Terkadang kita memang "membutuhkan" suatu tekanan agar organ-organ tubuh kita dapat bekerja.
Dengan adanya tekanan kita akan merasa kepepet. Dengan kepepet kita akan tebal muka sehingga tidak ada waktu lagi untuk malu. Insting akan bekerja, semua yang dipelajari di masa lalu otomatis terpanggil. Dan kita akan menjadi hebat di saat mepet.

Karena orang yang dituntun mimpi sanggup berjalan meski tidur. Maka, segala kelemahan kan hilang pilihan 'what is right' akan tertutupi dengan 'what is easy'.

“Perasaan terdesak” atau “kepepet” akan menggebuk seseorang untuk sungguh-sungguh “fight” dalam merealisir usahanya.

Dalam kondisi ketika dihadapkan pada pilihan “hidup” atau “mati” itulah talenta terbaik seseorang biasanya menerobos keluar.

Perubahan kadang-kadang harus dilakukan dengan segera, karena terdesak oleh sesuatu. Semua orang hebat disekitar kita selalu keluar kualitas utamanya karena terdesak atau karena kepepet.

Orang-orang yang hidupnya santai selalu lamban kemajuan kehidupannya.

Sastrawan Pramudya Ananta Toer melahirkan karya-karya monumentalnya sewaktu ia berada di sebuah penjara, di pulau Buru sana. Sementara itu Chairil Anwar menelorkan puisi-puisinya dalam situasi hidup yang bokek dan sakit-sakitan.

Bayangkanlah sekarang suatu kondisi ektrem lain. Misalnya mendadak hari ini anda dipecat dari pekerjaan anda yang nyaman dan bergaji besar. Pastilah kalau anda masih manusia normal, pada awalnya anda sempoyongan berat. Tapi sesudah itu anda dihadapkan pada pilihan sederhana : menyerah kalah begitu saja atau mulai mencoba bangun mencari jalan keluar dari mimpi buruk itu.

Ada banyak cerita sukses orang-orang yang berhasil keluar dari situasi chaos itu. Sukses itu mungkin malah tidak akan pernah mereka raih kalau saja mereka tetap berada dalam zona nyaman pekerjaan lama mereka.