Sunday, December 21, 2014

Exodus Gods and Kings

Baru kali nonton film bertema perjuangan dan untuk menontonya pun perlu perjuangan. Dimulai saat sabtu malam, tanggal 13 Desember 2014, aku berencana nonton di NSC (New Star Cineplex), Lippo Plaza Sidoarjo.

Jadwal pertunjukan yang mau aku tonton adalah pukul 20.00 malam, karena jarak dari rumah ke Lippo Plaza Sidoarjo hanya 2 km, maka aku berangkat pukul 19.45, semestinya jika lancar hanya 5 menit saja sudah sampai.

Namun ternyata diluar dugaan, macet parah.


Pukul 20.10 baru sampai jalan depan Lippo Plaza Sidoarjo, dan sialnya ternyata tidak dibolehkan belok kanan masuk ke mal Lippo Plaza. Hal ini dikarenakan untuk mengurai kemacetan yang melanda di Sidoarjo, mulai dari jalan Pahlawan, crossing pintu keluar jalan tol sampai ke daerah Cemengkalang.

Praktis karena tidak boleh belok kanan, maka aku harus mencari putar balik. Namun hingga sampai pukul 21.00 tidak bisa putar balik karena masih belum ketemu dengan ekor kemacetan.

Akhirnya dengan menyesal aku hampir memutar kota Sidoarjo hanya untuk pulang ke rumah. Jadi praktis malam itu aku pergi untuk kembali.


Finally, hari Minggu tanggal 21 Desember 2014, kesampaian juga aku dapat melihat film Exodus Gods and Kings, di bioskop NSC (New Star Cineplex) Sidoarjo, letaknya di Lippo Plaza Sidoarjo.

Film Exodus Gods and Kings menceritakan kisah nabi Musa (Moses) yang hampir terbunuh pada saat bayi dan namun saat dihanyutkan di sungai Nil lalu ditemukan dan diadopsi oleh keluarga kerajaan Mesir.

Pada awalnya, Musa dan Firaun (Ramses) bersahabat baik hingga dewasa. Musa yang merasa setelah 400 tahun masa perbudakan semakin memburuk dan terpikir untuk menghentikan hal tersebut. Sayangnya Firaun menolak dan mengakibatkan mereka yang dulunya berteman menjadi berseberangan. Akhirnya Musa memimpin 400 ribu budak dalam perjalanan monumental untuk melarikan diri dari Mesir.

Meski begitu, Firaun yang kejam tak merelakan kebebasan para budaknya. Secepatnya Firaun mengirim pasukan untuk melawan Moses. Dalam perang itu, lautan dipenuhi dengan darah dan mayat prajurit dan budak sekaligus terjadi berbagai bencana alam. Namun Moses tetap yakin dengan perjuangannya karena mendapat dukungan dari Tuhan

Film ini unggul dalam kekayaan visual effects, seperti tata kota yang dihiasi oleh patung-patung Firaun, Piramida hingga istana megah Ramses, visualisasi luar biasa mengenai tulah (hukuman Tuhan) untuk Mesir. Mulai dari
1. Air menjadi darah,
2. Kodok,
3. Lalat,
4. Penyakit ternak,
5. Penyakit cacar air / bisul,
6. Hujan batu,
7. Belalang,
8. Kegelapan
9. Kematian anak sulung di seluruh penjuru Mesir.

Film Exodus ini sendiri menghabiskan biaya produksi sebesar USD 140 Juta atau sekitar Rp. 1.7 Triliun. Dengan biaya fantastis tersebut memang tak heran scene demi scene terlihat megah dan mewah.

Dan scene terbaik adalah menyatunya kembali laut Merah setelah sebelumnya terbelah untuk melancarkan perjalanan bangsa Israel.

Mengangkat sebuah kisah biopik yang diketahui oleh semua orang memang bukan hal yang mudah. Apalagi kisah yang diangkat merupakan kisah seorang Nabi yang hampir ada di tiap kitab suci agama-agama besar dunia.

Karena bagaiamanapun akan dilakukan perbandingan dengan kisah sebenarnya. Ini menjadi satu alasan mengapa film sejenis berjudul Noah yang gagal lulus sensor di Bioskop Indonesia beberapa bulan lalu.