Saturday, March 16, 2013

Wahyudin, Mahasiswa Pemulung


Rumah sederhana yang berada di Kampung Kalimanggis, Gang Lame, No 16 RT 01/04, Kelurahan Jatikarya, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi ini merupakan  rumah Wahyudin yang digunakan untuk menumpuk kardus, plastik, dan besi yang sudah dikumpulkan beberapa hari dan siap dijual kepada para pengepul barang bekas.

Wahyudin merupakan sosok yang dapat menginspirasi bagi keluarga tidak mampu lain. Meski dengan berbagai keterbatasan biaya, karena motivasi belajar yang sangat tinggi, membawanya giat dan tekun bekerja. Meskipun hanya menjadi seorang pemulung yang memungut sampah dari rumah ke rumah warga di sekitar tempat tinggalnya. 

Wahyudin memaklumi, karena ayahnya hanya seorang tukang ojek dan kuli serabutan. Ditambah lagi, ayahnya adalah penganut poligami.
Wahyu dilahirkan dari istri kedua ayahnya bernama Fatmawati (40), sehingga penghasilan ayahnya pun harus dibagi-bagi untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kehidupan yang sangat sederhana hampir semua saudara yang berjumlah delapan orang, nyaris tidak bisa merasakan kursi sekolah, seperti anak-anak lain pada umumnya. Kehidupan inilah kemudian dijadikan cermin baginya. Semua saudaranya hampir putus sekolah.

Melihat cermin kehidupan keluarganya itu, tidak lekas menjadinya pasrah dengan keadaan. Sebaliknya cermin itu dijadikan cambuk untuk membuka pikiran dan wawasannya. Dia pun berpikir bagaimana caranya agar tidak mengalami hal seperti saudaranya yang telah putus sekolah.

Dengan tekad untuk belajar tinggi, segala upaya coba dilakukan meski ketika itu usianya masih 10 tahun atau kelas 4 sekolah dasar.

Adalah Bi Ani (60), seorang pemulung yang juga tetangganya ikut menuntun jalannya menggapai cita-cita. Wanita tua itulah yang mau mengajak dan mengajari memungut sampah dari rumah ke rumah demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk biaya sekolah.Berprofesi sebagai pemulung tidak membuat dia langsung menikmatinya. Cibiran, sindiran, dan hinaan sudah tak terhitung. Bahkan, nyaris menjadi cobaan baginya. Meski demikian, keadaan itu tidak membuatnya jera. Dia berkeyakinan pekerjaan yang dia tekuni halal dan tidak merugikan orang lain. “Selama yang saya jalani halal dan tidak merugikan orang lain, saya kerjakan,” katanya. 

Sejak ikut memungut sampah, Wahyu mulai berangkat memulung sekitar pukul 01.00 hingga pagi. Usai memungut sampah di pagi hari, Wahyu bersiap berangkat sekolah. Kemudian memulung itu dilanjut lagi dari pukul 22.00 hingga 02.00. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan hingga akhirnya menghasilkan uang. “Uang hasil mulung pertama saya belikan anak ayam untuk diternakkan,” jelasnya.

Dua tahun memungut sampah, dan beternak sebagian uang tabungannya untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya masuk sekolah menengah pertama (SMP) Negeri 28 Bekasi.

Meski sudah SMP aktivitas memulung pun terus dilanjutkan.
Karena kebutuhan di SMP makin meningkat, Wahyu pun juga akhirnya menjual gorengan. Gorengan dia jajakan di Jalan Alternatif Cibubur yang merupakan jalur RI 1 ke Cikeas, Bogor. Meski harus bekerja keras dengan menahan rasa malu karena profesinya itu, Wahyu terus berjuang hingga akhirnya jenjang SMA pun akhirnya diraih. Wahyu memutuskan untuk daftar di SMA 7 Bekasi.

Dia makin giat menjadi pemulung saat masa libur sekolah karena kekhawatiran tidak bisa melanjutkan kuliah. Dari hasil memulung ini, Wahyu mendapatkan penghasilan Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari untuk biaya sehari-hari hingga bisa menyisakan Rp300 ribu-Rp500 ribu per bulan.

Ketika Wahyudin lulus SMA, ada ketakutan bahwa dirinya tak bisa kuliah. Maklum, orang tuanya hanya petani penggarap lahan orang yang harus menghidupi 8 perut anak-anaknya. Apa yang lantas dilakukannya?

Wahyudin langsung tulis proposal dan merencanakan yaitu akan kuliah sambil memulung 3 tahun lagi, baru saya bisa kuliah.

Rencana masa depannya untuk kuliah ia tuangkan dalam bentuk tulisan dan gambar. Kemudian tulisan dan gambar itu dipajang di kamarnya. Dia memperhitungkan untuk mendapat biaya masuk kuliah harus mengeluarkan uang Rp 7 juta. Sementara tabungan yang ia miliki hanya Rp 2 juta.

Artinya Wahyudin harus mengumpulkan 3 truk sampah. Di situ saya gambar dan saya tulis, saya tujukan kepada Allah. Saya yakin kalau proposal saya dikabulkan oleh Allah pasti saya bisa kuliah.

Wahyu pun berikhtiar hingga akhirnya, tak sampai 3 tahun, dia bisa berkuliah tahun itu juga. Ada beberapa orang yang bersimpati kepada Wahyu sampai akhirnya bersedia membantu biaya kuliahnya.

Ada beberapa tetangga saya yang dermawan, mereka membantu saya untuk bisa kuliah. Karena kaget saya diberi bantuan saya langsung teriak-teriak ke ibu saya, "Emak, Wahyu bisa kuliah".
Sampai akhirnya ketika kuliah dia masih terus melanjutkan profesi memulung. Dia memilih kuliah di Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka) di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Wahyudin nggak kepikiran kampus mana, karena tahun ajaran kuliah sudah mau ditutup. Jadi dia pilih di Uhamka jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi karena sudah gelombang terakhir.

Hasil memulung antara Rp 30 ribu-Rp 50 ribu per hari, plus menjual gorengan cukup membantu Wahyu untuk kuliah. Ditambah, dia mendapatkan beasiswa dari kampusnya dan Disdik DKI. Ada pula kerabat yang bersimpati dan membantu biaya kuliahnya. Tak hanya biaya kuliah, Wahyu terkadang juga dikasih barang-barang seperti gadget hingga jam tangan. Tak heran, penampilan Wahyu tampak necis.

Terkadang Wahyu juga menyisihkan uangnya membantu menopang hidup keluarga. Kini, Wahyu sudah berhasil melalui sidang skripsi yang berjudul "Pengaruh Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Bekasi'. Rencananya ia akan diwisuda pada bulan Desember 2013.

Berkat kegigigihannya itu, wahyu pun bisa melanjutkan belajarnya ke Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi. Beruntung, dia mendapatkan beasiswa dari kampus dan Disdik DKI sehingga meringankan biaya kuliahnya.

Selain mendapatkan bea siswa, Wahyu juga mendapatkan bantuan dari beberapa dermawan di sekitarnya. Kala itu, orang tersebut sangat terharu ketika melihat Wahyu adalah seorang mahasiswa yang berprofesi sebagai pemulung.“Setiap hari saya buka tong sampah rumahnya, dia kaget kalau saya kuliah, kadang kalau kurang biaya ditambahin,” tambahnya.

Saat ini, Wahyu sudah sidang skripsi yang berjudul “Pengaruh Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Bekasi”.

Hidup memulung barang bekas lalu dijual untuk biaya hidup tidak membuat Wahyudin rendah diri. Dia bahkan tidak segan-segan mengaku hidupnya memang dari memulung. Tidak terkecuali, biaya sekolah dan kuliahnya saat ini.

Rencananya ia akan diwisuda pada bulan Desember 2013. Saat ini juga, dia sudah menjajaki untuk masuk ke S-2, dirinya yakin bisa. “Pengennya sih nyoba Negeri dulu,siapa tahu keterima, sudah saya jajaki sekarang,” tambahnya.

Selain kegiatan memulung dan kuliah, Wahyu juga aktif di kegiatan sosial, bahkan dia mendirikan Yayasan Sosial Remaja. Di yayasan itu, dia menjadi public relation untuk membantu warga yang sakit, kekurangan biaya, dan juga sekolah tambahan gratis bagi para pelajar di kampungnya.

Bahkan, Wahyu mengaku bakal terus memulung hingga selesai S-2. “Sekarang lagi berhenti, karena lagi libur,” tandasnya.

Saat ini nama Wahyudin menjadi tenar, terlebih saat dia juga masuk acara TV yaitu Hitam Putih di Trans7 dan juga acara infotainmet di GlobalTV.

http://youtu.be/rHi2ZWi0DcA

http://youtu.be/5gVxRkfDbJI

Sumber:
detik.com
radar-bogor.co.id