Saturday, February 23, 2013

Makan Sate Kelinci di Telaga Sarangan


Pulau di Tengah Telaga Sarangan

Telaga Sarangan disebut juga dengan Telaga Pasir yaitu konon semua berawal dari pulau yang ada di tengah telaga yang merupakan tempat tinggal leluhur sekaligus pencipta Telaga Sarangan yaitu Kyai Pasir dan Nyai pasir. Bertahun-tahun hidup berdampingan dan belum dikaruniai seorang anak sehingga Kyai dan Nyai Pasir bersemedi dan memohon kepada Sang Hyang Widhi. Kemudian singkat cerita mereka mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Joko Lelung.

Keluarga Pasir mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan bercocok tanam dan berburu. Oleh karena alasan itu mereka memutuskan kembali bersemedi memohon kesehatan dan panjang umur kepada Sang Hyang Widhi. Dalam semedi mereka menerima wasiat agar segera mencari dan memakan telur yang ada didekat ladang mereka. 


Ilustrasi Kyai Pasir menemukan telur

Saat berhasil menemukan telur itu mereka membawa pulang dan memasaknya. Lalu telur dibagi dua dan dimakan. Saat itu juga mereka merasakan panas dan gatal di seluruh tubuhnya. Mereka terus menggaruk tubuhnya karena gatal hingga menimbulkan luka lecet di seluruh tubuh mereka. Lama kelamaan keduanya berubah menjadi ular naga yang sangat besar. 

Lalu kedua ular naga tersebut berguling-guling di pasir sehingga menimbulkan cekungan yang kemudian mengeluarkan air yang sangat deras dan menggenangi cekungan yang di buat oleh ular naga tersebut. Akhirnya pasangan tersebut menyadari kemampuan yang mereka miliki, mereka berniat untuk membuat cekungan yang banyak untuk menenggelamkan Gunung Lawu. 

Ular Naga

Mengetahui kedua orang tuanya tiba-tiba berubah menjadi naga dan memiliki niat yang buruk, maka Joko Lelung bersemedi memohon agar niat kedua orang tuanya tersebut dapat digagalkan, dan semedi Joko Lelung pun diterima oleh Hyang Widhi. Saat kedua orang tuanya sedang berguling-guling membuat cekungan baru, lalu timbul wahyu kesadaran agar Kyai dan Nyai Pasir mengurungkan niat mereka untuk menenggelamkan Gunung Lawu.

Dan kini cekungan tersebut menjadi telaga alami atau danau kecil yang terletak di kaki Gunung Lawu yang disebut Telaga Pasir atau Telaga Sarangan.


Danau Sarangan atau Telaga Sarangan

Telaga Sarangan terletak di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berjarak sekitar 16 kilometer arah barat kota Magetan tepatnya di lereng Gunung Lawu (3.265m). Telaga Sarangan mempunyai luas sekitar 30 hektar dan mempunyai kedalaman 28 meter. Suhu udara sekitar Telaga Sarangan cukup sejuk yaitu antara 18 hingga 25 derajat Celsius.

Disekitar Telaga Sarangan terdapat hidangan makanan khas yang dijajakan oleh penjual di sekitar telaga tersebut, yaitu sate kelinci. Sate ini biasanya di hidangkan dengan lontong dan sambal kacang. Satu porsi sate kelinci biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 9.000. 


Sate Kelinci khas Telaga Sarangan

Untuk menikmati pemandangan di sekitar Telaga Sarangan tanpa ingin capek berjalan kaki, kita bisa menggunakan jasa kuda yang tersedia banyak di tepi Telaga Sarangan.


Kuda di tepian Telaga Sarangan

Selain dengan menggunakan kuda, kita juga bisa menikmati pemandangan elok di Telaga Sarangan menggunakan kapal boat yang membawa kita keliling-keliling berputar putar di Telaga Sarangan cukup dengan membayar Rp 40.000.


Kapal Boat di Telaga Sarangan

Atau jika kita tidak ingin naik kuda ataupun kapal boat, kita bisa menikmati pemandangan Telaga Sarangan dengan latar Gunung Lawu dari tepian saja sudah cukup untuk melepas penat dan lelah setelah berhari-hari bekerja.





Dan akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Selain sudah sore kabut dari puncak gunung sudah mulai turun menyelimuti jalanan, jadi kita akhiri perjalanan wisata seru di Telaga Sarangan. Hati-hati karena jalan menuruni gunung yang curam berkelok-kelok dan cenderung licin.