Thursday, March 5, 2015

Karantina Karena Cacar Air

Penyakit cacar sebenarnya merupakan penyakit yang sudah tidak asing bagi keluargaku. Riwayat kesehatan menyebutkan bahwa Ibuku pernah mengalami sakit cacar. Istriku pernah kena cacar saat usia 12 tahun.

Sedangkan aku sendiri terkena penyakit cacar saat usia 24 tahun. Atau tepatnya umur 25 tahun kurang sekian hari. Sehingga ada beberapa teman yang menjenguk sekaligus memberi kado ulang tahun.

Dan parahnya 10 hari kemudian aku melangsungkan acara pernikahan. Sehingga perlu make over yang profesional agar bekas cacar di wajah tidak terlihat.


Setelah 8 tahun kemudian, penyakit cacar melanda anakku yang kedua. Dikarenakan 1 minggu lagi anakku yang pertama akan menghadapi UTS (Ujian Tengah Semester) kelas 1 SD. Sehingga mau tidak mau aku terpaksa mengkarantina anakku yang terkena cacar ke rumah neneknya di Surabaya.

Karena penyakit cacar yang notabene disebabkan oleh virus tentunya mudah sekali menular. Dilangsir dari parenting.co.id, berikut adalah cara penyebaran penyakit cacar air diantaranya dari :
  1. Lepuhan dari bekas bintik cacar air
  2. Air liur penderita

Dan masih dari parenting.co.id berikut adalah cara mencegah penyakit cacar air
  1. Pastikan selalu mencuci tangan 
  2. Jangan sampai bertukar gelas atau piranti
  3. Pantaulah agar langsung membuang tisu bekas pakai. 
  4. Jangan biarkan anak tidur sekamar dengan seseorang yang tidak kebal tubuhnya.
  5. Minimalkan jumlah ‘ruang udara’ (pengontrolan infeksi).

Lalu bagaimana cara pengobatan jika anda telah terpapar oleh virus cacar air? Dari laman situs liputan6.com, disebutkan bahwa bagi Anda yang mengalami cacar air namun masih berada pada kondisi yang sehat, Anda mungkin tidak memerlukan perawatan medis. Cukup dengan minum antihistamin untuk mengurangi rasa gatal.

Namun, beberapa orang juga perlu melakukan pengobatan untuk mengatasi penyakit ini. Bila Anda termasuk dalam kelompok yang berisiko tinggi akan penyakit ini, dokter akan memberikan obat antivirus, seperti asiklovir (Zovirax) atau obat lain yang disebut dengan istilah kekebalan globulin intravenous (IGIV). Obat antivirus tersebut bisa memperpendek masa sakit Anda

Tapi dokter yang memeriksa anakku punya pendekatan yang lain, beliau bilang cacar air yang melanda anak-anak umumnya tidak perlu dikhawatirkan karena efeknya tidak akan terlalu membahayakan dibandingkan jika diderita oleh orang dewasa. Pak Arya, nama dokter tersebut, mengatakan bahwa kita tidak akan terlalu fokus pada penyembuhan penyakit cacar air, untuk itu dalam resep obat tidak diberi antivirus. Tapi dokter menyarankan agar lebih fokus pada pencegahan agar luka yang timbul tidak memberkas, sehingga obat yang diberikan hanyalah Vitamin sebagai penguat kekebalan tubuh, salep untuk mempercepat pengeringan bintik-bintik dan sabun antiseptic.

Selain itu, dokter Arya menyarankan agar anak harus dijaga kebersihannya. Anak harus tetap mandi 2 x setiap hari dengan air bersih atau dapat ditambahkan dengan desinfeksi pada air mandinya. Dan menyuruh agar kuku anakku harus dipotong selain sebisa mungkin dijaga agar anak tidak menggaruk, dan jikapun digaruk maka diharapkan vesikel-vesikel tersebut agar tidak meninggalkan bekas.

Dan berkat vaksinasi untuk penyakit cacar air yang sudah diberikan sebelumnya sehingga meski tidak berhasil mencegah anak agar tidak terinfeksi penyakit cacar air, tapi setidak-tidaknya gejalanya menjadi sangat ringan, itu terlihat anakku tidak didahului dengan demam dan keluhan lainnya.

Sumber
http://www.parenting.co.id/article/balita/cegah.penularan.cacar.air/001/003/776
http://health.liputan6.com/read/640616/cacar-air-penyakit-ringan-yang-tidak-bisa-diremehkan
http://www.tempo.co/infosehat/info/read/2014/03/28/248566599/Cacar-Air-Agar-Tak-Lebih-Parah
http://www.anaksehat.org/artikel-kesehatan-anak/artikel-kesehatan-anak-1.html