Wednesday, May 20, 2015

Unfair?


Pernah merasa bahwa dunia ini tidak fair? Atau berpikir mengapa Tuhan tidak adil?

Yaitu kondisi semisal saat kita merasa sudah belajar semaksimal mungkin untuk melanjutkan pendidikan di Universitas tapi gagal sedangkan teman seangkatannya yang terlihat santai justru lolos test?

Yaitu kondisi semisal saat para sarjana dengan IPK tinggi tetapi masih menganggur atau gajinya lebih kecil di banding temannya yang IPK lebih rendah.

Yaitu kondisi semisal hobinya main tapi bisa lebih sukses.

Pertanyaan tentang keadilan Allah akan muncul hanya saat dalam kondisi ketidaknyamanan muncul, hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia itu egois, sehingga tidak sabar dan tidak sadar bahwa kondisi tersebut merupakan ujian dari Tuhan.

Kondisi diatas karena kita terlalu sering melihat hal buruk yang bernasib baik.

Tapi pernakah kalian melihat hal baik yang juga bernasib baik. Bagaimana orang tersebut bekerja keras dan tidak berhenti untuk istirahat meskipun dia berhak.

Banyak entrepreneur atau pebisnis yang sukses yang mempunyai prinsip seperti diatas yaitu bekerja keras dan tidak berhenti untuk istirahat meskipun dia berhak. Seperti artikel dibawah ini yang disadur dari ciputraentrepreneurship.com


Chairul Tanjung, Pebisnis Yang Kedepankan Prinsip Kerja Keras, Cerdas, dan Ikhlas

Chairul Tanjung atau yang kerap disapa CT, selalu memegang tiga kunci untuk meraih sukses: kerja keras, kerja cerdas, dan ikhlas. “Tiga kunci itu akan menghasilkan kerja yang baik,” kata CT beberapa waktu lalu, kepada Inilah.

Bagi CT, sukses tidak ujug-ujug datang, tapi dia harus melalui sebuah proses. Dan, kesadaran itu tidak ada proses instan. “Saya sering bercanda, istilahnya itu, kita kebanyakan makan mi instan sehingga segala sesuatu mau instan,” katanya.

Ia selalu menekankan untuk terus mensyukuri segala sesuatu yang diperoleh pada hari itu. Dengan bersyukur, katanya, nikmat berusaha akan bertambah. “Jangan pernah ngedumel, syukuri. Kalau kita bersyukur, tambah nikmatnya. Alhamdulillah, begitu terus-menerus. Jangan pernah berburuk sangka sama Tuhan. Tuhan kasih waktu sesuai porsinya,” ujar CT.

CT memang membangun bisnis dari bawah. Saat kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia tahun 1981—karena kesulitan keuangan—ia mencoba peruntungan dengan menjual buku kuliah stensilan, kaos, dan apa saja di kawasan Senen Raya, Jakarta Pusat.

Lepas dari sini, ia membuka usaha kontraktor, tapi kurang berhasil. Ia kemudian bekerja di perusahaan baja, tapi tak lama karena pindah ke perusahaan rotan. Saat bekerja di perusahaan inilah, CT bertemu dengan tiga orang temannya. Berempat mereka sepakat mendirikan PT Pariarti Shindutama.

Perusahaan ini bergerak di bidang produksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Kali ini, usahanya memperoleh untung besar, karena mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu anak-anak dari Italia.

Lalu CT memutuskan untuk berkarya sendiri. Ia mengarahkan usahanya pada tiga bisnis inti, yakni keuangan, properti, dan multimedia.

Dari sinilah bisnisnya sedikit demi sedikit berkembang sampai akhirnya menjadi besar dengan puluhan perusahaan di bawah naungan CT Corp.

Dari sini pula majalah Forbes saban tahun memasukkan nama CT dalam 40 orang terkaya di Indonesia. Tahun 2012 lalu, Forbes menghitung kekayaan CT sudah sebesar U$ 3,4 miliar atau sekitar Rp 32,3 triliun.

Kekayaan CT itu melesat dibandingkan kekayaannya di tahun 2011 sebesar US$ 2,1 miliar. Dengan tambahan kekayaan sekitar US$ 1,3 miliar dalam setahun, posisi CT dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia naik dari 11 di tahun 2011 menjadi nomor 5 pada 2012.

Menurut Forbes, pria yang lahir di Jakarta pada 16 Juni 1962 ini mendapatkan kekayaannya dari media holding, yakni Trans TV dan Trans 7 serta kepemilikan di Bank Mega.


Sumber :
http://www.ciputraentrepreneurship.com/media/chairul-tanjung-kedepankan-kerja-keras-kerja-cerdas-dan-ikhlas

Ketika kerja keras kita tidak dihargai,
maka saat itu kita sedang belajar tentang Ketulusan.
Ketika usaha dan kerja keras kita dinilai tidak penting,
maka saat itu kita sedang belajar Keikhlasan.