Tanggal 15 September saat pertama kali mendapatkan info bahwa akan diadakan Pameran Tunggal lukisan karya SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), Presiden ke-6 Republik Indonesia, di Surabaya tepatnya di Voza Tower lantai 25, langsung saja aku menuju website yang disediakan untuk melakukan pendaftaran.
Sebelumnya, diawal tahun 2026, lukisan Presiden ke-6 RI laku dilelang hingga Rp6,5 miliar dalam perayaan imlek Partai Demokrat yang dibeli oleh oleh salah satu orang terkaya di Indonesia, yaitu oleh konglomerat Low Tuck Kwong, dalam lelang yang bertajuk "Harmoni Nusantara: Bersama Kita Kuat - Bersatu Dalam Harapan Indonesia" di Djakarta Theatre, Jakarta Pusat.
Oleh karena itu, saat ada pameran lukisan beliau di Surabaya tentunya ini merupakan hal yang langka dan sayang jika dilewatkan. Kali ini pameran lukisan mengangkat tema “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya.”
Dari tempat yang tinggi, suasana malam Surabaya terlihat berbeda. Lampu-lampu kota membentuk titik-titik cahaya yang tersebar di kejauhan. Dan menariknya, pengalaman melihat cahaya dari ketinggian itu seolah menjadi pengantar yang tepat sebelum memasuki ruang pameran.
Lukisan dan cahaya. Dua hal yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan manusia. Sebuah lukisan tidak hanya berbicara tentang apa yang digambar. Ada warna, komposisi, ruang, bayangan, dan tentu saja cahaya.
Cahaya dapat membuat sebuah objek terlihat berbeda. Sebuah pohon yang sama bisa terlihat tenang ketika diterpa cahaya pagi, romantis ketika terkena cahaya sore, dan misterius ketika hanya diterangi cahaya bulan.
Karena itu, ketika melihat karya-karya dalam pameran ini, perhatian saya tidak hanya tertuju pada objek yang dilukiskan, tetapi juga pada bagaimana cahaya digunakan untuk memberikan kehidupan kepada objek tersebut.
Ada sesuatu yang menarik dari cahaya. Dia tidak selalu menjadi objek utama. Tetapi tanpa cahaya, kita mungkin tidak akan mampu melihat objek lainnya. Dan mungkin di situlah letak pesonanya. Cahaya tidak harus menjadi pusat perhatian untuk memberikan pengaruh. Cahaya cukup hadir, lalu membuat sesuatu yang sebelumnya biasa menjadi terlihat berbeda.
Berjalan dari satu lukisan ke lukisan lainnya memberikan pengalaman yang berbeda-beda. Ada karya yang terasa tenang, ada yang terasa luas, ada pula yang membuat mata berhenti lebih lama untuk memperhatikan detail warna dan permainan cahaya.
Namun bagi saya, pengalaman terbesar dari sebuah pameran lukisan bukan hanya tentang apakah kita memahami apa yang ingin disampaikan pelukis. Terkadang, yang lebih penting adalah, apa yang kita rasakan setelah melihatnya?
Setiap orang mungkin melihat lukisan yang sama, tetapi menangkap pesan yang berbeda. Satu orang mungkin melihat pemandangan. Orang lain melihat warna. Yang lain memperhatikan teknik. Sementara seseorang mungkin justru menemukan kenangan pribadinya sendiri di dalam sebuah lukisan. Itulah menariknya seni.
Sebuah karya bisa selesai ketika pelukis meletakkan kuasnya, tetapi maknanya belum tentu selesai ketika orang lain melihatnya. Dan malam itu, di lantai 25 Voza Tower, saya kembali diingatkan bahwa cahaya bukan hanya sesuatu yang menerangi.
Cahaya juga membuat kita mampu melihat. Melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat. Melihat keindahan dari sudut yang berbeda. Bahkan terkadang, melihat kembali sesuatu yang sebenarnya sudah lama ada di depan mata. Mungkin itulah yang membuat tema “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya” terasa menarik.
Karena dalam kehidupan pun kita membutuhkan cahaya. Tidak selalu berupa cahaya yang besar. Kadang cukup sebuah ide. Sebuah buku. Sebuah percakapan. Sebuah karya seni. Atau sebuah pengalaman sederhana pada Minggu malam.
Sesuatu yang membuat kita berhenti sejenak dari rutinitas, kemudian melihat kehidupan dari sudut yang sedikit berbeda. Malam itu saya datang untuk melihat lukisan. Tetapi pulang membawa satu pemikiran:
Tidak semua cahaya harus menyilaukan.
Ada cahaya yang justru indah karena membuat kita mampu melihat sesuatu dengan lebih jelas.
Dan mungkin, seperti halnya sebuah lukisan, kehidupan juga membutuhkan cahaya dan bayangan. Karena tanpa bayangan, kita mungkin tidak akan pernah benar-benar memahami arti cahaya.


















