Friday, March 27, 2026

Petuah dari Sopir Taksi Online (lagi)

Tidak terasa, sudah hampir 1 tahun, yaitu bulan Mei 2025 saat survey mencari kost untuk anak. Meski jarak antara Surabaya ke Bandung cukup jauh, yaitu sekitar 700 km, namun ini Bukan Hanya Tentang Jarak, ini merupakan sebuah perjalanan.

Kali ini bulan Maret 2026 menuju kampus ITB Jatinangor adalah untuk menengok anak yang sedang menempuh pendidikannya di sana. Tidak ada agenda besar, hanya ingin main dan liburan, karena libur lebaran anak sekolah dan kuliah tahun ini cukup pendek, sehingga kami sebagai orang tua yang mengalah pergi kesana.

Sekaligus memberi semangat bahwa dunia barunya tidak terlalu keras untuknya.

Namun seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, selalu ada cerita yang lebih dari sekadar tujuan.

Suasana kampus di Jatinangor terasa berbeda. Lebih tenang, lebih terbuka, seolah memberi ruang bagi mahasiswa untuk benar-benar “tumbuh”. Sehingga cocok bagi anak muda, yang bukan lagi sebagai anak kecil yang sering bergantung pada orang tua, tapi sudah menjadi individu yang sedang belajar berdiri di atas kakinya sendiri.

Perantauan memang seperti itu. Ia memisahkan secara fisik, tapi justru mendekatkan secara makna. Di tempat seperti inilah, seorang anak mulai belajar, mengatur hidupnya sendiri menghadapi masalah tanpa orang tua di sampingnya, dan memahami arti tanggung jawab.

Dari Jatinangor, perjalanan berlanjut menuju kampus Institut Teknologi Bandung kampus Ganesha. Berbeda dengan Jatinangor, suasana di sini terasa lebih padat, lebih hidup, dengan sejarah panjang yang seolah terasa di setiap sudutnya, seperti Merajut Langkah, Menyulam Makna.

Gedung-gedung tua berdiri kokoh, membawa cerita tentang generasi demi generasi yang pernah belajar, jatuh, bangkit, dan akhirnya menemukan jalannya masing-masing. Di sini, kita tidak hanya melihat kampus, tapi juga melihat perjalanan waktu.

Dalam perjalanan menuju Ganesha, saya kembali bertemu dengan sopir taksi online. Seperti sebelumnya dimana kami mendapatkan Petuah dari Sopir Taksi Online, obrolan ringan berubah menjadi percakapan yang lebih dalam.

Ia bertanya, “Habis dari mana, Pak?”

Saya menjawab, “Dari Jatinangor, nengok anak kuliah.”

Ia mengangguk pelan, seolah mengerti.

“Berat ya, Pak… punya anak merantau.”

Saya tersenyum. “Iya, tapi memang harus begitu.”

Sopir itu kemudian bercerita.

Ia juga pernah merantau. Tidak untuk kuliah, tapi untuk bekerja. Jauh dari orang tua, hidup dengan segala keterbatasan.

“Perantauan itu bukan cuma soal tempat, Pak,” katanya.
“Ini soal mental.”

Menurutnya, mahasiswa yang merantau sedang berada di fase paling penting dalam hidupnya. Bukan hanya belajar teori, tapi belajar hidup.

“Kadang yang bikin kuat bukan ilmunya, tapi karena tidak punya pilihan selain bertahan.”

Kalimat itu terasa sederhana, tapi sangat nyata.

Saya kemudian bertanya, “Menurut Bapak, orang tua harus bagaimana?”

Ia menjawab tanpa ragu:

“Support saja, Pak. Tapi jangan terlalu menekan.”

Ia melanjutkan,
“Anak yang merantau itu sudah berjuang. Kadang mereka tidak cerita, bukan karena tidak mau, tapi karena tidak ingin bikin orang tua khawatir.”

Di situ saya terdiam.

Sering kali, orang tua ingin yang terbaik, tapi lupa bahwa setiap anak punya caranya sendiri untuk bertumbuh.

Dalam perantauan, mahasiswa berada di tengah dua dunia, harapan dari orang tua, realita yang harus mereka hadapi sendiri. Tidak semua hari mudah. Tidak semua langkah pasti.

Namun justru di situlah mereka ditempa. Seperti besi yang dipanaskan, perantauan membentuk karakter yang tidak bisa didapat di tempat yang nyaman.

Dan akhirnya perjalanan sementara berakhir di Dago Asri 3, sebelum nanti malam melanjutkan kembali ke Surabaya dengan menggunakan kereta api Harina.
Blogger Tricks

Thursday, March 26, 2026

Petuah dari Sopir Taksi Online di Bandung

Pagi itu, bahkan subuh saja masih belum, suasana Stasiun Bandung masih dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang datang dan pergi. Kami baru saja turun dari kereta Harina. Lalu sambil menunggu waktu sholat subuh kami jalan menuju Masjid Al Jabbar.

Perjalanan yang awalnya saya kira biasa saja, justru berubah menjadi pelajaran hidup yang tidak terduga. Mobil taksi online yang saya tumpangi melaju perlahan meninggalkan stasiun. Sopirnya ramah, tidak banyak bicara di awal, seperti kebanyakan pengemudi lainnya.

Namun, obrolan ringan mulai mengalir.

“Ke Al Jabbar, Pak?” tanyanya memastikan.

Saya mengangguk.

Beberapa menit kemudian, percakapan mulai masuk ke hal-hal yang lebih personal, pekerjaan, rutinitas, dan kehidupan sehari-hari.

Di situlah saya mulai sadar, pria di balik kemudi ini bukan sekadar sopir.

“Ini sambilan saja, Pak,” katanya santai.

Ternyata, pekerjaan utamanya adalah sebagai marketing in-house untuk sebuah vila di daerah Bandung. Mengemudi taksi online bukan hanya untuk menambah penghasilan, tapi juga menjadi “jalan” untuk bertemu orang-orang baru.

Saya mulai tertarik.

“Jadi, ini sekalian cari pelanggan juga, Pak?”

Ia tersenyum, lalu mengeluarkan selembar kartu nama.

“Betul. Siapa tahu cocok. Kalau tidak sekarang, mungkin nanti.”

Ada sesuatu yang sederhana namun dalam, dia tidak hanya bekerja, dia menggabungkan peluang. Setiap penumpang bukan hanya “orderan”, tapi juga potensi relasi. Setiap perjalanan bukan hanya soal jarak, tapi juga kemungkinan.

Tanpa terasa, konsep lama yang sering kita dengar menjadi nyata di depan mata, sekali menyelam sambil minum air. Dia tetap mendapatkan penghasilan dari mengemudi. Namun di saat yang sama, ia membuka peluang baru untuk pekerjaannya yang lain.

Yang menarik, ia tidak terdengar seperti sedang “jualan”. Tidak ada paksaan. Tidak ada promosi berlebihan. Hanya percakapan ringan, lalu kartu nama yang diberikan dengan santai.

“Saya cuma kasih tahu saja, Pak. Rezeki itu kan dari mana saja,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tapi terasa jujur. Sering kali kita berpikir bahwa untuk sukses, kita harus melakukan sesuatu yang besar. Padahal, kadang yang dibutuhkan hanyalah cara berpikir yang berbeda.

Sopir taxi onlin ini mengajarkan satu hal penting, bahwa peluang tidak selalu datang, tapi bisa diciptakan, pekerjaan tidak harus satu arah, dan setiap interaksi bisa memiliki nilai lebih. Dia tidak menunggu kesempatan besar. Dia memaksimalkan yang sudah ada di tangannya.

Sesampainya di Masjid Al Jabbar, saya turun dengan perasaan yang berbeda. Bukan hanya karena tujuan telah tercapai, tapi karena perjalanan itu sendiri membawa makna. Kadang, pelajaran hidup tidak datang dari buku tebal atau seminar besar.

Dia bisa datang dari kursi depan sebuah mobil, dari seseorang yang menjalani hidupnya dengan cara sederhana, tapi penuh kesadaran.

Dan selepas dari masjid kebanggaan warga Bandung kemudian kita melanjutkan ke Dhika Serenity untuk istirahat sejenak.

Tuesday, March 24, 2026

Melepas Candu

Setiap orang, dalam satu fase hidupnya, pernah terjebak dalam sesuatu yang sulit dilepaskan. Bisa berupa kebiasaan kecil yang terasa sepele, atau sesuatu yang lebih dalam—yang diam-diam menggerogoti waktu, energi, bahkan jati diri.

Kita menyebutnya: candu.

Atau dalam istilah medis, Addiction.

Namun yang jarang disadari, candu bukan hanya soal zat seperti alkohol atau narkoba. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih “halus”:

  • scrolling tanpa henti
  • konsumsi konten berlebihan
  • hubungan yang toksik
  • bahkan kebiasaan menunda yang kronis

Dan semua itu memiliki pola yang sama: memberi kenyamanan sesaat, tapi menguras kita dalam jangka panjang.

Candu bekerja bukan karena kita lemah, tapi karena otak kita dirancang untuk mencari kesenangan. Setiap kali kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, otak melepaskan dopamin—zat yang membuat kita merasa “enak”.

Masalahnya, otak tidak peduli apakah itu baik atau buruk. Selama terasa menyenangkan, ia akan meminta lagi.

Dan di situlah lingkaran itu dimulai: nikmat → ingin lagi → berulang → ketergantungan

Tidak ada perubahan tanpa kesadaran. Banyak orang gagal keluar dari candu bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak mau mengakui bahwa mereka sedang terjebak.

Mulailah dengan pertanyaan sederhana:

  • Apakah kebiasaan ini merugikan saya?
  • Apakah saya kehilangan kontrol?
  • Apakah saya tetap melakukannya meski tahu dampaknya buruk?

Jika jawabannya “ya”, maka itu bukan lagi kebiasaan biasa.

Kesalahan umum adalah mencoba berhenti secara tiba-tiba tanpa strategi. Padahal, candu bukan hanya soal tindakan, tapi juga sistem yang menopangnya.

Perubahan drastis sering tidak bertahan lama. Mulai dengan mengurangi intensitas secara bertahap.

Kebiasaan tidak bisa dihapus begitu saja—harus diganti. Jika tidak, ruang kosong akan diisi oleh hal yang sama.

  • dari scrolling → membaca ringan
  • dari overthinking → menulis jurnal

Lingkungan adalah pemicu terbesar. Jika godaan selalu ada di sekitar kita, maka “niat kuat” saja tidak cukup. Keluar dari candu itu tidak enak. Akan ada rasa gelisah, bosan, bahkan kosong.

Itu normal.

Justru itu tanda bahwa kita sedang keluar dari pola lama.

Banyak orang berpikir bahwa perubahan itu linear. Padahal kenyataannya tidak. Ada hari di mana kita kuat. Ada hari di mana kita kembali jatuh. Dan itu bukan kegagalan. Itu bagian dari proses. Yang penting bukan tidak pernah jatuh—tapi seberapa cepat kita bangkit kembali.

Pada akhirnya, melepas candu bukan hanya soal berhenti dari sesuatu. Tapi tentang membangun versi diri yang tidak lagi membutuhkannya. Karena selama kita masih “orang yang sama”, kita akan selalu kembali ke pola yang sama.

Perubahan sejati terjadi ketika:

  • cara berpikir berubah
  • kebiasaan berubah
  • dan identitas ikut berubah

Candu selalu menjanjikan kenyamanan cepat. Tapi diam-diam, ia mencuri kendali atas hidup kita. Melepaskannya bukan hal mudah. Ia butuh waktu, kesadaran, dan keberanian.

Namun kabar baiknya: setiap langkah kecil yang kita ambil adalah bentuk kemenangan. Karena pada akhirnya, kebebasan bukan tentang tidak memiliki keinginan…tapi tentang mampu memilih mana yang layak diikuti.

Secangkir Kopi dan Lepet

Pagi itu, pukul 08.50 suasana di jalan Gembong terasa lebih sunyi dari biasanya. Karena masih pagi belum banyak yang memulai aktivitas. Sepuluh menit kemudian, beberapa orang pedagang sudah berdatangan. 

Di sebuah lapak buku, rak-rak dipenuhi buku yang diam, seolah menunggu disentuh, dibuka, dan dibaca. Aroma kertas tua bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh—hangat, sederhana, dan menenangkan.

Di depan lapak yang berhadapan, duduk dua penjaga toko buku yang bernama Pak Amir dan Pak Kusno. Mereka berdua bersua setelah hampir 1 minggu libur lebaran. Pak Amir baru saja mudik dari kota Jombang, kampung halamannya.

Usia mereka tak lagi muda. Rambut memutih, gerak melambat, tapi sorot mata mereka tetap hidup—seperti seseorang yang masih punya alasan untuk bangun setiap pagi. Di atas meja kecil di antara mereka, ada dua hal sederhana, yaitu secangkir kopi hitam dan sepiring lepet, makanan khas saat lebaran.

“Sekarang ini, kalau cuma cari uang, ya sudah cukup dari dulu,” ujar Pak Amir sambil meniup pelan kopinya.

Saya tersenyum, lalu bertanya, “Lalu kenapa masih bekerja, Pak?”

Ia tidak langsung menjawab. Menatap rak buku sejenak, lalu berkata pelan,

“Supaya tetap hidup.”

Jawaban itu sederhana, tapi terasa dalam.

Pak Kusno yang sejak tadi diam, ikut menimpali,

“Banyak orang berhenti bekerja, lalu pelan-pelan berhenti hidup. Bukan mati, tapi kehilangan arah.”

Di usia mereka, bekerja bukan lagi tentang kebutuhan finansial.

Melainkan tentang menjaga ritme hidup—tentang tetap merasa dibutuhkan, tetap bergerak, tetap menjadi bagian dari dunia.

Bagi mereka, toko buku ini bukan sekadar tempat kerja.

Ini adalah ruang pertemuan antara manusia dan cerita.

Tempat di mana waktu berjalan lebih pelan, dan makna bisa ditemukan dalam halaman-halaman sederhana.

“Setiap hari ketemu buku, rasanya seperti ngobrol sama banyak orang,” kata Pak Kusno sambil tersenyum.

Ia tidak membaca semua buku di sana.

Tapi ia tahu bahwa setiap buku punya pembacanya sendiri—dan mungkin, punya takdirnya sendiri.

Di sela obrolan, Pak Amir mengambil sepotong Lepet.

“Ini makanan khas Lebaran,” katanya.

“Tapi sebenarnya bukan soal makanannya… ini soal kenangan.”

Lepet, dengan rasa gurih dan teksturnya yang khas, seolah membawa mereka kembali ke masa lalu—ke rumah, ke keluarga, ke momen yang mungkin sudah lama berlalu.

“Sekarang Lebaran sudah beda,” ujar Pak Kusno.

“Tapi selama masih ada rasa ini, ya kenangannya tidak hilang.”

Di situ saya sadar, kadang yang kita jaga bukan tradisinya, tapi makna di baliknya.

Kopi di meja mereka sudah mulai dingin. Tapi obrolan tidak pernah benar-benar berhenti.

Tidak ada yang terburu-buru.

Tidak ada yang harus dikejar.

Di dunia yang serba cepat, mereka seperti hidup dalam ritme yang berbeda—lebih pelan, tapi justru lebih dalam.

“Anak-anak sekarang sering bilang tidak punya waktu,” kata Pak Amir.

“Padahal mungkin yang tidak punya itu… bukan waktu, tapi jeda.”

Dari dua lelaki ini, ada satu hal yang terasa jelas, bahwasanya hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai.

Tapi tentang apakah kita masih punya alasan untuk berjalan.

Mereka tidak lagi mengejar sesuatu.

Tapi juga tidak berhenti.

Mereka memilih untuk tetap hadir, hari demi hari, dengan cara yang sederhana menjaga toko buku, menyeduh kopi, dan berbagi cerita.

Bagi mereka hidup tidak selalu harus tentang pencapaian besar. Kadang, cukup dengan tetap melakukan sesuatu yang berarti, meski kecil, meski sederhana. Mereka berdua mungkin tidak lagi mengejar dunia, tapi justru telah menemukan cara untuk benar-benar hidup di dalamnya.

Saturday, March 21, 2026

Train to Busan

Film Train to Busan karya Yeon Sang-ho bukan hanya sekadar film zombie penuh ketegangan. Di balik adegan cepat dan mencekam, film ini menyimpan lapisan emosi yang dalam—tentang keluarga, pilihan hidup, dan arti menjadi manusia di situasi paling ekstrem.

Cerita berpusat pada Seok-woo, seorang manajer keuangan yang sibuk dan cenderung dingin terhadap dunia di sekitarnya. Hubungannya dengan sang putri, Su-an, terasa renggang.

Demi memenuhi keinginan Su-an untuk bertemu ibunya, Seok-woo mengantarnya ke Busan menggunakan kereta cepat dari Seoul. Sebuah perjalanan sederhana—yang seharusnya hanya berlangsung beberapa jam—berubah menjadi mimpi buruk yang tak terbayangkan.

Sesaat sebelum kereta berangkat, seorang wanita terinfeksi berhasil masuk ke dalam gerbong. Dalam waktu singkat, virus misterius menyebar dengan brutal, mengubah manusia menjadi zombie yang haus darah.

Kereta yang melaju tanpa henti itu berubah menjadi ruang tertutup penuh teror. Tidak ada tempat untuk lari. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Setiap gerbong menjadi medan perjuangan. Setiap pintu adalah batas antara hidup dan mati.

Di awal, Seok-woo adalah gambaran manusia modern: rasional, fokus pada diri sendiri, dan minim empati. Bahkan ia mengajarkan anaknya untuk tidak peduli pada orang lain. Namun, kondisi ekstrem memaksanya berubah. Sedikit demi sedikit, ia belajar bahwa bertahan hidup bukan hanya soal diri sendiri. Transformasinya terasa nyata—tidak instan, penuh konflik, dan pada akhirnya… menyakitkan.

Su-an adalah kebalikan dari ayahnya. Ia penuh empati, polos, dan selalu ingin membantu orang lain. Di tengah dunia yang mulai kehilangan nilai kemanusiaan, Su-an menjadi pengingat sederhana: bahwa kebaikan tidak membutuhkan alasan. Ia bukan hanya anak kecil dalam cerita—ia adalah jiwa dari film ini.

Sang-hwa adalah sosok yang kuat secara fisik, tetapi lebih kuat lagi secara hati. Ia berani melindungi siapa pun, terutama istrinya yang sedang hamil. Dalam dunia yang kacau, Sang-hwa hadir sebagai definisi manusia ideal: berani, peduli, dan tanpa pamrih.

Seong-kyeong membawa simbol kehidupan. Dalam kondisi hamil dan penuh ancaman, ia tetap bertahan. Ia adalah representasi masa depan—bahwa bahkan di tengah kehancuran, harapan masih ada.

Yon-suk mungkin bukan zombie, tapi justru terasa lebih menakutkan. Ia memilih bertahan hidup dengan cara apa pun, bahkan jika harus mengorbankan orang lain. Karakternya menunjukkan realitas pahit: bahwa dalam krisis, manusia bisa menjadi lebih kejam dari monster.

Penumpang lain dalam kereta menghadirkan berbagai reaksi manusia:

  • ada yang panik
  • ada yang berani
  • ada yang berkorban
  • ada yang hanya ingin selamat sendiri

Semua itu membentuk satu gambaran utuh tentang bagaimana manusia bereaksi saat dunia runtuh.

Train to Busan bukan hanya tentang wabah. Ia adalah refleksi kehidupan:

  • tentang orang tua yang belajar mencintai
  • tentang anak yang mengajarkan arti kepedulian
  • tentang pilihan antara ego dan empati
  • tentang pengorbanan sebagai bentuk cinta tertinggi

Zombie hanyalah latar. Cerita sebenarnya adalah tentang manusia. Di tengah ketakutan, kehilangan, dan keputusasaan, Train to Busan menyampaikan satu pesan yang sederhana namun kuat: bahwa dalam kondisi paling gelap sekalipun, menjadi manusia adalah pilihan.

War Machine

Pada Maret 2026, Netflix menghadirkan film aksi fiksi ilmiah berjudul War Machine, sebuah tontonan penuh adrenalin yang menggabungkan drama militer dengan ancaman teknologi dari luar bumi. Film ini resmi tayang di Netflix pada 6 Maret 2026 dan langsung menarik perhatian penonton pecinta genre action-sci-fi.

Film ini berpusat pada seorang prajurit teknisi tempur yang hanya dikenal dengan nomor “81”. Ia adalah sosok yang dihantui masa lalu kelam—kehilangan adiknya dalam sebuah misi militer di Afghanistan yang berakhir tragis. Peristiwa itu menjadi titik balik hidupnya.

Demi menepati janji dan menebus rasa bersalah, 81 memutuskan untuk mengikuti seleksi paling berat di dunia militer: pelatihan Army Ranger. Di sinilah perjalanan fisik dan mentalnya benar-benar diuji.

Namun, apa yang awalnya hanya latihan militer berubah menjadi mimpi buruk.

Pada tahap akhir seleksi, sebuah misi latihan berubah menjadi situasi hidup dan mati ketika tim mereka dihadapkan pada ancaman tak terduga—sebuah War Machine alias mesin pembunuh misterius dari luar dunia.

Para kandidat Ranger yang awalnya hanya diuji ketahanan dan strategi, kini harus berjuang untuk bertahan hidup. Mereka tidak lagi melawan manusia, tetapi sesuatu yang jauh lebih mematikan: teknologi asing yang tidak bisa dipahami sepenuhnya.

Dalam situasi penuh tekanan ini, 81 dipaksa mengambil peran sebagai pemimpin—sesuatu yang sebelumnya selalu ia hindari.

Pertarungan ini bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang:

  • menghadapi trauma masa lalu
  • membuktikan nilai diri
  • dan memahami arti pengorbanan

War Machine menawarkan sensasi seperti perpaduan antara film perang klasik dan sci-fi modern. Ceritanya berkembang dari drama militer menjadi survival thriller yang intens, ketika latihan berubah menjadi pertempuran nyata melawan mesin pembunuh.

Dengan aksi yang cepat, suasana tegang, dan konflik emosional, film ini menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga cukup menggugah sisi psikologis karakter utamanya.

Film action ini menceritakan tentang manusia yang dipaksa melampaui batasnya—baik secara fisik maupun mental—di tengah situasi yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Di balik ledakan dan pertempuran melawan mesin, tersimpan pesan sederhana: bahwa dalam dunia yang semakin canggih, kekuatan terbesar manusia tetap terletak pada keberanian dan ketahanan dirinya sendiri.

Friday, March 20, 2026

Blue Screen of Death

Laptop tiba-tiba rusak. Bukan sekadar hang atau lemot—melainkan terkena BSOD atau Blue Screen of Death dengan keterangan kode kerusakan DPC (Deferred Procedure Call) Watchdog Violation. Segera aku menghubungi tempat servis, namun sayangnya semua pada tutup karena libur, sebab malam ini adalah malam Lebaran.

Di saat seperti itu, pilihan terasa sempit. Menunggu? 

Bisa berhari-hari. 

Di situlah muncul satu keputusan sederhana: mencoba memperbaiki sendiri.

Layar biru muncul berulang-ulang. Restart tidak membantu. Safe mode pun terasa seperti jalan buntu. Rasa penasaran mulai mengambil alih. Dari situ, pencarian dimulai. Di tengah keterbatasan, YouTube berubah fungsi.

Video demi video ditonton. Ada yang menjelaskan dengan sederhana, ada juga yang terlalu teknis. Tapi pelan-pelan, mulai terlihat pola: Masalah sering terkait driver.

Beberapa penyebab lainnya bisa juga karena konflik hardware, atau kadang disebabkan oleh update sistem yang tidak sempurna. Tidak semuanya langsung berhasil. Trial and error adalah bagian dari proses.

Dan kemudian, di satu percobaan, setelah update driver dan menonaktifkan service tertentu, laptop kembali menyala, tanpa layar biru. Layar normal yang muncul seperti biasa. Beruntung dengan banyaknya dan mudahnya akses informasi yang tepat, kita bisa memperbaiki sendiri.

Berikut ini adalah beberapa video yang memberikan rekomendasi terbaik mengenai Blue Screen of Death - dengan keterangan kode kerusakan DPC (Deferred Procedure Call) Watchdog Violation.



Cara mengatasi Blue Screen of Death ini adalah dengan melakukan scan laptop dari menu cmd, lalu ketik sfc /scannowsfc /scannow


Cara mengatasi Blue Screen of Death ini adalah dengan melakukan pengecekan laptop dari menu cmd, lalu ketik dism /online /cleanup-image /restorehealth
Setelah selesai kemudian lakukan pengecekan lagi dengan ketik chkdsk c: /f




Related Posts