Friday, January 18, 2013

Obat-obatan pada Masa Perang


Film Rambo - First Blood yang diputar pada tahun 1982, mengisahkan John Rambo, seorang veteran perang Amerika Serikat yang sebelumnya adalah anggota terbaik Pasukan Khusus Angkatan Darat pulang dari Vietnam untuk meneruskan hidup di negeri asalnya. 

Tapi kepulangannya disambut dengan tidak ramah oleh Sherif Polisi yang menangkapnya dan mengerjainya di kantor polisi. Akhirnya Rambo berhasil lolos dan menjadi buron di kota itu. Lalu terjadilah perang antar Rambo dengan para polisi itu. 

Salah satu penyebab kesalahpahaman tersebut adalah dikarenakan pengalaman traumatis saat di medan perang yang membuat para tentara stres dan depresi. Dalam dunia nyata juga hampir serupa.

Untuk itu untuk menghindari stress dan depresi bahkan bunuh diri dan mati konyol, pemerintah Amerika Serikat membuatkan obat.

Proyek pembuatan obat ini mempunyai dana yang besar, yaitu sebesar US$ 3 juta atau sekitar Rp 28,5 triliun untuk keperluan riset tersebut.

Obat yang akan dikembangkan berbentuk spray sehingga mudah digunakan di medan perang dengan bahan aktifnya adalah thyrotropin-releasing hormone (TRH).

Sebenarnya proyek pembuatan obat untuk masa perang tidak hanya pada saat sekarang saja. Jaman dahulu sudah ada. Misalnya amfetamin dalam bentuk Metamfetamin.

Metamfetamina disingkat met atau di Indonesia dikenal sebagai sabu-sabu pertama dibuat dari efedrina di Jepang pada 1893 oleh Nagai Nagayoshi.

Pada tahun 1939 sampai 1945 yaitu selama Perang Dunia II amfetamin digunakan oleh militer Jerman untuk mengurangi kelelahan sehingga tentara mampu berjalan untuk jarak yang lebih jauh dan mampu berjalan lebih lama, sampai ke titik kelelahan.

Selain itu juga ada ecstacy atau yang disebut MDMA (methylenedioxy-N-methylamphetamine) yang ditemukan pada tahun 1910 oleh ahli kimia Jerman yaitu Dr G Mannish dan Dr W Jacobson. Pada Perang Dunia II juga tentara Jerman banyak menggunakan MDA untuk menghilangkan rasa jenuh dan rasa takut. Bahkan tentara AS di medan perang setiap hari diberi satu pil amphetamin dalam makanan kalengnya.

Terdapat juga Pervitin atau yang dikenal sebagai speed (istilah untuk menyebut amfetamin dan metamfetamin) adalah stimulan yang digunakan banyak tentara Jerman yang mabuk Pervitin ketika mereka pergi ke medan perang, terutama saat melawan Polandia dan Perancis dalam Blitzkrieg. Militer Jerman menyediakan jutaan tablet metamfetamin selama paruh pertama tahun 1940 sehingga membuat pilot, pasukan angkatan laut dan pasukan infantri agar mampu bekerja sekelas manusia super. Pimpinan militer bebas membagikan stimulant, alkohol dan opiat dengan catatan bahwa membius dan memabukkan tentara bisa membantu mencapai kemenangan atas Sekutu. 

(Diolah dari berbagai sumber)

@taufanyanuar