Friday, November 22, 2013

Surat Tilang


Sesuai ketentuan pengendara bermotor yang melanggar peraturan akan menerima surat tilang biru, jika saat di jalan pengendara mau mengakui kesalahan mereka. Sedangkan surat tilang merah, jika pada saat dikenakan sanksi pelanggar menolak untuk mengakui kesalahan mereka.


Besar denda yang dibayar sesuai dengan ketetapan UU No. 22 Tahun 2009. Apabila, pengendara sudah menerima surat merah, maka pengendara bermotor harus mengikuti sidang di pengadilan. Umumnya, jika sudah mengikuti sidang di Pengadilan yang lengkap dengan jaksa dan hakimnya, maka denda yang harus dibayar pun bisa berkurang sesuai keputusan hakim di pengadilan.


Terdapat lima warna slip tilang yang berlaku, yaitu merah, biru, hijau, kuning, dan putih. Fungsinya pun berbeda-beda, yaitu:


1. Merah 

Diberikan kepada pelanggar/terdakwa yang tidak terima atas kesalahan yang dituduhkan dan yang ingin menghadiri sidang. Kemudian pelanggar diberikan kesempatan untuk membela diri atau minta keringanan kepada hakim. Pada umumnya tanggal sidang, maksimum 14 Hari dari tanggal kejadian, tergantung hari sidang tilang di Pengadilan Negeri ( PN) bersangkutan.

2. Biru

Diberikan kepada pelanggar/terdakwa yang menitipkan di bank yang ditunjuk dimana pelanggar menerima kesalahan. Jika meminta surat tilang ini kita bisa langsung membayar uang denda melalui transfer pada bank yang dituju. Adapun untuk biayanya diketahui lebih mahal, jika disesuaikan undang-undang lalu lintas yang berlaku. Namun belum diketahui secara resmi nomor rekening dan kepemilikannya, dalam pembayaran uang denda tersebut. Meski semakin dipermudah dalam urusan tilang, diharapkan publik tidak salah mentransfer uang kepada oknum polisi yang tidak bertanggung jawab.

3. Hijau

Surat tilang warna hijau untuk arsip pengadilan. Surat ini juga sebagai proses tindak lanjut pelanggaran tersebut sampai perkara selesai.

4. Kuning

Surat tilang warna kuning untuk pihak kepolisian sendiri  dan diperuntukkan sebagai arsip.

5. Putih

Surat tilang warna putih untuk kejaksaan sebagai arsip. Namun jika dikemudian hari ada permasalahan arsip tersebut bisa sebagai bukti dan catatan.


Jika kita melanggar peraturan lalu lintas dan ditilang oleh pihak kepolisian, ada dua cara yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Mengakui kesalahan, kita akan diberi SLIP BIRU dan diwajibkan membayar denda maksimal.
2. Mengikuti sidang, kita akan diberi SLIP MERAH.

Semua denda akan masuk ke kas negara. Pungutan liar diluar ketentuan berlaku tidak diperkenankan.

Pembayaran denda dapat dilakukan melalui Bank BRI yang ditunjuk. Setelah pembayaran selesai, kita bisa mendapatkan kembali SIM/STNK yang disita karena pelanggaran.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan memuat beberapa aturan yang harus diperhatikan, antara lain:

1. Setiap Orang
Mengakibatkan gangguan pada : fungsi rambu lalu lintas, Marka Jalan, Alat pemberi isyarat lalu lintas fasilitas pejalan kaki, dan alat pengaman pengguna jalan. Pasal 275 ayat (1) jo pasal 28 ayat (2)
Denda : Rp 250.000

2. Setiap Pengguna Jalan
Tidak mematui perintah yang diberikan petugas Polri sebagaimana dimaksud dalam pasal 104 ayat (3), yaitu dalam keadaan tertentu untuk ketertiban dan kelancaran lalu lintas wajib untuk: Berhenti, jalan terus, mempercepat, memperlambat, dan atau mengalihkan arus kendaraan.
Pasal 282 jo Pasal 104 ayat (3)
Denda: Rp250.000

3. Setiap pengemudi
a. Tidak bawa SIM
Tidak dapat menunjukkan Surat Ijin Mengemudi yang Sah
Pasal 288 ayat (2) jo Pasal 106 ayat (5) hrf b.
Denda: Rp250.000

b. Tidak memiliki SIM
Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan, tidak memiliki Surat Izin Mengemudi
Pasal 281 jo Pasal 77 ayat (1)
Denda: Rp1.000.000

c. STNK/STCK tidak sah
Kendaraan Bermotor tidak dilengkapi dengan STNK atau STCK yang ditetapka oleh Polri.
Pasal 288 ayat (1) jo Pasal 106 ayat (5) huruf a.
Denda: Rp500.000

d. TNKB tidak sah
Kendaraan Bermotor tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Polri.
Pasal 280 jo pasal 68 ayat (1)
Denda: Rp500.000

e. Perlengkapan yg dapat membahayakan keselamatan.
Kendaraan bermotor di jalan dipasangi perlengkapan yang dapat menganggu keselamatan berlalu lintas antara lain, bumper tanduk dan lampu menyilaukan.
Pasal 279 jo Pasal 58
Denda: Rp500.000

f. Sabuk Keselamatan
Tidak mengenakan sabuk Keselamatan
Pasal 289 jo Pasal 106 Ayat (6)
Denda: Rp250.000

g. Lampu utama malam hari
Tanpa menyalakan lampu utama pada malam hari dan kondisi tertentu.
Pasal 293 ayat (1)jo Pasal 107 ayat (1)
Denda: Rp250.000

h. Cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain, melanggar aturan tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain Pasal 287 ayat (6) jo Pasal 106 (4) huruf h
Denda: Rp 250.000

i. Ranmor tanpa rumah-rumah
Selain sepeda motor, mengemudikan kendaraan yang tidak dilengkapi dengan rumah–rumah, tidak mengenakan sabuk keselamatan dan tidak mengenakan helm.
Pasal 290 jo Pasal 106 (7)
Denda: Rp250.000

j. Gerakan lalu lintas
Melanggar aturan gerakan lalu litas atau tata cara berhenti dan parkir.
Pasal 287 ayat (3) jo Pasal 106 ayat (4) e
Denda: Rp250.000

k. Kecepatan maksimum dan minimum
Melanggar aturan Batas Kecepatan paling Tinggi atau Paling Rendah
Pasal 287 ayat(5) jo Pasal 106 ayat (4) huruf (g) atau Pasal 115 huruf (a)
Denda: Rp 500.000

l. Membelok atau berbalik arah
Tidak memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan saat akan membelok atau berbalik arah. Pasal 294 jo Pasal 112 (1).
Denda: Rp 250.000

m. Berpindah lajur atau bergerak ke samping
Tidak memberikan isyarat saat akan berpindah lajur atau bergerak kesamping.
Pasal 295 jo Pasal 112 ayat (2)
Denda: Rp 250.000

n. Melanggar rambu atau Marka
Melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas atau marka
Pasal 287 ayat(1) jo Pasal 106(4) huruf (a) dan Pasal 106 ayat(4) huruf (b)
Denda: Rp500.000

o.Melanggar Apill (TL)
Melanggar aturan Perintah atau larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas. Pasal 287 ayat (2) jo Pasal 106(4) huruf (c)
Denda: Rp 500.000

p.Mengemudi tidak Wajar
Melakukan kegiatan lain saat mengemudi, dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan
Pasal 283 jo Pasal 106 (1).
Denda: Rp750.000

q.Diperlintasan kereta api
Mengemudikan kendaran bermotor pada perlintasan antara kereta api dan jalan, tidak berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan atau ada isyarat lain.
Pasal 296 jo Pasal 114 huruf (a)
Denda: Rp 750.000

r. Berhenti dalam keadaan darurat.
Tidak emasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya atau isyarat lain pada saat berhenti atau parkir dalam keadaan darurat di jalan.
Pasal 298 jo Pasal 121 ayat (1)
Denda: Rp 500.000

s. Hak utama kendaraan tertentu
Tidak memberi prioritas jalan bagi kendaan bermotor memiliki hak utama yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar dan / atau yang dikawal oleh petugas Polri.
a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sadang melakukan tugas
b. Ambulan yang mengangkut orang sakit
c.Kend untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas
d. Kendaraan pimpinan lembaga negara Republik Indonesia
e. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara;
f. Iring–iringan pengantar jenazah
g. Konvoi dan atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian RI.
Pasal 287 ayat (4) jo Pasal 59 dan Pasal 106 (4) huruf (f) jo Pasal 134 dan Pasal 135.
Denda: Rp250.000

t. Hak pejalan kaki atau pesepeda
Tidak mengutamakan pejalan kaki atau pesepeda
Pasal 284 jo Pasal 106 ayat (2).
Denda: Rp500.000


Sumber :

http://lapor.ukp.go.id
http://www.shopanddrive.com
http://www.harianorbit.com
http://news.okezone.com