Saturday, November 9, 2013

Indonesia Berkebun


Indonesia Berkebun adalah komunitas yang bergerak melalui media jejaring sosial yang bertujuan untuk menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming, yaitu memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif hijau yang dilakukan oleh peran masyarakat dan komunitas sekitar serta memberikan manfaat bagi mereka.

Di Amerika gerakan pertanian kota atau urban farming muncul di kota-kota besar seperti di San Fransisco. Ibu negara Amerika Serikat, Michelle Obama, juga turut mendukung dan memprakarsai gerakan ini.

Rupanya pertanian kota juga mulai menggeliat di Indonesia beberapa tahun belakangan. Dalam skala komunitas mandiri muncul inisiatif serupa dari Ridwan Kamil dalam “Indonesia Menanam”, di Surabaya Tunas Hijau juga menggalakkan program pertanian kota bekerjasama dengan sekolah-sekolah di Kota Surabaya. Program Indonesia menanam yang diprakarsai Ridwan Kamil sendiri sudah menyebar ke berbagai Kota di Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua.

Gerakan ini pertanian kota ini berkembang masih secara sporadis dan tentunya berdampak positif terhadap ketahanan kota akan pangan. “Dengan menerapkan urban farming keluarga dan tetangga sekitar tidak kesulitan lagi mendapatkan asupan gizi dari sayur-sayuran dan buah-buahan,” ungkap Ad Sony Batubara .

Perlu diingat, tantangan yang ada di lapangan, salah satunya adalah mengingat lahan pertanian semakin sempit. Namun dalam konsep pertanian kota ini adalah mengaktifkan lahan-lahan tidur yang tidak terpakai di lapangan. Ridwan Kamil menjelaskan lebih lanjut, konsep urban farming adalah memanfaatkan lahan tidur di perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian produktif hijau yang dilakukan oleh masyarakat dan komunitas sehingga dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Dari pengalaman Indonesia Berkebun, salah satu kesulitannya adalah akses ke lahan. Kekurangan itu adalah “jembatan” perizinan tanah-tanah terlantar. Hingga kini tanah yang digarap baru sebatas milik warga yang mengetahui dan peduli kegiatan Indonesia Berkebun. Sedangkan tanah-tanah terlantar yang dimiliki warga yang tidak peduli kegiatan urban farming dan tidak diketahui keberadaannya ternyata lebih banyak lagi. Dibutuhkan tokoh-tokoh yang besar di pemerintahan, seperti untuk lebih peduli dan bisa memfasilitasi kegiatan ini.

Bila memang lahan atau pekarangan tidak ada, bukan berarti tidak bisa ikut berpartisipasi. Cara lain dengan berkreativitas menggunakan wadah-wadah atau media seperti menanam seledri dan tomat didalam tabung air atau pipa paralon. Lalu, menanam sayuran seperti bayam, kangkung, caisim, cabe, kangkung atau bayam  dalam wadah bambu, gayung, dan batok kelapa.  Pilihan lainnya adalah menanam tanaman secara vertikal di dinding rumah Anda atau menjahit potongan plastik sebagai kantung untuk bunga-bunga yang indah.

Bukan perkara yang mudah untuk memulai secara bersama-sama, namun bisa dimulai dari lingkungan kecil di rumah dengan menanan sayuran sedikit-sedikit. Bisa juga mengajak keluarga dan teman, dan bila mau lebih diperluas, Ibu-Ibu PKK dan Bapak-Bapak untuk turut peran serta sebagai bagian dari acara kerja bakti mingguan di kelurahan.

Namun bukan berarti gerakan ini tidak bisa dilakukan. Ridwan Kamil sendiri memulai gerakan Indonesia berkebun bermodalkan social media twitter! Karena hanya berbekal 19.600 lebih followers dan aktif bertwitter ria, Ridwan Kamil mampu membangun komunitas Indonesia Berkebun tanpa modal. Setiap follower menyumbang, entah tanah kosong, kompos, bibit, pengetahuan cara bertani organik dan waktu serta tenaga. Para followers tersebut bergabung dengan komunitas berkebun dikotanya masing seperti : Jakarta Berkebun, Bandung Berkebun, Banten Berkebun, Makasar Berkebun dan seterusnya.


Sumber :
http://indonesiaberkebun.org
http://lingkungan.net