Thursday, April 16, 2015

Solusi JK dengan Hitungannya

foto : news.detik.com

Hari Kamis, tanggal 16 April 2015, sambil melepas penat aku melihat TV, ada acara yang cukup menarik yaitu talkshow Kompas Kampus dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dipimpin oleh Pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosiana Silalahi

Talkshow yang bertema "Memimpin ala Saudagar" ini sungguh menarik, terutama saat mengangkat alasan mengapa JK mengganti mobil kabinet dari mobil mewah Volvo menjadi mobil Toyota Camry. Disini terlihat JK menggunakan dasar hitungan demi jangka panjang. Sehingga keuntungan yang dapat diterima langsung adalah penghematan anggaran.

Ternyata tidak itu saja. Selain sudah menghemat dengan mengganti merk mobil, mobil yang dipilih pun masih ditawar habis hingga separuhnya oleh JK, benar-benar pemimpin ala saudagar.

Cukup? Ternyata belum, selain faktor ekonomi, terdapat satu alasan lagi yaitu faktor politis, dimana saat itu Swedia sebagai negara produsen Volvo pada waktu itu memberi suaka kepada pemimpin GAM, sehingga menurut JK siapa menjadi lawan akan kita musuhi.

Artikel selangkapanya cerita diatas dapat dibaca berikut ini.

Sudah puluhan tahun, mobil dinas para menteri dan pimpinan lembaga negara, selalu Volvo berwarna hitam. Pemerintahan SBY-JK naik pada tahun 2004, Volvo pun langsung diganti menjadi Toyota Camry. 
Saat itu, Volvo masih dalam hitungan untuk kembali dipakai. Namun, JK menghitung bahwa Volvo terlampau mahal. Saat itu pemerintah Indonesia masih dalam perundingan dengan perwakilan GAM yang sebagian besar bermukim di Swedia.
“Volvo itu kan buatan Swedia, saya marah, pokoknya tidak boleh pakai buatan Swedia karena mendukung GAM.

"Masalahnya ... ," kata JK kepada Dubes Swedia saat itu, Hasan Di Tiro dan dr. Zaini Abdullah adalah warga negara Swedia, dan Malik Machmud, meski bukan warga negara Swedia, ia tinggal di Swedia. Mereka adalah para pemimpin tertinggi GAM yang menentukan tiap langkah GAM. Bujuklah mereka agar mereka duduk berbicara dengan pemerintah Indonesia, lalu damai," kata JK
"Hubungan dagang kita dengan Swedia sebenarnya tidak terlampau banyak. Maka, Indonesia tidak segan memutuskan hubungan bila Swedia tidak mau menangani warganya sendiri, yang merugikan Indonesia. Buktinya, kita kan sudah memutuskan, tidak lagi memakai produk Swedia. Sedan Volvo buatan Swedia sudah kita ganti dengan Toyota Camry untuk para menteri. Jelas bagi kami di Indonesia bahwa jika Anda tidak mau berteman baik, ya sudah. Kami juga tidak rugi-rugi sekali," kata JK. 
JK pun mengecek harga pasaran Toyota Camry saat itu. Harga yang ditawarkan pihak showroom Rp 480 juta. Harga itu dinilai masih kemahalan. JK pun kemudian memanggil bos Toyota Astra Motor, Johny Darmawan, dan meminta diskon harga. JK menawar harga mobil itu nyaris setengahnya. 
“Saya tawar luar biasa murah, harganya hanya Rp 275 juta,” ujarnya.
“Harga resmi di showroom 480 juta, saya cuma beli 280 juta. Saya bilang, kalau kita pakai ini, kau untung, mobil ini akan dipakai banyak orang,” ujar JK.
JK pun meminta Johny Darmawan, Direktur Toyota Astra Motor, untuk menemuinya. JK bertanya, 
"Sedan Toyota apa yang lagi popular dan berkualitas andal saat itu. Yang pasti, untuk kelas menengah saja dan tidak terbilang mewah."
Sang direktur pun memberi jawaban: sedan Camry. "Selain produk baru yang nyaman, juga tidak terlampau mahal untuk ukuran kelas menengah. Harganya sekitar Rp425 juta perunit." 
JK langsung menyambung, "Kalau begitu Anda banyak mengiklankan produk ini kan? Berapa biaya iklanmu setahun untuk memasarkan produk Camry ini?" tanya JK.
"Ya, sekian banyak, Pak," kata Sang Direktur.
"Bagaimana kalau Anda menghentikan pembayaran iklan itu, lalu saya yang iklankan untuk Anda?" sambung JK.
"Bagaimana caranya, Pak?" tanya Sang Direktur penuh keingintahuan.
"Nah, caranya gampang. Kalau saya beli mobil sedan Camry Anda minimal 40 unit dan saya hanya mau bayar Rp275 juta per unit, gimana?" JK menawar.
"Maaf Pak, susah, karena harga itu terlampau rendah," balas Sang Direktur.
"Iya memang betul harga yang saya tawarkan rendah dari harga penjualan Anda. Tapi, kan Anda tidak perlu keluarkan biaya iklan selama lima tahun," balas JK.
"Nah, maaf Pak, itu yang saya belum mengerti. Bagaimana rumusannya?" tanya direktur Toyota tersebut. 
"Begini, mobil sedan Camry saya beli minimal 40 unit dan akan saya berikan kepada para menteri dan juga para pimpinan lembaga negara lainnya. Masa jabatan menteri kan lima tahun. Jadi, selama lima tahun tersebut, menteri-menteri memakai Camry. Artinya, Anda sudah dipasarkan dengan sendirinya oleh para menteri dan pimpinan lembaga negara lainnya nanti," kata JK. 
"Bayangkan saja jika setiap menteri memakai sedan Camry kan menteri dikawal, dan sesekali pakai mobil pengawal yang pakai sirene, tentu semua orang memandang. Di situlah sedan Camry Anda langsung dilihat orang. Lagian, biasanya kalau sudah menteri pakai maka semua orang ingin juga memakai kendaraan sama dengan yang dipakai menteri," tegas JK lagi. 
"Anda harus lihat dari segi jangka panjangnya. Pembayaran kami memang bisa membuat Anda tidak beruntung banyak untuk beberapa puluh mobil tersebut, tetapi, keuntungan jangka panjang Anda sangat berlimpah nanti. Banyak pengusaha mobil dari berbagai merek datang untuk menawarkan produknya, termasuk Volvo. Jadi, kalau Anda tertarik dengan tawaran saya, Oke, kali ini kita mulai sejarah baru bahwa para menteri dan pejabat lembaga negara lainnya akan menggunakan Toyota. Ini sebuah era baru bagi Toyota," kata JK. 
Akhir tawaran itu diterima dan JK bisa menghemat pengeluaran untuk membeli mobil dinas bagi para menteri. “Dapat diskon Rp 10 miliar lebih,” pungkasnya.

Sumber :
http://suaradamayanti.com/2014/09/cerita-jk-tawar-mobil-dinas-menteri-setengah-harga/
http://mochtaviv.blogspot.com/2009/10/s-udah-puluhan-tahun-mobil-dinas-para.html