Tuesday, June 17, 2014

Revolusi Kereta Api


Kereta api merupakan alat transportasi favorit banyak orang. Terlebih saya sewaktu menjadi mahasiswa tahun 2000 hingga 2004. Kampus saya berada di luar kota yaitu di Surabaya yang berjarak 200 km dari kampung halaman.

Sehingga untuk urusan mudik atau pulang kampung, sarana yang murah dan bersahabat adalah menggunakan kereta api.

Setelah wisuda, saya berkarir di luar pulau yang berjarak 2000 km dari kampung halaman, sehingga cukup lama saya tidak berinteraksi dengan kereta api. Dan saat kembali ke kampung halaman sewaktu naik kereta api, saya cukup kaget.

Sebelumnya kereta api dan stasiun identik dengan kekumuhan dan kesemrawutan. Kini telah terjadi perubahan. Kebersihan, kerja keras, dan disiplin bisa terlihat di tempat itu. 

Dibalik perubahan cepat atau revolusi kereta api tersebut terdapat sebuah nama, yaitu Jonan.

Ignasius Jonan (lahir di Singapura, 21 Juni 1963) sekarang ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) tahun 2009 s.d. sekarang sesuai dengan penugasan pemerintah melalui Kementerian BUMN yang dipimpin oleh Menteri BUMN Sofyan Djalil, menggantikan Ronny Wahyudi yang menjabat sejak September 2005. Jonan dangkat pada tanggal 25 Februari 2009 Beliau terpilih kembali pada tahun 2013 oleh Dahlan Iskan.

Nama Jonan kini memang identik dengan proses transformasi PT KAI. Ia membawa perusahaan yang semula merugi menjadi menguntungkan. Jonan diangkat menjadi orang nomor satu perusahaan kereta itu pada Februari 2009 ketika perusahaan merugi Rp 83,4 miliar. Pada akhir 2009, PT KAI sudah mengantongi keuntungan Rp 153,8 miliar.

Perubahan mendasar yang dia lakukan adalah mengalihkan (arah) organisasi ini dari product-oriented ke customer focusedDi tangan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignasius Jonan, perubahan itu dimulai. 

Begitu dilantik pada 25 Februari 2009, tiga bulan pertama dilalui Jonan dengan mempelajari PT KAI dan perkeretaapian. Ia memperkenalkan sistem meritokrasi.Bekerja profesional menjadi keseharian pegawai PT KAI. Kompensasi pegawai dinaikkan secara bertahap. Dalam tiga tahun terakhir, ada beberapa jabatan yang penghasilannya dinaikkan berlipat. Tidak mungkin pekerja yang melayani publik mendapat gaji kecil.

Bagaimana perusahaan yang merugi Rp 83,4 miliar pada 2008 itu punya dana untuk menaikkan gaji. Walau komponen gaji pegawai naik, PT KAI tetap mencetak laba bersih Rp 153,8 miliar pada 2009. Lalu tahun berikutnya laba bersih KAI pun lebih dari Rp 200 miliar.

Jonan mempunyai keyakinan jika gaji pekerja bagus maka kinerjanya juga bagus.

Ia menganalogikan dengan seekor sapi yang melintas di depan orang lapar. ”Mungkin hanya butuh 1 kilogram daging, tetapi karena tak mungkin memotong secuil daging, ya, dibunuh sapinya. Sebuah perusahaan juga bisa seperti sapi itu.

Begitu memimpin KAI, ia tak langsung memangkas pegawai. ”Jumlah pegawai itu tak pernah berlebih, mungkin yang kurang pekerjaannya,” ujarnya. Keadilan coba ditegakkan, semisal gaji komandan di lapangan harus lebih tinggi daripada komandan di kantor.

”Tak boleh ada toleransi dan harus konsisten saat kita memutuskan kebijakan di perusahaan layanan umum,” ujar Jonan.

Tak sekadar bicara, dia pun memberi contoh. Saat mendapati penumpang tak mampu yang hendak naik kereta tanpa membeli tiket, dia merogoh kantong. ”Saya bayari sendiri,” ceritanya.

Rasa kasihan adalah urusan personal, sementara KAI adalah perusahaan negara yang harus dikelola profesional. ”Kalau ada pegawai lain merasa kasihan, ya, bayari saja dari kantong mereka sendiri. Ini bukan perusahaan milik mereka, tetapi milik negara. Sistem harus ditegakkan.”

Cenderung bicara keras dan apa adanya, itulah Jonan. Masyarakat bisa merasakan saat ia menerapkan sistem boarding dan kebijakan satu nama-satu tiket. Ia tak goyah ketika ada pihak yang mengkritik.

Penumpang kereta jarak jauh dan sedang juga harus duduk. Sementara untuk meminimalkan calo, nama di tiket harus sesuai dengan kartu identitas. Kebijakan ini bikin heboh. 

Penumpang terkaget-kaget.

Banyak penumpang, bahkan pegawai KAI, dan orang penting yang angkat suara. Meski justru terkesan menyepelekan penumpang dengan mengatakan, mungkinkah penumpang kereta diatur seperti itu? Bagaimanapun, hasilnya penumpang nyaman.

Siapa pun yang keberatan dengan sistem itu boleh melongok Stasiun Pasar Senen yang kini nyaman. Sistem boarding tak sekadar membuat stasiun lebih bersih, juga mengamankan pendapatan KAI. Namun, yang terpenting, mampu mengedukasi masyarakat.

Awalnya pegawai KAI mengeluhkan sulitnya mengajari penumpang antre. Namun, lambat laun, penumpang sendiri yang mengakui antre membuat mereka lebih nyaman.

Apabila dulu pegawai PT KAI harus mengancam menurunkan penumpang yang merokok, pasca-diterapkannya larangan merokok pada Maret 2012, sesama penumpang mengingatkan penumpang lain yang merokok di atas kereta.

Inovasi juga diluncurkan PT KAI awal Agustus silam. Pembelian tiket bisa melalui situs http://www.kereta-api.co.id. Lewat sistem ini calon penumpang lebih mudah membeli tiket.

Alhasil, dalam penutupan Pos Koordinasi Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu tahun 2012, Selasa (28/8/2012), hanya moda kereta api yang mendapat pujian. Menteri Perhubungan pun melontarkan niatnya menerapkan sistem boarding di terminal bus dan pelabuhan.

Perubahan-perubahan itulah yang dirasakan penumpang kereta api. Mereka tak lagi berdesak-desakan di stasiun. Kebersihan di stasiun dan kereta api terjaga. Jadwal keberangkatan dan kedatangan juga semakin sesuai dengan yang dijanjikan.

Perubahan itu dilakukan Jonan dengan tegas tanpa pandang bulu. Mengapa berani? ”Ini dari ketiadaan vested interest pada diri saya. Kalau tidak punya kepentingan tertentu, kita takkan ragu memutuskan atau berbuat apa pun,” ujar Jonan.

Dari kereta api kita bisa becermin, sesungguhnya Indonesia mampu berubah. Disiplin, kerja keras, dan kejujuran bisa dibangkitkan kembali melalui contoh langsung.


Pendidikan formal:
Fletcher School, Tufts University, AS
Kennedy School of Goverment Harvard University, AS
Columbia Business School, Columbia University, AS
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Akuntansi, Universitas Airlangga

Karir:
PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero), Direktur Utama, 2001 s.d. 2006
Citibank/Citigroup, Director tahun 1999 s.d. 2001 dan Managing Director tahun 2006 s.d. 2009
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Direktur Utama, 2009 s.d. sekarang

Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://bisniskeuangan.kompas.com
http://finance.detik.com
http://www.tempo.co/read

No comments:

Post a Comment

Related Posts