Saturday, June 28, 2014

Penentuan dan Penetapan 1 Ramadhan 28 Juni (Ramadan 1435 H)


Penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal selalu menjadi bahan perbicangan yang menarik. Dikarenakan terdapat 2 metode yang masing-masing diyakini oleh pengikutnya. Tapi aku yakin dua-duanya benar karena mereka mementukan tanggal lalu kemudian melanjutkan dengan puasa, yang salah adalah mereka yang tidak berpuasa tentunya.

Jadi ayo jangan terlalu sibuk dengan perbedaan. Mari jalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. Berikut merupakan ulasan yang menarik dari cara penentuan dan penetapan 1 Ramadhan 1435 H.

Kalendar Islam merupakan kalendar Bulan yaitu pada zaman Rasullah pengamatan hilal merupakan cara penentuan awal Bulan Islam dalam merekonstruksi sebuah kalendar Islam.

Awalnya kalendar Hijriah umat Islam mempergunakan hisab Urfi yang dikenalkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab (17 H or 639 CE). Hisab Urfi merupakan upaya operasional untuk mengetahui awal bulan Islam tanpa mempergunakan pengetahuan tentang posisi Bulan dan Matahari seperti yang dijadikan landasan kalendar taqwim standard maupun kriteria visibilitas hilal. Cara semacam ini merupakan cara yang "relatif presisi" pada zamannya. 

Pemahaman tentang penentuan posisi Bulan dan hilal melewati zaman pandangan "model geosentris" maupun "model heliosentris" alam semesta. Kini model alam semesta tersebut telah lebih sempurna, pengetahuan posisi Bulan yang presisi telah tersedia dari sains.

Sebelum awal bulan Ramadan 1435 H di dahului dengan fenomena konjungsi akhir Sya'ban. Ijtimak akhir Sya'ban 1435 H berlangsung pada hari Jum'at 27 Juni 2014 jam 15:10 wib. Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 27 Juni 2014 di wilayah Indonesia (antara + 1 dan -1 derajat) kurang dari 2 derajat, misalnya di Pelabuhan Ratu adalah minus – 0ยบ 2′ 56".3.

Partisipasi luas pengamatan hilal pada waktu sidang itsbat oleh ormas Islam, KEMENAG, lembaga pemerintah BMKG, LAPAN, Observatorium Bosscha ITB, perguruan tinggi, komunitas pemburu hilal di Indonesia sebagian memperoleh fasilitas streaming KOMINFO dan sekaligus juga menjadi masukan dalam sidang itsbat KEMENAG yang dipimpin oleh Menteri Agama RI. Selain itu pengamatan hilal di wilayah Indonesia merupakan upaya yang serius dalam upaya penyatuan kalendar Islam. 

Pengamatan sabit Bulan atau hilal pada siang hari diperlukan untuk mengembangkan teknik pengamatan hilal yang lebih baik dan memahami karakteristik serapan angkasa Bumi terhadap pelemahan sabit Bulan yang berada di dekat horison/ufuk barat.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah mengimbau warga Muhammadiyah untuk melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan hisab wujudul hilal Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadhan 1435 Hijriyah jatuh pada 28 Juni 2014.

Dalam menentukan awal Ramadhan, Muhammadiyah menggunakan metode hisab untuk menentukan awal puasa Ramadan. Hal itu mengacu saat zaman Rasulullah SAW belum ada teropong, sehingga tak ada pilihan, bulan harus dilihat dengan mata telanjang. Menurut metode Muhammadiyah, setengah derajat pun terlihat maka sudah masuk penanggalan baru.

Warga Muhammadiyah tidak perlu ragu-ragu atau saling beda pendapat dalam menentukan jatuhnya awal Ramadan. Pasalnya, PP Muhmmadiyah telah mengeluarkan maklumat nomor 02/MLM/I.0/E/2014, tanggal 09 Rajab 1435 H/8 Mei 2014 tentang penetapan awal Ramadan 1435 H.

Terdapat perbedaan awal puasa di lingkungan masyarakat, supaya berlaku arif dan bijaksana, sehingga tidak mengganggu kesatuan umat Islam. Umat harus mengedepankan toleransi, ukhuwah serta saling menghargai atas perbedaan dalam menjalankan ibadah.

Perbedaan dalam memulai dan mengakhiri ibadah puasa Ramadan merupakan hal yang biasa dalam Islam. Tetapi kuncinya, ukhuwah Islam harus diutamakan.


http://nationalgeographic.co.id
http://beritasore.com
http://www.republika.co.id