Monday, October 8, 2018

The Pursuit of Happyness

Kisah sebelum film dimulai, Chris Gardner lahir di Milwaukee, Wisconsin Gardner dengan tidak pernah mengetahui siapa ayah kandungnya. Dia dibesarkan dalam suasana kemiskinan oleh ibunya, Bettye Jean dan tak jarang dikasari secara fisik, dari ayah tirinya yang sering mabuk-mabukan.

Chris mengalami masa menghabiskan waktu di sebuah rumah asuh setelah sang ibu yang putus asa, mencoba membunuh pasangannya.

Gardner mengatakan ibunya adalah sebuah inspirasi baginya. Inspirasi dari kaum ibu yang masih kuno pemikirannya yang mengatakan kepada saya setiap hari, "Nak, kamu bisa melakukan atau menjadi apa pun yang kamu inginkan."

Saat masih anak-anak, Chris menyaksikan sebuah pertandingan basket, ia mengatakan bahwa salah satu pemain akan menjadi orang kaya dan berpenghasilan jutaan dolar. Lalu ibunya mengatakan, "Nak, suatu saat nanti kamulah yang akan menghasilkan uang jutaan dolar."

---

Tahun 1981, Chris Gardner hidup di sebuah apartemen kecil bersama anak mereka yang berusia 5 tahun, Christopher. Linda, istrinya, bekerja sebagai buruh di sebuah laundry.  Istrinya harus bekerja 14 jam sehari di tempat laundry demi membantu membiayai biaya hidup keluarga.

Chris adalah seorang salesman yang menghabiskan seluruh tabungan keluarga untuk membeli dan menjual Bone Density Scanner portable yang diklaim lebih baik dari X-ray, tapi harganya terlalu mahal. 

Keluarga Gardner tidak mampu membayar sewa rumah dan tagihan-tagihan yang semakin menumpuk, sehingga membuat Linda pergi meninggalkan Chris dan pergi ke New York City. 

Tagihan pajak yang belum dibayar membuat pihak IRS menyita uang tabungan Chris Gardner. Karena menunggak pembayaran Chris diusir dari apartemen dan kemudian pindah ke rumah sewa. Bahkan mobil Chris diamankan karena tidak membayar uang parkir dan tilang.

Kemudian Chris berjumpa dengan seseorang yang membawa Ferari. Keinginannya untuk sukses membuat dia memberanikan diri untuk bertanya “Apa pekerjaan Anda sehingga bisa memiliki mobil Ferrari yang cantik ini?”

Orang tersebut menjawab “Saya seorang Pialang Saham”.

Chris pun melamar dan magang tanpa dibayar di sebuah perusahaan pialang Dean Witter Reynolds. Saat magang tersebut Chris mulai kehabisan uang. Akhirnya ia diusir dari rumah sewanya dan menjadi tuna wisma. 

Semula ia tidur di tempat umum, toilet umum stasiun kereta api, tidur di taman, di kolong meja di tempat kerjanya setelah rekan-rekan kerjanya pulang, hingga kemudian tidur di rumah singgah Glide Memorial Chruch dengan cara mengantri terlebih dahulu dengan tunawisma lainnya.

Akhirnya Chris berhasil menjadi peserta terbaik dan diterima bekerja di sana. Dan berakhir pula film dengan diiringi rasa haru dan bahagia.

---

Di luar kisah film, Gardner akhirnya mampu menyewa rumah untuknya dan anaknya. Karirnya kemudian melesat dengan cepat, dan pada tahun 1987 ia membuka perusahaan investasi sendiri, bernama Gardner Rich.

Di usia yang ke 62 tahun, kekayaan Gardner, bernilai sekitar USD60 juta atau lebih dari Rp800 miliar), lalu Hollywood datang memanggilnya ketika ia menulis otobiografi terlarisnya yang berjudul The Pursuit of Happyness (kesalahan ejaan dalam judul ini memang disengaja).

Salah satu hikmah dalam film adalah Chris sebenarnya punya segudang alasan dan alibi untuk kegagalannya. Dia bisa saja menyalahkan istrinya yang tidak mendukung dan meninggalkannya. Dia bisa saja menyalahkan orang yang menawarkan peluang alat kedokteran yang membuat dirinya bangkrut. Dia bisa saja menyalahkan pemerintah yang tidak membantunya. Tetapi Chris tidak membuat semua alasan tersebut. Dia mengambil tanggung jawab dan mengambil tindakan untuk merubah nasibnya.

Banyak orang hanya berkeluh kesah dengan situasi yang ada, tetapi seorang pemenang akan ambil tindakan untuk merubah situasi yang ada.

Ada sebuah dialog antara Chris dan anaknya, yang menyiratkan bahwa kebahagiaan adalah saat kita mampu berbuat sesuatu dengan konsisten meski banyak orang meragukannya.

Chris Gardner: Hey. Don't ever let somebody tell you... You can't do something. Not even me. All right? 
Christopher: All right. 
Chris Gardner: You got a dream... You gotta protect it. People can't do somethin' themselves, they wanna tell you you can't do it. If you want somethin', go get it. Period.

Ada 3 hal yang Chris Gardner katakan kepada pemilik bisnis atau pengusaha mana pun, yaitu:
  1. Anda harus bersemangat dengan apa yang Anda lakukan. Jika Anda tidak bersemangat, Anda mengorbankan diri Anda setiap hari. 
  2. Anda harus tetap stabil, tenang dan fokus pada impian Anda. 
  3. Anda akan menghadapi banyak rintangan, tapi Anda harus tetap menjalankan bisnis. Akhirnya, Anda harus selalu mau belajar dan beradaptasi. 

Dalam film ini kita juga akan belajar arti penting dari keluarga. Sebagai seorang ayah, Chris mengusahakan kebutuhan materiil, dukungan secara moril dan menjadi sahabat untuk anaknya.

Seperti lagu Keluarga Cemara bahwa harta yang paling indah dan berharga adalah keluarga. Kesuksesan dan kebahagiaan yang kita dapat tidak ada artinya apabila tidak ada keluarga di samping kita.


Namun ada 1 yang mengganjal, yaitu mengenai judul The Pursuit of Happyness yang menggunakan huruf Y (ye) dimana seharusnya I (i).

Menurut penulis dengan mengunakan huruf (y) berarti film ini menjelaskan bahwa cara yang salah jika mengartikan uang adalah kebahagiaan untuk segala-galanya. Tetapi seharusnya kita berpikir tentang bagaimana cara kita mendapatkan uang dan menggunakannya untuk kebahagiaan yang ingin kita capai dengan sebuah proses.


Sumber :
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-38205243
https://id.wikipedia.org/wiki/The_Pursuit_of_Happyness
http://sukarto.com/film-the-pursuit-of-happyness/
https://www.finansialku.com/film-the-pursuit-of-happyness/
https://communication.binus.ac.id/2017/04/12/makna-simbol-y-pada-judul-film-the-pursuit-of-happyness/
https://finance.detik.com/sosok/d-3563688/9-pelajaran-sukses-chris-gardner-tuna-wisma-yang-jadi-kaya-raya
https://www.kompasiana.com/achmadsiddikthoha/551b3865813311b37f9de496/makna-kebahagiaan-dalam-film-the-pursuit-of-happyness